Suara dering ponsel yang nyaring membangunkan Maya dari tidurnya. Gadis itu menggeliat, meraba-raba meja samping tempat tidur dengan mata yang masih setengah terpejam.
Ketika jemarinya berhasil meraih ponsel dan menatap layarnya, jantung Maya langsung berdebar kencang. Nama Josh terpampang besar di sana dan jam digital menunjukkan pukul delapan lewat lima belas menit.
“Astaga! Emily! Kita kesiangan!” jerit Maya sambil berlari ke kamar sahabatnya itu.
Maya mengguncang tubuh Emily, tapi gadis itu hanya meracau pelan dan menarik selimutnya lebih tinggi. Maya kembali melirik ponselnya yang terus bergetar. Dengan tangan gemetar, ia menggeser tombol hijau di layar ponselnya sambil berjalan meninggalkan kamar Emily.
“Ha… halo, Josh—“
“Maya Galadriel! Ke kafe sekarang juga!”
Suara di seberang telepon membuat gadis itu refleks menjauhkan ponsel dari telinganya. Maya hendak menjawab, tapi Josh sudah lebih dulu bersuara.
“Jalan belakang bau busuk. Kantong sampah sobek dicakar kucing liar! Datang ke sini dalam lima belas menit, atau gajimu bulan ini kupotong!”
Sambungan terputus.
Maya segera lari ke kamar mandi. Ia mencuci muka, menggosok gigi secepat kilat, berganti pakaian seadanya, dan berlari membelah dinginnya udara pagi Maplewood menuju kafe, meninggalkan Emily yang masih terlelap di tempat tidurnya.
Di pintu belakang kafe, pemandangan yang menyambut Maya adalah mimpi buruk. Kantong sampah yang sobek, sampah berserakan yang basah oleh hujan, dan bau busuk yang menyengat. Josh berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan bersedekap dan wajah merah padam.
“Josh, maafkan aku. Semalam ada kejadian—“
“Aku tidak butuh alasan, Maya!” potong Josh tanpa memberi ruang sedikit pun untuk penjelasan. “Membuang sampah sebelum pulang adalah tanggung jawabmu, tapi kamu lalai. Karena kecerobohanmu, citra kafe ini rusak. Aku tidak bisa mempertahankan pekerja yang tidak bertanggung jawab.”
“Josh, tolong... Beri aku satu kesempatan lagi. Aku sangat membutuhkan pekerjaan ini,” mohon Maya dengan mata berkaca-kaca.
“Maaf, Maya. Aku tidak bisa. Aku memberimu waktu sampai akhir bulan ini saja. Sekarang bereskan kekacauan di sini dan kembali lagi saat waktu shiftmu.”
Kalimat itu memutus seluruh harapan Maya. Dengan badan lemas dan jemari yang gemetar, gadis itu menyapu jalanan di belakang kafe sampai bersih. Setelah itu ia berpamitan pada Josh, lalu keluar dari kafe dengan pandangan kabur oleh air mata
Maya berjalan gontai menyusuri trotoar menuju The Paras Residence. Langkah kakinya terhenti di bangku kayu kecil di trotoar depan The Paras Residence. Maya duduk di sana, menundukkan kepala dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Air matanya mengalir semakin der
Leo sedang menikmati pagi dengan duduk santai dan minum teh di teras rumah. Namun tiba-tiba gelombang pikiran Maya masuk ke dalam kepalanya dengan jelas.
‘Bagaimana ini? Mencari pekerjaan baru tidak mudah. Uang tabunganku hanya cukup untuk satu bulan ke depan,’ batin Maya.
Leo berdiri dari kursinya. Mencari-cari sumber suara itu. Ia melihat Maya sedang duduk di kursi kayu depan The Paras Residence.
“Apa yang terjadi dengan Maya? Kenapa dia menangis?”
Mendengar isak Maya yang semakin kencang, Leo melangkah keluar menuju trotoar dan mendekati gadis itu.
Sambil berjalan, sekilas Leo melihat mobil pria berjaket hitam di tikungan jalan di depannya. Ia sempat waspada, tetapi beberapa detik kemudian pikiran salah satu pria itu terdengar. Mereka hanya mengawasi Maya dan belum berniat melakukan apa-apa.
“Maya?” panggil Leo.
Maya tersentak, cepat-cepat mengusap pipinya lalu mendongak. Ia berusaha memaksakan senyum tipis.
“Leo... Selamat pagi.”
Leo menatap wajah sendu gadis di hadapannya. “Kamu kelihatan kacau. Ada apa?”
Maya tidak langsung menjawab. Gadis itu hanya menatap Leo.
‘Haruskah aku memberitahunya kalau aku dipecat? Ini memalukan, tapi siapa tahu Leo punya informasi tentang lowongan pekerjaan untukku.’
Leo terkejut mendengar pikiran Maya.
‘Dipecat? Kenapa tiba-tiba dia diberhentikan dari kafe?’
Saat itulah Leo teringat percakapan Maya dengan Emily semalam dan pikiran Maya yang terdengar begitu panik pagi tadi.
‘Pasti gara-gara sampah!’
Rasa bersalah langsung menyelimuti Leo. Semalam, dialah yang meletakkan kantong sampah itu di samping pintu belakang kafe dan mengajak Maya masuk. Seharusnya ia kembali dan membuangnya setelah para penculik pergi. Mengapa semalam ia sama sekali tidak memikirkan hal itu?
“Ada yang bisa aku bantu, Maya?” Leo bertanya sekali lagi.
Maya akhirnya mau bercerita. “Aku... aku baru saja dipecat dari kafe.”
“Apakah gara-gara kantong sampah semalam?”
“Bagaimana kamu tahu?”
“Aku hanya menebak.”
Leo menghela napas, lalu duduk di ujung bangku yang sama.
“Maafkan aku, Maya. Semalam aku yang menahanmu dan meletakkan sampah itu di samping pintu belakang,” ucap Leo.
Maya menggeleng. “Bukan salahmu. Aku yang ceroboh karena tertidur dan kesiangan.”
“Bagaimanapun itu tetap salahku. Sebagai bentuk tanggung jawab, aku ingin menawarkan sesuatu.”
“Menawarkan apa?”
Leo terdiam sejenak, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu.
“Aku sedang butuh asisten pribadi. Maukah kamu bekerja denganku? Aku akan memberimu gaji dua kali lipat dari yang kamu terima di kafe.”
Maya tertegun. Matanya melebar menatap Leo.
‘Dua kali lipat?’ batin Maya.
Leo yang mendengar suara batin Maya berusaha sekuat tenaga untuk tidak tersenyum.
“Bagaimana pun aku yang membuatmu dipecat. Bagaimana, Maya? Kamu mau menerima tawaranku?”














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!