Jenar sudah tahu hari ini bakal berantakan sejak tukang ojek dari terminal menurunkannya di hotel yang salah.
“Kan Neng bilang hotel yang ada pohon ketapangnya,” kata si bapak membela diri sambil menunjuk. Di sepanjang Pantai Barat Pangandaran, semua hotel punya pohon ketapang.
Jenar membayar, menyeret koper di trotoar berpasir sejauh tiga ratus meter, lalu menyerah di tengah jalan. Check-in baru jam dua siang. Sekarang masih jam tujuh pagi. Ia belok ke pantai, duduk di atas koper, dan melakukan hal yang sudah ia janjikan pada dirinya sendiri untuk tidak dilakukan lagi.
Membuka Instagram.
Fotonya masih di sana. Hanif pakai batik cokelat yang Jenar tahu dibelikan ibunya di Solo. Perempuan di sebelahnya pakai kebaya krem dan tersenyum ke kamera seperti orang yang seumur hidup belum pernah terkilir. Keterangannya pendek. Tanggal, Hanif & Yuna dan emoji cincin.
Emoji cincin.
Dokter spesialis anak. Umur dua puluh sembilan. Orang yang dulu mengajari Jenar integral di meja makan rumah Hana sampai jam sepuluh malam. Dan dia pakai emoji cincin.
Jenar mengunci layar. Membukanya lagi. Menguncinya lagi.
Di sebelahnya, seorang ibu penjual kacang rebus sedang menata dagangan di atas tampah. “Kacang, Neng? Masih anget.”
“Nggak, Bu, makasih.”
“Buat sarapan.”
“Saya lagi patah hati, Bu.”
Kalimat itu meluncur begitu saja. Jenar sendiri kaget. Si ibu menatapnya dua detik, lalu menyodorkan satu bungkus plastik kecil. “Gratis. Patah hati juga harus makan.”
Jenar menerimanya karena tidak tahu harus bagaimana lagi. Kacangnya memang masih hangat. Ia mengupas satu, memakannya, lalu matanya panas, dan ia benci sekali harus menangis di depan kacang rebus.
Oke. Cukup.
Ia menitipkan koper pada si ibu dengan tatapan memohon, lalu berjalan ke arah air. Rencananya sederhana. Membasahi kaki. Merasakan ombak. Melakukan hal-hal yang dilakukan tokoh film waktu sedang melupakan seseorang. Sambil menyanyikan lagu About Love Ost To All the Boys yang Ia tonton marathon semalaman karena tidak bisa tidur.
“I don’t really know a lot about love
A lot about love, a lot about love
But you’re in my head, you’re in my blood
And it feels so good, it hurts so much.”
Papan besi bertuliskan AWAS ARUS BALIK sudah berkarat di ujungnya. Jenar melewatinya, melangkah ke pasir yang basah dan gelap, dan pasir itu memutuskan untuk tidak ada.
Kakinya amblas. Tubuhnya miring. Ada bunyi kecil di pergelangan kaki kirinya, seperti kerupuk diinjak.
Pikiran pertamanya bukan soal sakit. Pikiran pertamanya adalah celana kulotnya basah, padahal ini satu-satunya celana yang belum kena noda kopi selama perjalanan. Baru setelah itu denyutnya datang, merambat dari tumit ke betis, dan Jenar sadar ia tidak bisa berdiri.
“Mbak! Jangan berdiri dulu!”
Seseorang berlari dari arah laut. Laki-laki, papan selancar di ketiak, rash guard hitam, napas ngos-ngosan. Ia meletakkan papannya di pasir dan berjongkok, tapi tetap menjaga jarak satu lengan, seperti orang yang tidak yakin boleh mendekat.
“Mbak nggak apa-apa?”
“Nggak apa-apa,” jawab Jenar. Air matanya jatuh.
Laki-laki itu terdiam. Ia melirik kaki Jenar, lalu wajahnya, lalu kaki lagi, jelas bingung harus menangani yang mana dulu.
“Ini bukan karena kaki,” kata Jenar, karena merasa perlu menjelaskan.
“Oh. Oke.” Ia mengangguk seolah itu masuk akal. Lalu, setelah jeda yang canggung, “Tapi kakinya juga sakit, kan?”
“Iya.”
“Boleh saya lihat? Saya bukan dokter. Tapi sering keseleo.”
Jenar mengangguk. Laki-laki itu memegang tumitnya dengan dua tangan, pelan, lalu memutarnya sedikit.
“Aw! Aw aw aw.”
“Maaf, maaf.” Ia ikut meringis. “Kayaknya keseleo. Mudah-mudahan nggak patah. Bisa digerakin jarinya?”
Jenar menggerakkan jari kakinya. Kuteks merah di jempolnya terkelupas separuh, dan ada pasir di mana-mana, dan ia belum mandi sejak berangkat dari Bandung jam tiga pagi. Ia ingin tenggelam ke laut saja.
“Bisa,” katanya.
“Bagus. Berarti nggak parah.” Laki-laki itu menoleh ke deretan hotel. “Mbak nginep di mana?”
“Pesona Laut. Tapi belum bisa check-in.”
“Saya panggilin orang hotelnya, ya. Mereka punya es batu sama perban. Mbak tunggu di sini.”
Ia berdiri, lalu berhenti. Melihat ke sekeliling, melihat ibu kacang rebus, melihat papan selancarnya. Lalu ia menarik papan itu dan meletakkannya di samping Jenar, rata di pasir.
“Buat sandaran,” katanya. “Biar nggak ketiduran di pasir basah.”
Lalu ia berlari ke arah hotel.
Jenar memandangi papan selancar di sebelahnya. Kuning pudar, dengan stiker yang sudah terkelupas dan lilin yang menggumpal di permukaannya. Ia menyandarkan punggung di sana.
Ternyata cukup nyaman.
Laki-laki itu kembali bersama dua petugas hotel dan satu kursi plastik. Kursi rodanya rusak sejak Lebaran, kata mereka. Jadi Jenar diangkut dengan kursi plastik, dibopong dua laki-laki berseragam batik biru, melewati deretan wisatawan yang menonton seperti sedang ada arak-arakan sunatan.
Si peselancar berjalan di belakang, menyeret koper Jenar dan mengepit papannya sendiri. Di lobi ia menyerahkan koper itu ke resepsionis, bicara sebentar dengan petugas soal es batu, lalu mengangguk kecil ke arah Jenar.
“Semoga cepet sembuh, Mbak.”
Dan ia pergi.
Begitu saja. Tidak menanyakan nama. Tidak berlama-lama. Jenar sempat membuka mulut untuk berterima kasih dengan benar, tapi punggungnya sudah menghilang di tangga, dan yang tersisa hanya jejak pasir basah di lantai marmer.
“Tadi itu tamu sini, Mbak,” kata resepsionis sambil menyerahkan kantong es. “Kamar ujung lantai dua. Tiap pagi surfing.”
“Oh,” kata Jenar. “Oke.”
Ia tidak tahu kenapa ia menyimpan informasi itu.
Jam dua siang ia akhirnya check-in. Kamar dua-empat-satu. Seprai putih bau kaporit, pengharum ruangan rasa apel yang terlalu keras, dan jendela yang, kalau Jenar menjulurkan leher, menampilkan sepotong laut di sela dua genteng.
Ia mandi lama. Menangis sebentar di kamar mandi, karena kamar mandi adalah tempat yang paling masuk akal untuk menangis. Lalu tidur tiga jam dengan kaki diganjal bantal.
Ia bangun karena lapar. Dan karena ponselnya bergetar terus.
Hana. Sebelas pesan.
Hana : Jen
Hana : Lo udah nyampe?
Hana : JEN
Hana : Gue tau lo liat postingan kakak gue
Hana : Gue minta maaf ya. Gue juga baru tau pas mereka udah fix
Hana : Lo jangan ngilang gini dong
Hana : Kalau lo nangis, nangis aja, tapi bales
Jenar mengetik.
Jenar : Udah nyampe. Kaki gue keseleo. Gue baik.
Tiga titik muncul seketika.
Hana : Keseleo KENAPA.
Jenar : Pasirnya jahat.
Hana : Lo sendirian??
Jenar memandangi pertanyaan itu. Ia ingat papan selancar kuning yang diletakkan di sebelahnya supaya ia tidak ketiduran di pasir basah.
Jenar : Ada yang nolongin,
ketiknya.
Jenar : Tamu hotel.
Hana : Cowok?
Jenar mematikan layar dan turun makan malam.
Restoran hotel itu separuh ruangannya gelap. Televisi di dinding memutar sinetron tanpa suara. Namun spakernya memasang lagu kahitna sealbum-albumnya.
Hanya ada satu meja lain yang terisi.
Ia duduk di dekat jendela, kemeja linen biru muda yang kusut di bagian perut, sedang berdebat pelan dengan pelayan soal kopi.
“Ini robusta, Mas?”
“Kopi hitam, Pak.”
“Iya, tapi robusta atau...”
“Kopi hitam.”
Si peselancar mengangguk dengan wajah pasrah. Pelayan pergi. Ia menoleh ke arah pintu, melihat Jenar yang terpincang masuk, dan butuh setengah detik baginya untuk mengenalinya tanpa pasir dan air mata.
Ia mengangkat tangan. Setengah melambai, setengah tidak yakin.
Jenar balas mengangguk. Lalu memilih meja di sisi lain ruangan, dekat bapak keyboard, karena duduk di meja sebelahnya terasa terlalu akrab dan duduk terlalu jauh terasa sombong.
Ia memesan nasi goreng seafood. Laki-laki itu sudah menerima kopinya dan menyesapnya, lalu menatap cangkir itu dengan kekecewaan yang dalam.
Jenar menunduk ke ponselnya supaya tidak kelihatan memperhatikan.
Lima menit berlalu. Lagunya berganti jadi lagu Ungu, sepertinya top list 2000-an. Di televisi, seorang ibu mertua menampar menantunya dalam gerak lambat.
Jenar melirik sekali. Laki-laki itu juga sedang meliriknya. Mereka buru-buru membuang muka bersamaan.
Tujuh menit. Jenar memeriksa ponselnya yang tidak ada apa-apa.
Sembilan menit. Ia melirik lagi. Kali ini laki-laki itu sudah menatapnya terang-terangan, dengan ekspresi orang yang sedang menimbang sesuatu.
Ia berdiri, membawa cangkir kopinya, dan berjalan mendekat. Berhenti di samping meja Jenar.
“Maaf,” katanya. “Ini aneh nggak sih? Kita cuma berdua di sini, tapi duduk jauh-jauhan kayak lagi marahan.”
Jenar tertawa. Tidak sengaja. Tawa kecil yang lolos lewat hidung.
“Iya, aneh,” akunya.
“Boleh gabung? Kalau nggak boleh juga nggak apa-apa. Saya balik ke meja saya, terus kita pura-pura ini nggak pernah terjadi.”
“Boleh.”
Ia duduk. Meletakkan cangkir. Lalu mengulurkan tangan di atas meja, agak kaku, seperti di acara resmi.
“Galih.”
“Jenar.” Ia menjabatnya. Telapak tangan Galih hangat dan kasar di bagian dalam jari, seperti orang yang sering memegang sesuatu yang panas. “Makasih yang tadi pagi. Aku belum sempet bilang.”
“Kaki gimana?”
“Masih mati rasa.”
“Nanti malam dikompres lagi. Terus jangan dibawa jalan jauh dulu.” Ia berhenti, lalu tersenyum sedikit. “Maaf. Kebiasaan. Kakak saya dulu atlet voli, saya yang disuruh ngurusin kalau dia keseleo.”
“Kamu ngomong kayak dokter.”
“Dokter mana yang ngomong ‘mudah-mudahan nggak patah’?”
Jenar tertawa lagi. Lebih lepas kali ini.
Nasi gorengnya datang. Galih memesan ikan bakar. Mereka makan dan mengobrol soal hal-hal yang biasa dibicarakan dua orang asing. Dari mana. Bandung. Jakarta. Kenapa ke Pangandaran. Jenar bilang liburan habis wisuda. Galih bilang cari ombak. Keduanya tahu yang lain tidak mengatakan semuanya, dan keduanya tidak mendesak.
“Arsitek?” tanya Galih.
“Kok tahu?”
“Kamu tadi gambar denah restoran ini di tisu waktu nunggu makanan.”
Jenar memandang tisu di samping piringnya. Benar. Ia bahkan tidak sadar. Garis-garis kotak, posisi meja, panah ke arah dapur, dan tulisan kecil di pojok: sirkulasi jelek.
”Kebiasaan,” katanya malu.
“Sirkulasinya emang jelek,” kata Galih serius. “Tadi pelayannya nabrak kursi dua kali.”
“Kamu juga merhatiin?”
“Saya punya kedai kopi. Saya merhatiin semua orang yang bawa nampan.”
“Kedai di mana?”
Galih menyesap kopinya yang tidak enak. “Beberapa. Jabodetabek.”
“Beberapa berapa?”
Ia tampak ragu. Seperti orang yang tidak ingin kedengaran pamer. “Sepuluh.”
Jenar menaruh sendoknya. “Sepuluh?”
“Yang pertama cuma gerobak.” Ia mengangkat bahu. “Dulu itu yang paling seru. Jualan di pinggir jalan depan kampus, bisa lihat orang lewat. Sekarang semua barista ngadep tembok. Kadang saya kangen gerobak.”
“Kenapa ngadep tembok?”
“Karena itu desain standar. Mesin di belakang, kasir di depan.” Ia memandangi Jenar. “Kenapa? Arsitek punya pendapat?”
“Arsitek selalu punya pendapat.”
“Jangan-jangan kedai saya juga sirkulasinya jelek.”
“Pasti,” kata Jenar, dan Galih tertawa keras sekali sampai bapak keyboard salah nada.
Mereka tidak sadar sudah jam sepuluh sampai pelayan mulai menaikkan kursi ke atas meja di sisi lain ruangan.
Jenar mengangkat kepala dan kaget. Piring-piring sudah lama diangkat. Bapak keyboard sudah pulang. Hanya televisi yang masih menyala, memutar iklan obat masuk angin.
“Kita diusir,” kata Galih.
“Halus banget ngusirnya.”
“Mau pindah?” Ia terdengar hati-hati. “Ada teras di belakang. Atau kalau kamu capek, nggak apa-apa. Kaki kamu harus istirahat.”
Jenar tahu ia seharusnya bilang capek. Kakinya memang berdenyut. Dan besok ia harus mulai melakukan apa pun yang tadinya ingin ia lakukan di sini, meskipun ia sendiri tidak ingat apa.
“Sebentar aja,” katanya.
Galih berdiri dan mengulurkan lengannya. Hanya lengan, bengkok di siku, seperti tongkat yang ditawarkan. Jenar memegangnya. Ujung jari saja.
Teras belakang itu kecil. Dua kursi rotan yang anyamannya lepas di beberapa bagian, satu lampu neon yang berkedip seperti sedang berpikir keras, dan pagar kayu menghadap laut gelap. Angin membawa bau garam, bau solar dari perahu nelayan, dan samar-samar bau melati.
Mereka duduk di kursi masing-masing. Ada meja kecil di antara mereka.
Obrolan di sini berbeda. Mungkin karena gelap. Mungkin karena suara ombak menelan setengah kata-kata, sehingga tidak ada yang merasa terlalu didengar.
Galih yang mulai.
“Saya tadi bohong,” katanya. “Saya ke sini bukan cari ombak.”
Jenar menoleh.
“Maksudnya, iya, saya surfing. Tapi saya ke sini karena kabur.” Ia mengusap tengkuk. “Sahabat saya. Partner bisnis juga. Dia tanda tangan kontrak ekspansi di belakang saya. Sama investor yang udah saya tolak dua kali.”
“Oh.”
“Kami bangun dari gerobak itu berdua. Delapan tahun.” Ia tertawa kecil, tanpa suara. “Terus saya keluar dari ruang rapat, nggak ngomong apa-apa, nyetir, dan tahu-tahu udah di Pangandaran. Dia nelepon tujuh kali. Saya nggak angkat.”
“Kamu marah?”
“Saya nggak tahu.” Galih memandangi laut. “Saya biasanya gitu. Kalau udah terlalu sakit, saya pergi aja. Diem. Nggak usah ribut. Kakak saya bilang itu cara pengecut.”
“Menurut kamu?”
“Menurut saya itu cara paling nggak ngerepotin orang.”
Jenar diam sebentar. Lalu ia berkata, pelan, “Tapi kamu nggak tahu kenapa dia ngelakuin itu.”
“Nggak perlu tahu.”
“Perlu.” Jenar memeluk lututnya yang sehat. “Orang jarang tiba-tiba jahat. Alasannya bisa jadi bego. Bisa jadi salah banget. Tapi kalau kamu nggak pernah dengerin, kamu bakal marah seumur hidup sama orang yang mungkin cuma panik.”
Galih menoleh dan menatapnya. Lama.
“Nyebelin,” katanya akhirnya.
“Aku?”
“Kamu bener. Itu nyebelin.”
Jenar tersenyum ke arah laut.
“Terus kamu?” tanya Galih. “Katanya liburan habis wisuda.”
“Aku juga bohong.”
Ia tidak menjelaskan lebih lanjut. Galih tidak mendesak. Ia hanya menunggu, dan menunggu dengan cara yang tidak membuat Jenar merasa ditunggu.
Ponsel Jenar bergetar di pangkuannya. Notifikasi. Seseorang menyukai foto yang ia komentari tiga hari lalu. Foto itu. Batik cokelat, kebaya krem, emoji cincin.
Ia menatap layar terlalu lama, dan ketika ia mengangkat kepala, Galih sudah memperhatikannya.
“Itu orangnya?” tanyanya pelan.
Jenar tidak tahu bagaimana Galih bisa menebak. Mungkin wajahnya memang semudah itu dibaca.
“Kakak sahabatku,” katanya. Suaranya lebih tenang dari yang ia duga. “Aku suka dia dari SMP. Dia nggak pernah tahu. Sembilan hari lalu dia tunangan.”
“Sama orang lain.”
“Ya iyalah sama orang lain. Kalau sama aku, aku nggak di sini.”
Galih tertawa. Lalu berhenti tertawa. “Maaf.”
“Nggak apa-apa. Emang lucu, kalau dipikir-pikir.” Jenar memutar-mutar ponselnya. “Tujuh, delapan tahun suka sama orang, nggak pernah ngomong. Terus pas dia tunangan, aku kabur ke pantai, keseleo, nangis di depan kacang rebus.”
“Kacang rebus?”
“Panjang ceritanya.”
“Kita punya waktu.”
Jadi Jenar bercerita. Soal ibu kacang rebus. Soal tukang ojek yang salah hotel. Lalu, entah bagaimana, soal Hanif. Soal meja makan di rumah Hana dan integral dan cara Hanif menggaruk alisnya kalau bingung. Soal hari ketika ia melihat Hanif menggandeng perempuan lain di depan rumah sakit dan pulang naik angkot sambil pura-pura kelilipan.
Galih mendengarkan semuanya. Tidak menyela. Sesekali ia menggeser sesuatu di meja kecil di antara mereka, gelas air, tisu, supaya Jenar bisa menjangkaunya.
“Sakit, ya?” tanyanya ketika Jenar selesai.
Jenar memandangi layar ponselnya yang sudah gelap. “Kayak ada yang dicabut, tapi nggak ada yang ilang. Ngerti nggak, sih?”
Galih diam lama. Lampu neon berkedip.
“Menurut saya,” katanya akhirnya, hati-hati, “kalau rasanya sesakit itu, mungkin itu bukan cinta.”
Jenar mengangkat kepala. “Maksudnya?”
“Mungkin itu kebiasaan. Kamu kebiasaan nungguin dia. Kebiasaan ngebayangin.” Ia menggaruk alis, seperti tidak yakin sendiri. “Cinta harusnya bikin kamu lebih ringan. Bukan kayak... kayak orang yang abis keseleo.”
“Kamu ngeledek kakiku.”
“Sedikit.”
Jenar ingin marah. Ia ingin bilang laki-laki ini tidak tahu apa-apa, mereka baru kenal empat jam. Ia ingin bilang bahwa rasa sakit itu justru bukti semua tahun itu nyata.
Tapi ada suara kecil di kepalanya, suara yang mirip Hana, yang bertanya pelan. Terus kalau dia bener, gimana, Jen?
“Kamu sok tahu,” katanya.
“Iya,” kata Galih. “Tapi kan kamu nggak bilang saya salah.”
Mereka terus bicara. Sampai lagu kahitna berhenti mengalun.
Tentang hal-hal kecil yang tidak penting, dan justru karena itu menyenangkan. Nasi goreng paling enak di dekat kampus masing-masing. Film yang membuat mereka menangis dan malu mengakuinya. Galih takut kecoak terbang. Jenar takut badut. Galih pernah dikejar angsa waktu kecil di rumah neneknya di Garut, dan Jenar tertawa sampai kakinya berdenyut lagi.
Sekitar jam dua, Galih masuk sebentar dan kembali dengan selimut tipis dari kamarnya. Ia menyerahkannya pada Jenar tanpa bicara, lalu duduk lagi di kursinya sendiri.
“Kamu sendiri?”
“Saya nggak kedinginan.”
“Tangan kamu merinding.”
“Itu karena cerita badut kamu.”
Jenar membentangkan selimut itu. Lebar sekali. Cukup untuk dua orang. Ia memandanginya, lalu memandangi kursi rotan yang dipisahkan meja kecil.
Ia tidak menawarkan. Galih tidak meminta.
Sekitar jam tiga, Jenar tertidur.
Ia tidak ingat kapan matanya tertutup. Yang ia ingat, ia terbangun karena lehernya pegal, dan kepalanya tidak lagi bersandar di kursi rotan. Kepalanya di bahu seseorang.
Entah kapan, Galih sudah menggeser kursinya ke samping kursi Jenar. Meja kecil itu sekarang di depan mereka. Galih duduk tegak, tidak bergerak, menatap laut. Satu tangannya memegangi ujung selimut supaya tidak melorot dari pundak Jenar.
Jenar mematung.
Ia bisa merasakan kain kemeja linen di pipinya. Bau garam dan kopi basi. Bahu itu naik turun pelan mengikuti napas.
Ia harus bangun. Ia harus minta maaf. Ia harus menegakkan kepala dan pura-pura tidak terjadi apa-apa.
Ia memejamkan mata lagi. Lima menit. Hanya lima menit.
“Kamu ngorok,” kata Galih pelan, tanpa menoleh.
Jenar menegakkan kepala secepat kilat. “Nggak!”
“Kecil. Kayak kucing.”
“Aku nggak ngorok!”
“Oke.” Galih menggerak-gerakkan bahunya, meringis. “Tapi pegel, tahu.”
“Kenapa kamu nggak bangunin aku?”
Galih memandanginya, lalu memandangi laut lagi. “Kamu kelihatan kayak orang yang udah lama nggak tidur nyenyak.”
Jenar tidak punya jawaban untuk itu. Ia menarik selimut lebih tinggi ke dagunya dan pura-pura kedinginan.
Di timur, langit sudah berubah. Bukan terang. Hanya tidak lagi hitam. Kelabu pucat di garis laut, seperti seseorang menumpahkan air ke atas tinta.
“Udah subuh,” kata Jenar.
“Iya.”
“Kita ngobrol semaleman.”
“Iya.” Galih tertawa pelan. “Saya udah lama nggak ngobrol semaleman sama orang. Terakhir kali sama Fadlan. Pas kami masih jualan pakai gerobak.”
“Fadlan itu sahabat kamu?”
Galih mengangguk.
“Telepon dia,” kata Jenar. “Nanti. Kalau udah siap.”
“Nanti,” ulang Galih. Kedengarannya seperti janji pada dirinya sendiri.
Mereka berdiri. Kaki Jenar kaku setelah berjam-jam ditekuk, dan ia oleng. Galih menahan sikunya. Hanya siku. Lalu melepaskannya begitu ia berdiri tegak.
Mereka berjalan menyusuri lorong lantai dua dalam diam. Hotel masih tidur. Ada suara azan subuh dari masjid di kejauhan, dan suara sandal jepit mereka di lantai keramik.
Di depan kamar dua-empat-satu mereka berhenti.
“Makasih,” kata Jenar. “Buat semalem.”
“Buat apa? Saya cuma duduk.”
“Justru itu.”
Galih memandanginya. Lalu memandangi pintu kamar Jenar, nomor kuningan yang sudah kusam. Ia membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
“Kamu di sini sampai kapan?” tanyanya akhirnya.
“Lima hari lagi.”
“Oke.” Ia mengangguk. Mundur selangkah. “Kalau gitu... sampai ketemu. Mungkin. Saya kamar ujung.”
“Aku tahu.”
Galih mengangkat alis.
“Resepsionis yang bilang,” kata Jenar cepat, dan ia merasakan wajahnya memanas. “Aku nggak nanya. Dia yang bilang.”
Galih tidak berkata apa-apa. Tapi ia tersenyum, senyum miring di satu sisi yang belum pernah Jenar lihat sepanjang malam, lalu berbalik dan berjalan ke ujung lorong. Tangannya melambai sekali tanpa menoleh.
Jenar masuk. Menutup pintu. Bersandar di sana.
Selimut Galih masih menempel di bahunya. Ia lupa mengembalikannya.
Ia berbaring di kasur tanpa melepas sandal, dengan selimut itu masih melilit tubuhnya, dan menatap langit-langit yang pelan-pelan berubah abu-abu. Ponselnya bergetar sekali. Hana lagi, pasti. Ia tidak memeriksanya.
Pergelangan kakinya masih berdenyut. Dadanya masih punya lubang yang sama, yang sudah sembilan hari ada di sana. Tapi malam ini, untuk beberapa jam, ia lupa lubang itu ada.
Kalau rasanya sesakit itu, mungkin itu bukan cinta.
Jenar memejamkan mata dan menarik selimut itu sampai menutupi hidungnya. Bau garam. Bau kopi.
Ia tidak tahu apa yang ia rasakan sekarang. Tapi ia tahu satu hal. Ini tidak sakit.
Belum.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!