Setelah menurunkan Maya dan Emily di depan gerbang The Paras Residence, Leo memasukkan mobilnya ke dalam garasi, lalu masuk ke dalam rumah melalui pintu samping. Ia melangkah naik ke lantai dua menuju ruang kerjanya.
Suasana rumah bata merah itu sunyi. Leo tinggal seorang diri di sana. Ayah dan ibunya sudah meninggal, sementara ia tidak memiliki saudara. Hanya ada tukang bersih-bersih yang datang setiap pagi hingga sore dan seorang tukang kebun yang datang seminggu sekali.
Rumah itu merupakan peninggalan kedua orang tuanya. Sejak kepergian mereka, Leo harus terbiasa dengan kesunyian rumah besar tersebut. Setiap kali para pekerja itu pulang, hanya dirinya yang tersisa di antara ruangan-ruangan luas yang terasa semakin sepi.
Leo menyalakan lampu ruang kerjanya, lalu melangkah ke jendela yang mengarah ke taman kecil yang berbatasan dengan flat di sebelah. Ia menyingkap tirai tebal yang selama ini selalu tertutup. Saat itulah Leo baru menyadari, ruang kerjanya ini menghadap langsung ke balkon flat yang ditempati Maya.
Di seberang sana, Leo melihat Maya dan Emily sedang duduk di lantai di depan televisi sambil menikmati makanan yang tersaji di sebuah meja kecil di hadapan mereka. Jarak jendela itu ke posisi Maya tidak lebih dari lima meter sehingga Leo masih bisa mendengar percakapan dan isi kepala mereka dari tempatnya berdiri.
“Maya, kenapa tadi kamu mengajak keluar lewat pintu depan? Bukankah biasanya kita selalu keluar lewat pintu belakang?”
“Aku merasa ada yang tidak beres di jalan belakang, Emily,” jawab Maya sambil menyuap makanannya.
“Tidak beres bagaimana?” Emily mengerutkan alisnya.
“Ada mobil terparkir di ujung jalan, dekat jalan besar. Aku takut melihatnya.”
Leo menghela napas. Ia tidak ingin menguping, apalagi memata-matai kedua gadis itu. Karena itu ia beranjak menuju meja kerjanya yang terletak di sudut ruangan, beberapa meter saja dari jendela.
Setelah duduk, Leo menyalakan laptopnya, lalu meraih headphone dan memasangnya ke telinga. Jemarinya bergerak lincah memutar musik klasik dengan volume cukup keras untuk meredam suara percakapan lisan kedua gadis itu. Meskipuj begitu, beberapa saat kemudian suara batin Maya tetap meluncur masuk ke kepala Leo tanpa permisi.
‘Aku tidak bisa memberitahu Emily tentang kilasan memori yang kulihat saat menyentuh Leo. Dia pasti menganggapku gila,’ batin Maya. ‘Tapi rasa cemas Leo, kilasan mobil hitam itu, semuanya terasa sangat nyata.’
“Jadi Maya bisa melihat kilasan memori dari sentuhan? Menarik,” gumam Leo.
Leo langsung melepas headphone-nya lagi. Ia kembali berjalan ke ambang jendela. Mengamati Maya dan Emily yang masih duduk di tempatnya.
Tiba-tiba Maya menepuk jidatnya sendiri dan membuat Emily terkejut.
“Apa lagi, Maya?”
“Astaga! Kantong sampahnya!” pekik Maya. “Leo meletakkannya begitu saja di samping pintu belakang sebelum menarikku masuk! Bagaimana kalau besok pagi Josh menemukannya?”
“Ya ampun! Pasti jadi masalah besar kalau manajer galak itu sampai melihatnya.”
Maya bangkit dari duduknya. “Emily, aku harus bagaimana? Apakah aku harus kembali untuk membuangnya?”
Emily cepat-cepat menahan lengan Maya. “Jangan gila, Maya. Ini sudah hampir jam sebelas malam dan di luar mulai turun hujan. Lagipula katamu di sana ada mobil mencurigakan. Kita bereskan besok pagi-pagi saja. Sebelum shift pagi datang.”
Maya hanya bisa mengangguk.
‘Semoga saja Josh tidak datang lebih awal besok pagi,’ batin Maya.
Di balik jendela rumahnya, Leo tersenyum tipis mendengar kepasrahan Maya. Setidaknya gadis itu aman untuk malam ini. Ia beranjak dari ambang jendela, berniat untuk menyeduh kopi dan melanjutkan mengetik naskah.
Namun, tepat saat Leo berbalik, sebuah suara yang tidak asing tiba-tiba masuk ke dalam pikirannya. Suara itu berasal dari luar rumahnya, tepat di balik pagar depan.
“Lapor, Bos Besar. Kami sudah sampai di The Paras Residence. Kami sedang mengawasi tempat tinggal gadis itu.”
Sensasi dingin mendadak menjalar di sekujur tubuh Leo. Itu suara pria berjaket hitam. Mereka menemukan Maya. Dan kali ini, mereka sudah tahu persis di mana gadis itu tinggal.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!