Malam yang Belum Berakhir

0 dibaca

A

‘Ingatan yang aku lihat? Maya bisa membaca ingatan? Tapi dengan cara apa?’

Jemari Leo memegang kemudi dengan lebih erat, matanya melirik kaca spion tengah. Bayangan Maya yang sedang menyandarkan kepala di kaca mobil tampak di sana.

‘Aku harus menanyakan tentang ini kepada Maya. Tapi, sepertinya aku harus menunggu waktu yang tepat.’

Beberapa saat kemudian suara batin Maya kembali memcah keheningan di kepala Leo.

‘Aku tahu Leo tertarik padaku, tapi tidak mungkin dia berbohong tentang flashdisk hanya untuk mendekatiku. Lagi pula rasa cemas yang aku rasakan nyata.’

Ciiiiiiittt!!!

Leo mendadak menginjak rem. Suara pikiran Maya membuatnya terkejut. Untung saja tidak ada mobil di belakang mereka. Jalanan sudah sepi.

‘Bagaimana Maya tahu aku tertarik padanya? Oh tidak!’

Di belakang, Emily dan Maya tersentak karena mobil yang berhenti tiba-tiba di tengah jalan.

“Ada apa?” tanya Maya.

Leo berusaha mengendalikan diri dan langsung menenangkan kedua perempuan itu.

“Maaf. Ada kucing melintas. Jadi aku refleks menginjak rem.”

Setelah menarik napas panjang, Leo kembali menjalankan mobilnya.

“Syukurlah. Kaget sekali!” ucap Emily sambil membetulkan posisi duduknya. “Ngomong-ngomong, siapa namamu? Aku cuma tahu kamu pelanggan tetap yang selalu duduk di sudut kafe.”

Leo berdehem. “Ah, maaf. Aku lupa memperkenalkan diri. Namaku Leo. Leo Faramir. Senang berkenalan dengan kalian.”

“Aku Emily Ross, dan ini Maya Galadriel,” sahut Emily ramah. “Terima kasih sudah mau mengantar kami, Leo.”

“Sama-sama. Jadi, malam ini aku harus mengantar kalian ke mana?” tanya Leo.

“Kami tinggal di The Paras Residence. Apakah kamu tahu?” Emily balik bertanya.

“Tentu saja! Kebetulan yang aneh. Aku tinggal di sebelah flat itu. Rumah bata merah dengan pagar besi hitam.”

“Wow. Ternyata kita tetangga,” seru Emily. “Kami baru pindah bulan lalu. Sebelumnya kami tinggal di tempat lain.”

Maya yang asyik menatap jalanan ikut menoleh, matanya bertemu dengan mata Leo di kaca spion tengah.

‘Tetangga? Kenapa tidak pernah bertemu?’

Leo mendengar itu tapi berusaha mengabaikan. Memang Leo jarang keluar rumah. Rutinitasnya hanya ke kafe setiap malam. Wajar saja jika mereka berdua tidak pernah bertemu.

Beberapa menit kemudian, mobil Galant silver itu akhirnya menepi di depan gerbang The Paras Residence. Jarak dari kafe ke tempat tinggal mereka tidak jauh.

“Kami duluan, Leo,” ucap Emily sambil turun membawa tasnya.

Maya menyusul dari sisi berlawanan.

“Terima kasih, Leo. Untuk semuanya,” ucap Maya  sambil tersenyum.

“Sama-sama, Maya. Lekas masuk, gerimis sudah mulai turun.”


Sementara itu, di lorong belakang kafe yang makin dingin, pria berjaket hitam melihat jam tangannya. Pukul setengah sebelas malam.

“Bos, kok gadis itu tidak keluar-keluar lagi, ya?” bisik anak buahnya yang mulai kedinginan.

Pria itu berdecak frustrasi, mengintip ke arah pintu belakang. Kantong sampah masih tergeletak di sana, tapi pintu tertutup rapat.

“Coba kamu lihat dari jendela samping! Sedang apa mereka di dalam?”

Anak buahnya yang bertubuh besar keluar dari kursi pengemudi, lalu berjalan menjauh. Tak lama, ia kembali dengan setengah berlari.

“Bos, sudah tidak ada siapa-siapa di dalam. Lampunya juga sudah mati semua!” Anak buahnya itu melapor dengan napas tersengal.

“Sialan! Mereka pasti keluar lewat pintu depan sejak tadi!” umpat pria berjaket hitam itu sambil menendang tempat sampah. “Gagal rencana kita malam ini!”

“Lalu bagaimana bos? Kalau Bos Besar tahu, beliau pasti marah besar.”

Pria berjaket hitam mengeluarkan ponselnya.

“Aku yang akan menghubunginya. Kita harus tetap lapor.”

Ia menekan nomor yang sudah tersimpan di ponselnya. Panggilan tersambung setelah beberapa detik.

“Bos Besar, kami gagal. Target meninggalkan kafe tanpa sepengetahuan kami,” lapor pria berjaket hitam.

“Dasar bodoh!” bentak suara di seberang.

“Ma… maaf, Bos.”

“Kita harus menyusun rencana baru. Mulai malam ini, awasi tempat tinggalnya. Amati rutinitasnya dan laporkan semuanya kepadaku.”

“Baik, Bos.”

“Aku kirim alamatnya sekarang. Jangan sampai membuat kesalahan lagi.”

Panggilan terputus. Beberapa saat kemudian, sebuah pesan masuk ke ponsel pria berjaket hitam.

“Kita punya tugas baru. Ayo, cepat nyalakan mobilnya!”

“Ke mana kita, Bos?”

“Maplewood. The Paras Residence!”

Kedua pria itu segera masuk ke dalam mobil dan meluncur menuju tempat tinggal Maya.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk