Di Balik Keraguan

2 dibaca

A

Kamu berdiri di ambang pintu, menyaksikan kekasihmu terisak-isak di sudut kamar. Matanya yang merah dan sembab menatapmu penuh keraguan, seolah mencari jawaban yang tak bisa ia temukan sendiri.

“Apakah kamu benar-benar mencintaiku?” tanyanya dengan suara yang bergetar.

Kamu hanya tersenyum lembut, meski hatimu tersayat mendengar keraguannya. Kamu berjalan mendekat, mencoba meraih tangannya.

Namun ia segera menepis tanganmu dengan kasar. “Jangan sentuh aku! Aku tahu kamu hanya berpura-pura baik!” teriaknya, penuh emosi.

Kamu tetap diam, memberikan waktu dan ruang untuknya.

Ia menangis lebih keras, menuduhmu dengan berbagai hal yang tidak benar.

Kamu tahu ini bukan tentangmu, ini tentang lukanya yang belum sembuh.

Kamu mencoba mendekatinya lagi, kali ini dengan lebih hati-hati. “Aku ada di sini,” bisikmu, nyaris tak terdengar di tengah isakannya.

Kamu mencoba memeluknya, tetapi ia memukulmu, menolak pelukanmu.

Sakit.

Tak seberapa, pikirmu. Tak mengapa, bisikmu pada diri sendiri. Kamu tahu kamu menyayanginya.

“Aku tidak percaya padamu!” ia berteriak, mencoba melawan kenyamanan yang kamu tawarkan.

Kamu tetap sabar, membiarkan waktu yang menjawab.

Perlahan, tangannya mulai melemah, dan akhirnya ia jatuh dalam pelukanmu, meski dengan tubuh yang kaku dan hati yang masih ragu. Kamu mengelus punggungnya, meski tahu ia belum siap menerimanya.

Dalam diam, kamu berusaha memahami luka batin yang ia bawa. Kamu tahu proses ini tidak akan mudah. Namun, dalam hatimu, kamu berjanji untuk menemaninya, menjalani setiap langkah proses penyembuhan ini.

“Aku akan tetap di sini,” bisikmu pelan. “Tapi, aku juga mau kamu untuk berusaha sembuh, untuk memulai hidup baru kita bersama.”

Ia tidak menjawab dan perlahan kamu merasakan isakannya mulai mereda.

Dan kamu tahu, meski jalan ini panjang dan berliku, kamu siap menempuhnya bersamanya.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk