New Day, New School

1 dibaca

A

Pagi hari itu Jessi sudah berangkat dari rumahnya menuju sekolah. Dirinya begitu disesaki oleh rasa senang dan percaya diri, sebab impiannya bersekolah di tempat bergengsi akhirnya terwujud.

Jessi mengenakan seragam rapih saat itu. Kemeja putih, dibalut rompi rajut berlambang Batavia, celana kain pas selutut kaki, serta pantofel. Dilengkapi oleh jas berlambang Batavia, Jessi terlihat gagah dipandang.

Naik dari halte dekat rumahnya, Jessi menaiki bus menuju sekolah. Hal ini sebab motor dipakai Ayah bekerja dan hanya ada 1, sehingga hanya bus moda transportasi yang bisa ia andalkan.

Kala masuk bus pun, kehadiran Jessi mengundang perhatian semua penumpang bus. Beberapa berbisik jika anak Batavia menaiki bus, namun Jessi memilih tidak acuh dan duduk di dekat pintu.

Pagi hari itu cerah, tidak menampakkan tanda-tanda hujan akan turun. Hal ini makin membuat Jessi bersemangat, tak sabar akan sekolah barunya.

Perjalanan berlangsung tidak lama, bus berhenti di halte Batavia International School karena Jessi menekan tombol berhenti. Selepas membayar dengan tap kartu, Jessi turun dengan senyum lebarnya.

Di depan matanya, terpampang sebuah pemandangan megah sebuah gedung bergaya modern. Jessi seakan tak percaya akhirnya ia di titik ini, dirinya akan ikut bersekolah dengan orang-orang kaya dan akan bergaul dengan mereka pula. Seperti mimpi siang bolong saja pikirnya.

Saat masih terpukau, Jessi dibuat terjengkang dan melompat ke pinggir hampir jatuh. Sebuah mobil sedan mahal lah penyebabnya yang menekan klakson,

“Minggir, anjing! Ngalangin jalan aja lu.” Bentak si sopir penuh emosi, yang ternyata murid juga

Jessi tentu kesal, ia sedang terpukau tetiba diklakson orang random tanpa alasan. Hari pertamanya, dan ia sudah kena amuk.

“Hm? Eh itu kan seragam Batavia paling murah, kenapa dia pake itu?” Tanya gadis di samping si sopir dengan angkuh yang juga murid Batavia

Jessi tentu kaget, ucapan itu walau benar namun tetap saja menyinggung nya.

Si sopir mengangguk setuju “muka lu juga gak familiar, murid baru ya lu?”

“Iya, gak sopan banget sih lu klakson orang sembarangan! Gak diajarin sopan santun ya lu sama orang tua lu?” Sinis Jessi kesal karena sudah dihina

Kedua murid itu tertawa puas dihajar punch line “udah murid baru, miskin, sok nasehatin pula! Mending lu ambil pemotong rumput lu dulu deh, rumput di depan gedung utama udah panjang tuh!”

Si sopir langsung tancap gas masuk sambil tertawa puas, meninggalkan Jessi dalam kesal. Ia tak tahu siapa nama 2 murid itu, namun Jessi bertekad akan membalasnya nanti.

Enggan terus dibuat kesal, Jessi berjalan masuk terus ke dalam sekolah. Ia kembali terperangah melihat isi gedung, sebuah arsitektur sederhana namun fituris menyambut mata Jessi.

Berjalan di lorong menuju kelasnya, Jessi berkali-kali mengucapkan wah karena begitu rapih dan bersih. Di sekolah sebelumnya, hal ini hampir mustahil terjadi. Walau tidak nampak sampah, debu dan tanah hampir pasti ditemui di lorong-lorong sekolah.

Masuk ke kelasnya, sesuai dengan instruksi yang sudah diberikan dalam surat. Jessi melihat murid-murid lainnya di kelas, senyumnya mengembang karena tak sabar ingin berkenalan dan berteman.

Sebelum itu, Jessi menaruh dulu tasnya di sebuah bangku barisan depan sebelum diduduki orang lain. Namun baru Jessi menaruh tasnya di kursi, seorang murid duduk di kursi tersebut out of nowhere.

“Ini kursi gue, cari tempat lain!” Sungut murid tersebut

Jessi pun mau tak mau manut dan mengambil tasnya lagi, lalu menaruh di bangku sebelahnya.

“Itu bangku temen gue, cari lagi sana!” Jessi melirik nametag si murid yang ternyata bernama Kathrin

Jessi mulai kesal namun mencoba sabar, ia mulai sadar orang-orang seperti ini akan selalu ada di sekolah manapun. Maka Jessi akan mengalah saja,

“Saran aja, lu duduk di belakang sono. Gak ada yang duduk tuh.” Kathrin menunjuk kursi paling belakang kelas yang sudah reot dan tidak ada mejanya seperti kursi lain

“Masalah lu apa sih? Gue liat liat lu tengil banget!” Jessi akhirnya mengeluarkan unek-uneknya

“Seragam lu yang paling murah, muka lu baru, kelakuan lu gak ada sopan sopannya ya sama gue. Gue anak Preppies, jangan main-main lu ama gue!” Sungut Kathrin lebih nyolot

Jessi maju selangkah karena merasa harus memberi pelajaran pada murid tengil seperti Kathrin, namun sebelum itu Jessi ternyata kalah cepat.

Kathrin menghantarkan bogem mentah lurus, menghantam wajah Jessi hingga tersentak ke belakang. Terlihat dari gerakannya itu bukan pukulan biasa, pukulan khas seorang petinju ahli.

Murid-murid pun berseru guru akan masuk, segera semua kembali ke kursi. Kathrin sendiri melempar tas Jessi kasar, sebelum kembali ke kursinya di depan.

Jessi dengan bibir sedikit lebam mengambil tas dan ke kursi belakang, ia tahu jika sekarang berkelahi maka semuanya akan kacau. Ayahnya yang sudah mengusahakan memasukannya ke sini akan sia-sia jika Jessi hancurkan, bahkan di hari pertamanya sekolah.

Pelajaran pertama pun dimulai. Sang guru yang sudah diberitahu adanya murid baru pun mempersilahkan Jessi maju ke depan, memperkenalkan diri di depan teman-teman sekelasnya.

“Namaku Jessica Chandra, biasa dipanggil Jessi. Asalku dari—“

Kathrin yang duduk di depan menguap, pun diikuti murid lain yang justru seperti tak tertarik. Bahkan ada yang bermain hp atau membuka buku, mengacuhkan Jessi di depan.

“Asalku dari Bandung. Mohon bantuannya.” Singkat saja dilanjut Jessi mengangguk pada guru, memberi tanda ia selesai memperkenalkan dirinya

Entah mengapa si guru pun merasa tak enak, namun memilih diam dan tidak memiliki pilihan lain. Sehingga si guru pun mengizinkan Jessi kembali ke kursinya,

Namun saat berjalan kembali ke kursinya, Kathrin dengan sengaja menyelengkat kaki Jessi. Sehingga membuat Jessi yang terkejut tak mampu menahan diri dan jatuh ke lantai agak keras, seisi kelas menoleh dan justru tertawa.

“Makanya kalo jalan pake mata dong.” Canda Kathrin menambah bensin tawa pada murid lain

Jessi memilih bangkit dan berjalan ke kursinya, dengan lutut yang linu karena paling pertama menghantam lantai.

Sang guru? Hanya diam, sepertinya ada suatu hal yang aneh di sini. Jessi bisa rasakan itu, namun aura yang terpancar seakan menahannya tanpa sebab.


Selama jam pelajaran, Jessi sungguh merasakan kesendirian dalam keramaian yang hakiki. Dirinya ada di sana, namun tidak ada keramaian terasa.

Jika biasanya ada murid baru, murid-murid lain ingin berkenalan dan berteman. Itu tidak berlaku, Jessi seakan sebuah pajangan yang tidak digubris.

Tidak ada perkenalan, keramahan, apalagi permintaan pertemanan. Jessi hanya... Di sana, sendirian.

Saat jam istirahat berbunyi. Semua murid saling mengajak untuk bercengkrama, Jessi saja yang duduk sendiri di pojok belakang tanpa ada ajakan.

Maka Jessi memilih membawa bekalnya, keluar kelas menuju tempat lain yang nyaman. Namun sepertinya tak semudah itu,

“Mau ke mana lu? Eh bawa bekel lu? Kek anak TK aja lu!” Cela Kathrin melihat Jessi membawa kotak bekal

“Gak usah ganggu gue, gue mau makan dengan tenang.” Jawab Jessi datar karena ia tahu tujuan ejekan Kathrin

“Mana coba gue mau liat, bekel apa sih lu?” Kathrin langsung merebut bekal Jessi sambil mendorong tubuh Jessi

“Woy balikin!” Jessi coba raih bekalnya lagi namun Kathrin terus menghindar

“Nasi goreng? Oh iya, ini makanan orang miskin ya? Sorry sorry, gak relate gue.” Jessi akhirnya bisa mengambil balik bekalnya

Jessi segera melangkah pergi dari kelas, ia tentu kesal direndahkan demikian. Bukan hanya soal nasi goreng atau hinaan miskin, namun bekal itu dibuat oleh Ibu.

Nasi goreng itu terasa jauh lebih berharga dari diri Jessi sendiri, sampai-sampai rela dihina oleh Kathrin. Jessi masih coba tahan,

Hari pertama berjalan buruk. Ternyata orang-orang kaya tidak sebaik di benak Jessi, bahkan melebihi ekspektasi kenakalan yang Jessi terima di SMA sebelumnya. Entah akan bagaimana kedepannya, Jessi hanya akan terima saja.

HHL bakal update tiap weekend biar kalian bacanya lebih santai, walau mungkin gak santai juga abis bacanya haha.

Btw kalo suka boleh vote dan komen, sebuah semangat sekecil apapun dukungan kalian. Danke, dan sampai berjumpa di part lain.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk