Di sudut kamar yang remang, di bawah lampu meja yang temaram, seorang perempuan berusia 35 tahun duduk merenung. Maria namanya. Di tangannya, secangkir teh yang perlahan mendingin, sementara pikirannya melayang kembali ke masa lalu.
Maria masih ingat jelas bagaimana ibunya sering menangis di malam hari, meratapi sikap ayah yang temperamental. Ayahnya tidak pernah memukul, namun kata-kata kasar dan amarahnya menghantam lebih keras dari tinju. Setiap kali marah, ayahnya akan membanting barang-barang, membuat rumah terasa seperti medan perang.
“Ibu, kenapa Ayah selalu marah?” Maria kecil pernah bertanya, dengan mata besar yang penuh kebingungan.
Ibunya mengelus kepala Maria dengan lembut, air mata mengalir di pipinya. “Nak, nanti jangan cari suami seperti Ayahmu,” katanya pelan, suara bergetar. “Jangan biarkan dirimu mengalami hal yang sama.”
Kata-kata itu terpatri dalam ingatan Maria. Sejak saat itu, ia bertekad untuk tidak mencari suami seperti ayahnya. Namun, tekad itu berkembang menjadi ketakutan yang lebih dalam. Maria tumbuh menjadi perempuan yang enggan untuk menikah. Hubungan cinta baginya hanya sebatas pacaran, tidak lebih.
Sekarang, di usia pertengahan 30, Maria masih setia pada keputusannya. Beberapa kali ia menjalin hubungan, namun ketika pembicaraan mulai mengarah ke pernikahan, ia selalu mundur. Ia takut mengulangi sejarah ibunya, takut terperangkap dalam lingkaran kekerasan emosional.
Maria menyesap teh yang kini dingin, menarik nafas dalam-dalam. Ia tahu, keputusan ini membuatnya merasa aman, namun juga sendirian. Ada kerinduan akan cinta yang tulus, namun ketakutan akan masa lalu masih menghantui.
“Mungkin suatu hari,” bisiknya pada diri sendiri, “aku bisa menemukan seseorang yang bisa menghapus bayangan masa lalu ini.”
Namun, hingga saat itu tiba, Maria memilih untuk tetap berhati-hati. Ia tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Dengan hati yang penuh luka tapi tegar, ia terus menjalani hidupnya, mencari kebahagiaan dalam bentuk yang lain.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!