ORANG KEEMPAT

0 dibaca

A

Lantai kamar kos Almaz dipenuhi kertas buram yang tercoret angka-angka coret-coretan spidol hitam. Di atas meja lipat kayu, kipas pendingin laptop mendengung keras. Dua bungkus kopi sachet kosong berserakan di sebelah asbak rokok yang penuh puntung, layar kalkulator saku menampilkan deretan angka pengeluaran yang terus berkedip.

Abde menekan tombol kalkulator dengan ujung kuku jempolnya, mengulang perhitungan yang sama untuk ketiga kalinya.

“Bensin mobil dari sini ke titik kordinat pesisir habis minimal empat puluh liter,” gumam Abde, suaranya datar. “Belum biaya tol luar kota, tiket penyeberangan feri antarpulau, parkir malam, sama cadangan solar kalau di tengah jalan pom bensin habis.”

Xavier duduk bersandar di dinding sambil melipat tangan di dada, mendengus pelan. “Itu baru berangkat. Belum biaya logistik kita seminggu di lapangan.”

Almaz menarik peta cetak wilayah yang dibentangkan di lantai. Ia menghitung ulang angka-angka yang ditulis Abde di selembar margin kertas.

“Kalau memang mau jalan...” Almaz melempar spidolnya ke atas meja, lalu mendongak menatap kedua temannya bergantian., “...berarti kita semua harus keluar modal.”

Abde menutup buku catatan spiralnya lebih dulu. Xavier meraih kunci motor yang tergeletak di lantai, memutarnya sekali di ujung telunjuk sebelum menangkapnya kembali. Almaz melipat salinan jurnal Hendrick, memasukkannya ke dalam map bening, lalu berdiri tanpa banyak bicara.

Mereka keluar dari kamar kos ke arah yang berbeda.

Layar biru ATM berkedip di sudut minimarket yang sepi. Almaz memasukkan kartu debitnya ke dalam mesin, mengetik enam digit PIN. Nominal saldo tercetak di layar kecil hitam-putih, jari telunjuknya terhenti di atas tombol cetak struk.

Tabungan yang dikumpulkannya selama tiga tahun dari honor mengetik transkrip dosen dan sisa uang kiriman bulanan yang dihemat mati-matian, terpampang dalam angka yang menipis drastis.

Ia menekan tombol Selesai. Mesin mengeluarkan uang tunai lembar seratus ribuan dari slot bawah.

Ponsel di saku celananya bergetar panjang. Almaz menarik ponselnya keluar, menatap nama kontak ibu di layar ponsel. Ia menggeser tombol jawab, menempelkan layar ke telinganya.

“Lagi di mana, Maz?” suara di seberang terdengar berisik suara televisi rumah.

“Di luar, Bu”Almaz menatap lembaran uang di tangannya.

“Tadi ibu cek buku tabungan lewat m-banking buat transfer uang cicilan buku, kok saldonya banyak yang kepotong? Kamu buat apa?”

Napas Almaz tertahan di tenggorokan. Ia menatap pantulan wajahnya di kaca mesin ATM yang gelap. “Ada kerjaan yang harus aku selesain, Bu.”

Di seberang, suara helaan napas panjang terdengar samar.

Almaz mengakhiri panggilan tanpa penjelasan apa pun. Uang tunai di tangannya ia lipat rapi, lalu dimasukkan ke dalam amplop cokelat.

Di ruang tengah rumahnya, suara ketukan palu berdentum memenuhi ruangan. Ayah Abde berjongkok di lantai, memperbaiki engsel pintu lemari es tua yang kendur menggunakan obeng pipih. Di dapur, ibunya sibuk membolak-balik ikan asin di atas wajan dengan minyak yang mendesis tajam.

Abde duduk di kursi, menatap layar ponselnya yang menyala di atas meja makan. Aplikasi m-banking terbuka lebar, menampilkan halaman konfirmasi transfer.

Ayahnya berdiri sambil menyeka keringat di dahinya, melirik Abde sekilas. “UKT semester depan udah aman, De?”

Abde menelan ludah, iA mengangkat wajahnya, mengangguk pelan. “Udah, Yah.”

Abde mengunci layar ponselnya, memasukkannya ke dalam saku celana.

Ayahnya kembali berjongkok di depan lemari es. Obeng kembali berputar perlahan di engsel yang sudah beberapa kali diperbaiki. Abde menggenggam ponselnya lebih erat.

Cahaya matahari senja terpantul di kap.obil hitam Xavier. Mobil berbelok masuk ke halaman bengkel yang merangkap showroom mobil bekas di pinggir jalan raya.

Pintu kantor kaca showroom terbuka dari dalam. Seorang perempuan berambut sebahu melangkah keluar, mengangkat sebelah alisnya. “Lho? Kok datang nggak ngabarin?”

Xavier turun dari balik kemudi, tersenyum tipis. “Om Darto ada, Wi?”

“Ada.” Widya mendekat beberapa langkah. Tatapannya bergeser ke arah mobil yang masih menyala. “Emang ada apa?”

Xavier menepuk pelan kap depan mobilnya. “Mau nitip ini.”

Dahi Widya berkerut dalam, ia berbalik membuka pintu kantor lebih lebar. “Om!” panggilnya ke dalam. “Xavier datang.”

Om Darto keluar sambil mengelap tangan dengan lap bengkel, wajahnya berubah ramah begitu melihat Xavier.

“Lama nggak mampir.” Ia menjabat tangan Xavier erat. “Katanya mau nitip mobil?”

“Iya, Om.”

Om Darto mengangguk pelan, lalu berjalan mengelilingi mobil. Jemarinya menyusuri bodi yang masih mengilap, membuka pintu pengemudi, menyalakan mesin beberapa saat, lalu mendengarkan putaran mesinnya sebelum mematikannya kembali.

“Masih enak ini.” Ia menutup pintu perlahan. “Kenapa nggak dijual aja?”

“Nanti saya tebus lagi.”

Om Darto menatap Xavier beberapa detik. “Perlu uang sebanyak itu buat apa?”

“Mau-“

“Bukannya kemarin kalian mau berangkat penelitian itu, ko mobilnya digadai?” potong Widya.

“Penelitian apa?” Om Darto menoleh ke arah Widya.

“Mereka mau penelitian sejarah, Om.”

Xavier menoleh.

Widya mengangkat kedua tangannya sambil tertawa kecil. “Lah... emang bener, kan?”

Om Darto ikut tersenyum. “Penelitian sampai mobil digadai?”

Xavier mengembuskan napas pendek. “Semoga hasilnya sebanding.”

“Semoga,” jawab Om Darto sambil menepuk bahunya.

Setelah beberapa lembar dokumen ditandatangani, Om Darto mengambil amplop cokelat dari dalam laci meja kasir, lalu menyerahkannya ke Xavier. “Kalau urusan kalian sudah selesai, kabarin. Mobilnya tetap saya simpan di sini.”

Xavier menerima amplop, lalu mengangguk pelan. “Makasih, Om.” Ia mengeluarkan kunci mobil dari saku celananya.

“Xav...” Widya meraih kunci itu dari telapak tangan Xavier. “Lo yakin?”

Xavier menoleh, tatapannya mengikuti pantulan cahaya matahari di kap mobilnya, lalu tersenyum tipis. “Kalau gue sendiri... mungkin nggak.”

“Terus?”

“Gue nggak berangkat sendirian.”

Widya mengangguk pelan, lalu menyerahkan kunci ke Om Darto.

Om Darto memanggil salah satu mekaniknya, menyerahkan kunci.

Mobil Xavier keluar meninggalkan halaman showroom, membaur dengan arus kendaraan yang mulai padat.

Xavier tetap berdiri di tempatnya sampai lampu belakang mobil itu menghilang di balik tikungan.

Widya menyenggol lengan Xavier pelan. “Mau gue anter pulang?”

“Nggak usah.” Xavier mengangkat ponselnya. “Gue naik ojol aja.”

Lampu di lorong kos Almaz menyala satu persatu. Cahaya lampu lorong masuk melalui celah gorden.

Almaz duduk di lantai, merapikan lembaran peta. Lima menit kemudian, pintu bergeser terbuka. Abde masuk tanpa bersuara, melepas tas ranselnya, lalu mengeluarkan amplop cokelat tebal dari saku jaket, menjatuhkannya di depan Almaz.

Sepuluh menit berselang, Xavier mendorong pintu dengan bahunya, napasnya sedikit terengah karena berjalan kaki dari ujung jalan utama. Ia mengeluarkan dompetnya, mengambil dua gepok uang tunai, melemparkannya ke atas meja kecil di sebelah Abde.

Almaz meraih amplop dan uang tunai itu, menghitungnya satu persatu di bawah cahaya lampu neon.

Abde menatap tumpukan uang itu, lalu mendongak menatap Almaz. “Kalau gagal...”

Xavier mengangkat bahu. “Berarti gagal.”

Almaz dan Abde terdiam beberapa detik, lalu tertawa, diikuti Xavier ikut tertawa.

Tok. Tok. Tok.

Tiga ketukan di pintu kos memotong tawa mereka.

Ketiganya saling berpandangan dalam keheningan. Almaz mengangkat dagunya ke arah pintu. Abde beranjak dari lantai, menggeser kunci pintu.

“Pak...?” Mata Abde membelalak menatap pak Broto di depan pintu.

Almaz menoleh. Xavier ikut mendongakkan kepala.

Pak Broto berdiri di depan pintu, tas selempang kulit tua menggantung di bahu.

“Pak Broto?” Xavier memecah keheningan. “Kok... Bapak tahu kos kami?”

Pak Broto mengangkat sebelah alisnya. “Kalian pikir dosen pembimbing nggak punya data mahasiswa?”

Abde menggaruk tengkuknya, lalu bergeser memberi jalan. “Eh... masuk dulu, Pak.”

Pak Broto melangkah masuk, ia melepas jaket parasutnya, menggantungkannya di cantolan pintu, lalu melangkah ke tengah ruangan.

“Bapak ngapain kesini?” Almaz merapikan tumpukan amplop dan uang tunai.

“Kalau kalian bisa diam menerima keputusan tadi siang...” Pak Broto menarik kursi. “...kalian bukan mahasiswa bimbingan saya.” Matanya menatap tumpukan amplop uang tunai, lembaran peta dan buku log fotokopian yang terbuka di lantai.

Pak Broto duduk di hadapan mereka. “Saya sudah duga kalian bakal tetap jalan.” Ia melirik tumpukan peta di lantai, lalu mendongak menatap wajah tiga mahasiswanya satu persatu.

“Pemerintah lagi mengurus arsip itu,” lanjut Pak Broto, suaranya merendah. “Tapi cara kerja mereka birokratis. Mereka nggak ngejar lokasi di lapangan. Mereka bekerja di atas meja, nunggu laporan dari instansi bawah.”Ia menunjuk peta wilayah dengan ujung jarinya.

“Mereka mencari jawaban di atas meja. Kita nyari di lapangan.”

Pak Broto berdiri dari kursinya, merapikan lipatan jaketnya, lalu melirik jam tangan analog di pergelangan tangannya.

“Kalau begitu...” Pak Broto melangkah menuju pintu keluar.

Abde mengerutkan kening. “Mau ke mana, Pak?”

Pak Broto berhenti di ambang pintu, menoleh ke belakang. “Kalau saya benar-benar ikut kalian ke lapangan...” Ia menarik napas pendek, “...istri saya juga harus tahu.”

Ia membuka pintu. “Malam ini datang ke rumah saya.”

Xavier berkedip. “Rumah Bapak?”

“Jam delapan.” Pak Broto menunjuk mereka bertiga bergantian. “Jangan telat. Kita mulai susun semuanya dari sana.”

Pak Broto menutup pintu di belakangnya. Ketiganya masih mematung beberapa saat.

“Kayaknya dosen kita beneran ikut.” Abde memecah keheningan lebih dulu.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk