Maya melangkah mendekati Leo. “Sebentar. Ada daun di rambutmu.”
Leo mendongak, matanya menyiratkan rasa canggung. “Eh? Tidak apa-apa, biar kubersihkan sendiri.”
“Duduklah saja dulu, nanti malah semakin tersangkut,” potong Maya sambil menahan bahu pria itu agar tetap duduk.
Leo akhirnya menurut. Maya berdiri tepat di depannya, lalu jemarinya mulai merapikan dan menyapu daun-daun kecil dari rambut Leo.
Begitu jemarinya menyentuh rambut Leo, rangkaian ingatan pria itu mulai mengalir ke dalam benaknya.
Maya melihat sebuah mobil hitam terparkir di ujung lorong. Kemudian, ia melihat Leo berdiri di balik pohon sambil mengawasi tempat itu. Ingatan berikutnya memperlihatkan Leo mengatakan bahwa seseorang berniat mencelakai Maya. Lalu, adegan berganti ketika Leo menghampiri pria berjaket hitam dan berpura-pura meminta foto.
‘Apakah pria berjaket hitam itu yang berniat buruk padanya?’
Leo langsung berdiri tegak hingga membuat Maya terkejut.
“Eh, kenapa?”
Leo tidak menjawab. Ia hanya memandangi gadis itu dengan alis bertaut.
“Masih ada sedikit daun di rambutmu. Duduklah lagi.”
Leo kembali duduk, tetapi alisnya masih bertaut.
Maya kembali membersihkan sisa daun-daun kecil di rambut Leo. Namun, di antara ingatan-ingatan itu, ada hal lain yang ikut tersingkap. Maya melihat bagaimana di sela-sela mengetik naskah, Leo berulang kali mencuri pandang ke arahnya yang sedang bekerja di dekat meja kasir.
Sensasi emosi ketertarikan yang dirasakan Leo saat menatapnya tersalurkan begitu nyata hingga membuat kedua pipi Maya bersemu merah. Gadis itu cepat-cepat menarik kembali tangannya dari rambut Leo.
“Sudah... sudah bersih,” ucap Maya, berusaha menutupi rasa gugupnya.
“Kalian Sedang apa?” Emily yang sejak tadi memperhatikan mereka dari kejauhan akhirnya menghampiri.
“Dia mencari flashdisknya,” jawab Maya sambil menunjuk ke arah Leo. Gadis itu tidak berani menatap langsung wajah pria itu. Pipinya masih bersemu merah.
“Sudah ketemu?” tanya Emily lagi.
Leo merogoh kantong jaketnya. “Sudah. Ternyata jatuh di bawah meja dekat pot tanaman itu. Maaf, jadi merepotkan kalian.”
‘Dasar pembohong.’
Maya tersenyum geli. Dari ingatan Leo yang ia baca, pria itu sama sekali tidak menemukan apapun di bawah meja. Maya tahu mencari flashdisk hanya akal-akalan Leo untuk mencegahnya membuang sampah.
Tiba-tiba, Leo berdiri dan menatap kedua gadis itu. “Sudah malam, bagaimana kalau aku antar kalian pulang? Aku membawa mobil. Sepertinya di luar mau hujan.”
Emily tampak ragu. Namun, Maya langsung menyela.
“Boleh. Terima kasih banyak,” ujar Maya.
Leo tampak sedikit terkejut tapi tak lama pria itu kembali santai dan tersenyum. “Kalian tinggal di mana?”
“Kami tinggal di kawasan Maplewood. Tidak jauh dari sini,” jawab Maya.
“Bagus. Rumahku juga di sekitar sana. Kita searah,” ujar Leo dengan senyum yang tampak lebih lebar.
“Baiklah kalau begitu, aku dan Maya bersiap dulu.” Emily masuk ke ruangan kecil di balik meja kasir. Maya mengikutinya.
“Sebentar, ya,” ucap Maya kepada Leo.
Pria itu mengangguk.
Beberapa saat kemudian mereka keluar dan sudah mengenakan jaket serta tas masing-masing. Emily hendak berjalan ke pintu belakang, tapi Maya menahan lengannya.
“Lewat pintu depan saja, Emily.”
Emily menatap Maya dengan tatapan bingung, tapi akhirnya menurut. Mereka bertiga berjalan menuju pelataran depan kafe, meninggalkan pintu belakang yang tetap terkunci rapat.
Tak lama kemudian, sebuah Mitsubishi Galant berwarna silver meluncur tenang membelah kegelapan malam, membawa mereka bertiga menjauh dari area kafe.
Maya yang duduk di kursi belakang bersama Emily diam-diam memperhatikan Leo yang sedang menyetir.
‘Syukurlah kami berhasil pergi dengan selamat. Tapi aku penasaran, bagaimana Leo bisa tahu pria berjaket hitam itu punya niat jahat kepadaku. Sepanjang ingatan yang aku lihat, tidak ada kejadian yang menunjukkan niat jahat pria itu.’














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!