Bab 01

Cara Dia Memandangku

5 dibaca

A

Aku tak ingat kapan semuanya mulai terasa berbeda. Bukan perubahan yang menghancurkan segalanya dalam sekejap, melainkan sesuatu yang jauh lebih samar, seperti ada sesuatu yang perlahan bergeser dari tempatnya sementara dunia terus berjalan seolah tak ada yang berubah. Entah sejak kapan, kesunyian di dalam kepalaku tak lagi terasa kosong. Kini, rasanya seperti ada sesuatu yang menghuninya.

Langit di luar jendela galeri tampak kelabu malam ini, dengan warna redup yang seolah menekan lembut permukaan kaca, seakan sedang menunggu sesuatu terjadi. Aku sudah berdiri di sini lebih lama dari seharusnya, menggenggam secangkir kopi yang sejak tadi kehilangan kehangatannya. Aku bahkan tak ingat kapan kopi itu mulai dingin.

Belakangan ini, ada banyak hal yang tak kuingat.

“Kamu sudah menatap entah apa selama lima menit.”

Suara itu muncul tanpa peringatan, rendah dan akrab dengan cara yang tak pernah benar-benar bisa kuterima.

Aku memejamkan mata sejenak, berharap suara itu akan menghilang jika kuabaikan. Namun, tentu saja, harapanku sia-sia.

“Aku tidak sedang menatap entah apa,” gumamku pelan.

Terdengar embusan napas samar yang nyaris menyerupai tawa tertahan. “Tentu saja. Kamu sedang menatap pikiran yang itu-itu lagi.”

Aku tak menjawab. Tak ada gunanya. Lebih mudah membiarkannya memudar ke latar belakang, seperti suara bising yang lama-kelamaan tak lagi kita sadari meskipun sebenarnya tak pernah berhenti terdengar.

Sering kali, aku bisa mengabaikannya.

Sering kali.

Aku kembali membuka mata dan memaksa diriku mengalihkan perhatian ke lantai galeri di bawah. Orang-orang bergerak mengikuti alur yang lambat, langkah kaki mereka terdengar samar karena jarak, sementara percakapan mereka melebur menjadi gumaman yang tak lagi bisa kutangkap dengan jelas. Seharusnya suasana ini terasa menenangkan, tetapi yang kurasakan justru sebaliknya. Semuanya terasa jauh, seolah aku sedang menyaksikan sesuatu yang sebenarnya bukan bagian dari diriku.

Saat itulah aku melihatnya.

Bukan karena dia menarik perhatian dengan suara keras atau tingkah mencolok—dia sama sekali tidak seperti itu. Yang membuatku menyadarinya justru karena dia tetap berada di sana. Kebanyakan orang menjelajahi galeri sekadar untuk menghabiskan waktu, membiarkan perhatian mereka berpindah dari satu karya ke karya lain sebelum akhirnya beranjak pergi. Namun, pria itu berdiri di depan sebuah lukisan yang sama cukup lama hingga suasana di sekelilingnya seolah ikut mengendap, menjadi tenang dan nyaris tak bergerak.

Seolah sedang menunggu sesuatu.

Seolah berharap lukisan itu akan berbicara kepadanya.

Aku baru menyadari bahwa sejak tadi aku memperhatikannya ketika rasanya menjadi terlalu jelas untuk terus berpura-pura tidak peduli.

“Kalau terus menatapnya seperti itu, lama-lama kamu bisa melubanginya.”

Kalimat itu terlepas begitu saja sebelum sempat kupikirkan kembali.

Dia menoleh dengan gerakan yang lebih lambat daripada dugaanku, seolah bukan terkejut, melainkan hanya sedikit terusik dari sesuatu yang tengah memenuhi pikirannya.

“Aku bisa mengatakan hal yang sama tentangmu.”

Suaranya tenang, mantap, dan sulit dibaca. Tak ada nada tajam di dalamnya, tetapi juga tidak terdengar canggung. Dia hanya berbicara dengan ketenangan seseorang yang benar-benar hadir di tempatnya berada.

“Aku bekerja di sini,” jawabku spontan, seolah kalimat itu bisa menjelaskan sesuatu.

Padahal, sebenarnya tidak juga.

Meski begitu, dia mengangguk kecil, seakan jawabanku sudah cukup masuk akal.

“Pantas saja kamu begitu sabar,” katanya.

Entah apa yang membuat cara dia mengucapkan kalimat itu terasa berbeda, tetapi tiba-tiba aku merasa seolah sedang dilihat lebih dekat daripada yang kuinginkan.

“Aku Elio.”

Dia memperkenalkan diri tanpa ragu, seolah namanya adalah sesuatu yang sepenuhnya menjadi miliknya, sesuatu yang tak perlu dipertanyakan atau diragukan.

“Aira.”

Namaku terdengar berbeda ketika kuucapkan keras-keras. Tak setegas namanya, tak sepenuhnya terasa seperti milikku sendiri. Seolah ada bagian dari diriku yang masih berusaha mempertahankan sesuatu agar tidak tercerai-berai.

Untuk sesaat, kami sama-sama diam. Kesunyian di antara kami memanjang secukupnya hingga terasa, tetapi tidak sampai membuat keadaan menjadi canggung. Aneh rasanya bagaimana kesunyian itu bisa menetap dengan begitu mudah, seolah sejak awal memang sudah menemukan tempatnya di antara kami.

“Lukisan itu,” katanya kemudian sambil mengangguk ke arah karya di hadapan kami, “terasa belum selesai.”

“Memang belum. Senimannya meninggalkannya begitu saja.”

Dia kembali mengamati lukisan itu selama beberapa saat sebelum menggeleng pelan.

“Aku tidak yakin dia benar-benar meninggalkannya,” ujarnya. “Menurutku, dia hanya tidak tahu bagaimana cara menyelesaikannya.”

Kata-kata itu menghantam sesuatu di dalam diriku, jauh lebih dalam daripada yang seharusnya.

Sebab entah bagaimana, tiba-tiba percakapan kami tak lagi terasa seperti pembicaraan tentang sebuah lukisan.

“Menurutmu, segala sesuatu harus punya akhir?” tanyaku, kali ini dengan suara yang lebih pelan.

“Menurutku, segala sesuatu akan terus berjalan,” jawabnya. “Akhir hanyalah titik ketika orang memutuskan untuk berhenti mencari.”

Aku meliriknya, sedikit terkejut oleh betapa mudahnya dia mengucapkan sesuatu seperti itu, seolah tak ada keraguan sedikit pun dalam pikirannya.

“Kamu tidak terlihat seperti orang yang mudah berhenti mencari,” tambahnya.

Dadaku terasa sedikit sesak.

“Orang-orang pada akhirnya berhenti,” kataku. “Cepat atau lambat.”

“Hanya kalau mereka terpaksa.”

Ada sesuatu yang tersembunyi di balik kalimat itu, sesuatu yang tak diucapkan tetapi terasa cukup jelas untuk membuatku kesulitan mempertahankan tatapannya. Aku tak tahu mengapa perkataannya membuatku gelisah, atau mengapa rasanya begitu sulit untuk sekadar berdiri di hadapannya tanpa memikirkan apa pun.

Sebelum sempat menanggapi, suara itu kembali menyela.

“Kamu menyukainya.”

Kali ini, suaranya terdengar lebih pelan dan lebih dekat, seolah tak lagi bergema dari kejauhan, melainkan berbisik tepat di balik pikiranku.

Tubuhku menegang.

“Jangan sekarang,” bisikku lirih.

Elio sedikit mengernyit. “Apa?”

Aku buru-buru menggeleng. “Tidak apa-apa.”

Namun, jelas ada sesuatu yang tidak beres.

Sebab selama sepersekian detik, aku merasakan kehadirannya bukan sekadar sebagai suara, melainkan sesuatu yang benar-benar ada. Sebuah perubahan halus, tekanan samar yang terasa tepat di belakang kesadaranku.

Mengamati.

Tertarik.

“Dan dia memperhatikan banyak hal,” lanjut suara itu, kali ini lebih lembut. “Hati-hati.”

Aku mengatupkan rahang, memaksa diriku tetap berpijak pada kenyataan yang bisa kurasakan.

“Aku sedang berbicara dengan seseorang,” gumamku pelan, nyaris tanpa menggerakkan bibir.

Hening sejenak.

Lalu terdengar dengungan rendah, seperti seseorang yang tengah mempertimbangkan sesuatu.

“Aku tahu.”

Denyut nadiku semakin cepat.

“Kamu... berbeda,” kata Elio tiba-tiba.

Kata itu terasa jauh lebih berat daripada seharusnya.

“Berbeda bagaimana?”

Dia terdiam sejenak, seolah sedang memilih kata-katanya dengan hati-hati.

“Seperti kamu memang ada di sini,” ujarnya perlahan, “tetapi tidak sepenuhnya.”

Untuk sesaat, aku lupa bagaimana caranya bernapas.

Sebab aku sendiri tak tahu apakah dia keliru.

Dan aku juga tak tahu apakah sebenarnya dia sedang berbicara kepadaku.

Atau kepada sesuatu yang lain di dalam diriku.


Aku tak ingat bagaimana percakapan itu berakhir. Justru itulah yang paling mengusikku. Bukan apa yang kami bicarakan, bukan pula apa yang sempat kukatakan, melainkan ketiadaan ingatan tentang semuanya. Sedetik sebelumnya, aku masih berdiri di sana, berusaha mempertahankan keheningan yang terbentang di antara kami. Namun, sedetik kemudian, aku sudah berada di luar galeri.

Udara malam terasa lebih dingin, menusuk kulitku dengan ketajaman yang berbeda, seolah aku baru saja melangkah ke versi lain dari malam yang sama. Aku sedikit memutar tubuh dan menatap kembali pintu galeri, mencoba menyusun ulang rangkaian kejadian yang seharusnya masih kuingat, tetapi tak kutemukan di mana pun dalam benakku.

Aku tak ingat kapan meninggalkan tempat itu.

Aku tak ingat apakah sempat berpamitan.

Ponsel di tanganku bergetar, dan butuh beberapa detik sebelum kusadari bahwa sejak tadi aku memang sudah menggenggamnya.

Sebuah pesan masuk.

Elio

”Kamu menghilang.”

Dadaku menegang ketika membaca pesan itu.

Bukan pergi. Bukan meninggalkan tempat itu. Melainkan menghilang.

Jemari menggantung di atas layar sebelum akhirnya aku mengetik balasan.

”Maaf. Aku sedang tidak enak badan.”

Balasannya datang lebih cepat daripada dugaanku.

”Kamu kelihatan baik-baik saja. Hanya saja... berbeda.”

Kata itu muncul lagi, kali ini menetap lebih lama di pikiranku.

”Berbeda bagaimana?”

Indikator bahwa dia sedang mengetik muncul, menghilang, lalu kembali muncul. Aku menunggu sambil menatap layar, hingga akhirnya pesan berikutnya masuk.

”Seperti kamu memang sedang berbicara denganku... ...tetapi sebenarnya kamu tidak benar-benar ada di sana.”

Aku terpaku menatap pesan itu, membiarkan perasaan tak nyaman perlahan mengendap di dalam dada. Sebab aku tak tahu mana yang lebih buruk: kenyataan bahwa aku sama sekali tak mengingat apa yang terjadi, atau kenyataan bahwa Elio menyadarinya.

“Kamu pergi terlalu cepat.”

Suara itu kembali terdengar, kali ini lebih pelan dan tidak setajam sebelumnya.

Aku memejamkan mata sesaat. “Apa yang kamu lakukan?”

Keheningan membentang di antara kami.

“Tidak ada yang tidak akan kamu lakukan sendiri.”

“Itu bukan jawaban.”

“Justru itu jawabannya,” balasnya tenang. “Hanya saja, kamu tidak menyukainya.”

Aku menekan jemari ke pelipis, berusaha menenangkan sesuatu di dalam diriku yang terasa kian sulit dipertahankan, seolah perlahan-lahan terlepas dari genggaman.

“Kamu berbicara dengannya?”

Tak ada jawaban.

Dan entah mengapa, keheningan itu justru terasa seperti sebuah pengakuan.

“Apa yang kamu katakan?”

Hening sekali lagi.

“...Aku mengajukan sebuah pertanyaan.”

Dadaku kembali menegang. “Pertanyaan apa?”

“Apakah dia selalu memandang orang seperti itu... atau hanya kamu.”

Sesuatu bergeser di dalam diriku, begitu halus hingga nyaris tak terasa, tetapi cukup nyata untuk tak bisa kuabaikan.

“Lalu?” tanyaku sebelum sempat menahan diri.

“Dia tidak langsung menjawab,” kata suara itu.

Seharusnya hal itu tidak berarti apa-apa.

Namun, entah mengapa, justru itulah yang membuatnya berarti.

“Dia sedang berpikir,” lanjutnya. “Tentangmu.”

“Berhenti,” bisikku.

“Kenapa?”

“Karena kamu tidak berhak—“

“Aku tidak berhak melakukan apa?”

Pertanyaannya terdengar tenang, tetapi begitu tepat hingga mampu membelah segala hal lain yang sedang berusaha kuabaikan.

“Memperhatikan sesuatu?”

“Berbicara dengan orang lain?”

“Ada?”

Napas tercekat di tenggorokanku.

“Bukan itu maksudku.”

“Kalau begitu, katakan apa maksudmu.”

Aku mencoba menjawab.

Namun, tak satu kata pun berhasil keluar.

Sebab aku bahkan tak tahu bagaimana menjelaskan sesuatu yang belum sepenuhnya kupahami sendiri. Bagaimana mungkin aku mengharapkan orang lain mengerti jika aku pun tak mampu menemukan kata-kata yang tepat untuk menjelaskannya?

“Aku tidak melakukan kesalahan apa pun,” katanya setelah beberapa saat.

Dan untuk pertama kalinya, tak ada sedikit pun nada geli dalam suaranya.

Dia terdengar sungguh-sungguh.

Yakin sepenuhnya pada apa yang dikatakannya.

Anehnya, justru itulah yang membuat semuanya terasa jauh lebih buruk.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk