Galih bangun jam lima lewat dua puluh, dan kamar dua-empat-satu masih bau kaporit dan pengharum ruangan rasa apel.
Setahun setelah pernikahan. Tiga tahun setelah pertama kali ia berdiri di lorong lantai dua dengan tangan terangkat satu senti dari pintu kamar ini.
Ia turun dari kasur pelan-pelan, supaya tidak membangunkan perempuan yang tidur miring menghadap jendela dengan rambut berantakan di atas bantal dan satu tangan menggenggam sesuatu di dadanya. Liontin hati kecil. Bahkan dalam tidur.
Di meja kecil di dekat jendela, di tempat dulu ada dua kantong plastik putih berisi kaus dan ikan asin dan satu kantong plastik hitam yang bukan milik Jenar, sekarang ada tas kanvas cokelat. Galih membukanya tanpa suara.
Penggiling kayu berengkol besi. Ketel leher angsa kecil yang bisa dilipat. Toples kaca dengan label miring ke kanan. SENIOR. Gayo. Untuk Jenar.
Jenar tertawa waktu melihatnya dikemas di rumah dua hari lalu. Kamu bawa penggiling kopi ke liburan? Galih bilang ia tidak percaya pada kopi hotel. Jenar bilang kopi hotel di sini memang seperti orang yang tidak mau kalah debat. Galih bilang justru itu.
Ia merebus air di ketel listrik hotel. Menggiling biji dengan penggiling kayu. Krek. Krek. Krek. Pelan sekali. Berirama. Hampir tidak terdengar di bawah bunyi AC.
Ia menuang. Melingkar.
Dua cangkir. Cangkir hotel yang putih dan tebal, dengan logo pohon kelapa di pinggirnya.
Ia duduk di kursi di dekat jendela. Jendela yang menghadap parkiran, dan kalau menjulurkan leher, sepotong laut di sela dua genteng.
Lalu ia menunggu.
Jenar terbangun karena bau kopi.
Bukan bau yang samar. Bau yang tebal dan hangat dan baru. Cokelat. Kayu manis. Sedikit pala.
Ia membuka mata. Kamar dua-empat-satu. Seprai putih. Langit-langit putih yang sedikit menguning.
Dan di pojok, dekat AC, noda bekas bocor.
Berbentuk pulau.
Masih di sana. Tiga tahun. Tidak ada yang memperbaikinya.
Jenar tertawa. Pelan. Ke bantal.
Ia berbalik. Galih duduk di kursi di dekat jendela dengan dua cangkir hotel di meja kecil di sebelahnya. Kaus abu-abu. Rambut basah. Tidak pergi.
“Pagi,” kata Galih.
“Pagi.”
“Kamu ketawa.”
“Nodanya masih ada.” Jenar menunjuk langit-langit.
Galih mendongak. Memandangi noda berbentuk pulau di pojok dekat AC. Lalu, pelan, ia mengeluarkan ponselnya. Memotretnya.
“Biar inget,” katanya.
“Kamu punya dua foto noda sekarang.”
“Tiga. Yang di apartemen Tebet juga aku foto. Sebelum dijual.”
Jenar tertawa lagi. Keras. Seperti angsa keselek.
Lalu ia berhenti.
Ia memandangi kamar itu. Kursi di dekat jendela. Pintu yang kayunya setebal lima senti. Kasur tempat ia duduk tegak semalaman, tiga tahun lalu, dengan handuk di kepala dan dua tangan terkepal. Tempat ia menunggu pagi. Tidak menangis. Tidak bisa menangis.
Satu-satunya kamar di dunia yang tidak pernah melihatnya menangis.
Dan sekarang ia tertawa di dalamnya.
“Kenapa?” tanya Galih. Memperhatikan wajahnya.
“Nggak apa-apa.” Jenar duduk. Menarik selimut ke dada. “Aku baru sadar. Aku belum pernah ketawa di kamar ini.”
Galih memandanginya lama.
Lalu ia berdiri. Membawa satu cangkir ke kasur. Menyodorkannya.
Jenar menerimanya dengan dua tangan. Hangat. Menyesapnya.
Manis tanpa gula.
Galih duduk di tepi kasur. Di sebelahnya. Tidak berkata apa-apa. Hanya duduk. Di kamar yang tiga tahun lalu hanya bisa ia masuki lewat satu kalimat dari balik pintu.
“Galih.”
“Hm.”
“Kenapa kamu minta kamar ini lagi?”
Galih memandangi cangkirnya. Telinganya memerah.
“Terakhir kali aku di sini,” katanya, “aku duduk di lantai. Punggung di pintu. Tiga malem. Sendirian.” Ia menoleh. “Aku mau inget kamar ini kayak gini juga.”
“Kayak gimana?”
“Kayak kamu ketawa di dalemnya.”
Galih surfing jam enam pagi.
Papan selancar kuning. Yang tiga tahun lalu ia letakkan rata di pasir di sebelah perempuan yang menangis di atas koper, supaya tidak ketiduran di tempat basah. Yang dua tahun bersandar di dinding ruang kerja Leknor, di sebelah sofa kulit yang retak, di rumah yang harus ditempati berdua. Sekarang papan itu digantung di dinding ruang depan Rumah Jihan, di atas bar kayu jati tua. Dua hari lalu Galih menurunkannya, mengelapnya, mengikatnya di atas mobil dengan tali rafia.
Jenar duduk di pasir kering. Dekat papan besi bertuliskan AWAS ARUS BALIK yang ujungnya sudah berkarat. Memeluk lutut. Kain pantai biru putih tersampir di bahunya. Kain yang dulu seharga tiga puluh lima ribu, yang setahun terlipat di bangku baca di bawah jendela kamar Jihan, yang ia bawa lagi ke sini.
Pantai masih sepi. Langit belum biru. Masih abu-abu keperakan. Dua nelayan membereskan jaring. Seekor anjing kampung tidur melingkar di bawah perahu terbalik.
Anjing yang sama, mungkin. Atau anaknya. Atau cucunya.
Di laut, di antara ombak, satu titik hitam di atas papan kuning.
Galih mendayung. Menunggu. Mencoba berdiri. Jatuh. Mendayung lagi. Mencoba lagi. Jatuh lagi. Kepalanya hilang di balik buih.
Tiga detik. Empat.
Muncul. Mengibaskan rambut seperti anjing basah.
Jenar menghitung. Dengan jari. Di atas lutut.
Ia tidak pernah lebih bagus dari tiga tahun lalu. Ia tidak pernah punya waktu untuk berlatih. Sepuluh kedai. Lalu sebelas. Lalu Rumah Jihan, yang buka jam tujuh pagi dan tutup jam lima sore, dengan bar yang menghadap ke luar dan landaian untuk kursi roda dan dua kursi kayu di teras yang selalu diduduki Bu Ratmi setiap hari Minggu.
Di percobaan kedelapan, ia berhasil.
Ombak yang datang tidak besar, tapi bentuknya bagus. Melengkung seperti huruf C yang ditulis dengan tangan mantap. Galih berdiri di atas papan dengan lutut ditekuk, condong ke depan, dan meluncur.
Hanya beberapa detik. Tapi di beberapa detik itu Jenar melihatnya.
Wajah yang lepas. Seperti orang yang lupa sedang ditonton.
Seperti di balik bar Rumah Jihan, setiap pagi, jam tujuh, waktu Galih membuka jendela dan memandangi jalan kompleks. Bu Endang dengan tas belanja sayur. Anak-anak SD dengan sepeda. Bapak tukang bakso. Ting. Ting. Ting.
Ia keluar dari air. Berjalan ke pantai dengan papan di ketiak. Rambut menempel di dahi. Dada naik turun karena napas yang memburu.
Ia melihat Jenar dari jauh. Tersenyum lebar. Melambai.
Tidak berhenti kali ini. Tidak membeku. Tidak berbalik ke pedagang kain pantai.
Ia berjalan terus. Sampai di depan Jenar. Menancapkan papannya di pasir. Duduk di sebelahnya. Basah kuyup. Pasir menempel di kakinya.
“Berapa kali?” tanyanya. Terengah.
“Sebelas.”
“Tujuh.”
“Sebelas. Yang empat kamu jatuh pas naik ke papan. Itu dihitung.”
“Itu bukan jatuh. Itu turun.”
“Turun ke dalem laut sambil teriak?”
Galih tertawa. Keras. Anjing di bawah perahu terbalik mengangkat kepala, lalu tidur lagi.
Ia memandangi Jenar. Kain pantai biru putih di bahunya. Kalung perak di luar kaus. Dua cincin di jari manis tangan kirinya.
“Kamu dateng,” katanya pelan.
“Aku nggak janji.”
“Tapi dateng.”
Jenar menarik kain pantai itu lebih rapat.
“Aku selalu dateng,” katanya. “Kamu yang nggak tahu.”
Kedai Karang di gang belakang pasar ikan masih punya plang dari kayu bekas perahu dengan huruf yang dicat tangan dan agak miring. Enam meja kayu. Oven batu bata. Bau adonan roti bercampur kopi.
Tapi ada yang berbeda.
Di papan menu kapur di dinding di belakang bar, di antara Kopi Hitam, Kopi Susu, dan Pizza Setengah-Setengah, ada satu baris baru. Kapur putih, huruf tangan Kang Ujang yang besar-besar dan tidak rata.
SENIOR (Gayo). Resep dari Jakarta. Yang bikin: Aa sepuluh kedai. Yang kasih nama: Teteh yang keseleo.
Jenar berdiri di ambang pintu kedai itu dan memandangi papan menu lama sekali.
Kang Ujang keluar dari balik bar. Celemek kotor. Handuk kecil di bahu. Uban di pelipisnya lebih banyak dari setahun lalu, waktu ia menyeduh kopi di balik bar Rumah Jihan dan berdebat dengan pengantin laki-laki soal suhu air.
“Teteh!” Ia memeluk Jenar. Lalu memeluk Galih. Lalu memeluk Jenar lagi. “Duduk, duduk! Senior? Akang bikinin. Pakai biji yang Aa kirim bulan lalu.”
“Kang,” kata Galih. Menunjuk papan menu. “Itu apa?”
“Itu menu, A.”
“Yang bikin: Aa sepuluh kedai.”
“Turis-turis nanya, A. Kenapa namanya Senior. Akang jelasin. Panjang. Mereka bosen. Jadi Akang tulis aja di situ.” Kang Ujang nyengir. “Sekarang turis-turis nanya siapa Teteh yang keseleo. Akang ceritain dari awal. Dari pantai. Dari motor mogok di tanjakan. Mereka nggak bosen lagi.”
Jenar menutup wajah dengan dua tangan.
Mereka duduk di meja yang sama. Tiga tahun lalu. Dekat jendela kecil yang menghadap gang. Di atas meja, wadah tisu yang sama.
Pizza datang lebih dulu. Setengah seafood setengah jamur. Masih mendesis.
Jenar makan potongan pertama terlalu cepat dan membakar langit-langit mulutnya. Ia meniup-niup dengan mulut terbuka seperti ikan koki.
Galih menyodorkan gelas es tehnya tanpa berkata apa-apa.
Lalu Senior datang. Dua cangkir. Kang Ujang meletakkannya di meja, lalu berdiri di sebelah meja dengan tangan terlipat, menunggu.
Galih mengangkat cangkirnya. Menghirup aromanya dengan mata terpejam. Menyesap. Menahannya di mulut. Menelan pelan.
Kang Ujang menahan napas.
Jenar menahan napas.
Galih meletakkan cangkir di tatakan. Memandanginya. Lama.
“Jangan,” bisik Jenar.
“Aku belum ngomong apa-apa.”
“Muka kamu udah.”
Galih mengangkat kepala. Memandangi Kang Ujang.
“Enak, Kang,” katanya.
Kang Ujang mengerjap.
“Beneran enak. Lebih enak dari punyaku.”
Kang Ujang memandanginya dengan mulut terbuka. Lalu menoleh ke Jenar. Lalu kembali ke Galih.
“Aa bohong.”
“Nggak.”
“Aa bilang kopi Akang fals.”
“Itu tiga tahun lalu, Kang.”
Kang Ujang memandanginya lama sekali. Lalu, pelan, ia menarik handuk kecil dari bahunya. Menutupkannya di wajah. Berbalik. Berjalan kembali ke balik bar.
Bahunya berguncang.
Galih dan Jenar saling pandang di atas meja.
“Aku bikin dia nangis,” bisik Galih.
“Kamu bikin semua orang nangis. Itu bakat kamu.”
“Kak Astri bilang aku kulkas.”
“Kulkas yang bikin orang nangis.”
Sebelum mereka pergi, Kang Ujang keluar lagi dari balik bar. Matanya merah. Ia tidak meminta bayaran. Galih memaksa. Kang Ujang bilang turis yang minta diceritakan kisah Teteh yang keseleo sudah membayar lebih dari cukup. Mereka berdebat lima menit sampai Jenar meninggalkan uang di bawah cangkir dan menarik Galih keluar.
Di ambang pintu, Kang Ujang memanggil.
“A.”
Galih menoleh.
Kang Ujang memandanginya. Lalu memandangi tangan Jenar di lengan Galih. Dua cincin perak.
“Akang telepon dia,” katanya pelan.
Galih diam.
“Yang di Bandung. Bulan lalu. Abis Aa nikah. Akang nggak bilang apa-apa yang penting. Akang cuma bilang maaf. Maaf nggak bilang dulu. Maaf nggak balik.” Kang Ujang tersenyum kecil. Tidak pahit. “Dia bilang dia udah maafin dari lama. Dia cuma nunggu Akang ngomong.”
“Terus, Kang?”
“Terus nggak ada terus, A. Dia udah punya anak tiga.” Kang Ujang tertawa. “Tapi Akang tidur nyenyak malem itu. Pertama kali dari dua belas tahun.”
Ia mengangkat tangan. Melambai.
“Kalau mau pergi,” katanya, “ketuk dulu, A. Kata Aa sendiri. Di nikahan.”
Etalase kaca dengan lampu kuning masih di ujung deretan kios pasar oleh-oleh.
Bu Enok melihat mereka dari jauh. Ia berdiri dari kursinya di balik etalase. Tidak melambai kali ini. Ia keluar dari tokonya. Berjalan ke tengah jalan. Tidak peduli pada motor yang lewat.
Ia berhenti di depan Jenar. Memandanginya dari atas sampai bawah. Kaus putih. Kalung perak. Liontin hati kecil.
Tangannya naik. Pelan. Menyentuh liontin itu dengan ujung jari. Membaliknya. Memeriksa sambungan rantainya. Kaitannya yang kecil sekali.
“Masih terang,” bisiknya.
“Nggak pernah dilepas, Bu,” kata Jenar.
Bu Enok memandanginya. Lalu tertawa. Tawa yang serak dan keras. Lalu memeluknya. Erat. Bau minyak kayu putih dan cairan pembersih perak.
Lalu ia melepaskan Jenar dan menarik tangan kiri Galih. Membaliknya. Memandangi cincin perak di jari manisnya.
“G-nya kegedean,” katanya puas.
“Biar kompak, Bu,” kata Galih.
“Biar kompak.”
Bu Enok menepuk pipi Galih. Dua kali. Keras.
“Aa yang dulu kancingnya salah pasang,” katanya. “Liat sekarang.”
Galih memandangi kemejanya sendiri.
Kancing kedua dari atas masuk ke lubang ketiga.
Jenar tertawa sampai harus berpegangan di etalase kaca.
Pantai sore itu jingga.
Mereka berjalan menyusuri garis pantai. Pelan. Tanpa papahan. Tangan bertaut. Pasir basah di bawah telapak kaki. Ombak yang datang dan pergi, menjilat pergelangan kaki, mundur lagi.
Di dekat pohon ketapang, seorang ibu dengan tampah di kepala berjalan ke arah mereka.
Kerudung cokelat. Wajah yang keriput oleh matahari.
Ia berhenti. Menurunkan tampahnya. Memandangi mereka berdua.
Jenar tahu ibu itu mengenalinya sebelum ibu itu membuka mulut.
“Neng,” kata ibu itu. “Neng yang keseleo.”
“Iya, Bu.”
“Sama Aa yang duduk di pasir basah.”
“Iya, Bu.”
Ibu itu memandangi tangan mereka yang bertaut. Lalu cincin-cincin perak di jari mereka.
“Ibu kirim kacang,” katanya.
“Tiga kilo, Bu,” kata Jenar. “Kami makan seminggu.”
“Kurang, ya?”
“Lebih dari cukup, Bu.”
Ibu itu mengangguk puas. Mengeluarkan satu bungkus plastik kecil dari tampahnya. Menyodorkannya ke Jenar.
“Kacang, Neng? Masih anget.”
Jenar menerimanya. Kacangnya memang masih hangat.
“Sekarang patah hati lagi, Neng?” tanya ibu itu.
Jenar memandangi Galih di sebelahnya. Rambut yang masih sedikit basah dari surfing pagi tadi. Kancing kemeja yang sudah dibetulkan. Garis tabir surya putih yang tidak rata di batang hidungnya.
“Nggak, Bu,” katanya. “Lagi seneng.”
Ibu itu memandanginya. Lalu tersenyum. Gigi yang tinggal beberapa.
“Seneng juga harus makan,” katanya.
Ia mengangkat tampahnya. Berjalan pergi di sepanjang garis pantai. Menawarkan kacang pada sepasang turis yang sedang berfoto.
Jenar mengupas satu kacang. Memakannya.
Lalu matanya panas. Dan ia tertawa, karena kali ini ia tahu kenapa.
Papan besi bertuliskan AWAS ARUS BALIK masih di tempatnya.
Karatnya sudah lebih banyak. Merambat dari ujung ke tengah, memakan huruf W di kata AWAS sampai hampir tidak terbaca. Tiangnya sedikit miring, digerus pasir dan angin selama tiga tahun.
Jenar berhenti di depannya.
Galih berhenti di sebelahnya.
Mereka memandangi papan itu. Lalu pasir di depannya. Pasir yang basah dan gelap, di mana ombak baru saja mundur.
Di sini. Tiga tahun lalu. Jenar melangkah melewati papan ini, ingin membasuh kaki di air yang surut, ingin melakukan hal-hal yang dilakukan tokoh film ketika sedang melupakan seseorang. Dan pasir itu memutuskan untuk tidak ada.
Jenar melepaskan tangan Galih.
Ia melangkah ke depan. Melewati papan besi yang berkarat. Ke pasir yang basah dan gelap.
Galih memandanginya.
Jenar berhenti di tepi air. Menoleh ke belakang. Tersenyum.
Lalu ia melangkah lagi.
Dan dengan sengaja, sangat sengaja, dengan akting paling buruk yang pernah ia lakukan seumur hidup, ia membiarkan kakinya terpeleset di pasir yang basah.
Tubuhnya miring.
Dua tangan menangkapnya.
Satu di punggungnya. Satu di pinggangnya. Kuat. Tidak ragu-ragu. Menahannya sepuluh senti dari pasir. Di posisi yang aneh, setengah jatuh dan setengah diselamatkan. Seperti di pesta pernikahan Leknor dan Astri, dengan buket mawar putih di dada.
Jenar mendongak.
Galih memandanginya dari atas. Napasnya sedikit memburu. Wajahnya tidak panik. Wajahnya menahan tawa.
“Kamu sengaja,” katanya.
“Nggak.”
“Kamu sengaja, Jen.”
“Pasirnya jahat.”
“Kamu jalan kayak robot terus pura-pura kepleset.”
“Aku nggak jalan kayak robot.”
Galih tertawa. Keras. Masih menahannya sepuluh senti dari pasir.
Ombak datang. Menjilat kaki mereka. Dingin. Mundur lagi.
Galih tidak menegakkannya. Ia berlutut. Pelan. Di pasir basah. Membiarkan Jenar setengah bersandar di lengannya, setengah duduk di pasir. Ombak datang lagi. Menjilat lutut Galih. Membasahi celananya.
“Celana kamu kuyup,” kata Jenar.
“Iya.”
“Mahal?”
“Beli di Tanah Abang.”
Jenar tertawa. Di lengan Galih. Di pasir basah di depan papan AWAS ARUS BALIK yang berkarat.
Lalu, pelan, tawanya reda.
“Mbak nggak apa-apa?” tanya Galih. Pelan. Dengan wajah sangat serius. Kalimat yang sama. Tiga tahun lalu. Di pasir yang sama.
Jenar memandanginya.
“Nggak apa-apa,” katanya.
Air matanya tidak jatuh kali ini.
Ia tersenyum.
Mereka duduk di pasir basah sampai matahari tenggelam.
Galih di sebelahnya. Celananya kuyup. Kaki terjulur ke arah laut. Ombak datang dan pergi, menjilat pergelangan kaki mereka, mundur lagi. Kain pantai biru putih menyelimuti bahu mereka berdua.
Langit berubah pelan. Kuning pucat. Lalu jingga. Lalu merah muda yang malu-malu di pinggir awan. Seperti di dermaga hutan bakau. Seperti di atas bar kayu jati tua di Rumah Jihan, di hari terakhir syarat wasiat, dengan kotak kayu yang sudutnya miring.
Jenar menyandarkan kepalanya di bahu Galih.
Kali ini ia sadar sedang melakukannya. Kali ini tidak ada yang perlu dipikirkan.
“Galih.”
“Hm.”
“Kamu inget pas malem pertama? Di restoran hotel?”
“Inget.”
“Kamu bilang sesuatu.”
Galih diam. Ia tahu kalimat mana.
“Kalau rasanya sesakit itu,” kata Jenar pelan, “mungkin itu bukan cinta.”
“Aku inget.”
“Kamu bilang cinta harusnya bikin orang ringan. Bukan kayak orang yang abis keseleo.”
“Aku ngeledek kaki kamu.”
“Sedikit.”
Galih tertawa pelan. Ke rambut Jenar.
Lalu ia diam lama. Memandangi laut. Matahari yang tinggal separuh di garis cakrawala. Lampu-lampu perahu nelayan yang mulai menyala, berkelip seperti bintang yang jatuh terlalu rendah.
“Aku salah,” katanya.
Jenar mengangkat kepala.
“Soal itu,” kata Galih. “Aku salah soal satu hal.”
Ia memandangi Jenar. Wajahnya jingga di cahaya matahari terakhir. Garis tabir surya putih yang tidak rata di batang hidungnya. Mata yang tidak lagi menutup apa pun.
“Aku bilang kalau sakit, itu bukan cinta,” katanya. “Aku salah.”
Ombak datang. Mundur.
“Aku sakit tiga tahun,” kata Galih. “Gara-gara satu kalimat di balik pintu. Aku sakit pas nginjek kaki kamu di bawah meja. Pas manggil kamu Mbak. Pas bilang kesalahan. Pas kamu nampar aku. Pas aku duduk di lantai kamar dua-empat-satu tiga malem.” Ia berhenti. “Kamu juga sakit. Lebih lama. Dari umur dua tahun.”
Jenar tidak bergerak.
“Tapi kita nggak pernah berhenti,” lanjut Galih. “Aku nggak pernah bisa buang tisu itu. Kamu nggak pernah lepas kalung itu. Aku tetep bikinin kopi. Kamu tetep dateng ke kedai aku tiap minggu dan bayar penuh.”
Ia menarik napas.
“Sakit itu tetep cinta,” katanya pelan. “Kalau kita milih tinggal.”
Jenar memandanginya lama sekali.
Matahari tenggelam seluruhnya. Langit berubah ungu gelap. Ombak datang dan pergi, datang dan pergi. Anjing di bawah perahu terbalik menggonggong sekali, lalu diam.
Terus kalau rasanya seenak ini sampai sakit, itu apa?
Ia menanyakannya pada dirinya sendiri. Tiga tahun lalu. Di pasir yang sama. Dengan kepala di bahu laki-laki yang baru ia kenal satu hari.
Sekarang ia tahu jawabannya.
“Itu cinta,” bisiknya.
Galih memandanginya.
“Yang seenak ini sampai sakit,” kata Jenar. “Itu cinta. Dari dulu.”
Galih tidak menjawab dengan kata-kata.
Ia menunduk. Menciumnya. Di pasir basah. Di depan papan AWAS ARUS BALIK yang berkarat. Dengan ombak yang menjilat pergelangan kaki mereka dan celana yang kuyup dan kain pantai tiga puluh lima ribu di bahu mereka berdua.
Tidak ada anjing di lorong. Tidak ada satpam yang menggedor pintu. Tidak ada listrik yang tiba-tiba menyala.
Hanya laut. Dan langit yang ungu. Dan lampu perahu nelayan di kejauhan.
Dan dua detak jantung yang tidak jelas lagi milik siapa.
Kencang. Tidak beraturan.
Nggak pernah pelan.
Malam itu, di kamar dua-empat-satu, Jenar tertidur dengan kepala di dada Galih.
Di langit-langit, di pojok dekat AC, noda berbentuk pulau.
Di ponsel Galih, tiga foto noda berbentuk pulau. Kamar Jenar di rumah Kenanga dua belas, sebelum dicat. Apartemen di Tebet, sebelum dijual. Kamar dua-empat-satu, pagi ini.
Di nakas, gantungan kunci papan selancar kuning. GALIH. Huruf H yang kegedean. Tergantung di kunci mobil.
Di leher Jenar, liontin hati kecil. Masih terang.
Di jari manis mereka, dua cincin perak. Hati di dalam satu. Papan selancar dan huruf G di dalam yang lain. Tidak bisa dilihat siapa pun. Kecuali mereka.
Galih tidak tidur. Ia memandangi langit-langit. Mendengarkan napas Jenar yang teratur di dadanya.
Lalu ia mengeluarkan ponselnya. Membuka aplikasi pesan. Grup RT 05 Kenanga Asri.
Pesan terakhir di sana dari Bu Ratmi, dikirim tadi sore. Foto. Bar kayu jati tua di Rumah Jihan, dari luar jendela. Tutup. Kursi-kursi kayu di teras terbalik di atas meja. Dan di jendela, tertempel selembar kertas notes bergambar beruang. Tulisan tangan yang miring ke kanan. Huruf g-nya seperti kail pancing.
Tutup sampai Senin. Kami ke Pangandaran. Pulang Minggu malam. (Ini ketukan kami.)
Di bawah foto itu, pesan Bu Ratmi.
Udah diketuk. Ibu siram tanemannya. Hati-hati di jalan Mas, Mbak.
Dan di bawahnya, dari Bu Endang (Admin):
Pangandaran lagi? Honeymoon kedua?
Belum. Nanti juga.
AAMIIN.
Galih tertawa pelan. Supaya tidak membangunkan Jenar.
Ia mematikan ponsel. Meletakkannya di nakas. Di sebelah gantungan kunci papan selancar kuning.
Lalu ia memejamkan mata.
Detak jantungnya, di bawah telinga Jenar, pelan dan teratur.
Hanya saat tidur.
Di rumah bercat putih yang mengelupas di bawah jendela, di Jalan Kenanga nomor dua belas, di Cilandak, Jakarta, sunyi.
Bukan sunyi yang berat. Bukan sunyi yang punya bentuk. Sunyi rumah yang ditinggalkan sebentar oleh orang-orang yang sudah mengetuk sebelum pergi, dan akan pulang.
Di ruang tengah, di dinding di atas sofa, dua foto dalam bingkai kayu jati. Berdampingan.
Di foto yang lama, dua orang di tengah pelaminan dengan bahu bersentuhan dan senyum yang tidak sampai ke mata.
Di foto yang baru, dua orang yang sama. Tertawa. Kepala miring ke arah satu sama lain. Di bawah pohon kamboja.
Senyumnya sampai ke mata.
Di ruang baca, di bawah jendela yang menghadap pohon mangga, bangku panjang dari kayu jati. Bantal duduk dari kain batik biru. Di dinding di sebelahnya, rak kecil. Kotak berpita krem. Foto akad dalam bingkai kecil, dengan ujung surat kecil dari Leknor yang mengintip dari baliknya. Kaus kaki rajutan krem yang satunya lebih panjang. Foto bayi prematur dengan selimut awan. Gambar krayon dinosaurus hijau dengan kepala terlalu besar dan tangan terlalu kecil. Buat Jihan. Dari Kiki. Namanya Rexi Dua. Dia baik.
Di langit-langit, mainan gantung. Awan-awan flanel putih. Bulan sabit kuning. Tiga bintang. Berputar pelan karena angin dari jendela yang ditinggalkan terbuka sedikit.
Di dapur, pintu kulkas.
Delapan belas aturan. Dua tulisan tangan. Tegak dan kecil-kecil. Miring ke kanan, dengan huruf g seperti kail pancing. Bergantian. Aturan nomor enam dan tujuh dicoret. Gambar krayon dinosaurus. Kertas USG hitam putih dengan magnet bola voli di pojok kanan atas, lurus dan tegak di tempatnya.
Dan di paling bawah, ditulis dua hari lalu, sebelum mereka berangkat. Tulisan tegak dan kecil-kecil.
19. Pulang.
Di bawahnya, miring ke kanan:
Selalu.
Mereka tidak hidup bahagia selamanya.
Mereka hidup bersama selamanya.
Not happily ever after. But together forever after.
TAMAT














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!