3 hari sudah Jessi bersekolah di Batavia, namun 3 hari pula ia seperti tidak hidup. Dirinya tidak merasakan indahnya sekolah, tidak merasakan hangatnya pertemanan. Semuanya dingin, menusuk ke ulu hatinya.
Jessi mulai merindukan dan berharap bisa kembali ke sekolah sebelumnya, dimana nyalak apinya ada dan membara. Namun itu sama saja dengan tidak menghargai Ayahnya, dan Jessi enggan melakukan hal sebodoh itu.
Sehingga Jessi hanya bisa bertahan dan bertahan, aksi melawannya hanya akan membawa pada masalah lainnya. Dia telan semuanya, tidak akan memuntahkan nya apapun yang terjadi.
Salah satunya di kelas kini, dimana pelajaran sedang berlangsung seperti biasanya. Jessi masih di tempat duduknya; di pojok, di bangku reot tanpa meja, terisolir dari kelas yang ramai.
Sang guru yang kebetulan mengajar matematika memberi beberapa soal untuk dikerjakan para murid, namun bedanya kini tugas tersebut harus dikerjakan berkelompok. Jessi sudah malas jika hal ini terjadi, karena ia barang pasti tidak akan diajak.
Akhirnya pekerjaan soal diberikan, semua murid seketika fokus dan menghitung dengan cermat angka-angka dari soal yang diberikan. Para murid membuat lingkaran sendiri, berdiskusi dan bertukar pendapat untuk menyelesaikan soal.
Jessi melihat ke sekitar, ia tidak diajak bergabung dan hanya didiamkan. Sebab itu maka Jessi coba mendatangi door to door,
“Eh sorry, aku boleh gabung gak?” Sapa Jessi sopan sambil memegang buku tulisnya
“Kelompok kami udah kebanyakan, pilih yang lain aja!” Tegas dan dingin, Jessi langsung menggaruk-garuk kepalanya bingung
Tak patah arang, Jessi ke kelompok lain dan selalu ditolak dengan 1001 alasan. Muak tentu saja Jessi rasakan, ia tahu alasan-alasan itu hanya bualan semata agar dirinya tetap pada derajatnya di kelas, rendahan.
Sang guru pun pasti tak mau terima alasan tak masuk akal Jessi, karena tugas adalah tugas dan wajib dikerjakan. Maka akhirnya ia selalu kembali ke titik yang sama, kesendirian.
Jessi bersila di lantai, bukunya ia taruh di kursi reot nya. Dimulailah Jessi menyelesaikan soal-soal, sendiri tanpa bantuan dan perhatian yang seharusnya ia terima.
Sulit tentu saja, Jessi coba saja kerjakan sesuai kemampuannya. Tangannya dengan lincah dan mata menatap tiap angka, Jessi fokus pada apa yang di depannya.
Anehnya, Jessi sudah selesaikan soal-soal yang diberikan karena kecepatan menghitung dan logika yang encer. Sedangkan kelompok-kelompok lain ada yang mengobrol, masih berkutat dengan rumus, atau bahkan ada yang belum memulai.
Jessi berjalan ke meja guru dan menyerahkan hasil pengerjaan, dimana si guru terkejut. Terkejut karena Jessi bisa menyelesaikan soal dengan cepat, dibanding murid lainnya.
“Nomor 8 masih salah, cuma 9 soal lainnya udah bener. Nice work, Jessica.” Puji si guru bangga memberi nilai pada hasil kerja Jessi
Para murid yang menguping terkejut, Jessi bisa mengerjakannya dengan cepat dan hampir sempurna.
“Kalo orang miskin emang cepet mikirnya, karena yang dia pikirin gimana bisa makan doang. Lah kita mah mikirnya panjang, wajar ngerjainnya lama.” Celetuk Kathrin menatap remeh pada Jessi
Sontak seisi kelas tertawa. Tawa itu bukan tawa komedi, tapi tawa hinaan yang menginjak-injak harga diri Jessi.
“Kathrin, language!” Tegur si guru, namun Kathrin dengan tertawa memberi gestur meminta maaf walau Jessi tahu itu hanya omong kosong
Jessi tak bisa berteriak atau melawan, ia seperti sudah direduksi oleh ucapan sinis Kathrin yang luar biasa menusuk. Sehingga hanya senyum tipis dan anggukan saja yang Jessi bisa berikan, lalu dengan langkah berat Jessi kembali ke kursinya, menunggu waktu istirahat yang sangat lama tiba.
Bel istirahat berbunyi nyaring, hal ini segera disambut riuh oleh para murid yang telah lelah belajar dan butuh peregangan. Berbeda dengan Jessi, ia amat sangat bersyukur karena salah satu suara kebebasan telah bersabda yang membuat Jessi merasakan angin kebebasan.
Seperti sebelum-sebelumnya, Jessi segera merapihkan buku-bukunya dan mengambil kotak bekal untuk meninggalkan kelas. Sebelum ia menjadi bahan komedi teman-teman sekelasnya,
Namun baru berdiri dan hendak melangkah, Kathrin segera menghalangi dan tersenyum. Jessi tentu malas, ia tahu apa yang iblis itu akan lakukan.
“Apa? Lu mau bully gue lagi?” Tanya Jessi dengan sinis
“Kagak, justru gw mau minta tolong. Yaa gue tahu gw agak jahat ke lu, cuma sekali ini aja gue mau minta tolong. Boleh ya, Jessica Chandra?” Kathrin meminta agak memohon disertai iba, agar Jessi mau membantunya
Jessi awalnya curiga namun ia berusaha positive thinking kali ini, apalagi Kathrin meminta dengan agak iba. Sepertinya ini kesempatan Jessi bisa membalas Kathrin,
“Iya gue mau, gue harus apa?”
“Ambilin kursi baru di gudang dong, kursi gue udah gak enak. Cepetan sebelum kelas mulai lagi!” Paksa Kathrin dengan wajah puas hati
“Ogah, lu ambil sendiri aja sana! Lagian kan lu-“ Jessi langsung jatuh tersungkur karena dihajar dengan keras tepat di perut oleh Kathrin
Baru Jessi menengadah, Kathrin menjenggut rambutnya dan menatap tajam nan dingin.
“Lu ambilin sekarang atau gue bikin lu nyesel gak mau ambilin? Pilih!” Ancaman Kathrin begitu nyata
“Gue gak mau-“ Kathrin menghajar wajah Jessi hingga benar-benar tersungkur
“Gak mood ah gue, dasar lu miskin!!” Kathrin dengan keras menendang kotak bekal makan Jessi hingga isinya berceceran
Jessi menatap nanar bekalnya yang kini sudah berceceran di lantai, seakan tak percaya apa yang disaksikan nya. Ibunya dengan senang hati dan penuh cinta membuat bekal itu, kini dilecehkan begitu saja?
Sekali gerakan Jessi bangkit dan memeluk perut Kathrin, ia dorong sedikit dan mengangkatnya sekuat tenaga. Amarah Jessi sudah buta, ia tak peduli siapapun yang melakukan hal itu pada cinta ibunya.
Dengan sekali bantingan ke kursi, Kathrin seperti barang yang dibanting seenaknya. Kathrin seketika memekik kesakitan dengan darah mengucur dari mulutnya, punggung yang paling pertama menghantam kursi langsung terasa nyeri dan linu.
Seisi kelas hening, tak percaya apa yang baru saja disaksikannya. Perlahan mereka berjalan mundur, seakan ada sebuah ketakutan pada Jessi.
Sementara itu ada seorang siswi di ambang pintu, ia bukan murid sekelas Jessi namun ada di sana sejak awal. Melihat dengan jelas apa yang terjadi, namun dirinya hanya diam mematung menonton.
Selepas melihat Jessi membanting Kathrin, ia berbalik badan dan mengeluarkan telepon. Sebuah nomor ia hubungi,
“Selamat siang, Nona Freya? Ada yang bisa saya bantu?”
“Kasus Jessica Chandra dari kelas 11-4 itu murni salah Kathrin karena mulai duluan, ada bukti CCTV nya. Cukup beri dia teguran aja, jangan ada sanksi apapun karena dia cuma membela diri.”
“I-ini pertama kalinya anda mau peduli dengan murid lain, Nona. Maaf saya lancang bertanya, kenapa Nona mau membantu dia?”
“Kami memiliki kesamaan, makanya aku ngerasa harus bantu dia.”
Selepas itu telepon ditutup. Murid bernama Freya itu berjalan ke taman sekolah sendirian, namun sepertinya ucapannya memiliki kebenaran.
Freya berjalan orang-orang membicarakannya di belakang, seakan sesuatu hal pernah Freya lakukan.
Tapi apa yang Freya pernah lakukan? Apakah Freya sama seperti Jessi? Nobody knows,
“Panggilan kepada Jessica Chandra dari kelas 11-4 dimohon menghadap BK sekarang juga!”
Panggilan dari pengeras suara itu membuat Jessi tersadar dari amarahnya. Ia tertegun melihat Kathrin batuk-batuk darah, berbaring di lantai dengan patahan kursi.
Ada rasa kasihan dan puas Jessi rasakan, melihat bajingan yang menginjaknya kini menelan obatnya sendiri.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!