BAB 29 - Senyum yang Sampai ke Mata

0 dibaca

A

Dua bulan setelah plang kayu dengan huruf H yang kegedean dipasang di atas pintu kaca, di pintu kulkas rumah Kenanga dua belas, muncul tulisan baru.

Jam lima lewat lima puluh pagi. Miring ke kanan. Huruf g-nya seperti kail pancing.

17. Hari ini aku nggak bikinin kamu kopi.

Jenar membacanya dengan rambut terbungkus handuk dan jantung yang langsung jatuh ke perut.

Lalu ia membaca baris di bawahnya. Lebih kecil. Ditulis setelah berpikir lama.

Soalnya pengantin nggak boleh ketemu sebelum akad. Kata Tante Imas. Kopinya aku titip ke Hana.

Jenar tertawa. Sendirian di dapur jam enam pagi. Tawa jelek. Seperti angsa keselek.

Di meja makan bundar, di depan kursinya, secangkir kopi. Masih mengepul. Dua lembar roti bakar selai kacang dipotong diagonal. Dan di sebelahnya, termos hitam kecil dengan selotip kertas di tutupnya.

Buat pas didandanin. Jangan minum teh manis dari Tante Imas. Tehnya kemanisan, nanti deg-degan.

Kursi tamu di seberangnya kosong.

Untuk pertama kalinya dalam tiga bulan, kursi itu kosong jam enam pagi. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Jenar tidak takut melihat kursi yang kosong.


Hana memakaikan kebayanya jam delapan pagi, di kamar Jenar yang dulu, di depan cermin di atas meja belajar dengan coretan tipe-x di pojoknya.

Kebaya putih gading. Brokat halus dengan payet kecil-kecil di bagian dada. Jarik batik sidomukti yang dililit sampai mata kaki. Bukan terlalu ketat. Hana memastikannya. Biar lo bisa jalan. Biar lo nggak jatuh pas nangkep buket kayak dulu.

“Gue nggak bakal nangkep buket,” kata Jenar. “Gue yang lempar.”

“Kalau gitu biar lo nggak jatuh pas ngelempar.”

Hana pulang dari Belanda sembilan hari lalu. S2-nya selesai. Ia turun dari pesawat dengan dua koper, satu toga di dalam tabung plastik, dan wajah yang langsung berubah waktu melihat Jenar di pintu kedatangan terminal tiga. Bukan karena kalung perak di leher Jenar. Karena cincin perak di jari manisnya.

Ia menjatuhkan pegangan kopernya lagi. Koper itu menabrak troli orang lagi. Kali ini seorang bapak-bapak yang tidak memarahinya, hanya tertawa.

Sekarang Hana berdiri di belakang Jenar di depan cermin. Menyisir rambutnya. Menyanggulnya dengan tangan yang cekatan, tangan yang dulu menyanggul rambut Jenar untuk wisuda SMP, untuk wisuda SMA, untuk wisuda sarjana.

Tante Imas masuk tanpa mengetuk dengan nampan berisi teh manis. Mbak Rini dari biro menyusul dengan kotak rias. Bu Ratmi mengintip dari ambang pintu, dengan daster batik yang disetrika dan kerudung hijau yang baru, dan air mata yang sudah mulai turun padahal belum terjadi apa-apa.

“Bu Ratmi, jangan nangis dulu,” kata Hana. “Belum mulai.”

“Ibu nggak nangis,” kata Bu Ratmi, mengusap mata dengan ujung daster. “Ibu kelilipan.”

Jenar tertawa. Mbak Rini memarahinya karena bedaknya belum kering.

Di meja belajar, di depan cermin, di antara sisir dan jepit rambut dan kotak rias, termos hitam kecil dengan selotip kertas. Jenar meminum kopinya dari tutup termos, pelan-pelan, di sela-sela Mbak Rini menyapukan perona pipi.

Manis tanpa gula.

“Kalungnya,” kata Hana.

Jenar memandangi pantulannya di cermin. Kebaya putih gading. Leher yang terbuka. Dan di atas kulitnya, di atas brokat halus, rantai perak tipis. Liontin hati kecil. Tidak lebih besar dari kuku kelingking.

Di luar. Di atas kain. Di tempat yang bisa dilihat siapa pun.

“Nggak dilepas?” tanya Tante Imas. Pelan. Ia memegang kotak perhiasan beludru merah tua. Di dalamnya, kalung emas berukir. Kalung keluarga Pratama dari Garut. Yang dulu dipakai Astri di hari akadnya.

Jenar memandangi kalung emas itu. Lalu kalung perak di lehernya.

“Nggak, Tante,” katanya pelan. “Maaf.”

Tante Imas memandanginya lama. Lalu tersenyum. Menutup kotak beludru itu.

“Astri juga nggak mau pakai kalung ini waktu itu,” katanya. “Dia bilang terlalu berat. Dia maunya pakai kalung manik-manik dari temen voli-nya.” Ia menggeleng pelan. “Terus nenek kalian marah tiga hari.”

Hana tertawa di belakang Jenar. Mbak Rini tertawa. Bu Ratmi tertawa sambil menangis di ambang pintu.

“Tapi, Nak,” kata Tante Imas. Ia membuka kotak itu lagi. Mengeluarkan sesuatu yang lain. Bukan kalung emas. Sebuah bros kecil. Perak juga. Berbentuk bunga kamboja. “Ini punya Astri. Dia pakai di hari tujuh bulanan. Dia bilang, kalau anaknya cewek, bros ini buat anaknya pas nikah nanti.”

Jenar memandangi bros itu.

“Jihan nggak sempet,” kata Tante Imas. Suaranya pecah. “Jadi Tante pikir, mungkin kamu mau pakai. Buat dia.”

Jenar tidak bisa bicara. Mbak Rini buru-buru menyodorkan tisu dan mengancam akan membunuhnya kalau maskaranya luntur.

Tante Imas menyematkan bros itu di kebaya putih gading. Di dada kiri. Di atas jantung.

Di cermin, Jenar memandangi pantulannya.

Kalung perak dari Pangandaran. Cincin perak dengan hati di dalamnya. Bros bunga kamboja dari Astri, untuk Jihan.

Ia menyentuh ketiganya. Satu per satu.


Galih berlatih di ruang kerja Leknor sejak jam lima pagi.

Setelah menyeduh kopi. Setelah menulis aturan nomor tujuh belas di pintu kulkas. Setelah meletakkan termos hitam di meja makan dan menitipkannya pada Hana yang datang jam setengah enam dengan wajah bengkak karena menangis semalaman membaca surat-surat lama.

Ia berdiri di depan meja gambar Leknor dengan beskap abu-abu yang belum dikancing dan blangkon di tangan. Menghadap rak buku. Menghadap foto akad dalam bingkai kecil.

“Saya terima nikah dan kawinnya Jenar Masayu binti almarhum Harsono dengan mas kawin tersebut, tunai.”

Ia berhenti. Mengulang.

“Saya terima nikah dan kawinnya Jenar Masayu binti almarhum Harsono dengan mas kawin tersebut, tunai.”

Lagi.

“Saya terima nikah dan kawinnya...”

Fadlan bersandar di ambang pintu ruang kerja dengan beskap cokelat dan kopi di tangan. Ia saksi. Ia sudah berdiri di sana dua puluh menit, menonton.

“Gal.”

“Hm.”

“Itu yang keenam puluh tiga.”

“Kak Leknor latihan seratus kali.”

“Terus dia tetep lupa.”

Galih berhenti. Berbalik. Memandangi Fadlan.

“Itu yang gue takutin,” katanya.

Fadlan meletakkan cangkir kopinya di atas tumpukan buku arsitektur. Berjalan masuk. Berdiri di sebelah Galih di depan rak buku. Memandangi foto akad dalam bingkai kecil. Leknor dengan beskap putih, wajah yang berusaha tidak tersenyum dan gagal. Astri dengan kebaya dan siger, tertawa, hidungnya yang sedikit bengkok.

“Waktu Kak Leknor lupa,” kata Fadlan pelan, “siapa yang bisikin?”

Galih diam.

“Lo,” kata Fadlan. “Lo duduk di kursi wali. Lo pegang tangan dia. Lo bisikin Ayuningtyas. Terus dia inget.”

“Iya.”

“Terus hari ini, kalau lo lupa, gue bisikin.”

Galih menoleh.

“Gue saksi, Gal. Gue duduk di sebelah lo.” Fadlan menepuk bahunya. “Nama bapaknya Harsono. Gue udah hafal dari semalem. Gue tulis di telapak tangan gue.” Ia membuka telapak tangan kirinya. Tulisan dengan pulpen biru, sedikit luntur karena keringat. HARSONO.

Galih memandangi telapak tangan itu.

Lalu tertawa. Keras. Sampai foto akad di rak bergoyang.

“Lo nulis di tangan kayak mau ujian,” katanya.

“Ini ujian, Gal. Ujian paling penting di hidup lo.” Fadlan menutup telapak tangannya. “Dan gue nggak mau lo gagal.”


Akad nikah digelar di halaman Rumah Jihan jam sepuluh pagi, di bawah pohon kamboja.

Tenda putih kecil. Tidak besar. Hanya cukup untuk meja akad dan dua puluh kursi lipat dari masjid di ujung kompleks. Janur kuning dililit di tiang-tiang tenda oleh bapak-bapak RT tadi subuh. Karpet merah dari Bu Wati, sisa acara tujuh belasan. Melati di vas-vas kecil di atas meja, dirangkai dua belas ibu-ibu arisan semalaman di teras rumah Bu Endang sambil bergosip.

Di sebelah meja akad, di atas penyangga kayu yang Pak Sarip buat kemarin sore, foto pernikahan dalam bingkai kayu jati.

Diturunkan dari dinding ruang tengah pagi tadi. Dibersihkan debunya oleh Galih dengan kain lembut. Diletakkan menghadap meja akad.

Leknor dan Astri. Tersenyum. Keluarga besar Garut di belakang mereka.

Dan dua orang di tengah dengan bahu bersentuhan. Senyum yang tidak sampai ke mata.

Galih duduk di kursi di depan meja akad. Beskap abu-abu. Blangkon yang sedikit miring. Fadlan di sebelah kirinya, dengan telapak tangan kiri yang ditutup rapat di atas lutut. Pak Hendro di sebelah kanannya, sebagai saksi dari pihak Jenar. Kemeja batik sutra. Cincin batu akik hijau. Ia meminta menjadi saksi sendiri, dua minggu lalu, di bar kayu jati tua, sambil minum Senior. Kakakmu nggak bisa dateng. Biar saya yang dateng buat dia.

Di seberang meja, penghulu dari KUA. Laki-laki tua berkopiah hitam dengan kacamata tebal. Ia bertindak sebagai wali hakim.

Karena ayah Jenar sudah meninggal sebelum ia lahir. Karena tidak ada kakek. Karena satu-satunya saudara laki-laki kandung yang bisa menjadi walinya ada di foto dalam bingkai kayu jati di sebelah meja akad.

Jenar duduk di kursi di sebelah Galih. Kebaya putih gading. Sanggul yang ditata Hana. Kalung perak. Bros bunga kamboja. Kain selendang putih tipis di atas kepala mereka berdua, dibentangkan oleh Hana dan Tante Imas.

Di bawah selendang itu, di antara mereka, Galih meraih tangan Jenar. Di atas pangkuan. Di bawah meja akad, tempat tidak ada yang bisa melihat.

Tangannya dingin. Gemetar.

Jenar menggenggamnya.

Penghulu itu memandangi mereka dari balik kacamata tebal. Lalu mengulurkan tangan kanannya ke Galih.

Galih melepaskan tangan Jenar. Menjabat tangan penghulu.

“Saudara Galih Pratama bin almarhum Prasetyo Pratama,” kata penghulu itu. Pelan. Jelas. “Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan Jenar Masayu binti almarhum Harsono, dengan mas kawin seperangkat alat salat dan sebuah cincin perak, dibayar tunai.”

Hening.

Di bawah pohon kamboja, dua puluh orang menahan napas. Bunga putih jatuh satu-satu ke atas tenda.

Jenar memandangi Galih dari samping. Rahangnya. Telinganya yang merah. Blangkon yang miring. Tangan kanannya di tangan penghulu, jari-jarinya putih karena menggenggam terlalu keras.

Ia melihat Galih membuka mulut.

Lalu berhenti.

Satu detik. Dua detik.

Jenar melihat matanya. Bergerak cepat. Ke kiri. Ke foto dalam bingkai kayu jati di sebelah meja akad. Ke Leknor dengan beskap putih, wajah yang berusaha tidak tersenyum dan gagal.

Di sebelah kiri Galih, Fadlan membuka telapak tangannya di atas lutut. Pelan. Supaya Galih bisa melihat.

HARSONO.

Galih tidak melihatnya.

Galih masih memandangi foto itu.

Lalu, pelan, sudut bibirnya naik. Senyum miring di satu sisi. Seperti orang yang baru saja mendengar lelucon yang hanya dimengerti oleh dirinya sendiri.

“Saya terima nikah dan kawinnya Jenar Masayu binti almarhum Harsono,” katanya, “dengan mas kawin tersebut, tunai.”

Satu napas. Tanpa jeda. Suaranya jelas dan tenang dan tidak bergetar sama sekali.

Penghulu itu menoleh ke kiri. Ke kanan.

“Sah?”

“SAH!”

Suara Fadlan paling keras. Lalu Pak Hendro. Lalu dua puluh orang di bawah tenda. Lalu, dari balik pagar rumah di belakang, dari jendela dapur yang terbuka, suara Bu Ratmi yang paling keras dari semuanya, yang ternyata tidak masuk ke tenda karena terlalu sibuk menangis di dapurnya sendiri.

“SAAAAH!”

Semua orang tertawa.

Jenar tertawa. Dan menangis. Dan tertawa lagi. Keras. Jelek. Seperti angsa keselek. Di bawah selendang putih. Di sebelah laki-laki yang baru saja menyebut nama ayahnya yang tidak pernah ia kenal, tanpa ragu, tanpa jeda, tanpa bantuan.

Mbak Rini di barisan kedua menutup wajahnya dengan dua tangan. Maskaranya sudah tidak bisa diselamatkan.

Galih menoleh ke Jenar. Wajahnya basah. Ia tidak mengusapnya.

“Aku nggak lupa,” bisiknya.

“Aku tahu.”

“Aku kira aku bakal lupa. Aku lihat foto Kak Leknor. Aku inget dia pucet banget waktu itu. Aku mau ketawa. Terus aku inget nama bapak kamu.”

“Kamu latihan berapa kali?”

“Enam puluh tiga.”

“Kak Leknor seratus.”

“Dan dia tetep lupa.”

Jenar tertawa lagi. Di sebelahnya, Fadlan menutup telapak tangan kirinya. Pelan. Menggosokkannya ke celana beskap cokelat. Tulisan HARSONO luntur jadi noda biru.

“Nggak kepake,” gumamnya. Tersenyum. Matanya merah.


Kiki membawa cincin kawin di atas punggung Rexi.

Dinosaurus plastik hijau. Tyrannosaurus. Ekornya lecet. Salah satu kaki depannya yang kecil ditambal selotip bening yang sudah menguning. Dan di punggungnya, diikat dengan pita putih yang Kiki pilih sendiri, kotak kecil dari kayu jati.

Kotak yang sama. Yang sudutnya miring dan tutupnya ada celah setipis kertas. Dengan kaca kecil di tutupnya dan tisu dengan noda saus di baliknya.

Kiki berjalan dari ujung tenda ke meja akad dengan langkah yang sangat serius, seperti orang yang membawa bom. Setiap tiga langkah ia berhenti untuk memeriksa apakah Rexi masih seimbang. Seluruh tamu menahan napas bersamanya.

Ia sampai di depan meja akad. Mengangkat Rexi tinggi-tinggi dengan dua tangan.

“Rexi bawa cincin,” katanya. “Dia galak. Tapi baik.”

Galih mengambil kotak kayu dari punggung Rexi. Membuka tutupnya.

Di dalamnya, di atas kain beludru hijau pupus, dua cincin.

Satu yang Jenar sudah kenal. Perak. Polos. Dengan hati kecil di bagian dalam.

Dan satu lagi. Lebih besar. Perak juga. Polos juga.

Jenar mengambilnya. Mengangkatnya ke cahaya matahari pagi yang jatuh lewat daun-daun kamboja. Memutarnya pelan di antara ibu jari dan telunjuk. Sampai pada sudut yang tepat.

Di bagian dalam, di lengkungan yang akan menyentuh kulit, sebuah ukiran kecil.

Bukan hati.

Papan selancar. Kecil sekali. Dan di dalam papan selancar itu, satu huruf. Diukir dengan tangan. Sedikit miring.

G.

Terlalu besar untuk papan selancarnya.

Jenar memandanginya. Lalu tertawa. Keras. Di depan penghulu dan dua puluh tamu dan dinosaurus plastik hijau.

“Bu Enok,” katanya.

“Bu Enok,” kata Galih. Tersenyum. “Aku telepon dia. Aku bilang aku butuh satu lagi. Buat aku. Aku bilang terserah dia mau ukir apa di dalemnya.” Ia memandangi cincin di tangan Jenar. “Dia nanya ke aku, gantungan kunci dari si Teteh bentuknya apa. Aku bilang papan selancar. Terus dia nanya hurufnya gimana. Aku bilang H-nya kegedean.”

“Terus?”

“Terus dia ketawa sampai aku harus nunggu lima menit di telepon.” Galih mengulurkan tangan kirinya. “Terus dia bilang, kalau gitu G-nya juga Ibu gedein, A. Biar kompak.”

Jenar memasangkan cincin itu di jari manis Galih. Pelan. Hati-hati.

Pas.

Galih memasangkan cincin yang satu lagi di jari manis Jenar. Di sebelah cincin lamaran. Dua cincin perak berdampingan. Dua hati kecil yang tidak bisa dilihat siapa pun.

Kiki memandangi mereka dengan wajah sangat puas. Lalu menoleh ke ayahnya di sebelah Galih.

“Papa,” katanya keras-keras, supaya seluruh tenda bisa mendengar. “Rexi berhasil. Sekarang giliran Papa, kan?”

Fadlan tersedak udara.

Di belakang meja akad, Hana yang sedang memegangi ujung selendang putih membeku.

Seluruh tenda menoleh ke Fadlan.

“Ki,” desis Fadlan. “Nanti. Nanti, Ki.”

“Tapi Papa bilang tadi pagi...”

“KIKI.”

Hana memandangi Fadlan. Fadlan memandangi rumput di bawah kursinya dengan intensitas orang yang mencari jalan keluar di lantai.

Jenar dan Galih saling pandang di bawah selendang. Lalu tertawa bersamaan. Kompak.


Resepsinya tidak besar.

Tidak ada gedung. Tidak ada pelaminan dengan dekorasi bunga setinggi langit-langit. Tidak ada tiga ratus tamu yang antre bersalaman.

Hanya halaman Rumah Jihan. Tenda putih kecil. Karpet merah bekas tujuh belasan. Meja prasmanan dari rantang-rantang dua belas ibu-ibu arisan. Sayur asem Bu Ratmi. Rendang dari rumah makan langganan Fadlan di Cikini. Kue lapis Bu Endang. Pastel Bu Wati. Soto Betawi dari warung Bang Jaelani dekat SMP Jenar dan Hana, yang Hanif pesan dan bawa sendiri dari Surabaya, dengan Yuna di sebelahnya memegangi kantong plastik berisi kerupuk.

Dan kedai.

Bar kayu jati tua di jendela ruang depan, menghadap ke halaman. Menghadap ke tamu-tamu.

Dan di baliknya, dua laki-laki.

Galih, dengan beskap abu-abu yang sudah dilepas dan diganti kemeja putih yang lengannya digulung sampai siku. Pengantin laki-laki yang menolak duduk di kursi pelaminan lebih dari sepuluh menit karena ia ingin menyeduh kopi untuk tamunya sendiri.

Dan di sebelahnya, Kang Ujang.

Celemek kotor yang ia bawa dari Pangandaran. Handuk kecil di bahu. Tato jangkar yang pudar. Ia datang dengan bus malam dari Pangandaran kemarin, membawa dua karung biji kopi dan satu kardus berisi kacang rebus yang masih hangat karena dibungkus berlapis-lapis kain.

Kacang rebus itu titipan. Dari seorang ibu di pantai dengan tampah. Yang, waktu mendengar dari Kang Ujang bahwa Aa yang dulu duduk di pasir basah akan menikah dengan Neng yang keseleo, langsung merebus tiga kilo kacang dan menyuruh Kang Ujang membawanya ke Jakarta.

Di dalam kardus itu, di atas bungkusan-bungkusan kacang, secarik kertas. Tulisan tangan yang besar-besar dan tidak rata.

Patah hati juga harus makan. Nikah juga. Selamat ya Neng, A. Dari ibu kacang.

Jenar membacanya tadi pagi dan harus dipeluk Hana selama lima menit sebelum Mbak Rini bisa melanjutkan riasannya.

Sekarang, dari kursi pelaminan sederhana di bawah pohon kamboja, ia memandangi Galih dan Kang Ujang di balik bar. Berdebat soal suhu air. Seperti di gang belakang pasar ikan, hampir tiga tahun lalu.

“Airnya diemin setengah menit, Kang.”

“Akang tahu, A. Aa yang ngajarin.”

“Terus kenapa langsung dituang?”

“Soalnya tamunya banyak, A!”

Mereka saling memukul bahu. Jenar tidak yakin itu bertengkar atau berteman.

Di sebelah bar, di atas landaian dengan pegangan besi, kursi roda. Ibu Pak Hendro, dengan kebaya encim dan rambut putih disanggul, duduk di sana dengan secangkir Senior di tangan. Bar itu setinggi tangannya. Ia menyesap kopinya pelan-pelan dan memandangi kedua laki-laki yang berdebat di balik bar dengan mata yang sangat tajam dan sangat geli.

Pak Hendro berdiri di belakang kursi roda ibunya. Istrinya di sebelahnya. Kali ini ia yang meletakkan tangan di lengan istrinya.

Di dekat pagar, Dita dan dua barista dari kedai Kemang. Mereka datang dengan seragam cokelat Pratama Coffee dan kotak kue. Mereka menawarkan diri membantu di bar. Galih menolak. Dita memaksa. Galih bilang ini hari libur mereka. Dita bilang ini hari libur Pak Galih juga, dan Pak Galih tetap di balik bar. Mereka berdebat lima menit sampai Jenar memanggil dari kursi pelaminan dan bilang Dita boleh bantu kalau Dita mau, dan Dita berlari ke balik bar dengan wajah seperti anak kecil yang dapat hadiah.

Ibu Ratna datang jam satu siang. Dengan kebaya biru tua dan tas kulit hitam, tapi tanpa map merah. Ia bersalaman dengan Jenar dan Galih di kursi pelaminan. Memandangi mereka berdua lewat kacamatanya. Lama.

“Menang,” bisiknya. Lalu tersenyum. Lalu pergi ke meja prasmanan dan tidak kembali selama satu jam karena Bu Ratmi mengajaknya bicara soal sayur asem.

Mas Bayu dan Mbak Rini dan seluruh karyawan biro. Mas Bayu berdiri lama di depan landaian, memeriksa sudut kemiringannya dengan mata menyipit, lalu mengangguk puas.

Tante Imas dan keluarga besar Garut. Tiga mobil. Tante-tante berkebaya membawa rantang. Om-om berbatik membawa rokok.

Dan Bu Endang. Di mana-mana. Dengan ponsel di tangan. Mengunggah foto ke grup RT 05 Kenanga Asri setiap tiga menit.

Akad selesai. SAH. Mas Galih nggak lupa nama. 👏👏👏

Cincin dibawa dinosaurus. 🦖💍

Mas Galih bikin kopi sendiri di nikahannya. Ya Allah suami idaman.

Kang Ujang dari Pangandaran. Katanya dia yang ngajarin Mas Galih. Mas Galih bilang kebalikannya. Mereka berantem di bar.

Ada soto dari Surabaya. Dibawa dokter anak. Ganteng. Udah ada pasangan.

Seratus dua puluh tiga anggota grup. Dua ratus tujuh puluh balasan.

AAMIIN.


Fotografernya laki-laki gempal dengan rompi berkantong banyak dan suara seperti MC dangdut.

Galih yang memintanya datang. Ia mencari nama fotografer itu di bagian belakang album pernikahan Leknor dan Astri, di rak ruang kerja, dan meneleponnya. Laki-laki itu mengingat pernikahan itu. Yang mempelai laki-lakinya lupa nama istrinya, Mas? Iya, saya inget. Adik-adiknya kayak musuhan.

Sekarang ia berdiri di tengah halaman Rumah Jihan dengan kamera terangkat, dan memandangi pengantin di depannya.

“Mas!” teriaknya. “Mas yang dulu jadi wali, kan? Yang pakai beskap abu-abu? Yang berdiri di sebelah Mbak ini sambil kayak mau disuntik?”

Galih tertawa. “Iya, Pak.”

Fotografer itu menurunkan kameranya. Memandangi mereka berdua. Lalu tersenyum lebar.

“Ya Allah,” katanya. “Jadi juga.”

Seluruh tamu tertawa.

“Foto keluarga!” teriak fotografer itu. “Semua merapat! Pengantin di tengah!”

Mereka merapat. Di depan tenda putih. Di bawah pohon kamboja. Di sebelah foto pernikahan Leknor dan Astri di atas penyangga kayu.

Tante Imas dan keluarga Garut di belakang. Fadlan dan Kiki dengan Rexi. Hana dengan maskara yang sudah hilang total. Hanif dan Yuna. Pak Hendro dan istrinya, dan ibunya di kursi roda di barisan depan. Kang Ujang dengan handuk di bahu. Dita dan dua barista. Mas Bayu dan Mbak Rini. Ibu Ratna di ujung barisan, sedikit canggung, seperti tidak yakin ia boleh ikut. Bu Ratmi, Bu Wati, Pak RT, dan Bu Endang yang masih memegang ponsel.

Dan di tengah, dua orang.

Galih dan Jenar. Berdampingan. Tapi tidak bersentuhan. Ada jarak sejengkal di antara bahu mereka. Karena Jenar sedang merapikan bros bunga kamboja di dadanya, dan Galih sedang membetulkan lengan kemejanya.

Fotografer itu mengangkat kamera. Lalu menurunkannya lagi.

“Mas,” katanya. “Mbak.”

Mereka mengangkat kepala.

Fotografer itu tersenyum. Lebar sekali.

“Jangan kayak musuhan.”

Hening sedetik.

Lalu Jenar tertawa. Tawa yang tidak bisa ditahan. Tawa jelek. Seperti angsa keselek.

Galih menoleh padanya. Melihat ia tertawa. Dan ikut tertawa. Keras. Dari perut.

Bahu mereka bersentuhan. Lalu lebih dari bersentuhan. Galih melingkarkan lengannya di pinggang Jenar. Jenar menyandarkan kepalanya di bahu Galih. Mereka tertawa, kepala sedikit miring ke arah satu sama lain, di tengah dua puluh lima orang yang juga tertawa, di bawah pohon kamboja yang menjatuhkan bunga putih ke atas kepala mereka.

Fotografer itu memotretnya tepat di saat itu.

Klik.


Foto itu dicetak seminggu kemudian. Besar. Seukuran foto pernikahan Leknor dan Astri. Dibingkai kayu jati yang sama, dari pengrajin yang sama.

Digantung di dinding ruang tengah. Di atas sofa. Di sebelah foto yang lama.

Dua foto. Berdampingan.

Di foto yang lama, dua orang di tengah dengan bahu bersentuhan dan senyum yang tidak sampai ke mata.

Di foto yang baru, dua orang yang sama. Tertawa. Kepala miring ke arah satu sama lain. Bahu bukan hanya bersentuhan.

Senyumnya sampai ke mata.

Tapi itu nanti. Seminggu lagi.

Hari ini, di halaman Rumah Jihan, matahari mulai turun.


Band akustik itu keponakan Bu Endang. Tiga mahasiswa dengan gitar, kajon, dan biola, yang dibayar dengan rendang dan kopi dan janji akan diunggah ke grup RT.

Mereka memainkan lagu-lagu cinta yang terlalu manis sepanjang sore. Lagu-lagu lama. Pance Pondaag. Broery. Lagu yang dulu diputar bapak berkemeja batik di restoran hotel Pesona Laut, di malam pertama, dengan lampu gantung kuning dan ikan bakar dan cumi saus padang.

Jenar memandangi mereka dari kursi pelaminan. Lalu memandangi Galih di sebelahnya.

Galih juga sedang memandangi band itu. Lalu memandanginya.

“Pance Pondaag,” kata Galih.

“Terus Broery.”

“Terus Pance Pondaag lagi.”

“Kamu inget?”

“Aku inget semuanya,” kata Galih. Kalimat Jenar dari kafe di mall. Aku inget semuanya.

Jam lima sore, lagu yang dimainkan berhenti. Jeda. Gitaris itu, laki-laki kurus dengan rambut gondrong, memandangi daftar lagu di ponselnya. Lalu mendekat ke mikrofon.

“Ini request,” katanya. “Dari pengantin laki-laki.”

Jenar menoleh ke Galih.

Galih memandangi langit sore dengan intensitas orang yang mencari pesawat. Telinganya merah. Sampai ke tengkuk.

Gitaris itu memetik senar.

Dua ketukan.

Jenar mengenalinya dalam dua ketukan.

Lagu yang diputar enam kali di kedai Karang, di gang belakang pasar ikan. Yang dinyanyikan pelayan berkerudung hitam dengan seluruh jiwa, mata terpejam di bagian reff, tangan yang memegang lap terangkat ke udara. Yang Galih senandungkan sumbang di atas motor pinjaman di jalan lurus di antara sawah. Yang diputar di speaker kecil di sudut langit-langit kafe di mall di Senayan, di sore yang berakhir dengan tamparan dan kursi yang terjatuh.

Lagu tentang orang yang tahu ia akan disakiti. Dan tetap memilih orang itu.

Jenar memandangi Galih.

“Kamu request lagu ini?”

“Iya.”

“Kamu bilang lagunya bego.”

“Iya.”

“Kamu bilang kalau udah tahu bakal disakitin, buat apa mau.”

“Iya.”

Galih berdiri. Dari kursi pelaminan. Mengulurkan tangan.

Jenar memandangi tangan itu. Telapak menghadap ke atas. Cincin perak di jari manisnya. Menunggu. Dengan kesabaran yang membuat Jenar kesal.

Ia meraihnya.

Mereka berjalan ke tengah halaman. Ke rumput di depan tenda. Di bawah pohon kamboja. Di tempat yang tadi dipakai untuk foto keluarga. Di depan dua puluh lima orang yang tiba-tiba sangat diam.

Galih tidak tahu cara berdansa. Jenar juga tidak. Mereka hanya berdiri berhadapan. Tangan Galih di pinggang Jenar. Tangan Jenar di bahu Galih. Bergoyang pelan. Tidak mengikuti irama. Tidak mengikuti apa pun.

Biola dan gitar dan kajon. Suara gitaris gondrong yang serak dan sedikit sumbang di nada tinggi.

“Jen,” kata Galih pelan.

“Hm.”

“Kamu bener.”

Jenar mengangkat kepala.

“Waktu di kedai Kang Ujang,” kata Galih. “Kamu bilang perasaan nggak bisa milih. Aku bilang bisa. Aku bilang kalau tahu bakal disakitin, pilih yang nggak nyakitin. Aku bilang lagunya bego. Orang yang nyerahin diri buat disakitin sama orang tertentu itu bego.”

Ia berhenti. Menarik napas.

“Aku salah,” katanya.

Jenar memandanginya.

“Aku udah tahu dari hari pertama. Dari kamu ketawa kayak angsa keselek di pasir. Aku tahu kamu bisa nyakitin aku. Aku tahu kamu baru patah hati. Aku tahu kamu mungkin cuma lagi kabur.” Galih memandangi wajahnya. “Terus kamu beneran nyakitin aku. Satu kalimat. Di balik pintu. Dua tahun.”

“Galih...”

“Dan aku tetep milih kamu.” Ia tersenyum. Miring di satu sisi. Matanya basah. “Aku kabur. Aku blokir. Aku pura-pura nggak kenal. Aku bilang kesalahan. Aku ke Pangandaran. Tapi aku nggak pernah bisa milih orang lain. Aku nggak pernah bisa buang tisu itu. Aku nggak pernah bisa berhenti bikinin kamu kopi.”

Lagu itu sampai ke reff. Biola naik. Gitaris gondrong itu memejamkan mata, seperti pelayan berkerudung hitam di kedai Kang Ujang.

“Perasaan nggak bisa milih,” kata Galih. “Kamu bener. Dari dulu.”

Jenar tidak bisa bicara.

“Kalau ada yang bakal nyakitin aku,” kata Galih, sangat pelan, di dahi Jenar, “seumur hidup aku, aku maunya itu kamu. Soalnya kalau kamu yang nyakitin, berarti kamu masih di sini. Masih cukup deket buat nyakitin.”

Jenar memejamkan mata.

Air matanya turun. Ia tidak mengusapnya.

“Itu masih bego,” bisiknya.

“Iya.”

“Lagunya masih bego.”

“Iya, Jen.”

“Kamu juga bego.”

“Kak Astri bilang.”

Jenar tertawa. Di tengah tangisnya. Di tengah halaman. Di bawah pohon kamboja. Di depan dua puluh lima orang yang semuanya, tanpa kecuali, menangis sekarang. Bahkan Pak Hendro. Bahkan Ibu Ratna, yang mengusap sudut matanya dengan ujung jari dan pura-pura kelilipan.

Bahkan Kang Ujang di balik bar, yang menyampirkan handuk kecil di wajahnya dan berbalik memunggungi semua orang.

Lagu itu berakhir. Biola turun. Gitaris gondrong itu membuka mata.

Tidak ada yang bertepuk tangan. Tidak ada yang bergerak.

Lalu, dari balik pagar rumah di belakang, dari jendela dapur yang terbuka, suara tepuk tangan. Pelan. Sendirian.

Bu Ratmi. Yang ternyata pulang ke rumahnya untuk mengambil sayur asem tambahan, dan tidak kembali ke tenda karena terlalu sibuk menonton dari jendela dapurnya sendiri.

Seluruh halaman tertawa. Lalu bertepuk tangan.


Hana menemukan Kiki di bawah meja prasmanan jam enam sore, dengan Rexi di tangan dan kotak kecil di punggung Rexi.

Kotak yang berbeda. Bukan kayu jati. Kotak beludru biru tua. Diikat dengan pita putih yang sudah kusut karena Kiki mencoba mengikatnya sendiri tiga kali.

Kiki merangkak keluar dari bawah meja. Berdiri. Menghadap Hana. Mengangkat Rexi tinggi-tinggi dengan dua tangan.

“Tante Hana,” katanya. Keras. Sangat keras. Supaya seluruh halaman bisa mendengar. “Rexi bawa cincin lagi. Dari Papa. Buat Tante.”

Seluruh halaman menoleh.

Hana memandangi dinosaurus plastik hijau di depan wajahnya. Kotak beludru biru tua di punggungnya.

Lalu ia memandang ke belakang Kiki.

Fadlan berdiri tiga langkah di belakang anaknya. Beskap cokelat yang sudah kusut. Rambut berantakan. Wajah pucat seperti kertas. Ia memandangi Kiki dengan ekspresi orang yang rencananya baru saja dirusak total oleh anak umur lima tahun.

“Ki,” katanya lemah. “Papa bilang nanti. Pas udah malem. Di teras. Pas nggak ada orang.”

“Tapi Papa bilang nanti dari tadi pagi,” kata Kiki. Tidak menoleh. Masih mengangkat Rexi. “Om Kopi bilang orang yang bilang nanti terus nggak jadi-jadi itu bego.”

Galih, di balik bar, menjatuhkan portafilter.

Jenar, di sebelah pohon kamboja, menutup mulutnya dengan dua tangan.

Hana memandangi Kiki. Lalu Fadlan. Lalu Kiki lagi.

Lalu ia berlutut. Di rumput. Di depan Kiki. Setinggi mata anak itu. Kebaya hijau tosca yang ia pakai sebagai pengiring pengantin kusut di lututnya.

“Kiki,” katanya. Pelan. “Rexi mau nanya apa ke Tante?”

Kiki mengerutkan dahi. Berpikir keras. Lalu menoleh ke ayahnya di belakang.

“Papa, Rexi mau nanya apa?”

Fadlan memandangi anaknya. Lalu Hana yang berlutut di rumput. Lalu dua puluh lima orang yang semuanya menahan napas.

Ia menghela napas panjang. Seperti orang yang menyerah pada nasib.

Lalu ia berjalan tiga langkah ke depan. Berlutut di sebelah Kiki. Di depan Hana. Di rumput.

Ia mengambil kotak beludru biru tua dari punggung Rexi. Membuka pita putih yang kusut. Membuka tutupnya.

Di dalamnya, cincin. Emas putih. Tipis. Satu batu kecil yang berkilau di cahaya sore.

“Na,” kata Fadlan. Suaranya bergetar. “Aku nggak punya rencana romantis. Aku mau ngomong di teras nanti malem. Aku udah latihan. Aku udah nulis di kertas. Kertasnya ketinggalan di mobil.”

Hana tertawa. Air matanya turun.

“Aku duda,” lanjut Fadlan. “Aku punya anak umur lima tahun yang ngomong sama dinosaurus dan ngerusak lamaran bapaknya sendiri. Aku kirim kopi dua ratus gram ke Belanda pakai ongkos kirim tiga ratus ribu. Aku ke Lembang sepuluh kali dan Lembang nggak seluas itu.”

Seluruh halaman tertawa.

“Tapi aku sayang kamu,” kata Fadlan. “Dan Kiki sayang kamu. Dan Rexi...” Ia memandangi dinosaurus plastik hijau di tangan anaknya. “Rexi galak. Tapi baik.”

“Rexi baik,” kata Kiki dengan sangat serius.

“Hana Pratiwi,” kata Fadlan. “Kamu mau...”

“Iya.”

Fadlan mengerjap. “Aku belum selesai.”

“Aku nggak peduli. Iya.”

“Aku belum bilang nikah.”

“Iya, Lan. Iya. Nikah. Iya.” Hana tertawa dan menangis. “Aku udah bilang aku juga di teras belakang rumah ini. Delapan bulan lalu. Galih sama Jenar nguping lewat jendela dapur.”

Fadlan menoleh ke bar. Galih mengangkat kedua tangannya. Jenar, di sebelah pohon kamboja, mengangkat kedua tangannya juga.

Fadlan memasangkan cincin itu di jari manis Hana. Tangannya gemetar. Butuh tiga kali percobaan. Satu umpatan pelan.

Kiki memandangi mereka dengan wajah sangat puas. Lalu mengangkat Rexi tinggi-tinggi ke udara.

“REXI BERHASIL DUA KALI!”

Seluruh halaman meledak.

Bu Endang menjatuhkan ponselnya. Lalu memungutnya. Lalu mengetik dengan jari yang gemetar.

NAMBAH SATU LAGI. Mas Fadlan ngelamar Mbak Hana. Dibantu dinosaurus. 🦖💍💍

Lembang ternyata nggak luas.


Malam turun di atas kompleks Kenanga Asri.

Tamu-tamu sudah pulang. Tante Imas dan keluarga Garut pulang dengan tiga mobil dan rantang-rantang kosong. Pak Hendro mendorong kursi roda ibunya turun lewat landaian, pelan, dan ibunya melambai dari kursi roda sampai ke pagar. Hanif dan Yuna pulang dengan taksi, tangan mereka bertaut di jok belakang. Kang Ujang tidur di sofa ruang kerja, di sofa kulit yang retak, karena bus malam ke Pangandaran baru ada besok pagi. Ia mendengkur keras seperti mesin roasting industri, mengalahkan Fadlan.

Fadlan dan Hana dan Kiki pulang terakhir. Kiki tertidur di bahu Hana, bukan di bahu ayahnya. Rexi di pelukannya. Fadlan membawa tas Hana dan tabung toga dan kotak beludru biru tua yang sudah kosong, dan tidak berhenti tersenyum dari pagar sampai mobil.

Ibu-ibu arisan membereskan tenda. Bapak-bapak RT menggulung karpet merah. Bu Ratmi menyapu halaman dengan sapu lidi, menyapu bunga-bunga kamboja yang jatuh sepanjang hari, dan menangis sambil menyapu, dan tidak ada yang menyuruhnya berhenti.

Lalu semuanya pulang.

Rumah Jihan sunyi.


Mereka duduk di dua kursi kayu di teras.

Jenar masih memakai kebaya putih gading, tapi sanggulnya sudah dilepas. Rambutnya tergerai di punggung. Bros bunga kamboja masih di dadanya. Kalung perak di lehernya. Dua cincin di jari manis tangan kirinya.

Galih dengan kemeja putih yang lengannya digulung sampai siku. Noda kopi di manset. Satu cincin di jari manis tangan kirinya.

Di atas pintu kaca, plang kayu kecil. RUMAH JIHAN. Dua huruf H yang kegedean. Lampu teras kuning yang tidak pernah berkedip menyinari huruf-huruf yang miring.

Di antara mereka, di atas meja kecil, dua cangkir. Bukan kopi. Teh melati. Dari toples di rak paling bawah. Dengan gula batu dari laci ketiga.

“Jen.”

“Hm.”

“Kita udah nikah.”

Jenar tertawa. “Iya.”

“Beneran.”

“Iya, Galih.”

“Aku nggak lupa nama bapak kamu.”

“Kamu udah bilang itu sembilan kali hari ini.”

“Aku bakal bilang sampai tua.”

Jenar memandanginya. Laki-laki di kursi kayu di sebelahnya, dengan noda kopi di manset kemeja putih di hari pernikahannya sendiri, karena ia menolak duduk di pelaminan lebih dari sepuluh menit.

“Kamu request lagu itu,” katanya.

“Iya.”

“Kapan?”

“Seminggu lalu. Aku telepon keponakannya Bu Endang.” Galih memandangi cangkir tehnya. “Aku bilang aku mau lagu itu. Dia bilang lagu itu udah nggak viral. Aku bilang nggak apa-apa. Aku bilang aku mau lagu itu karena aku pernah bilang lagu itu bego, dan aku mau istri aku tahu aku salah.”

Istri aku.

Jenar memandanginya. Kata itu. Di mulut Galih. Pertama kali.

Galih juga baru sadar. Telinganya memerah. Sampai ke tengkuk.

“Istri,” ulang Jenar pelan.

“Istri,” kata Galih. Seperti mencoba rasa kata itu di lidah. Seperti Jenar di lobi hotel. Hijau pupus di kamar bayi. Rumah Jihan di bawah plang kosong.

Jenar berdiri dari kursinya.

Ia tidak berjalan ke pintu. Ia berjalan ke kursi Galih. Berdiri di depannya.

Galih mendongak.

Jenar menunduk. Meletakkan kedua tangannya di pipi Galih. Menangkup wajahnya. Seperti Galih menangkup wajahnya di teras belakang, di bawah lampu neon yang berkedip, di malam ciuman yang bukan kesalahan.

“Galih,” bisiknya.

“Hm.”

“Boleh?”

Pertanyaan yang sama. Dari teras hotel. Dari tangga semen di bawah pohon mangga. Kali ini dari mulutnya.

Galih tidak menjawab dengan kata-kata. Ia memejamkan mata.

Jenar menciumnya.

Di teras Rumah Jihan. Di bawah plang kayu dengan huruf H yang kegedean. Di bawah lampu kuning yang tidak pernah berkedip. Dengan bunga kamboja yang masih jatuh satu-satu dari pohon di halaman, ke rumput yang sudah disapu Bu Ratmi.

Ciuman itu pelan. Tidak terburu-buru. Tidak takut. Tidak meraba dalam gelap.

Ciuman pengantin.

Jenar merasakan tangan Galih naik ke pinggangnya. Menariknya lebih dekat. Sampai ia hampir duduk di pangkuannya. Kebaya putih gading kusut. Bros bunga kamboja menekan dada Galih.

Ia merasakan detak jantung Galih di dadanya sendiri. Lewat kemeja putih. Lewat kebaya.

Kencang. Tidak beraturan.

Nggak pernah pelan.

Mereka menarik diri. Dahi Galih menempel di dahi Jenar.

Jenar tertawa. Pelan. Lalu menangis. Lalu tertawa lagi. Tidak bisa berhenti. Air matanya jatuh di pipi Galih.

“Kamu kenapa?” bisik Galih. Tersenyum. Ibu jarinya mengusap air mata di pipi Jenar.

“Nggak tahu,” kata Jenar. Tertawa. Menangis. “Rasanya enak banget. Sampai sakit.”

Galih memandanginya lama.

Lalu ia tersenyum. Senyum yang pelan. Yang sampai ke mata. Senyum yang Jenar lihat di foto keluarga tadi siang, di bawah pohon kamboja, dengan kepala miring ke arahnya.

“Aku tahu,” bisiknya. “Aku juga.”


Jam sebelas malam, sebelum tidur, Jenar berdiri di depan pintu kulkas.

Tujuh belas aturan. Dua dicoret. Gambar krayon dinosaurus. Kertas USG hitam putih dengan magnet bola voli.

17. Hari ini aku nggak bikinin kamu kopi. Soalnya pengantin nggak boleh ketemu sebelum akad. Kata Tante Imas. Kopinya aku titip ke Hana.

Di bawahnya, ruang putih.

Jenar mengambil spidol dari laci.

Ia menulis. Tulisan tegak dan kecil-kecil. Tangannya tidak gemetar.

18. Besok pagi bikinin lagi.

Ia memandanginya. Lalu, di bawahnya, lebih kecil:

Suamiku.

Ia menutup spidol. Meletakkannya kembali di laci.

Di belakangnya, di ambang dapur, Galih berdiri. Bersandar di kusen. Membaca dari balik bahunya.

Ia tidak berkata apa-apa. Tapi Jenar mendengarnya tertawa. Pelan. Dari perut. Seperti orang yang baru membaca kalimat yang sudah lama sekali ia tunggu.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk