PERSIAPAN

0 dibaca

A

Laju mobil taksi online merayap pelan menembus padatnya lampu jalanan kota yang mulai lengang menjelang pukul delapan malam. Bau khas pengharum ruangan berpadu dengan aroma carrier kanvas basah yang mendesak kaca jendela belakang

Almaz duduk di kursi penumpanb depan. Abde duduk di sisi kiri, terjepit di antara dua ransel ukuran enam puluh liter yang memenuhi separuh jok tengah. Di sebelah kanannya, Xavier berbagi ruang sempit, lutut mereka membentur laci dasbor setiap kali pengemudi mengerem mendadak di lampu merah.

Di lampu merah perempatan jalan raya yang sepi, Xavier melirik Abde di sebelahnya.

“Kalau ternyata beliau berubah pikiran?” tanya Abde.

Xavier bersandar, melipat tangan di dada. “Minimal kita bisa pinjem mobil.”

“Kalau mobilnya juga nggak boleh?”

“Ya berarti ngecer.”

Almaz menatap mereka dari kaca spion tengah tertawa kecil.

Mobil taksi online itu berbelok perlahan, memasuki gerbang kompleks rumah Pak Broto.

Rumah pak Broto berdiri di balik pagar tanaman hias setinggi pinggang, lampu teras memancarkan cahaya kuning hangat. Di teras depan, dua pasang sepatu kets berjejer rapi di samping pot lidah buaya.

Xavier menekan bel rumah dua kali. Tiga ekor anak kucing berbulu belang tiga melesat keluar lebih dulu dari balik celah pintu, mengeong ribut menyambut tamu di malam hari.

Xavier berjongkok di atas ubin teras. Salah satu anak kucing berbulu putih abu-abu melompat ke atas pahanya, mengusap dagunya ke lutut celana jeans Xavier dengan dengkuran halus.

Abde terkekeh. “Baru juga datang, lo udah dapet pawang baru, Xav.”

Pintu terbuka lebar. Seorang perempuan muda berusia awal tiga puluhan mengenakan kaos polos abu-abu longgar dan celana katun rumahan berdiri sambil melipat tangan di dada.

Ia menatap Pak Broto yang berdiri di belakangnya, lalu beralih ke tumpukan ransel carrier raksasa di sudut ruangan, mengunci pandangannya ke tiga mahasiswa yang cengar-cengir di teras.

Pak Broto merapikan kerah kemejanya yang tidak berantakan, batuk kecil dua kali. “Ekhm... Maya...”

“Mas...” potong Maya. “Katanya cuma mau mampir diskusi sebentar soal administrasi kampus.”

Pak Broto menunjuk ransel carrier di punggung Xavier. “Mereka datang emang buat diskusi, Yang.”

Maya menghela napas panjang, matanya melirik tiga ekor anak kucing yang mengerumuni sepatu Abde, lalu kembali menatap mereka bertiga.

“Yang tiga itu tiap hari bikin rumah pusing,” Maya menunjuk kucing-kucingnya, lalu menggeser pandangannya ke arah mereka. “Sekarang malah nambah tiga ekor lagi.”

Xavier mengangkat tangan kanannya mengelus kepala kucing di pahanya. “Tenang, Bu. Kami nggak makan whiskas.”

Abde terbahak keras, Pak Broto menutup wajahnya dengan telapak tangan.

Pak Broto berdehem pelan. “Daripada berdiri di depan pintu terus...” Ia melirik ke arah Maya sekilas. “...mending kita beresin barang dulu.”

“Betul.” Maya mengangguk cepat. “Biar tetangga nggak ngira rumah kita lagi buka jasa pendakian.”

Abde meraih carrier miliknya. Xavier mengangkat kardus logistik yang diletakkan di dekat pintu, Almaz mengangguk pelan.

Pak Broto membuka pintu samping menuju garasi. Cahaya lampu neon putih menyala terang, SUV abu-abu sudah diparkir menghadap keluar pagar.

Tas Carrier, kardus air mineral, kotak P3K berukuran sedang, sleeping bag gulung, tripod kamera, dan laptop tersusun rapi di atas lantai garasi.

Maya ikut membantu membawakan gulungan matras dari dalam rumah, ia meletakkan gulungan matras di lantai garasi, lalu menatap tumpukan perlengkapan yang terus bertambah.

“Mas.”

Pak Broto yang sedang mengatur posisi kardus air mineral mendongak. “Hm?”

“Ini penelitian sejarah apa pindahan satu RT?”

Xavier menahan tawa.

Pak Broto mengangkat bahu. “Namanya juga persiapan.”

“Persiapan?” Maya menunjuk carrier Almaz yang hampir setinggi pinggangnya. “Mas itu mau nyari arsip apa buka basecamp?”

Abde buru-buru mengangkat carrier itu masuk ke bagasi. “Yang ini isinya kebanyakan buku, Bu.”

“Nah, kan.” Maya menggeleng. “Berarti memang lebih berat daripada orangnya.”

Xavier terkekeh pelan, Almaz menghela napas sambil tersenyum tipis.

Pak Broto ikut tersenyum kecil. “Udah, Yang.”

“Iya, iya.” Maya mendengus pelan. “Aku cuma memastikan tiga mahasiswa ini pulangnya masih manusia, bukan fosil.”

Seekor anak kucing berwarna oranye melompat ke dalam bagasi belakang mobil SUV Pak Broto, mengendus-endus kantong sleeping bag.

Pak Broto mengangkat kucing itu keluar dengan hati-hati. Tangannya terulur ke pintu bagasi mobil, si kucing melompat lagi ke dalam.

Xavier tertawa, mengangkat kucing nakal itu ke dalam gendongannya sambil mengikat tali tas logistik.

Abde mengangkat kardus air mineral terakhir ke dalam mobil, Almaz berdiri di samping Pak Broto, memegang papan klip berisi daftar inventaris perbekalan.

“Senter kepala sama baterai cadangan sudah masuk kotak nomor dua, Pak?” tanya Almaz.

Pak Broto mengecek isi kantong depannya, mengangguk. “Udah aman. Semua lengkap.”

Maya berdiri bersandar di pintu garasi, melipat tangan. Ia melirik kucing oranye di pelukan Xavier, lalu menatap ketiga mahasiswa itu bergantian.

“Yang tiga itu,” Maya menunjuk anak-anak kucing di lantai. “Kalau ditinggal di rumah paling cuma tidur seharian.” Ia menoleh ke arah Almaz, Abde, dan Xavier, lalu menghela napas panjang. “Tapi kalau tiga yang ini... awas ya kalau sampai saya nerima telepon tengah malam dari kantor polisi.”

Pak Broto tertawa kecil, menutup pintu bagasi mobil. “Mereka udah pada gede, Maya.”

Maya mendengus, melirik Pak Broto. “Justru itu yang bikin aku khawatir, Mas.”

Almaz, Abde dan Xavier saling berpandang dalam diam.

Bagasi mobil hampir tertutup, Abde menghentikan tangannya yang masih memegang papan inventaris. “Pak.”

Pak Broto menoleh.

“Kita mulai dari mana?”

Xavier berhenti mengencangkan tali carrier. Almaz ikut mengangkat wajah dari daftar perlengkapan.

Pak Broto menatap salinan jurnal di tangan Almaz beberapa saat. “Simbol itu.” Ia menunjuk pojok halaman yang memuat lambang geometris kecil. “Saya pernah melihat bentuk yang sangat mirip.”

Almaz mengernyit. “Di mana, Pak?”

Pak Broto menyandarkan pinggangnya ke bemper belakang mobil. “Beberapa tahun lalu... waktu saya bantu kurasi koleksi arsip kolonial di Museum Sejarah Jakarta, Kota Tua.”

Xavier mengangkat alis.

“Simbolnya muncul di artefak VOC yang waktu itu nggak pernah berhasil diidentifikasi.” Pak Broto menarik napas pelan. “Dulu saya anggap cuma tanda inventaris.” Tatapannya kembali ke salinan jurnal Hendrick. “Sekarang... saya mulai ragu.”

Almaz menutup map bening itu perlahan. “Berarti tujuan pertama...”

Pak Broto mengangguk. “Jakarta. Kita mulai dari Museum Sejarah Jakarta.”

Bagasi mobil tertutup rapat. Pak Broto melangkah ke sudut garasi, mematikan saklar lampu dinding,

Maya berdiri di anak tangga teras, tiga anak kucing duduk berjajar rapi, mengeong pelan di samping kakinya.

Pak Broto menoleh ke arah Maya sebelum melangkah turun ke halaman.

Maya tersenyum tipis. “Mas.”

“Hm?”

“Yang tiga jangan hilang.”

Pak Broto melirik sekilas ke arah tiga anak kucing di teras. “Mereka bakal aman.”

Maya menggeleng pelan, menunjuk ke arah Almaz, Abde dan Xavier. “Mereka bukan anak kucing, Mas.”

Mereka tertawa pelan.

Pak Broto membuka pintu kemudi mobil, masuk ke dalam, memasukkan kunci kontak. mesin SUV bergemuruh, mengeluarkan getaran halus di bawah lantai mobil. Lampu depan menyala, memecah kegelapan malam kompleks perumahan.

Mobil bergerak perlahan mundur, lalu berputar meninggalkan halaman rumah.

Di kaca spion tengah, rumah itu semakin mengecil, tenggelam di balik bayangan pohon mangga. Maya berdiri di teras. Tiga ekor anak kucing mengeong di undakan tangga.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk