BAB 2 - Kopi yang Terlalu Jujur

2 dibaca

A

Jenar terbangun karena ada yang mengetuk pintu, dan untuk tiga detik penuh ia yakin itu gempa.


Ia duduk terlalu cepat. Kepalanya berputar. Tirai kamar masih tertutup, tapi cahaya di celahnya sudah putih dan galak, jelas bukan cahaya pagi. Ponsel di nakas menunjukkan pukul sepuluh lewat tujuh menit dan dua belas pesan dari Hana.

Ketukannya berhenti. Lalu ada bunyi kertas bergesek di lantai.

Selembar kertas notes hotel bergambar logo pohon kelapa meluncur masuk lewat celah di bawah pintu. Jenar memungutnya sambil berjinjit dengan kaki kanan.

Sarapan udah tutup. Aku juga baru bangun. Maaf. Kalau kamu laper, aku di lobi. Kalau nggak, abaikan aja kertas ini. (G.)

Tulisannya miring ke kanan, dan huruf g-nya seperti kail pancing.

Jenar membaca kertas itu dua kali. Lalu tiga kali. Lalu ia sadar sedang tersenyum ke selembar kertas notes hotel, sendirian, dengan rambut seperti sarang burung, dan buru-buru meletakkannya di nakas dengan gerakan yang terlalu kasar.

Ia melihat ke cermin dan langsung menyesal.

Rambutnya mengembang di satu sisi dan rata di sisi lain, seperti habis tidur di atas bantal yang punya dendam. Ada garis merah bekas lipatan selimut di pipi. Maskara semalam, yang ia pakai diam-diam dan tidak ia akui pada siapa pun, sekarang pindah ke bawah mata.

Selimut itu masih kusut di kasur. Selimut Galih.

Jenar mencuci muka dengan satu kaki berjinjit. Mengikat rambut. Melepasnya. Mengikatnya lagi. Menyemprotkan parfum, lalu panik karena itu kelihatan terlalu berusaha, lalu sadar tidak ada cara membatalkan parfum.

Ia melipat selimut itu rapi-rapi sampai ujung-ujungnya bertemu, dan membawanya turun.


Galih sedang duduk di sofa lobi di samping akuarium yang ikannya tinggal satu. Kaus putih polos. Celana pendek krem. Rambutnya masih basah, dan ada bekas lipatan bantal di pipi kanannya. Persis milik Jenar, hanya di sisi yang berlawanan.

Ia berdiri waktu melihat Jenar terpincang keluar dari lift. Terlalu cepat. Lututnya menyenggol meja kaca, dan majalah wisata edisi tiga bulan lalu meluncur ke lantai.

Mereka saling memandangi pipi masing-masing.

“Kita kayak orang abis begadang main kartu,” kata Galih.

“Kita emang abis begadang.”

“Tapi nggak main kartu.”

“Nggak,” kata Jenar, dan tiba-tiba ia ingat bahu itu, kain linen di pipinya, napas yang naik turun pelan. Wajahnya panas. Ia menyodorkan selimut terlipat itu dengan kedua tangan, seperti menyerahkan ijazah.

“Kebawa. Maaf.”

Galih menerimanya dan memandangi lipatannya yang sempurna. “Kamu lipat kayak baju di toko.”

“Arsitek. Suka yang rapi.”

“Semalem kamu nggak rapi.”

“Semalem aku ngantuk.”

“Semalem kamu ngorok.”

“Aku nggak...” Jenar berhenti karena resepsionis sedang memperhatikan mereka dengan wajah sangat tertarik. Ia menurunkan suara. “Aku laper.”

“Aku juga.” Galih menyelipkan selimut itu di bawah ketiak. “Kaki gimana?”

“Mendingan.”

“Coba jalan.”

Jenar melangkah ke arah pintu. Satu, dua, tiga. Di langkah keempat pergelangannya protes, dan ia oleng ke kiri. Galih menangkap sikunya sebelum ia sempat menabrak pot kaktus plastik.

“Mendingan,” ulang Galih datar.

“Mendingan dari kemarin.”

“Kemarin kamu diangkut pakai kursi plastik.”

“Makanya. Mendingan.”

Galih tertawa. Ia tidak melepaskan siku Jenar, dan Jenar tidak minta dilepaskan.

Baru di ambang pintu hotel ia sadar sesuatu. Ia menoleh.

“Kamu barusan bilang ‘aku’.”

Galih berhenti. “Masa?”

“Di kertas juga. Semalem kamu ‘saya’ terus.”

Galih menggaruk tengkuk. Telinganya sedikit memerah. “Emang nggak boleh?”

Jenar memikirkannya. Lalu mengangkat bahu, dan berusaha keras supaya itu kelihatan santai.

“Boleh.”


Galih bilang ia tahu tempat makan yang enak. Yang tidak ia bilang, tempatnya ada di gang kecil di belakang pasar ikan, dua ratus meter dari hotel, dan dua ratus meter itu terasa seperti dua kilometer.

Jenar berjalan dengan tangan di lengan Galih. Awalnya cuma ujung jari. Lalu, setelah ia hampir terperosok ke lubang got yang tutupnya hilang, seluruh telapak tangan. Lalu, setelah pergelangannya berdenyut di tanjakan kecil dekat masjid, Galih bertanya pelan, “Boleh?” dan melingkarkan lengannya di pinggang Jenar untuk menahan separuh beratnya.

Mereka berjalan seperti pasangan tiga kaki di lomba tujuh belasan.

Jenar tidak berani menoleh. Ia bisa merasakan jari-jari Galih di sisi pinggangnya, di atas kaus tipis, tepat di tempat yang geli. Setiap langkah, jari-jari itu bergeser sedikit. Setiap langkah, jantungnya ikut bergeser.

Fokus. Got. Motor. Ibu-ibu bawa ember ikan.

“Kamu tegang banget,” kata Galih.

“Aku nggak tegang.”

“Pinggang kamu kaku kayak tiang listrik.”

“Itu karena kaki.”

“Oh.” Galih diam sebentar. “Kakinya sampai pinggang, ya?”

Jenar menyikut perutnya. Galih mengaduh dengan dramatis dan hampir menjatuhkan mereka berdua ke gerobak cilok. Abang cilok memandang mereka dengan tatapan orang yang sudah terlalu sering melihat turis kasmaran.

Kedai itu namanya Karang. Plangnya dari kayu bekas perahu, hurufnya dicat tangan dan agak miring. Di dalam ada enam meja kayu, satu oven batu bata yang membuat ruangan panas, dan bau adonan roti bercampur kopi yang membuat perut Jenar berbunyi keras sekali.

Galih pura-pura tidak dengar. Jenar menyukainya sedikit karena itu. Hanya sedikit.

Mereka memesan satu pizza besar, setengah seafood setengah jamur, karena tidak bisa sepakat, dan dua cangkir kopi.

Di meja kasir, seorang pelayan perempuan berkerudung hitam, mungkin baru lulus SMA, sedang mengelap gelas sambil menyanyi. Speaker kecil di rak atas memutar lagu yang sama untuk ketiga kalinya sejak mereka masuk. Bukan menyanyi pelan. Menyanyi dengan seluruh jiwa, mata terpejam di bagian reff, tangan yang memegang lap terangkat ke udara.

Jenar mengenali lagunya dalam dua ketukan. Babydoll, Jamie Miller. Lagu yang tiga minggu terakhir muncul di setiap video yang ia gulir, di bawah foto-foto pasangan, di bawah potongan film, di bawah video orang berpelukan di mobil.

Ia ikut bersenandung tanpa sadar. Lalu sadar, dan berhenti.

Terlambat. Galih sudah memperhatikan.

“Kamu tahu lagu ini?”

“Semua orang tahu lagu ini.”

“Aku nggak.”

“Kamu tinggal di gua?”

“Aku tinggal di kedai kopi. Di kedai kopi lagunya jazz semua. Aturan Fadlan.” Galih menoleh ke arah speaker, mendengarkan dengan kening berkerut seperti sedang mencicipi kopi. “Ini dia ngomong apa, sih? Nadanya sih happy ya.”

Jenar menaruh sendoknya. Ia tahu seharusnya ia menjawab singkat. Tapi lagu itu sudah menemaninya di bus dari Bandung, di terminal, di pinggir pantai kemarin pagi sebelum ia jatuh. Ia sudah memutarnya terlalu banyak kali untuk menjawab singkat.

“Intinya,” katanya, “dia tahu suatu hari bakal ada orang yang bikin dunianya hancur. Itu pasti. Semua orang bakal patah hati sama seseorang. Jadi dia bilang, kalau memang ada yang bakal nyakitin dia, dia maunya orang itu kamu. Orang yang dia sayang. Dan kalau ujung-ujungnya bakal patah hati juga, ya udah, mending mulai sekarang aja. Bring it on.”

Galih memandanginya lama.

“Bring it on.” Galih bergumam.

“Itu bego,” katanya.

“Apa?”

“Itu bego banget.” Ia menyandarkan punggung ke kursi kayu. “Dia udah tahu bakal disakitin. Terus dia malah nyerahin diri? Minta disakitin sama orang tertentu? Itu kayak orang yang tahu jembatannya mau ambruk, terus bilang, oke, tapi aku maunya ambruknya pas aku lagi di tengah.”

“Bukan gitu maksudnya.”

“Terus apa?”

“Maksudnya dia udah nggak bisa mundur.” Jenar memutar cangkir kosong di depannya. “Dia udah terlanjur jatuh. Jadi daripada pura-pura aman, mending jujur aja. Iya, kamu bisa nyakitin aku. Tapi aku tetep milih kamu.”

“Nah, itu dia masalahnya. Milih.” Galih menunjuk dengan ujung garpu. “Kalau dia bisa milih, kenapa milih yang bakal nyakitin? Pilih yang nggak. Beres.”

“Perasaan nggak bisa milih, Galih.”

“Bisa.”

“Nggak bisa.”

“Bisa. Kamu bisa milih mau jalan ke arah mana. Kamu bisa milih buat pergi.”

Jenar tertawa. Tawa kecil, tidak lucu. “Oh. Kayak kamu kemarin? Pergi dari ruang rapat, nyetir sampai Pangandaran?”

Galih terdiam. Garpunya berhenti di udara.

Jenar langsung menyesal. Itu terlalu tajam untuk orang yang baru ia kenal sehari. Tapi sebelum ia sempat minta maaf, Galih meletakkan garpunya pelan-pelan di pinggir piring dan tersenyum. Senyum miring di satu sisi.

“Iya. Kayak aku,” katanya. “Dan lihat, aku sekarang di sini, makan pizza enak, di sebelah perempuan yang pinter debat. Pergi itu nggak selalu jelek.”

“Tapi kamu masih sakit.”

“Sedikit.”

“Berarti pergi nggak nyembuhin apa-apa.”

“Berarti pergi bikin sakitnya nggak nambah.” Galih mengangkat bahu. “Semalem aku bilang kan. Kalau rasanya sesakit itu, mungkin itu bukan cinta. Lagu ini kebalikannya. Dia bilang, justru karena cinta, dia rela disakitin. Menurut aku itu kebalik.”

“Menurut aku itu paling jujur,” kata Jenar. “Orang yang bilang cinta nggak boleh sakit, biasanya belum pernah bener-bener jatuh.”

Kalimat itu keluar lebih keras dari yang ia maksud. Di meja kasir, pelayan berkerudung itu berhenti mengelap gelas dan memandangi mereka. Lagunya sudah masuk ke bagian reff terakhir.

Galih menatap Jenar. Kali ini tidak ada senyum miring. Hanya tatapan yang lama dan tenang, seperti ia sedang benar-benar menimbang kalimat itu, bukan mencari cara membalasnya.

“Mungkin,” katanya akhirnya. “Mungkin aku emang belum pernah.”

Jenar tidak tahu harus menjawab apa. Jadi ia tidak menjawab.

“Mbak,” panggil Galih ke arah kasir. “Lagu ini judulnya apa tadi?”

“Babydoll, Mas! Jamie Miller!” jawab si pelayan dengan semangat orang yang sudah menunggu seharian untuk ditanya. “Lagi viral banget, Mas. Mas-nya nggak tahu?”

“Nggak tahu, Mbak. Kata dia aku tinggal di gua.”

Pelayan itu tertawa dan memutarnya sekali lagi. Keempat kalinya. Galih menutup wajah dengan kedua tangan dan mengerang, dan Jenar tertawa sampai hampir tersedak es teh.

Lalu pizzanya datang, masih mendesis, keju meleleh sampai ke pinggir piring. Jenar makan potongan pertama terlalu cepat dan membakar langit-langit mulutnya. Ia meniup-niup dengan mulut terbuka seperti ikan koki.

Galih menyodorkan gelas es teh miliknya tanpa berkata apa-apa.

Lalu kopinya datang.

Jenar sudah siap. Semalam ia sudah melihat wajah Galih waktu menyesap kopi hotel. Ia memperhatikan Galih mengangkat cangkir, menghirup aromanya dengan mata terpejam, lalu menyesap. Menahannya di mulut. Menelan pelan.

Kening Galih berkerut.

“Jangan,” bisik Jenar.

“Aku belum ngomong apa-apa.”

“Muka kamu udah.”

Galih menyesap sekali lagi, lalu meletakkan cangkir di tatakan dengan hati-hati, seperti meletakkan barang bukti. “Bijinya bagus. Ini Java Preanger, aku yakin. Tapi gilingannya kehalusan. Kelamaan kena air. Jadi pahitnya nutupin rasa buahnya.”

“Galih.”

“Sayang aja. Kayak lagu bagus tapi penyanyinya fals.”

“Kopi saya fals?”

Mereka berdua menoleh. Seorang laki-laki berdiri di belakang meja bar dengan celemek kotor dan handuk kecil di bahu. Umurnya mungkin tiga puluhan. Kulitnya gosong. Lengannya bertato jangkar yang sudah pudar. Ia tidak kelihatan marah. Ia kelihatan tersinggung dengan cara yang sangat pribadi, seperti orang yang anaknya baru dibilang jelek.

Jenar ingin menghilang ke dalam pizza.

Galih malah berdiri. “Mas yang nyeduh?”

“Saya yang nyeduh.”

“Gilingan Mas nomor berapa?”

Laki-laki itu menyipitkan mata. “Kenapa emang?”

“Coba naikin dua klik. Terus airnya jangan langsung dari ketel mendidih. Diemin setengah menit.”

Hening. Oven batu bata berdetak pelan. Dari speaker, lagu itu mulai lagi dari awal. Kelima kalinya.

“Mas barista?”

“Saya punya kedai. Beberapa.”

“Beberapa berapa?”

Galih melirik Jenar sekilas, seperti minta maaf karena harus mengatakannya lagi. “Sepuluh.”

Laki-laki itu memandang Galih dari ujung rambut basah sampai sandal jepit. Lalu ia membuka pintu kecil di samping bar dan menunjuk ke dalam dengan dagu.

“Buktiin.”

Dan begitulah Jenar menghabiskan empat puluh menit berikutnya. Duduk sendirian dengan pizza setengah seafood setengah jamur, menonton dua laki-laki dewasa berdebat soal suhu air seperti sedang merundingkan perjanjian damai.

Pemilik kedai itu bernama Kang Asep. Dulu barista di Bandung, pulang kampung waktu bapaknya sakit, lalu tidak pernah kembali. Ia dan Galih menyeduh, mencicipi, meludah ke wastafel, menyeduh lagi. Mereka menimbang biji kopi dengan timbangan digital yang layarnya retak. Mereka saling membentak soal detik. Di satu titik Kang Asep memukul bahu Galih dan Galih balas memukul, dan Jenar tidak yakin itu bertengkar atau berteman.

Tapi yang paling ia perhatikan adalah wajah Galih.

Galih yang semalam bicara soal sahabatnya dengan bahu turun dan suara datar sudah tidak ada. Galih yang barusan bilang pergi itu tidak selalu jelek juga tidak ada. Yang ini berbeda. Matanya menyala. Tangannya bergerak cepat dan yakin. Ia menjelaskan sesuatu soal keasaman sambil menggambar kurva di udara dengan jari, dan waktu Kang Ujang akhirnya mengangguk pelan, Galih tersenyum seperti anak kecil yang menang lomba panjat pinang.

Orang ini nggak pernah bener-bener pergi dari sesuatu yang dia cintai, pikir Jenar tiba-tiba. Dia cuma pergi dari yang nyakitin.

Ia tidak tahu kenapa pikiran itu membuat dadanya sedikit ngilu.

Ia mengambil tisu dari wadah di meja. Mengeluarkan pulpen dari tas selempang. Pulpen yang sama yang ia pakai untuk tanda tangan lembar pengesahan skripsi, dan sejak itu belum ia pakai untuk apa pun.

Semalam ia menggambar denah restoran tanpa sadar. Kali ini ia sadar. Dan ia tetap menggambar.

Sebuah bangunan kecil di sudut jalan. Jendela besar dari lantai sampai plafon supaya cahaya pagi masuk. Bar panjang dari kayu yang menghadap ke luar, bukan ke dalam, supaya barista bisa melihat orang-orang lewat. Pohon ketapang di depan. Dua kursi di teras. Plang kayu dengan huruf miring yang belum ia isi namanya.

Ia sedang mengarsir bayangan di bawah atap ketika sebuah cangkir diletakkan di depannya.

“Coba,” kata Galih. Napasnya agak terengah, ada keringat di pelipis. “Yang ini beneran.”

Jenar menyesap. Lalu diam.

Kopinya manis. Tidak ada gula, ia tahu tidak ada gula, tapi ada rasa seperti buah ceri, seperti cokelat, seperti sesuatu yang asam tapi menyenangkan di pinggir lidah.

“Oh,” katanya.

“Kan.”

“Ini beda banget.”

“Kan!” Galih berbalik ke arah bar. “Kang! Dia bilang beda banget!”

Dari balik bar, Kang Asep mengacungkan jempol tanpa menoleh.

Galih duduk, masih terengah, masih tersenyum. Lalu matanya turun ke tisu di bawah tangan Jenar.

“Itu apa?”

Jenar buru-buru menutupinya. “Bukan apa-apa.”

“Denah lagi?”

“Cuma coretan.”

Galih mengulurkan tangan, telapak menghadap ke atas, dan menunggu. Tidak merebut. Hanya menunggu, dengan kesabaran yang membuat Jenar kesal.

Ia menyerahkan tisu itu.

Galih memandanginya lama. Lama sekali. Senyumnya pelan-pelan hilang, tapi yang menggantikannya bukan hal buruk. Ia menyentuh gambar bar kayu yang menghadap ke luar dengan ujung telunjuk, sangat hati-hati, seperti takut tintanya luntur.

“Kenapa barnya ngadep ke luar?”

“Semalem kamu bilang,” kata Jenar pelan, “kamu paling kangen gerobak. Karena bisa lihat orang lewat. Terus sekarang barista kamu ngadep tembok.”

Galih mendongak.

“Kamu dengerin,” katanya. Bukan pertanyaan.

“Ya kamu ngomong.”

“Orang jarang dengerin sampai sedetail itu.”

Jenar mengangkat bahu dan pura-pura sibuk dengan pinggiran pizza. Tapi ia bisa merasakan tatapan Galih di wajahnya, lama dan hangat, seperti matahari jam sepuluh pagi yang kelewatan.

“Namanya apa?” tanya Galih. “Plangnya kosong.”

“Belum tahu. Itu kan kedai kamu.”

“Kedai aku?”

“Kedai impian kamu. Maksudnya.” Jenar menggigit bibir. “Aku cuma gambar.”

Galih melipat tisu itu jadi empat. Pelan. Rapi, mengikuti garis yang sudah ada. Lalu ia mengeluarkan dompet dari saku belakang dan menyelipkannya di balik KTP.

“Eh, itu tisu bekas.”

“Bukan bekas. Belum di pakai buat apa-apa.”

“Galih, ada noda saus di pojoknya.”

“Makanya,” kata Galih. “Biar inget ini dari mana.”

Jenar tidak punya jawaban. Ia minum kopinya. Masih manis tanpa gula.

Dari speaker di rak atas, lagu itu mulai lagi. Keenam kalinya. Galih menunduk ke meja dan membenturkan dahinya pelan-pelan ke kayu, dan Jenar tertawa sampai perutnya sakit.


Motornya pinjaman dari Kang Asep.

Honda bebek tua dengan jok robek yang ditambal lakban hitam. Spionnya tinggal satu. Helm untuk Jenar ada stiker klub bola lokal yang sudah pudar, dan baunya seperti sampo seseorang yang bukan dia.

“Kamu yakin bisa bawa?” tanya Jenar.

“Aku pernah bawa gerobak kopi nanjak di Dago.”

“Itu nggak ada hubungannya.”

“Ada. Sama-sama berat dan nggak ada remnya.”

“Motor ini nggak ada remnya?”

“Ada,” sahut Kang Asep dari ambang pintu, tidak meyakinkan. “Rem depan. Belakang agak ngambek.”

Galih bertanya ke mana Jenar ingin pergi. Jenar bilang ia sempat melihat foto hutan bakau di internet waktu tidak bisa tidur di bus dari Bandung. Katanya sunsetnya bagus. Galih bilang ia belum pernah ke sana, padahal sudah tiga kali ke Pangandaran.

“Kamu ke sini cuma buat surfing?”

“Sama tidur.”

“Sama kabur.”

Galih menoleh dengan tatapan tersinggung. Lalu tertawa. “Sama kabur,” akunya.

Jenar naik dengan hati-hati, kaki kiri terjulur supaya tidak menekuk. Ia memegang besi di belakang jok. Motor bergerak. Berbelok. Terguncang di lubang pertama.

Tangannya pindah ke pinggang Galih tanpa minta izin.

Galih tidak berkata apa-apa. Tapi di lampu merah satu-satunya di jalan itu, Jenar melihat lewat spion yang tinggal satu bahwa ia tersenyum.

Jalan menuju hutan bakau berkelok di antara sawah dan kebun kelapa. Angin sore menampar wajah mereka. Rambut Jenar keluar dari bawah helm dan menempel di bibirnya. Anak-anak berseragam pramuka melambai dari pinggir jalan, dan Galih membunyikan klakson dua kali. Bunyinya seperti bebek dicekik. Jenar tertawa sampai keningnya membentur punggung Galih.

Lalu, di jalan lurus di antara sawah, ia mendengar sesuatu.

Galih bersenandung. Pelan, hampir tertelan angin dan deru motor. Sumbang di beberapa nada. Tapi Jenar mengenalinya dalam dua ketukan.

Ia mendekatkan wajah ke telinga Galih. “Katanya lagunya bego!”

Senandungnya berhenti mendadak. “Nyangkut!” teriak Galih ke arah angin. “Diputer enam kali! Itu penyiksaan!”

“Kamu suka!”

“Nggak!”

“Kamu hafal nadanya!”

“Itu bukan suka, itu trauma!”

Jenar tertawa ke punggungnya. Ia membiarkan keningnya di sana sebentar. Di punggung itu. Kaus putih yang bau matahari dan sedikit bau kopi.

Ponsel di sakunya bergetar. Sekali. Dua kali. Jenar tahu itu Hana tanpa perlu melihat.

Ia mengangkat kepalanya lagi.


Hutan bakau itu lebih sepi dari foto di internet. Ada jembatan kayu sempit yang meliuk di antara akar-akar yang mencuat dari lumpur seperti jari orang tua. Air payau berkilau cokelat keemasan. Seekor burung kuntul berdiri dengan satu kaki di atas batang tumbang, tidak peduli pada apa pun.

Dan nyamuk. Banyak sekali nyamuk.

“Di foto nggak ada nyamuk,” desis Jenar sambil menampar betisnya sendiri.

“Ya iyalah, Jen. Nyamuk kan nggak mau difoto.”

Galih merogoh saku celana pendeknya dan mengeluarkan sachet losion anti nyamuk yang sudah penyok. Tadi ia membelinya di warung dekat kedai tanpa Jenar sadari. Ia merobeknya dengan gigi, lalu berhenti. Menatap kaki Jenar. Menatap wajahnya.

“Boleh? Kaki kamu susah nekuk.”

Jenar mengangguk.

Galih berjongkok dan mengoleskannya di betis Jenar. Telapak tangannya hangat dan kasar. Gerakannya cepat dan praktis, seperti orang yang sudah biasa mengurus luka lecet anak-anak karyawannya. Tapi di pergelangan kaki yang terkilir ia melambat. Mengoleskannya jauh lebih pelan. Hampir tidak menyentuh.

“Masih sakit?” tanyanya tanpa mendongak.

“Dikit.”

Ia mengangguk. Mengoleskan sisa losion di tangannya sendiri, lalu berdiri dan menyerahkan sachet itu. “Tangan kamu, kamu aja.”

Jenar mengoleskannya di lengan sambil berusaha tidak memikirkan betisnya, yang sekarang terasa lebih hangat dari bagian tubuhnya yang lain.

Mereka berjalan menyusuri jembatan kayu, pelan karena kaki Jenar, dan karena tidak ada yang terburu-buru. Di ujung jembatan ada dermaga kecil yang menjorok ke muara, dengan bangku kayu yang catnya mengelupas. Dari sana langit terbuka lebar sampai ke laut.

Matahari mulai turun.

Mereka duduk. Tidak bersentuhan. Ada jarak satu jengkal, dan Jenar mengukurnya dengan seluruh kesadarannya.

Langit berubah pelan. Kuning pucat. Lalu jingga. Lalu merah muda yang malu-malu di pinggir awan. Air muara memantulkan semuanya, sampai rasanya mereka duduk di tengah-tengah dua langit. Sebuah perahu nelayan lewat dengan mesin terbatuk-batuk, dan bapak di atasnya melambai. Mereka melambai balik bersamaan.

“Yang tadi,” kata Jenar. “Soal lagu. Maaf. Aku nyebelin.”

“Kamu emang nyebelin.” Galih tidak menoleh. “Tapi kamu nggak salah.”

“Soal apa?”

“Soal aku pergi dari ruang rapat. Soal pergi nggak nyembuhin apa-apa.” Ia memandangi air. “Waktu bapak meninggal, aku nggak ngomong sama siapa-siapa tiga hari. Kakakku sampai gedor-gedor pintu kamar. Dia bilang aku kayak kulkas. Diem, dingin, tapi dalemnya penuh.”

Jenar tersenyum. “Kakakku juga gitu. Tapi dia yang kulkas, bukan aku.”

“Kamu punya kakak?”

“Satu. Cowok. Kak Leknor.” Jenar memeluk lututnya yang sehat. “Dia yang ngebesarin aku. Sama nenek.”

Galih menoleh. Tidak bertanya. Menunggu.

Dan karena ia menunggu dengan cara itu, dengan cara yang tidak membuat Jenar merasa ditunggu, kalimat berikutnya keluar begitu saja.

“Ibu pergi waktu aku dua tahun. Kata nenek, beliau cuma pamit keluar beli sesuatu.” Ia mengamati burung kuntul yang akhirnya menurunkan kakinya yang satu lagi. “Belum pulang sampai sekarang.”

Galih diam.

“Terus nenek meninggal pas Covid. Jadi sekarang tinggal aku sama Kak Leknor.” Jenar tertawa kecil, kering. “Makanya aku nggak pernah ngomong ke Hanif. Aku takut. Kalau aku bilang, terus dia pergi, aku nggak tahu harus gimana.”

“Tapi dia tetep pergi.”

“Tapi dia tetep pergi,” ulang Jenar. “Dan aku nggak pernah ngomong. Jadi aku bahkan nggak punya hak buat sakit hati.”

“Kamu punya hak.”

“Masa?”

“Sakit hati nggak perlu izin.” Galih menatapnya. “Kalau perlu izin, aku udah ditilang dari minggu lalu.”

Jenar tertawa. Kali ini sungguhan. Lalu tawanya pelan-pelan surut.

“Tadi kamu bilang perasaan bisa dipilih,” katanya.

“Hm.”

“Kalau bisa, aku udah milih nggak suka sama Hanif dari kelas dua SMP.” Ia memandangi air. “Aku udah milih nggak nangis di depan kacang rebus. Aku udah milih nggak...”

Ia berhenti.

Nggak apa, Jen? Nggak duduk di sini?

Waktu ia menoleh, jarak satu jengkal itu sudah tidak ada.

Ia tidak tahu siapa yang bergeser. Mungkin Galih. Mungkin dia sendiri. Mungkin bangku kayunya yang miring. Bahu mereka bersentuhan sekarang, dan lengan mereka, dan wajah Galih ada di sana. Dekat. Sangat dekat.

Ia bisa melihat bulu mata Galih. Tidak lentik. Lurus dan tebal. Ia bisa melihat bekas luka kecil di dagunya yang tidak ia perhatikan semalam di bawah lampu neon. Ia bisa mencium kopi, losion anti nyamuk, dan matahari.

“Nggak apa?” tanya Galih pelan. Suaranya lebih rendah dari biasanya.

Jenar tidak menjawab.

Galih tidak bergerak. Ia hanya menatap Jenar dengan cara yang membuat Jenar merasa seperti satu-satunya hal di muara itu yang layak dilihat. Lebih dari langit. Lebih dari air.

Lalu, pelan sekali, ia mencondongkan tubuh.

Jenar bisa merasakan napasnya. Hangat. Sedikit bergetar.

Dan di detik terakhir, sesenti sebelum bibir mereka bertemu, sesuatu di kepala Jenar berteriak. Bukan suara Hana kali ini. Suaranya sendiri.

Sembilan hari, Jen. Kemarin kamu masih nangis di depan kacang rebus.

Ia memalingkan wajah.

Bibir Galih menyentuh pipinya. Hanya pipi. Sekilas. Lalu ia menarik diri seperti tersengat.

Hening.

Perahu nelayan sudah jauh. Mesinnya tidak terdengar lagi. Hanya ada suara air menjilat tiang dermaga dan dengung nyamuk yang tidak peduli.

“Maaf,” kata Jenar. Suaranya kecil. “Aku...”

“Nggak apa-apa.”

“Bukan karena kamu.”

“Iya.”

“Galih, dengerin dulu.” Jenar memaksa dirinya menatap mata itu. “Aku belum tahu ini karena kamu, atau karena aku lagi kabur. Dan aku nggak mau kamu jadi tempat aku numpang lewat. Kamu nggak pantes dapet itu.”

Galih menatapnya.

Ada sesuatu yang lewat di wajahnya. Cepat sekali, seperti bayangan awan di atas air. Jenar tidak sempat membacanya. Kecewa, mungkin. Atau malu. Atau sesuatu yang lebih tua dari keduanya, yang sudah ada jauh sebelum Jenar terkilir di pantainya.

Lalu wajah itu tenang lagi.

“Oke,” katanya. Ia bersandar ke belakang, memberi jarak. Tidak jauh-jauh. “Lima hari, kan? Masih ada empat.”

“Kamu nggak marah?”

“Marah kenapa?” Ia tersenyum, dan senyumnya hampir berhasil. “Kamu jujur. Itu lebih bagus daripada orang yang bilang iya padahal nggak.”

Tapi tangannya, yang tadi santai di atas bangku, sekarang mengepal pelan di atas lutut. Jenar melihatnya. Ia pura-pura tidak melihat.

“Lagian,” tambah Galih setelah beberapa saat, ke arah laut, “kamu kan pinter milih. Barusan kamu milih nggak.”

Jenar menunduk. Ia ingin membantah. Ia ingin bilang itu bukan memilih, itu takut. Tapi ia tidak yakin lagi di mana bedanya.

Mereka duduk sampai matahari tenggelam seluruhnya, langit berubah ungu gelap, dan nyamuk mulai benar-benar menang. Tidak banyak bicara. Sesekali lengan mereka bersentuhan, dan tak ada yang menariknya.


Mereka sampai di hotel hampir jam delapan malam. Motor Kang Asep mogok sekali di tanjakan, dan Galih harus mendorongnya sementara Jenar duduk di atas jok memberi semangat yang tidak membantu sama sekali.

Di lorong lantai dua, di depan kamar dua-empat-satu, mereka berhenti.

Lampu lorong berkedip. Dari kamar sebelah terdengar suara televisi, orang tertawa di acara kuis.

“Makasih,” kata Jenar. “Buat hari ini.”

“Buat kopinya?”

“Buat semuanya.”

Galih mengangguk. Ia menggaruk tengkuk, memasukkan tangan ke saku, lalu mengeluarkannya lagi. “Besok pagi aku surfing. Jam enam. Kalau kamu mau lihat.”

“Aku nggak bisa renang.”

“Nggak nyuruh kamu renang. Nyuruh kamu lihat.”

“Jam enam pagi?”

“Ombaknya bagus jam segitu.”

“Aku nggak janji bangun.”

“Oke.” Ia mundur selangkah. Dua langkah. Lalu berhenti. “Jen.”

“Ya?”

Galih membuka mulut. Menutupnya lagi. Ia menatap Jenar dengan tatapan yang sama seperti di dermaga, tapi kali ini ia tidak bergerak maju. Ia hanya berdiri di bawah lampu yang berkedip, kedua tangan di sisi tubuh, dengan sisa losion anti nyamuk yang masih samar di pipinya.

“Nggak jadi,” katanya. “Selamat malam.”

Ia berbalik dan berjalan ke ujung lorong. Jenar memperhatikan punggungnya sampai pintu kamar paling ujung tertutup.

Lalu ia masuk, menutup pintu, dan bersandar di sana lama sekali.

Pipinya, tempat bibir Galih sempat menyentuh, masih terasa hangat. Ia menyentuhnya dengan ujung jari. Bodoh. Bodoh sekali. Ia yang memalingkan wajah. Ia yang bilang belum tahu. Ia yang minta jarak.

Dan sekarang, sendirian di kamar yang bau kaporit dan pengharum ruangan rasa apel, satu-satunya hal yang ia tahu pasti adalah bahwa ia menyesal.

Kertas notes hotel masih di nakas. Kalau nggak, abaikan aja kertas ini. (G.)

Ia tidak membuangnya.

Ponselnya bergetar. Hana.

Hana : JEN. LO KE MANA AJA SEHARIAN. JANGAN BILANG LO NANGIS DI PANTAI LAGI.

Jenar mengetik. Menghapus. Mengetik lagi.

Jenar : Nggak nangis. Gue jalan sama orang.

Tiga titik muncul seketika. Menghilang. Muncul lagi.

Hana : ORANG SIAPA.

Yang nolongin gue kemarin.

Hana : COWOK YANG ITU??

Jenar : Iya.

Hana : Jen. Lo gila ya. Lo baru sembilan hari.

Jenar : Gue tau.

Hana : Gue serius. Jangan sampe dia jadi pelarian lo.

Jenar memandangi layar itu lama. Lalu ia membuka aplikasi musik tanpa berpikir, dan jempolnya berhenti di lagu yang paling sering ia putar tiga minggu terakhir.

Ia tidak memutarnya.

Ia mengetik

Jenar : iya, gue tau.

Mematikan ponsel, menyetel alarm jam setengah enam pagi di jam tangan murah yang lupa ia lepas, dan berbaring menatap langit-langit sampai tertidur.


Di kamar paling ujung, Galih duduk di pinggir kasur dengan dompet terbuka di tangan.

Tisu itu masih di sana, di balik KTP. Terlipat empat. Sudut kanannya ada noda saus tomat yang sudah mengering jadi cokelat.

Ia membukanya pelan. Memandangi bar kayu yang menghadap ke luar. Pohon ketapang. Dua kursi di teras. Plang kosong.

Di kepalanya, sumbang dan tidak diundang, nada lagu itu berputar lagi. Lagu soal orang bego yang rela disakiti asal oleh orang yang tepat.

Perasaan nggak bisa milih, Galih.

Ia mengusir nada itu dengan menggelengkan kepala. Tidak berhasil.

Ponselnya tergeletak di kasur. Tujuh panggilan tak terjawab dari Fadlan, dan satu pesan yang belum ia buka sejak kemarin.

Ia mengetik. Menghapus. Mengetik lagi.

Nanti kita ngomong.

Tiga kata. Ia menatapnya lama, jempol melayang di atas tombol kirim, seperti orang yang berdiri di ujung papan loncat. Lalu ia menekannya.

Balasannya datang kurang dari semenit.

Makasih, Gal. Gue ke sana. Udah di jalan.

Galih melipat tisu itu kembali mengikuti garisnya, menyelipkannya di balik KTP, dan menutup dompet.

Lalu ia berbaring dan memikirkan pipi seorang perempuan yang berpaling darinya di bawah langit jingga. Ia tidak marah. Ia sudah bilang tidak marah. Tapi di dadanya ada rasa yang lama sekali ia kenal, rasa yang dulu selalu muncul setiap kali seseorang yang ia sayangi memilih arah yang lain.

Untuk pertama kalinya, ia tidak ingin pergi karena rasa itu.

Ia ingin bangun jam enam pagi, dan berharap ada seseorang yang duduk di pasir menontonnya.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk