Saling Membaca

1 dibaca

A

“Kenapa?” tanya Maya dengan raut penasaran.

“Maukah kamu membantuku mencari flashdiskku yang hilang? Sampah ini, sementara kita letakkan saja dulu di sini.”

Leo mengambil kantong sampah dari genggaman Maya dan meletakkannya di luar, di samping pintu belakang, lalu menarik Maya ke dalam, menutup pintu dan menguncinya.

Dari jalan belakang, Leo bisa mendengar pria berjaket hitam yang sudah siap menyergap mendengus kesal.

‘Sial! Kenapa pria ini malah mengganggu?’

Leo menahan napas. Suara itu terdengar cukup jelas meskipun terhalang dinding dan pintu. Berarti pria itu masih berada di sana.

Sementara itu, Maya mematung di tempatnya. Matanya membulat. Leo yang sadar masih menggenggam pergelangan tangan Maya segera melepaskannya.

“Maaf. Aku tidak bermaksud kurang ajar. Aku… hanya ingin meminta bantuanmu.”

Maya tidak menanggapi ucapan Leo. Wajahnya tampak penuh kebingungan, lalu pikiran Maya menembus benak Leo.

‘Mobil apa itu? Kenapa berhenti di jalan belakang dan membuat Leo merasa khawatir? Lalu kenapa Leo harus mencegahku membuang sampah?’

Dahi Leo berkerut. ‘Bagaimana Maya tahu?’

Leo masih mencerna apa yang baru saja terjadi. Namun, tiba-tiba gadis itu menarik ujung jaket Leo dan membawanya menuju meja yang tadi ditempati Leo.

“Ayo kita cari flashdisknya! Kira-kira jatuh di mana, ya?”

Maya membungkuk hendak melongok ke bawah meja, namun gerakannya terhenti di tengah jalan. Tangannya masih menggenggam ujung jaket itu, tapi tubuhnya kaku dan tatapannya menerawang lurus ke depan. Semakin lama genggamannya di ujung jaket Leo semakin erat.

Leo yang berdiri di sampingnya mengernyit. ‘Maya kenapa?’

Namun tiba-tiba Maya melepas jaketnya dan berjalan mundur beberapa langkah.

‘Apa maksudnya Leo harus menolongku? Siapa mau menghabisi siapa? Jadi mencari flashdisk hanya alasannya saja?’

Leo yang masih berdiri di depan gadis itu memandang dengan tatapan bingung. Namun, di balik kebingungan itu, satu hal mulai terasa aneh baginya.

‘Sepertinya Maya benar-benar tahu sesuatu. Tapi bagaimana caranya?’

Maya terus melirik ke arah pintu belakang. Wajahnya berubah pucat.

‘Apa ada seseorang yang berniat menghabisi aku di jalan belakang sana sampai Leo harus mencegahku membuang sampah? Apakah ada hubungannya dengan mobil yang parkir di ujung jalan? Aku harus melihat lebih banyak lagi.’

Leo kembali mengerutkan dahi. ‘Melihat lebih banyak lagi? Melihat apa?’

Ia terus mengamati gadis di hadapannya. Maya terlihat gelisah, tapi tak lama Maya akhirnya menyadari tatapan Leo.

“Apa? Kenapa menatapku seperti itu?” tanya Maya.

Leo menggeleng. “Tidak apa-apa.”

Kemudian Leo berpura-pura mencari sesuatu di bawah meja, meskipun sebetulnya tidak ada yang ia cari. Dari sudut matanya, Leo masih terus mengamati Maya. Namun tak lama suara dari jalan belakang kembali terdengar.

“Bos, bagaimana ini?” bisik si anak buah.

“Tunggu saja. Gadis itu pasti keluar lagi. Sampah yang ditinggalkannya di samping pintu tidak mungkin dibiarkan begitu saja. Begitu dia keluar, kita langsung bergerak.”

Leo menelan ludah. ‘Mereka benar-benar masih menunggu. Kenapa tidak menyerah saja?’

Tangan Leo mengepal tanpa sadar. Kalau Maya ke belakang lagi, pria-pria itu akan langsung bergerak. Ia tidak mungkin membiarkan hal itu terjadi.  Maya tetap tidak boleh membuang sampah. Leo harus mengajak gadis itu pulang lewat pintu depan dengan segera.

Leo berhenti berpura-pura mencari flashdisk. Ia kembali duduk dan menunggu Emily menyelesaikan pekerjaannya. Leo tidak mungkin hanya mengajak pulang Maya dan meninggalkan Emily sendirian sementara pria-pria itu masih ada di jalan belakang.

Sembari menunggu, Leo masih terus memperhatikan Maya yang semakin bersikap aneh. Maya terus menatap Leo seperti sedang mencari sesuatu. Tiba-tiba sebuah pikiran menyusup ke dalam benak Leo.

‘Ini kesempatannya.’

Leo menatap gadis itu dengan dahi mengkerut. ‘Kesempatan untuk apa?’

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk