Nge-gas Dulu, Konsekuensi Belakangan

0 dibaca

A

Namaku Sandy, seorang pria berpenampilan culun yang beruntung memiliki pacar cantik bernama Jihan. Hubungan kami penuh warna, kesabaranku yang setipis tisu toilet dibagi dua selalu ditutupi oleh kesabaran Jihan. Namun, kadang rasa tidak percaya diri membuatku bertindak bodoh.

Suatu sore, aku sedang asyik menonton televisi ketika ponselku berbunyi. Pesan dari Jihan muncul di layar.

“Aku mau ke minimarket beli pembalut, Sayang. Lagi datang bulan. Hape aku juga low-bat, jadi nanti kalau enggak bisa dihubungi, kamu tahu ya,” tulisnya.

“Oke, hati-hati ya, Sayang,” balasku cepat.

Sekitar pukul tujuh malam, aku mengirim pesan untuk mengingatkan Jihan makan malam. Namun, hanya centang satu yang muncul.

Waktu berlalu, dan semakin lama aku semakin gelisah. Pikiran-pikiran negatif mulai memenuhi kepalaku. Bagaimana kalau Jihan selingkuh? Dia cantik, tentu saja lebih mudah baginya untuk menarik perhatian pria lain dibandingkan aku yang cupu.

Aku mencoba menelepon Jihan melalui nomor telepon biasa, bukan WhatsApp, tetapi nomornya tidak aktif.

Kepanikan merayap, dan aku mulai memaki-maki Jihan dalam hati. Emosiku meledak. Aku melempar barang-barang di meja kamarku untuk melampiaskan amarah. Dengan jari gemetar, aku mengetik pesan penuh makian dan tuduhan, meskipun aku tahu pesannya belum diterima.

“Kenapa kamu enggak balas pesan?! Kamu di mana? Apa kamu selingkuh?!” ketikku dengan marah. Aku merasa dikhianati, meski tanpa bukti. Perasaanku bercampur aduk antara cemas dan marah.

Sekitar pukul sembilan, akhirnya ada balasan dari Jihan.

“Maaf, baru balas. Tadi keserempet mobil waktu jalan ke minimarket. Ada cowok-cowok naik motor godain aku. Aku takut, jadi jalan cepat-cepat, enggak lihat ada mobil lewat. Jadinya keserempet,” tulisnya.

Aku merasa lega sejenak, tetapi kemudian amarahku kembali membara. Alih-alih bersimpati, aku malah memarahi Jihan.

“Kamu sengaja ya mau digoda orang lain? Pasti kamu menikmati perhatian dari mereka! Kamu selalu cari-cari perhatian dari cowok lain, ya?!” teriakku di telepon. Suaraku penuh dengan kemarahan dan kekecewaan.

“Apa?! Kamu serius, Sandy? Aku baru aja kecelakaan, kamu malah nuduh aku?!” balas Jihan dengan suara tercekat. “Kamu enggak tau kan kalo tadi aku takut banget? Tapi sekarang aku lebih takut karena ternyata kamu enggak peduli sama aku.”

“Jangan lebay, deh! Kamu pasti suka digoda mereka!” Aku membalas dengan kasar sebelum menutup telepon.

Lima menit kemudian, rasa penyesalan mulai muncul.

Aku mengecek hape dan melihat bahwa profile picture Jihan menghilang.

Panik, aku segera mengecek apakah Jihan nge-block nomor WhatsApp-ku. Aku mengirim pesan berkali-kali, mencoba menelepon lagi, tetapi tidak ada respons selain panggilan yang tiba-tiba berakhir.

Aku duduk di sudut kamar, merasa hancur dan bodoh.

Bagaimana bisa aku begitu kejam padanya? Bukannya memberi dukungan saat dia membutuhkan, aku malah menambah beban.

Aku berharap besok aku bisa memperbaiki kesalahan ini, meskipun dalam hati aku tahu itu mungkin sudah terlambat.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk