Satu minggu berlalu sejak hilangnya Goro.
Pemukiman Shizuoka hidup dalam bayang-bayang ketakutan yang tidak pernah benar-benar pergi. Ketakutan itu menempel di setiap sudut kehidupan penduduk seperti lumut yang tumbuh di batu-batu lembap. Terlihat di mata-mata yang selalu waspada ketika seseorang berjalan melewati tepi hutan. Terdengar di bisikan-bisikan yang berhenti mendadak ketika anak-anak lewat. Tercium di asap-asap dupa yang terus-menerus dibakar di kuil-kuil kecil di setiap persimpangan jalan, doa-doa perlindungan yang dikirimkan ke langit dengan harapan bahwa para dewa masih mau mendengarkan.
Namun manusia adalah makhluk yang memiliki kemampuan luar biasa untuk beradaptasi dengan ketakutan. Hari demi hari berlalu tanpa insiden baru. Tidak ada lagi nelayan yang hilang. Tidak ada lagi wajah pucat yang muncul dari air. Tidak ada lagi teriakan-teriakan yang merobek malam. Dan perlahan-lahan, secepat ketakutan itu datang, ketakutan itu mulai memudar.
Bukan hilang sepenuhnya. Ketakutan seperti itu tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya tenggelam lebih dalam, bersembunyi di tempat-tempat yang tidak terjangkau oleh kesadaran sehari-hari, menunggu dengan sabar untuk muncul kembali ketika dipanggil.
Para nelayan kembali ke sungai, meskipun tidak ada satu pun yang berani pergi ke hulu. Mereka memancing di hilir, di tempat-tempat yang terbuka dan terang, selalu dalam kelompok-kelompok yang terdiri dari tiga orang atau lebih. Para pedagang kembali melewati hutan, namun hanya di siang hari dan hanya di jalan-jalan utama yang lebar dan ramai. Kehidupan berputar lagi, meskipun putarannya kini sedikit lebih lambat, sedikit lebih hati-hati, sedikit lebih takut.
Kenshiro tidak pernah kembali ke sungai.
Dia mengurung diri di rumahnya, sebuah gubuk kecil yang terletak di ujung pemukiman, paling dekat dengan tepi hutan. Ironis, mengingat dialah orang yang paling takut pada apa yang bersembunyi di dalam hutan itu. Namun Kenshiro tidak punya pilihan lain. Rumah itu adalah satu-satunya yang dia miliki, warisan dari ayahnya yang sudah meninggal bertahun-tahun lalu.
Setiap malam, Kenshiro bermimpi tentang Goro. Dia bermimpi tentang kolam gelap itu, tentang wajah pucat yang muncul dari air, tentang benang-benang putih yang melilit tubuh temannya. Dia bermimpi tentang teriakan terakhir Goro yang bergema di kegelapan hutan. Dan dia selalu terbangun dalam keadaan berkeringat dingin, napasnya memburu, tangannya mencengkeram futonnya dengan kekuatan yang membuat buku-buku jarinya memutih.
Malam-malam tanpa tidur itu menggerogoti Kenshiro dari dalam. Tubuhnya yang sudah kurus semakin kurus. Matanya yang sudah gelisah semakin gelisah, cekung dan dikelilingi lingkaran-lingkaran hitam yang semakin tebal setiap harinya. Warga-warga yang sesekali melihatnya keluar dari gubuknya untuk membeli makanan berbisik-bisik di belakangnya, mengatakan bahwa Kenshiro sudah kehilangan akal sehatnya, bahwa ketakutan sudah mencabut jiwa dari tubuhnya dan yang tersisa hanyalah cangkang kosong yang berjalan.
Kenshiro mendengar bisikan-bisikan itu. Dia tidak menyangkalnya.
Karena mungkin memang benar.
Sementara itu, di gua gelap di hulu sungai, Jorogumo tidak tidur.
Dia tidak membutuhkan tidur. Tidak lagi. Sejak malam kematian anak-anaknya, tidur adalah kemewahan yang sudah tidak mampu dia berikan kepada dirinya sendiri. Setiap kali dia memejamkan mata, dia melihat wajah-wajah mereka. Kyo yang tersenyum bangga ketika jaring barunya selesai. Shigeru yang tertawa mengejek dengan cara yang hanya bisa dilakukan oleh adik yang sangat menyayangi kakaknya. Koji yang menatap dalam diam dengan mata-mata gelap yang menyimpan kebijaksanaan melampaui usianya. Dan kemudian wajah-wajah itu berubah. Berlumuran darah. Tanpa kehidupan. Dingin.
Jorogumo lebih memilih untuk tidak tidur.
Dia menghabiskan malam-malamnya di mulut gua, dalam wujud manusianya, memandangi kejauhan di mana cahaya-cahaya samar dari pemukiman Shizuoka berkedip-kedip seperti kunang-kunang yang terjebak di balik kaca. Pikiran-pikirannya berputar-putar tanpa henti, merancang, merencanakan, membayangkan skenario-skenario yang satu per satu disempurnakan dan dibuang, direvisi dan dibangun kembali.
Satu nelayan tidak cukup.
Satu nyawa manusia untuk tiga nyawa anak-anaknya adalah perhitungan yang sangat tidak adil. Jorogumo tahu itu. Dia merasakan ketidakadilan itu di setiap serat tubuhnya, membakar di setiap nadi, menggerogoti setiap tulang.
Dia membutuhkan lebih banyak.
Jauh lebih banyak.
Namun Jorogumo tidak bodoh. Dia tahu bahwa menyerang pemukiman secara langsung bukanlah pilihan yang bijak. Manusia lemah secara individual, namun mereka berbahaya dalam jumlah besar. Mereka memiliki senjata-senjata, tombak-tombak dan pedang-pedang yang bisa memotong bahkan kaki-kaki laba-labanya yang sekeras baja. Mereka memiliki api, yang merupakan kelemahan terbesar dari jaring-jaring sutranya. Dan yang paling berbahaya, mereka memiliki pendeta-pendeta Shinto dan biksu-biksu Buddha yang menguasai mantra-mantra penyegelan dan pengusiran yang bisa melemahkan kekuatan siluman.
Jorogumo harus berhati-hati. Dia harus sabar. Dia harus cerdik.
Dan di sinilah wujud manusianya menjadi senjata yang paling berbahaya.
“Nanami,” Jorogumo memanggil ke dalam kegelapan gua.
Tidak ada jawaban.
Jorogumo menghela napas dan merangkak masuk ke dalam gua, mencari putrinya. Dia menemukan Nanami di ruangan paling dalam, di tempat yang dulu menjadi kamar tidur keluarga mereka. Nanami berbaring di atas jaring sutra, tubuh kecilnya meringkuk seperti bola, matanya terbuka namun tidak melihat apa-apa.
“Nanami, kau harus makan,” Jorogumo berkata sambil meletakkan beberapa ikan kecil yang sudah dipersiapkannya di samping putrinya.
Nanami menggerakkan matanya perlahan-lahan, melirik ikan-ikan itu tanpa minat. Bibirnya bergerak, namun tidak ada suara yang keluar.
Jorogumo berlutut di samping putrinya. Tangan-tangan manusianya yang halus menyentuh dahi Nanami, merasakan suhu tubuhnya. Dingin. Terlalu dingin untuk anak siluman laba-laba yang seharusnya memiliki metabolisme yang tinggi.
“Nanami, dengarkan Ibu,” Jorogumo berkata dengan suara yang dia usahakan agar terdengar selembut mungkin, meskipun di dalam dadanya badai kebencian bergemuruh tanpa henti. “Kau harus kuat. Kau harus makan dan bertahan. Untuk Ibu. Untuk Kak Kyo, Kak Shigeru, dan Kak Koji.”
Mendengar nama-nama kakak-kakaknya, mata-mata Nanami berkedip. Setitik cahaya muncul di kedalaman mata-mata yang selama berhari-hari terlihat mati itu. Cahaya kecil, rapuh, seperti lilin yang nyaris padam tertiup angin. Namun cahaya itu ada.
“Ibu,” Nanami berbisik, suaranya serak dan pecah-pecah. “Apa Ibu akan pergi lagi?”
Jorogumo terdiam sejenak.
“Ya, Nanami,” Jorogumo menjawab. “Ibu harus pergi lagi. Tapi Ibu akan selalu kembali. Selalu.”
“Jangan pergi,” Nanami meraih tangan ibunya dengan jari-jari kecil yang lemah. “Aku takut sendirian.”
Kalimat itu menohok Jorogumo lebih dalam dari yang dia perkirakan. Anak bungsunya yang dulu selalu ceria dan penuh tawa, yang dulu mengisi setiap sudut gua dengan celoteh-celoteh tanpa henti, kini terbaring di kegelapan dengan tubuh yang kurus dan mata-mata yang kosong, memohon agar ibunya tidak meninggalkannya.
Jorogumo merasa dirinya ditarik ke dua arah yang berlawanan. Satu arah menariknya kembali ke sisi putrinya, memeluk Nanami dan tidak pernah melepaskannya, melupakan dendam dan hidup dalam kegelapan gua ini untuk selamanya. Arah yang lain menariknya keluar, ke dunia manusia, ke pemukiman yang dipenuhi makhluk-makhluk yang sama seperti samurai yang membunuh anak-anaknya.
Kebencian menang.
Kebencian selalu menang.
“Ibu akan kembali sebelum matahari terbit,” Jorogumo berkata sambil melepaskan tangan Nanami dengan lembut. “Ibu janji. Makanlah ikan-ikan itu. Ibu akan membawakan makanan yang lebih banyak ketika Ibu pulang.”
Nanami menatap ibunya dengan tatapan yang menyimpan campuran kesedihan, ketakutan, dan sesuatu yang mungkin adalah penerimaan. Penerimaan dari seorang anak yang terlalu muda untuk memahami dunia namun terlalu dewasa untuk tidak merasakan bahwa sesuatu yang sangat besar dan sangat gelap sedang terjadi.
Nanami mengangguk pelan dan meraih ikan yang terdekat.
Jorogumo tersenyum. Senyum itu hangat, tulus, dan penuh kasih sayang. Senyum seorang ibu untuk anaknya. Dan untuk sesaat yang sangat singkat, Jorogumo kembali menjadi dirinya yang dulu. Siluman laba-laba yang hidup tenang di gua gelap bersama empat anaknya, tidak meminta apa pun dari dunia selain ketenangan.
Sesaat itu berlalu secepat kedipan mata.
Jorogumo berbalik dan berjalan keluar dari gua. Setiap langkahnya membawa senyum hangat itu semakin menjauh dari wajahnya, menggantikannya dengan ekspresi yang dingin dan tanpa emosi. Seperti topeng yang dipakai dan dilepas. Topeng kasih sayang untuk putrinya. Topeng kematian untuk mangsanya.
Malam itu, Jorogumo pergi ke sungai.
Bukan ke kolam tempat dia menjebak Goro. Kali ini dia pergi lebih ke hilir, mendekati tempat-tempat yang biasa digunakan nelayan-nelayan untuk memancing. Dia berjalan di atas permukaan air tanpa suara, kakinya yang telanjang menyentuh air tanpa membuat riak sedikit pun. Kimono putihnya menyapu permukaan sungai, namun kainnya tetap kering. Rambutnya yang hitam bergoyang-goyang tertiup angin malam, membingkai wajahnya yang cantik dengan sempurna.
Jorogumo berhenti di sebuah tikungan sungai yang dangkal. Di sini, batu-batu besar yang datar tersebar di tepi air, membentuk tempat duduk-tempat duduk alami yang sering digunakan nelayan untuk beristirahat. Bekas-bekas arang dari api unggun yang sudah padam terlihat di antara batu-batu itu, bersama dengan tulang-tulang ikan yang sudah mengering dan potongan-potongan tali dari jala-jala yang diperbaiki.
Jorogumo duduk di salah satu batu besar itu. Dia mencelupkan kaki-kakinya ke air sungai yang dingin dan mendongak menatap langit. Bulan purnama bersinar terang malam ini, cahayanya keperakan dan lembut, menerangi dunia dengan pendar yang membuat segalanya terlihat seperti lukisan monokrom yang indah. Bayangan Jorogumo di permukaan air sungai sempurna, tidak ada celah, tidak ada keanehan, hanya bayangan seorang wanita cantik yang duduk sendirian di tepi sungai di bawah cahaya bulan.
Umpan sudah dipasang.
Jorogumo hanya perlu menunggu.
Dan dia tidak perlu menunggu lama.
Suara langkah-langkah kaki terdengar dari arah hilir sungai. Langkah-langkah yang ringan dan agak tergesa-gesa, seperti langkah seseorang yang sedang dalam perjalanan namun tiba-tiba memutuskan untuk berbelok dari jalannya. Jorogumo tidak menggerakkan kepalanya. Dia tetap menatap bulan dengan ekspresi yang damai dan penuh kerinduan, ekspresi seorang wanita yang sedang termenung di malam yang sunyi.
Sosok yang muncul dari balik pepohonan adalah seorang pria muda. Usianya mungkin sekitar dua puluh tahun, dengan tubuh yang ramping dan wajah yang tampan meski agak kasar. Rambutnya diikat asal-asalan di atas kepalanya, dan kimono birunya yang sederhana menandakan bahwa dia berasal dari kalangan rakyat biasa. Di tangannya dia membawa sebuah toples kecil yang terbuat dari tanah liat, mungkin berisi sake atau air.
Pria muda itu berhenti melangkah ketika matanya menangkap sosok Jorogumo di tepi sungai. Mulutnya sedikit terbuka, matanya melebar. Dia berdiri di sana selama beberapa saat, terpaku oleh pemandangan yang ada di depannya.
Seorang wanita, duduk sendirian di tepi sungai di bawah cahaya bulan purnama. Rambutnya yang hitam berkilau keperakan ditimpa cahaya bulan. Kulitnya yang putih bercahaya lembut. Kakinya yang tercelup di air sungai menciptakan riak-riak kecil yang berkilauan. Pemandangan itu terlihat seperti lukisan dari dunia mimpi, terlalu indah untuk menjadi nyata.
Pria muda itu menelan ludah. Akal sehatnya mengatakan bahwa ada sesuatu yang tidak wajar tentang wanita ini. Seorang wanita sendirian di tepi sungai di tengah malam, di tempat yang jauh dari pemukiman, pada saat seluruh Shizuoka dilanda ketakutan akan siluman laba-laba. Semuanya meneriakkan peringatan.
Namun kecantikan Jorogumo tidak membiarkan akal sehat berbicara terlalu lama.
“Selamat malam,” pria muda itu akhirnya berkata, suaranya sedikit bergetar entah karena gugup atau karena dinginnya udara malam. Dia melangkah lebih dekat, meskipun sesuatu di dalam hatinya menariknya mundur. “Kau... sendirian?”
Jorogumo menoleh perlahan-lahan. Gerakan itu sempurna, anggun, seolah-olah setiap derajat putaran kepalanya sudah diperhitungkan dan disempurnakan. Mata-mata emasnya bertemu dengan mata-mata pria muda itu, dan dalam sekejap, pria muda itu merasakan seluruh tubuhnya menjadi ringan, seolah-olah gravitasi baru saja dimatikan dan dia mengapung beberapa senti di atas tanah.
“Selamat malam,” Jorogumo menjawab. Suaranya merdu dan lembut, seperti melodi seruling bambu yang dimainkan di taman istana. “Ya, aku sendirian. Aku hanya ingin melihat bulan malam ini. Bulannya indah, bukan?”
Pria muda itu mendongak menatap bulan, lalu kembali menatap Jorogumo. Dalam pikirannya, bulan itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan wanita yang duduk di depannya.
“Ya,” pria muda itu menjawab, suaranya menjadi lebih pelan. “Indah sekali.”
Dia tidak sedang membicarakan bulan.
Jorogumo tersenyum. Senyumnya hangat dan mengundang, seperti pintu terbuka yang mengajak untuk masuk ke dalam rumah yang hangat di malam yang dingin. Pria muda itu merasakan sesuatu di dalam dadanya mencair, seolah-olah kebekuan yang telah mengeras selama bertahun-tahun tiba-tiba dilumerkan oleh kehangatan yang datang entah dari mana.
“Duduklah,” Jorogumo menggeser tubuhnya sedikit, memberi ruang di atas batu besar itu. “Malam ini terlalu indah untuk dinikmati sendirian.”
Pria muda itu duduk. Tangannya yang memegang toples tanah liat gemetar sedikit. Dia meletakkan toples itu di atas batu dan menyeka telapak tangannya yang berkeringat di kimononya.
“Aku... aku belum pernah melihatmu di pemukiman,” pria muda itu berkata, berusaha memulai percakapan meski pikirannya berputar-putar tidak karuan. “Kau tinggal di sekitar sini?”
“Aku tinggal di hutan,” Jorogumo menjawab dengan ringan. “Agak jauh dari pemukiman kalian.”
“Di hutan?” pria muda itu mengangkat alisnya. “Sendirian?”
“Dengan putriku,” Jorogumo menjawab. Kalimat itu keluar dari bibirnya dengan naturalitas yang sempurna, namun di balik kata-kata itu tersimpan kesakitan yang begitu besar hingga bisa menenggelamkan seluruh sungai ini.
“Pasti sulit, tinggal di hutan berdua saja,” pria muda itu berkata dengan empati yang tulus. Dia tidak tahu bahwa empatinya itu ditujukan kepada makhluk yang sedang merancang kematiannya.
“Dulu kami tidak berdua saja,” Jorogumo berkata, matanya kembali menatap bulan. Cahaya keemasan di matanya berkilat sesaat, namun pria muda itu tidak menyadarinya. “Dulu aku memiliki empat orang anak. Tiga laki-laki dan satu perempuan.”
“Apa yang terjadi pada yang lain?” pria muda itu bertanya dengan hati-hati.
Jorogumo terdiam cukup lama. Permukaan sungai bergerak pelan di bawah kakinya, arus yang tenang membawa daun-daun dan ranting-ranting kecil yang hanyut dari hulu. Ketika akhirnya dia menjawab, suaranya terdengar seperti retakan di permukaan porselen, halus namun menyimpan kerusakan yang besar di bawahnya.
“Mereka dibunuh,” Jorogumo berkata. “Oleh seseorang yang datang ke rumah kami tanpa diundang.”
Pria muda itu terkesiap. Wajahnya berubah menjadi campuran keterkejutan dan simpati yang dalam.
“Aku... aku sangat menyesal mendengarnya,” pria muda itu berkata, dan dia sungguh-sungguh menyesal. Dia tidak berpura-pura. Dia adalah pria yang baik, yang memiliki hati yang lembut dan empati yang tulus. “Tidak ada seorang ibu pun yang seharusnya mengalami itu.”
“Tidak,” Jorogumo menyetujui dengan suara pelan. “Tidak ada seorang ibu pun.”
Mereka duduk dalam keheningan selama beberapa saat. Suara sungai yang mengalir mengisi keheningan itu dengan irama yang konstan dan menenangkan. Angin malam bertiup lembut, membawa aroma-aroma hutan yang basah dan segar.
“Namaku Haruto,” pria muda itu akhirnya berkata, memecah keheningan. “Aku nelayan. Atau lebih tepatnya, aku mencoba menjadi nelayan.” Dia tersenyum malu. “Aku tidak begitu pandai dalam hal itu.”
“Kenapa kau memilih menjadi nelayan kalau kau tidak pandai?” Jorogumo bertanya, kepalanya miring sedikit dengan rasa ingin tahu yang terlihat sangat alami.
Haruto menggaruk belakang kepalanya. “Karena itu satu-satunya pekerjaan yang tersedia untukku. Ayahku nelayan. Kakekku nelayan. Kakek buyutku juga nelayan. Kalau aku memilih pekerjaan lain, mereka mungkin akan bangkit dari kubur untuk memarahi ku.”
Jorogumo tertawa kecil. Tawa yang ringan dan merdu, tawa yang membuat Haruto merasa seolah-olah seluruh bintang di langit baru saja bertambah terang.
“Kau lucu,” Jorogumo berkata.
“Terima kasih,” Haruto tersenyum lebar. “Itu mungkin pujian terbaik yang pernah kuterima. Biasanya orang-orang hanya bilang aku aneh.”
Mereka mengobrol lebih lama lagi. Haruto menceritakan tentang kehidupannya di pemukiman, tentang tetangga-tetangganya yang cerewet, tentang kucing hitam besar yang sering mencuri ikan dari tangkapannya, tentang mimpi-mimpinya yang sederhana untuk suatu hari bisa menangkap ikan terbesar yang pernah ditangkap di Shizuoka. Dia bicara dengan antusiasme dan kejujuran yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang belum pernah belajar untuk menyembunyikan perasaannya.
Jorogumo mendengarkan. Dia mendengarkan dengan seksama, mengangguk di saat-saat yang tepat, tersenyum di saat-saat yang tepat, menatap Haruto dengan mata-mata yang penuh perhatian di saat-saat yang tepat. Setiap respons yang dia berikan diperhitungkan dengan presisi yang hanya bisa dicapai oleh makhluk yang telah menghabiskan ratusan tahun mengamati dan mempelajari perilaku manusia dari kejauhan.
Namun ada sesuatu yang tidak diperhitungkan Jorogumo.
Haruto mengingatkannya pada Kyo.
Bukan dalam penampilan fisik. Haruto adalah manusia, dan Kyo adalah siluman laba-laba. Mereka tidak bisa lebih berbeda secara fisik. Namun ada sesuatu dalam cara Haruto berbicara, dalam antusiasme yang meluap-luap di setiap kalimatnya, dalam senyum yang terlalu lebar dan terlalu jujur untuk dunia yang keras ini, yang mengingatkan Jorogumo pada anak sulungnya.
Kyo yang selalu bersemangat. Kyo yang selalu ingin menunjukkan jaring-jaring barunya. Kyo yang selalu melindungi adik-adiknya.
Kyo yang sudah tidak ada.
Jorogumo merasakan sesuatu bergerak di dalam dadanya. Sesuatu yang kecil dan lemah, yang mencoba menerobos dinding-dinding kebencian yang telah dia bangun selama berminggu-minggu. Sesuatu yang menyerupai rasa kasihan. Atau mungkin penyesalan. Atau mungkin keraguan.
Jorogumo menghancurkan sesuatu itu sebelum ia sempat tumbuh.
Tidak. Tidak ada keraguan. Tidak ada kasihan. Manusia adalah manusia. Mereka semua sama. Mereka semua adalah keturunan dari ras yang sama yang melahirkan Kanbe, samurai yang membunuh anak-anaknya tanpa berkedip.
“Haruto,” Jorogumo berkata, suaranya berubah sedikit lebih rendah, sedikit lebih intim. “Maukah kau membantuku?”
Haruto menatap Jorogumo dengan mata-mata yang penuh kesediaan. “Tentu saja. Apa yang bisa kubantu?”
“Aku mencari sesuatu di dekat sini. Sebuah tanaman obat yang tumbuh di dekat gua di hulu sungai. Putriku sedang sakit, dan tanaman itu adalah satu-satunya obat yang bisa menyembuhkannya.” Jorogumo menatap Haruto dengan mata-mata yang berkaca-kaca, seolah-olah dia sedang menahan tangis. “Tapi aku takut pergi sendirian. Aku hanya seorang wanita. Apakah kau mau menemaniku?”
Haruto tidak ragu satu detik pun.
“Tentu saja aku mau,” Haruto bangkit dari duduknya dengan semangat. “Tunjukkan jalannya. Aku akan menemanimu.”
Jorogumo tersenyum. Senyum yang di permukaan terlihat penuh rasa terima kasih dan kelegaan. Namun di kedalaman mata-mata emasnya, ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang dingin dan penuh perhitungan.
“Terima kasih, Haruto,” Jorogumo berkata sambil bangkit dari duduknya. “Kau sangat baik.”
Mereka berjalan bersama-sama menyusuri sungai menuju hulu. Haruto berjalan di samping Jorogumo, sesekali melirik wanita di sampingnya dengan pandangan yang tidak bisa menyembunyikan kekagumannya. Jorogumo berjalan dengan langkah-langkah yang ringan dan anggun, kimono putihnya menyapu tanah di belakangnya seperti ekor gaun pengantin yang sangat panjang.
Hutan semakin gelap di sekeliling mereka. Pepohonan semakin rapat, kanopi daun-daun di atas kepala mereka semakin tebal, menghalangi semakin banyak cahaya bulan. Suara-suara malam mengelilingi mereka, suara jangkrik, suara katak, suara burung hantu yang berseru-seru dari kejauhan. Namun semakin jauh mereka berjalan ke hulu, semakin berkurang suara-suara itu. Seperti volume yang perlahan-lahan diturunkan oleh tangan tak terlihat.
Haruto mulai merasakan keanehan itu. Langkahnya melambat sedikit. Matanya bergerak-gerak ke sekeliling dengan kewaspadaan yang baru muncul.
“Kau... yakin tanamannya ada di sekitar sini?” Haruto bertanya, suaranya sedikit lebih pelan dari sebelumnya.
“Sudah dekat,” Jorogumo menjawab tanpa menoleh. “Hanya sedikit lagi.”
Mereka terus berjalan. Haruto merasakan udara di sekitarnya berubah. Lebih dingin. Lebih lembap. Dan ada bau yang samar namun tidak menyenangkan yang mulai tercium di antara aroma-aroma hutan yang biasa. Bau yang manis dan busuk secara bersamaan, seperti bunga-bunga yang mekar di atas mayat yang membusuk.
“Apa itu baunya?” Haruto mengerutkan hidungnya.
“Tanaman obat itu memang berbau aneh,” Jorogumo menjawab dengan ringan. “Tapi khasiatnya sangat baik.”
Haruto menelan rasa tidak nyamannya dan terus berjalan. Dia adalah pria yang baik, dan pria yang baik tidak meninggalkan wanita sendirian di hutan gelap hanya karena bau yang tidak enak.
Mereka sampai di tikungan sungai yang lebar. Haruto mengenali tempat ini. Ini adalah tempat yang sama yang pernah diceritakan Kenshiro. Batu-batu besar yang bertumpuk. Kolam gelap di baliknya. Dan di seberang kolam...
Mulut gua.
Haruto berhenti mendadak. Kakinya membeku di tanah seolah-olah ada tangan-tangan yang muncul dari bawah dan mencengkeram pergelangan kakinya. Matanya terbelalak menatap mulut gua yang gelap itu, yang dihiasi sisa-sisa jaring-jaring yang berkilau keperakan di bawah cahaya bulan yang tipis.
“Gua itu...” Haruto berbisik, suaranya bergetar. “Itu... itu gua yang diceritakan Kenshiro.”
“Oh?” Jorogumo berbalik menatap Haruto. Wajahnya masih tenang dan cantik, namun ada perubahan halus di matanya. Cahaya emas di mata-matanya menjadi lebih terang, lebih tajam, seperti mata-mata predator yang menyala di kegelapan. “Siapa itu Kenshiro?”
Haruto mundur satu langkah. Otaknya akhirnya mulai bekerja, potongan-potongan informasi yang selama ini tersebar di pikirannya mulai menyusun diri menjadi gambaran yang utuh. Wanita cantik yang muncul sendirian di malam hari. Gua gelap dengan jaring-jaring raksasa. Cerita Kenshiro tentang siluman laba-laba yang berubah menjadi wanita cantik.
Jorogumo.
“Kau...” Haruto mundur satu langkah lagi, kakinya tersandung batu dan dia nyaris jatuh. “Kau... bukan manusia.”
Jorogumo memiringkan kepalanya. Gerakan itu, yang tadinya terlihat anggun dan menawan, kini terlihat mengerikan. Seperti gerakan serangga yang mempelajari mangsanya dari dekat sebelum menyerang.
“Kau cerdas, Haruto,” Jorogumo berkata, suaranya tidak lagi merdu dan lembut. Suaranya kini dalam dan bergema, seolah-olah keluar dari dasar jurang yang tidak berujung. “Sayang sekali kecerdasanmu datang terlambat.”
Jaring-jaring melesat dari tubuh Jorogumo.
Haruto berteriak dan mencoba berlari, namun benang-benang sutra itu lebih cepat dari kakinya. Mereka melilit pergelangan tangannya, pergelangan kakinya, pinggangnya, dadanya. Haruto meronta-ronta dengan kekuatan putus asa, otot-otot di lehernya menegang hingga urat-uratnya menonjol di bawah kulitnya.
“TOLONG!” Haruto berteriak ke kegelapan hutan. “TOLONG AKU! SIAPA PUN!”
Tidak ada jawaban. Hutan sunyi. Tidak ada satu pun makhluk yang berani mendekati wilayah Jorogumo ketika dia sedang berburu.
Jorogumo mendekati Haruto yang sudah terikat oleh jaring-jaringnya. Wujud manusianya mulai berubah. Dari punggungnya, kaki-kaki laba-laba yang besar dan hitam muncul satu per satu, merobek kain kimono di bagian belakang. Mata-mata emasnya menyala semakin terang, dan taring-taring panjang muncul dari balik bibirnya yang merah.
Haruto berhenti meronta. Matanya terbelalak menatap transformasi yang terjadi di depannya, tubuhnya membeku oleh ketakutan yang melampaui batas kemampuan otaknya untuk memproses.
“Kau bertanya apa yang terjadi pada anak-anakku,” Jorogumo berkata, wajahnya kini hanya sejengkal dari wajah Haruto. Napasnya yang dingin menerpa kulit Haruto, membuat seluruh bulu di tubuhnya berdiri tegak. “Manusia yang membunuh mereka. Manusia sepertimu.”
“Aku... aku tidak...” Haruto tergagap, air matanya mengalir di pipinya. “Aku tidak melakukan apa-apa... Aku tidak menyakiti siapa pun...”
“Aku tahu,” Jorogumo berbisik. Dan untuk sesaat, sangat singkat, ada kilatan sesuatu di matanya. Sesuatu yang mungkin adalah penyesalan. Sesuatu yang mungkin adalah sisa-sisa terakhir dari kemanusiaannya yang perlahan-lahan ditelan oleh kegelapan yang tumbuh di dalam dirinya.
Namun kilatan itu padam secepat kemunculannya.
“Tapi kau manusia,” Jorogumo berkata dengan nada final. “Dan itu sudah cukup.”
Haruto membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, untuk memohon, untuk berteriak, untuk melakukan apa pun yang mungkin bisa menyelamatkan nyawanya. Namun sebelum kata-kata itu sempat terbentuk di bibirnya, jaring-jaring sutra menutupi mulutnya, membungkamnya untuk selamanya.
Jorogumo menyeret Haruto ke dalam gua.
Kegelapan menelan mereka berdua.
Di dalam gua, Nanami mendengar suara-suara itu lagi. Suara rintihan yang teredam. Suara langkah-langkah kaki ibunya yang berat. Suara sesuatu yang diseret di atas lantai batu.
Nanami menutup telinganya dengan kedua tangannya dan memejamkan matanya erat-erat. Air matanya mengalir di pipinya yang tirus, membasahi jari-jari kecilnya yang gemetar. Dia tidak mau mendengar. Dia tidak mau tahu. Dia hanya ingin semuanya kembali seperti dulu, ketika gua ini masih dipenuhi tawa dan pertengkaran-pertengkaran kecil yang berakhir dengan pelukan-pelukan hangat.
Namun Nanami tahu bahwa “dulu” itu sudah tidak akan pernah kembali.
Beberapa saat kemudian, gua menjadi sunyi kembali. Jorogumo muncul dari kegelapan dan mendekati Nanami. Wujudnya sudah kembali menjadi manusia sepenuhnya. Kimono putihnya bersih, tanpa noda, tanpa bercak darah. Wajahnya tenang dan cantik, seolah-olah tidak ada apa pun yang baru saja terjadi.
“Nanami, Ibu sudah pulang,” Jorogumo berkata sambil duduk di samping putrinya.
Nanami membuka matanya dan menatap ibunya. Ada pertanyaan di matanya yang tidak dia ucapkan. Pertanyaan yang terlalu berat untuk anak seusianya. Pertanyaan tentang suara-suara yang didengarnya. Tentang apa yang terjadi di kegelapan gua. Tentang apa yang sedang terjadi pada ibunya.
Namun Nanami tidak bertanya.
Karena di suatu tempat yang sangat dalam di hatinya, Nanami sudah tahu jawabannya. Dan jawaban itu membuatnya ingin menangis lebih keras dari tangisan mana pun yang pernah dia keluarkan.
Jorogumo memeluk Nanami dan menyanyikan lagu pengantar tidur yang sama yang selalu dia nyanyikan sejak Nanami masih sangat kecil. Lagu tentang sungai yang mengalir ke laut, tentang bulan yang menjaga malam, tentang ibu yang selalu ada untuk anak-anaknya. Suaranya lembut dan penuh kasih, nyanyian yang sama yang dulu juga dinyanyikannya untuk Kyo, Shigeru, dan Koji.
Nanami tertidur dalam pelukan ibunya, dengan air mata yang masih basah di pipinya dan hati yang penuh dengan ketakutan yang tidak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata.
Dan Jorogumo terus bernyanyi, matanya menatap ke kegelapan gua, pikirannya sudah melayang ke rencana-rencana berikutnya. Rencana-rencana yang melibatkan lebih banyak manusia. Lebih banyak wajah-wajah yang tersenyum kepadanya tanpa tahu bahwa senyum itu adalah hal terakhir yang akan mereka lihat.
Karena satu orang nelayan dan satu pria muda masih belum cukup.
Tidak akan pernah cukup.
Berita hilangnya Haruto menyebar di pemukiman keesokan harinya.
Tidak seperti Goro yang diketahui pergi ke sungai dengan Kenshiro, Haruto menghilang tanpa saksi. Tidak ada yang melihatnya pergi. Tidak ada yang tahu ke mana dia pergi. Dia hanya tidak ada di rumahnya ketika pagi datang, futonnya sudah dingin dan toples sakenya menghilang dari raknya.
Tetangga-tetangga Haruto mulai mencarinya sejak pagi. Mereka menyisir pemukiman, mengecek setiap rumah, setiap gudang, setiap sudut yang mungkin. Mereka memanggil-manggil namanya hingga suara mereka serak. Namun Haruto tidak ditemukan.
Ketakutan yang sempat mereda kembali menyeruak dengan kekuatan yang berlipat ganda. Bisikan-bisikan yang tadinya sudah hampir berhenti kembali memenuhi setiap percakapan. Nama Jorogumo kembali disebut-sebut dengan nada yang lebih takut, lebih cemas, lebih putus asa.
“Ini sudah dua orang,” salah seorang tetua berkata dalam pertemuan darurat yang diadakan siang itu. “Goro dan sekarang Haruto. Siapa yang berikutnya?”
“Kita harus melakukan sesuatu,” tetua lain menambahkan, wajahnya merah oleh campuran kemarahan dan ketakutan. “Kita tidak bisa terus-terusan bersembunyi di rumah-rumah kita dan berharap siluman itu tidak datang.”
“Tapi apa yang bisa kita lakukan?” seorang warga bertanya, suaranya bergetar. “Kita hanya petani dan nelayan. Bagaimana kita melawan siluman laba-laba raksasa?”
“Kita membutuhkan samurai,” seseorang menyuarakan. “Atau pendeta yang kuat.”
“Samurai?” Saburo, tetua tertua, menggeleng-gelengkan kepalanya yang botak. “Samurai mana yang mau datang ke desa nelayan terpencil untuk melawan siluman? Kita tidak punya uang untuk menyewa mereka. Kita tidak punya hubungan dengan daimyo mana pun. Kita hanya rakyat jelata.”
Keheningan yang berat menyelimuti aula pertemuan. Wajah-wajah yang berkumpul di sana dipenuhi keputusasaan yang sama, ketidakberdayaan yang sama, ketakutan yang sama. Mereka adalah orang-orang biasa yang terjebak dalam situasi yang sama sekali tidak biasa, dan tidak satu pun dari mereka yang tahu harus berbuat apa.
“Kalau begitu kita harus melindungi diri kita sendiri,” akhirnya Saburo berkata, suaranya berat namun tegas. “Kita buat aturan-aturan baru. Tidak ada yang boleh keluar rumah setelah matahari terbenam. Tidak ada yang boleh pergi ke sungai sendirian. Setiap keluarga harus memasang jimat-jimat pelindung di pintu dan jendela. Dan kita harus menyiapkan api unggun besar di setiap sudut pemukiman, dinyalakan setiap malam hingga pagi. Siluman-siluman takut pada api.”
Aturan-aturan itu ditetapkan dan dipatuhi. Setiap malam, api-api unggun besar menyala di empat sudut pemukiman, apinya yang tinggi menerangi malam dengan cahaya jingga yang bergoyang-goyang dan melemparkan bayangan-bayangan panjang yang menari-nari di dinding-dinding rumah. Penduduk bergiliran menjaga api-api itu, memastikan bahwa api tidak pernah padam dari matahari terbenam hingga matahari terbit.
Gambar-gambar Jorogumo semakin banyak tersebar. Setiap keluarga membuat versinya sendiri, menggambarkan monster yang membuat mereka takut dengan tinta dan arang di atas kertas-kertas kasar. Gambar-gambar itu ditempelkan di mana-mana, sebagai peringatan, sebagai pengingat, sebagai simbol ketakutan kolektif yang mengikat seluruh penduduk Shizuoka dalam satu mimpi buruk yang sama.
Di kuil-kuil Shinto, para pendeta berdoa tanpa henti. Mereka membakar dupa-dupa yang wangi, membacakan mantra-mantra kuno, dan menggantungkan gohei, kertas-kertas zigzag suci di setiap tiang dan palang. Mereka berharap bahwa para dewa akan mendengar doa-doa mereka dan memberikan perlindungan dari makhluk yang bersembunyi di gua gelap di hulu sungai.
Namun doa-doa itu tidak sampai ke telinga para dewa.
Atau mungkin para dewa mendengar, namun memilih untuk tidak menjawab.
Jorogumo berdiri di mulut gua, menatap cahaya-cahaya api unggun yang bergoyang-goyang di kejauhan. Bibirnya membentuk senyum tipis yang dingin.
“Mereka membangun pagar dari api,” Jorogumo bergumam. “Mereka pikir api bisa melindungi mereka dariku.”
Jorogumo mengangkat tangannya dan menyentuh dinding gua di sampingnya. Jari-jarinya yang lentik menelusuri permukaan batu yang basah dan berlumut, merasakan tekstur-teksturnya yang kasar di bawah kulitnya yang halus.
“Api memang bisa membakar jaring-jaringku,” Jorogumo mengakui. “Tapi aku tidak hanya memiliki jaring.”
Jorogumo merentangkan tangannya ke depan. Dari ujung-ujung jarinya, benang-benang sutra yang sangat tipis dan nyaris tak terlihat melesat keluar, menghilang ke dalam kegelapan hutan. Benang-benang itu menyebar ke segala arah, menempel di batang-batang pohon, di ranting-ranting, di batu-batu, membentuk jaringan yang tak terlihat oleh mata manusia namun menghubungkan setiap sudut hutan dengan gua Jorogumo.
Getaran-getaran kecil merambat melalui benang-benang itu, membawa informasi ke ujung-ujung jari Jorogumo. Dia bisa merasakan seekor rusa yang berlari di bagian barat hutan. Seekor babi hutan yang menggali tanah di selatan. Gerombolan kelelawar yang terbang di atas kanopi pohon. Dan di tepi hutan, di dekat pemukiman, dia bisa merasakan getaran-getaran langkah kaki manusia yang berjaga-jaga di sekitar api unggun.
“Aku bisa merasakan kalian semua,” Jorogumo berbisik. “Setiap langkah. Setiap napas. Setiap detak jantung.”
Jaring sensorik ini adalah senjata barunya. Bukan jaring untuk menangkap mangsa, melainkan jaring untuk mengawasi, untuk memantau, untuk mengetahui pergerakan setiap makhluk hidup di dalam hutannya. Dengan jaringan ini, tidak ada seorang pun yang bisa mendekati guanya tanpa dia ketahui. Dan tidak ada seorang pun yang bisa bersembunyi darinya di dalam hutannya.
Jorogumo menarik kembali benang-benangnya dan berbalik masuk ke dalam gua.
Di dalam kegelapan, Nanami sudah tertidur. Wajah kecilnya terlihat damai dalam tidurnya, ekspresi yang kontras tajam dengan kegelisahan yang mengisi setiap jam terjaganya. Jorogumo menatap putrinya selama beberapa saat, dan untuk sesaat yang sangat singkat, ekspresinya melembut.
Namun kelembutannya itu segera digantikan oleh tekad yang keras dan tak tergoyahkan.
“Aku melakukan ini untukmu juga, Nanami,” Jorogumo berbisik. “Untuk kakak-kakakmu. Untuk semua yang telah direnggut dari kita.”
Jorogumo duduk di kegelapan, matanya yang emas menyala seperti dua titik cahaya di lautan hitam yang tak bertepi. Pikirannya sudah bekerja lagi, merancang langkah-langkah berikutnya dengan ketelitian dan kesabaran seekor laba-laba yang menenun jaring terbesarnya.
Dua mangsa sudah jatuh.
Namun Jorogumo tidak mengincar mangsa-mangsa individu. Dia mengincar sesuatu yang jauh lebih besar. Sesuatu yang akan membuat seluruh Shizuoka bertekuk lutut.
Dan sarang-sarangnya yang baru, yang tak terlihat dan membentang di seluruh penjuru hutan, sudah mulai terbentuk.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!