Jorogumo berdiri di kedalaman gua, menatap pantulan dirinya di genangan air yang terbentuk di cekungan batu di lantai gua. Wajah wanita cantik yang menatap balik kepadanya dari permukaan air itu sudah sempurna. Kulit putih pucat tanpa cacat. Bibir merah yang penuh. Mata-mata yang berwarna cokelat gelap, bukan emas, karena mata emas akan menarik kecurigaan. Rambut hitam legam yang tergerai panjang hingga menyentuh pinggangnya, dihiasi tusuk konde sederhana dari kayu yang diukir menyerupai bunga krisan.
Namun kali ini, Jorogumo tidak hanya mengubah penampilannya. Dia mengubah segalanya.
Kimono yang dikenakannya bukan lagi kimono putih polos yang biasa dia pakai. Kali ini dia mengenakan kimono berwarna merah tua dengan motif-motif bunga-bunga plum berwarna emas yang tersebar di seluruh permukaannya. Obi yang mengikat pinggangnya berwarna hitam pekat dengan benang-benang perak yang berkilau di bawah cahaya. Geta kayu yang baru dia bentuk dari sutra yang dikeraskan mengetuk-ngetuk lantai batu dengan bunyi yang meyakinkan, terdengar persis seperti geta kayu sungguhan.
Di tangannya, dia memegang sebuah koto.
Koto itu bukan koto biasa. Jorogumo membuatnya sendiri selama tiga malam berturut-turut dari kayu pohon paulownia yang dia tebang di hutan. Tiga belas senar sutranya dia pintal dari benang-benang terkuatnya, setiap senar dikalibrasi dengan ketelitian yang obsesif hingga menghasilkan nada yang sempurna ketika dipetik. Jembatan-jembatan kecil yang menopang senar dibentuk dari tulang-tulang rusa yang dihaluskan hingga menyerupai gading. Dari luar, koto itu terlihat seperti koto buatan pengrajin terbaik di Heian-Kyo. Tidak ada seorang pun yang akan menduga bahwa koto itu dibuat oleh tangan-tangan siluman laba-laba di dalam gua yang gelap.
Jorogumo memetik salah satu senar. Nada yang keluar bergema di dinding-dinding gua, jernih dan murni, bergetar di udara seperti tetesan air yang jatuh ke permukaan danau yang sangat tenang. Jorogumo mengangguk puas.
“Sempurna,” dia bergumam.
Jorogumo meletakkan koto itu di lantai gua dan berbalik menghadap kegelapan di belakangnya. Jari-jarinya bergerak di udara, menarik-narik benang-benang sutra yang tak terlihat dengan gerakan-gerakan yang menyerupai dalang yang menggerakkan boneka-boneka wayangnya. Dari kegelapan gua, enam sosok muncul perlahan-lahan.
Enam wanita.
Mereka berdiri berjajar di hadapan Jorogumo, tubuh-tubuh mereka tegak dan kaku seperti patung-patung yang baru saja dihidupkan. Wajah-wajah mereka cantik, setiap wajah berbeda dari yang lain namun semuanya memiliki kesamaan yang mengikat, kecantikan yang tidak sepenuhnya manusiawi, kecantikan yang terlalu sempurna, terlalu simetris, terlalu tanpa cela.
Mereka bukan manusia.
Mereka adalah boneka-boneka sutra.
Jorogumo menciptakan mereka dari jaring-jaringnya sendiri. Setiap boneka ditenun selama berjam-jam, lapisan demi lapisan sutra yang ditumpuk dan dibentuk hingga menyerupai tubuh manusia dengan tingkat detail yang menakjubkan. Kulit mereka adalah sutra halus berwarna putih kekuningan yang menyerupai kulit manusia dari jarak dekat. Rambut mereka adalah benang-benang sutra hitam yang dijalin menjadi helai-helai yang berkilau dan lembut. Mata mereka adalah batu-batu kecil yang dipoles dan diwarnai hingga menyerupai iris manusia. Bibir mereka diberi warna merah dari sari buah-buahan hutan.
Setiap boneka mengenakan kimono yang berbeda-beda warnanya. Biru langit. Hijau daun. Ungu tua. Kuning keemasan. Merah muda seperti bunga sakura. Dan putih salju. Masing-masing kimono dihiasi motif-motif yang rumit dan indah, ditenun dengan ketelitian yang hanya bisa dicapai oleh makhluk yang telah menghabiskan ratusan tahun menyempurnakan seni menenun.
Dan di tangan setiap boneka, tergenggam sebuah kipas lipat.
Kipas-kipas itu terbuat dari tulang-tulang bambu yang tipis dan kuat, dengan permukaan kain sutra yang dilukis dengan gambar-gambar yang berbeda-beda. Kipas pertama bergambar gunung dan awan. Kipas kedua bergambar sungai dan ikan. Kipas ketiga bergambar bulan dan bintang. Kipas keempat bergambar bunga-bunga yang bermekaran. Kipas kelima bergambar burung-burung yang terbang. Dan kipas keenam bergambar kupu-kupu yang hinggap di tangkai rumput.
Jorogumo menggerakkan jari-jarinya, dan enam boneka itu bergerak secara bersamaan. Mereka mengangkat kipas-kipas mereka, membukanya dengan gerakan yang sinkron dan anggun, dan mulai menari. Gerakan-gerakan mereka halus dan mengalir, setiap putaran tubuh, setiap ayunan kipas, setiap langkah kaki dikoreografi dengan presisi yang sempurna. Mereka bergerak seperti enam kelopak bunga yang bergoyang tertiup angin yang sama, berbeda namun harmonis, individual namun menyatu.
Jorogumo mengamati tarian mereka dengan mata-mata yang kritis. Dia memperhatikan setiap gerakan, setiap sudut, setiap transisi. Sesekali dia menghentikan boneka-boneka itu dan memperbaiki posisi tangan atau sudut kipas yang menurutnya kurang sempurna. Lalu dia memulai tarian itu dari awal lagi, dari awal lagi, dan dari awal lagi, hingga setiap gerakan mengalir tanpa hambatan, tanpa kekakuan, tanpa jejak bahwa penari-penari ini bukanlah manusia yang sesungguhnya.
“Ibu?”
Suara Nanami muncul dari kegelapan di belakang Jorogumo. Anak bungsu itu berdiri di ambang ruangan, matanya yang besar menatap enam sosok yang menari di hadapan ibunya dengan campuran ketakutan dan kekaguman.
“Siapa mereka, Ibu?” Nanami bertanya, suaranya kecil dan ragu-ragu.
“Mereka temanku,” Jorogumo menjawab tanpa menoleh, jari-jarinya masih bergerak-gerak mengendalikan boneka-bonekanya. “Mereka akan membantuku.”
Nanami menelan ludah. Matanya yang tajam, mata siluman laba-laba yang mampu melihat detail-detail yang tidak terlihat oleh mata manusia, menangkap benang-benang sutra tipis yang menghubungkan jari-jari ibunya dengan tubuh-tubuh penari itu. Nanami tahu bahwa sosok-sosok itu bukan manusia. Bukan siluman. Bukan apa-apa. Mereka hanya boneka. Boneka yang cantik dan sempurna, namun tetap boneka.
“Membantu untuk apa?” Nanami bertanya, meskipun di dalam hatinya dia sudah tahu jawabannya.
Jorogumo akhirnya menoleh menatap putrinya. Senyumnya hangat, senyum seorang ibu yang sama yang selalu dilihat Nanami sejak dia lahir. Namun di balik senyum itu, Nanami bisa melihat sesuatu yang lain. Sesuatu yang gelap dan tajam dan berbahaya, seperti bilah pisau yang tersembunyi di balik selendang sutra.
“Membantu Ibu bermain musik,” Jorogumo menjawab. “Ibu akan pergi ke kota hari ini, Nanami. Ibu akan bermain koto untuk orang-orang di sana.”
“Bermain koto?” Nanami memiringkan kepalanya. “Kenapa?”
“Karena orang-orang suka musik,” Jorogumo menjawab dengan sederhana. “Dan karena kadang-kadang, musik adalah cara terbaik untuk membuat orang-orang mendengarkanmu.”
Nanami menatap ibunya selama beberapa saat. Bibir bawahnya bergetar sedikit, dan matanya berkaca-kaca. Dia ingin mengatakan sesuatu. Ingin memohon agar ibunya tidak pergi. Ingin berteriak bahwa semua ini salah, bahwa menyakiti orang-orang tidak akan membawa kakak-kakaknya kembali. Namun kata-kata itu terlalu berat untuk lidahnya yang kecil, dan keberanian yang dibutuhkan untuk mengucapkannya terlalu besar untuk hatinya yang masih sangat muda.
“Ibu akan kembali, kan?” Nanami akhirnya berkata, kalimat yang sama yang selalu dia ucapkan setiap kali ibunya pergi.
“Selalu,” Jorogumo menjawab, jawaban yang sama yang selalu dia berikan.
Jorogumo mengangkat kotonya, memastikan enam boneka penarinya berdiri dengan rapi di belakangnya, dan melangkah keluar dari gua.
Cahaya matahari pagi menyambut mereka dengan kehangatan yang menyilaukan setelah berminggu-minggu berada di kegelapan gua. Jorogumo menyipitkan matanya sesaat, membiasakan diri dengan terangnya dunia di luar. Di belakangnya, enam boneka berdiri berjajar, kipas-kipas mereka terlipat rapi di tangan masing-masing, wajah-wajah cantik mereka menatap lurus ke depan tanpa ekspresi.
Jorogumo mulai berjalan menuju pemukiman Shizuoka.
Kali ini, dia tidak berjalan melalui hutan. Dia berjalan melalui jalan utama yang menghubungkan hutan dengan pemukiman, jalan tanah yang lebar dan terbuka yang biasa digunakan oleh pedagang-pedagang dan pelancong-pelancong. Dia berjalan di siang hari, di bawah matahari yang terang benderang, tanpa sembunyi-sembunyi, tanpa mengendap-endap, tanpa rasa takut.
Karena hari ini, Jorogumo bukan siluman laba-laba yang berburu dari bayang-bayang.
Hari ini, dia adalah Ayumi.
Seorang gadis penghibur keliling yang membawa koto dan enam orang penari. Seorang seniman jalanan yang berpindah dari kota ke kota, menyajikan pertunjukan musik dan tari untuk menghibur penduduk dan mengumpulkan uang. Tidak ada yang mencurigakan. Tidak ada yang mengancam. Hanya seorang gadis cantik dengan senyum ramah dan bakat musik yang luar biasa.
Pemukiman Shizuoka di siang hari terlihat berbeda dari pemukiman yang dilihat Jorogumo setiap malam dari batas hutan. Di siang hari, meskipun ketakutan masih menghantui, kehidupan tetap berjalan. Pasar kecil di tengah pemukiman masih buka, meskipun pedagang-pedagangnya lebih sedikit dari biasanya. Beberapa warga masih berjalan di jalan-jalan, meskipun langkah-langkah mereka lebih cepat dan mata-mata mereka lebih waspada. Anak-anak masih bermain, meskipun mereka tidak lagi berlari terlalu jauh dari rumah-rumah mereka.
Ketika Jorogumo, atau lebih tepatnya Ayumi, memasuki pemukiman melalui gerbang utama, beberapa warga yang berdiri di dekat gerbang langsung menoleh. Mata-mata mereka melebar melihat rombongan kecil yang memasuki pemukiman mereka.
Seorang gadis cantik yang mengenakan kimono merah tua dengan motif bunga plum emas, membawa koto di tangannya dengan keanggunan seorang bangsawan. Di belakangnya, enam wanita cantik berjajar rapi, masing-masing mengenakan kimono berwarna-warni yang indah dengan kipas lipat tergenggam di tangan mereka. Mereka berjalan dengan langkah-langkah yang sinkron dan anggun, seolah-olah kaki-kaki mereka menyentuh tanah pada saat yang persis sama.
“Siapa mereka?” seorang wanita berbisik kepada suaminya sambil mencengkeram lengan pria itu.
“Penghibur keliling, mungkin,” suaminya menjawab, matanya tidak berkedip menatap rombongan itu. “Aku tidak pernah melihat mereka sebelumnya.”
“Dari mana mereka datang? Tidak ada yang masuk ke pemukiman ini selama berminggu-minggu.”
“Entahlah. Tapi... mereka cantik sekali.”
Jorogumo berjalan menuju alun-alun kecil di pusat pemukiman. Alun-alun itu tidak lebih dari lapangan tanah yang dipadatkan, dikelilingi oleh kedai-kedai makanan dan toko-toko kecil yang menjual kebutuhan sehari-hari. Sebuah pohon ek tua berdiri di tengah-tengah alun-alun, ranting-rantingnya yang lebar memberikan naungan yang sejuk dari matahari siang.
Jorogumo berhenti di bawah pohon ek itu. Dia meletakkan kotonya di atas alas kain yang dia bentangkan di tanah dengan gerakan yang terlatih dan elegan. Lalu dia duduk bersimpuh di belakang koto, punggungnya tegak, kepalanya sedikit tertunduk, jari-jarinya terentang di atas senar-senar yang berkilau ditimpa cahaya matahari.
Enam penarinya berdiri di belakangnya, tiga di sebelah kanan dan tiga di sebelah kiri, membentuk formasi setengah lingkaran yang simetris. Kipas-kipas mereka masih terlipat di tangan masing-masing. Wajah-wajah mereka tenang dan tanpa ekspresi, menatap lurus ke depan dengan tatapan yang kosong namun entah bagaimana tetap menawan.
Warga-warga mulai berkumpul. Satu per satu pada awalnya, lalu semakin banyak, ditarik oleh rasa penasaran yang mengalahkan kewaspadaan. Mereka berdiri di sekeliling alun-alun, menjaga jarak yang cukup aman namun cukup dekat untuk melihat dan mendengar. Anak-anak menyembulkan kepala-kepala mereka dari balik kaki-kaki orang tua mereka, mata-mata mungil mereka bulat oleh kekaguman.
“Selamat siang, penduduk Shizuoka,” Jorogumo mengangkat kepalanya dan tersenyum. Senyumnya hangat dan ramah, senyum seorang gadis muda yang polos dan tidak berbahaya. Suaranya jernih dan bersahabat, tanpa jejak kegelapan atau ancaman. “Namaku Ayumi. Aku penghibur keliling dari barat. Aku dan teman-temanku ingin mempersembahkan pertunjukan musik dan tari untuk kalian hari ini. Semoga pertunjukan kami bisa menghibur hati kalian.”
Bisikan-bisikan menyebar di kerumunan. Beberapa warga terlihat ragu-ragu. Beberapa lagi terlihat was-was. Namun sebagian besar terlihat tertarik, bahkan bersemangat. Sudah berminggu-minggu mereka hidup dalam bayang-bayang ketakutan, tanpa hiburan, tanpa kegembiraan, tanpa apa pun yang bisa membuat mereka melupakan sejenak mimpi buruk yang menghantui hari-hari mereka. Kehadiran rombongan penghibur ini terasa seperti secercah cahaya yang menerobos awan gelap.
“Ayo, mainkan!” seorang pria tua berteriak dari kerumunan, wajah keriputnya dihiasi senyum yang sudah lama tidak terlihat. “Kami sudah lama tidak mendengar musik!”
Beberapa orang tertawa dan mengangguk setuju. Bahkan Saburo yang berdiri di barisan depan kerumunan, meskipun wajahnya masih menyimpan kewaspadaan, menganggukkan kepalanya sebagai izin.
Jorogumo membungkuk sedikit sebagai tanda terima kasih. Lalu dia meluruskan punggungnya, menarik napas panjang, dan meletakkan jari-jarinya di atas senar-senar koto.
Dan dia mulai bermain.
Nada pertama yang keluar dari koto itu menghentikan semua suara di alun-alun. Bisikan-bisikan berhenti. Batuk-batuk berhenti. Bahkan angin yang bertiup seolah-olah menahan napasnya. Nada itu tinggi dan jernih, mengalun di udara seperti teriakan burung bangau yang terbang sendirian di langit yang luas.
Nada kedua menyusul, lebih rendah, lebih dalam, bergema seperti ombak yang menghantam karang di pantai yang jauh. Nada ketiga menyusul di belakangnya, mengisi ruang-ruang yang ditinggalkan oleh dua nada sebelumnya, menciptakan harmoni yang lengkap dan penuh.
Jari-jari Jorogumo bergerak di atas senar-senar koto dengan kecepatan dan kehalusan yang melampaui kemampuan manusia mana pun. Setiap petikan menghasilkan nada yang sempurna, setiap transisi mengalir tanpa hambatan, setiap melodi yang tercipta seolah-olah sudah ada di udara sejak awal waktu dan baru sekarang dibebaskan oleh jari-jari yang mengetahui cara melepaskannya.
Melodi yang dimainkannya dimulai dengan lembut. Lembut seperti embun pagi yang menetes di kelopak bunga. Lembut seperti hembusan angin musim semi yang menggoyangkan ranting-ranting sakura. Lembut seperti nyanyian pengantar tidur yang didendangkan ibu kepada anaknya di malam yang tenang.
Warga-warga yang mendengarkan mulai merasakan sesuatu yang aneh. Sesuatu yang bergerak di dalam dada mereka, di tempat-tempat yang sudah lama tertutup oleh kekhawatiran dan ketakutan. Sesuatu yang hangat dan menyenangkan, sesuatu yang mengingatkan mereka pada hari-hari sebelum semua kegilaan ini dimulai.
Seorang wanita tua mulai menangis tanpa tahu mengapa. Air matanya mengalir di pipi-pipi keriputnya, namun dia tersenyum. Dia menangis dan tersenyum secara bersamaan, dua ekspresi yang seharusnya bertentangan namun entah bagaimana hidup berdampingan di wajahnya tanpa konflik.
Seorang anak kecil yang berdiri di pelukan ibunya berhenti merengek dan menutup matanya, kepalanya bersandar di bahu ibunya dengan ekspresi damai yang belum pernah terlihat di wajahnya selama berminggu-minggu.
Dan kemudian, ketika melodi itu mencapai puncak pertamanya, ketika nada-nada yang dimainkan Jorogumo membentuk crescendo yang memenuhi setiap sudut alun-alun dengan suara yang begitu indah hingga terasa menyakitkan, enam penari di belakangnya mulai bergerak.
Kipas-kipas terbuka secara bersamaan.
Enam kipas membentang di udara dalam satu gerakan yang sinkron, kain-kain sutra yang dilukis dengan gambar-gambar indah itu berkibar seperti sayap-sayap kupu-kupu raksasa yang baru saja membuka sayapnya untuk pertama kali. Bunyi kipas-kipas yang terbuka terdengar seperti hembusan napas panjang, seperti desah angin yang melewati celah-celah batu di puncak gunung.
Penari pertama, yang mengenakan kimono biru langit dan membawa kipas bergambar gunung dan awan, melangkah maju dari formasinya. Tubuhnya berputar dengan anggun, kipasnya mengayun di udara membentuk lengkungan-lengkungan yang mengikuti alur melodi koto. Setiap gerakannya mengalir tanpa putus, dari satu pose ke pose berikutnya, seperti air yang mengalir melewati batu-batu di sungai, selalu menemukan jalan, tidak pernah terhenti.
Penari kedua menyusul, kimono hijau daunnya bergoyang-goyang mengikuti gerakan tubuhnya yang luwes. Kipas bergambar sungai dan ikan di tangannya berputar-putar dengan kecepatan yang terkontrol, kadang terbuka lebar memperlihatkan seluruh gambarnya, kadang setengah tertutup menyembunyikan sebagian, menciptakan permainan lihat-dan-sembunyi yang memikat mata.
Satu per satu, penari-penari itu melangkah maju dari posisi mereka dan bergabung dalam tarian. Kimono ungu tua berputar berdampingan dengan kimono kuning keemasan. Kipas bergambar bulan dan bintang melayang di atas kipas bergambar bunga-bunga yang bermekaran. Setiap penari bergerak secara individual namun terhubung satu sama lain oleh irama yang sama, melodi yang sama, napas yang sama.
Warga-warga Shizuoka terpaku.
Mereka belum pernah melihat pertunjukan seperti ini. Di pemukiman terpencil mereka, hiburan terbatas pada nyanyian-nyanyian sederhana di kedai sake dan tarian-tarian rakyat di festival-festival musiman. Apa yang mereka saksikan sekarang adalah sesuatu yang sama sekali berbeda. Ini adalah seni yang berada di tingkat yang lebih tinggi, seni yang biasanya hanya bisa dinikmati oleh bangsawan-bangsawan di istana-istana Heian-Kyo, seni yang membutuhkan keahlian bertahun-tahun untuk dikuasai dan seumur hidup untuk disempurnakan.
Melodi koto berubah. Dari lembut dan penuh kerinduan, nada-nadanya beralih menjadi lebih cepat, lebih bersemangat, lebih hidup. Jari-jari Jorogumo menari di atas senar-senar dengan kecepatan yang luar biasa, setiap petikan menghasilkan dentingan yang tajam dan jelas, seperti tetesan-tetesan hujan yang jatuh di atas permukaan kolam pada hari pertama musim panas.
Para penari mengikuti perubahan itu dengan mulus. Gerakan-gerakan mereka menjadi lebih cepat, lebih dinamis, lebih penuh energi. Kipas-kipas mereka berputar-putar di udara dengan kecepatan yang membuat gambar-gambar di permukaannya menjadi garis-garis warna yang berputar-putar seperti kembang api. Kaki-kaki mereka melangkah dan berputar dengan ketepatan yang menyerupai jarum jam, setiap langkah mendarat di tanah pada hitungan yang persis sama dengan petikan senar koto.
Penari dengan kimono merah muda melakukan putaran tiga ratus enam puluh derajat yang memukau, lengan-lengannya terentang lebar dengan kipas bergambar burung-burung terbang di tangan kanannya. Kipas itu berputar di ujung jari-jarinya seperti baling-baling yang ditiup angin, menciptakan ilusi bahwa burung-burung di gambar itu benar-benar terbang meninggalkan kipas dan menari-nari di udara.
Penari dengan kimono putih salju bergerak dengan kelembutan yang kontras dengan energi penari-penari lainnya. Kipas bergambar kupu-kupu di tangannya membuka dan menutup dengan irama yang pelan dan teratur, seperti sayap kupu-kupu yang bernapas. Setiap kali kipas itu terbuka, tubuh penari itu condong ke satu sisi dengan gerakan yang begitu halus hingga terlihat seperti tangkai bunga yang ditiup angin.
Keenam penari itu membentuk formasi-formasi yang berubah-ubah. Kadang mereka membentuk lingkaran, berputar mengelilingi satu sama lain dengan kipas-kipas yang terangkat tinggi di atas kepala. Kadang mereka membentuk dua baris yang berhadapan, kipas-kipas mereka saling menyentuh di udara menciptakan jembatan-jembatan sutra yang sesaat terbentuk dan sesaat kemudian menghilang. Kadang mereka membentuk bintang, tubuh-tubuh mereka menjadi enam titik yang memancar dari pusat yang sama, kipas-kipas mereka membentang ke segala arah seperti kelopak-kelopak bunga raksasa yang mekar.
Seorang pedagang yang berdiri di depan kedainya menjatuhkan barang-barang dagangannya tanpa dia sadari. Mulutnya terbuka, matanya tidak berkedip, seluruh perhatiannya tersedot oleh pertunjukan yang terjadi di depannya.
Anak-anak yang tadinya bersembunyi di balik kaki orang tua mereka kini melangkah maju, ditarik oleh kekuatan pertunjukan yang tidak bisa mereka tolak. Mata-mata kecil mereka berbinar-binar, mulut-mulut mereka membentuk lingkaran-lingkaran kecil yang takjub. Beberapa dari mereka mulai bergoyang-goyang mengikuti irama, tubuh-tubuh mungil mereka bergerak dengan cara yang tidak terkoordinasi namun penuh dengan kegembiraan yang murni.
Jorogumo merasakan perhatian mereka semua. Setiap pasang mata yang tertuju padanya, setiap napas yang tertahan, setiap detak jantung yang berubah iramanya mengikuti melodi kotonya. Dia merasakan semuanya melalui getaran-getaran halus yang merambat di udara, melalui benang-benang sensorik tak terlihat yang telah dia sebar di sekitar alun-alun sejak pertama kali dia duduk di bawah pohon ek.
Mereka semua sudah masuk ke dalam jaringnya.
Melodi koto mencapai bagian yang paling intens. Jari-jari Jorogumo bergerak dengan kecepatan yang mustahil, memetik senar-senar itu dengan presisi yang melampaui batas kemampuan manusia. Nada-nada yang keluar bertumpuk-tumpuk di udara, berlapis-lapis, membentuk dinding suara yang menyelubungi seluruh alun-alun seperti kepompong sutra yang menutupi mangsanya.
Para penari bergerak semakin cepat. Kipas-kipas mereka berkibar-kibar di udara seperti bendera-bendera perang yang dikibarkan di tengah badai. Kimono-kimono mereka berputar-putar, warna-warna yang berbeda bercampur menjadi spiral-spiral yang memukau. Kaki-kaki mereka mengetuk-ngetuk tanah dengan irama yang semakin cepat, menciptakan perkusi alami yang menyatu dengan melodi koto.
Lalu, tiba-tiba, segalanya berhenti.
Jorogumo mengangkat jari-jarinya dari senar koto. Nada terakhir bergema di udara selama beberapa detik sebelum menghilang, ditarik masuk ke dalam kesunyian seperti riak air yang perlahan-lahan lenyap di permukaan kolam.
Enam penari membeku secara bersamaan di posisi terakhir mereka. Kipas-kipas mereka terbuka lebar, tubuh-tubuh mereka membentuk pose-pose yang anggun dan dramatis, seperti patung-patung hidup yang ditangkap di puncak gerakan mereka dan dibekukan oleh waktu.
Kesunyian yang mengikutinya terasa seperti benda padat yang bisa diraba. Seluruh alun-alun membisu. Tidak ada yang bergerak. Tidak ada yang bernapas. Selama beberapa detik yang terasa seperti jam-jam, dunia berhenti berputar.
Lalu tepuk tangan pecah.
Satu orang bertepuk tangan. Lalu dua. Lalu sepuluh. Lalu seluruh alun-alun berguncang oleh tepuk tangan dan sorakan yang meledak-ledak seperti bendungan yang jebol. Orang-orang berteriak, bersiul, menghentakkan kaki-kaki mereka di tanah. Anak-anak melompat-lompat kegirangan. Bahkan para tetua yang biasanya menjaga martabat mereka dengan ketat bertepuk tangan dengan wajah-wajah yang berseri-seri.
“LUAR BIASA!” seseorang berteriak.
“MAINKAN LAGI! MAINKAN LAGI!”
“BELUM PERNAH AKU MENDENGAR MUSIK SEINDAH ITU!”
Jorogumo membungkuk dengan anggun, senyumnya merekah di wajah Ayumi yang cantik. “Terima kasih banyak,” dia berkata dengan suara yang lembut dan rendah hati. “Kalian terlalu baik.”
Warga-warga mulai mendekat. Keraguan dan kewaspadaan yang tadinya menahan mereka di pinggir alun-alun kini menguap seperti embun pagi yang terkena sinar matahari. Mereka mengelilingi Jorogumo dan penari-penarinya, wajah-wajah mereka dipenuhi senyuman dan rasa kagum yang tulus.
“Dari mana kau belajar bermain koto seperti itu, Ayumi-san?” seorang wanita bertanya, matanya masih berkaca-kaca karena terharu.
“Ibuku mengajariku,” Jorogumo menjawab. Kalimat itu bukan kebohongan sepenuhnya. Ibunya memang mengajarinya banyak hal, termasuk kesabaran dan ketelitian yang dibutuhkan untuk menguasai seni apa pun. “Sejak aku masih sangat kecil, dia selalu berkata bahwa musik adalah jembatan yang menghubungkan hati-hati yang terpisah.”
“Ibumu pasti wanita yang bijaksana,” wanita itu tersenyum.
“Ya,” Jorogumo menjawab, dan untuk sesaat, senyumnya menyimpan kesedihan yang nyata. “Ya, dia sangat bijaksana.”
“Ayumi-san,” seorang pria tua mendekatinya. Ini adalah pria yang sama yang pertama kali berteriak meminta Jorogumo bermain. Wajah keriputnya berseri-seri, matanya yang biasanya redup oleh kekhawatiran kini berbinar dengan keceriaan yang sudah lama hilang. “Apakah kau dan teman-temanmu bermaksud tinggal di pemukiman kami untuk beberapa waktu?”
“Kalau kalian tidak keberatan,” Jorogumo menjawab dengan nada rendah hati. “Kami sebenarnya sedang dalam perjalanan ke utara, namun perjalanannya masih panjang dan kami membutuhkan tempat untuk beristirahat. Kalau kami boleh tinggal beberapa hari, kami akan dengan senang hati mempersembahkan pertunjukan setiap hari untuk kalian.”
“Tentu saja!” pria tua itu menjawab tanpa ragu. “Tentu saja kalian boleh tinggal! Kau dan teman-temanmu sudah memberikan kebahagiaan kepada kami hari ini. Itu lebih berharga dari yang bisa kau bayangkan.”
Tawaran-tawaran mengalir dari segala penjuru. Seorang warga menawarkan rumah kosong di ujung pemukiman sebagai tempat tinggal sementara. Seorang lagi menawarkan makanan dan minuman. Yang lain menawarkan kain dan peralatan mandi. Semua orang ingin memberikan sesuatu kepada gadis cantik yang telah membawa cahaya ke hari-hari gelap mereka.
Jorogumo menerima semua tawaran itu dengan kerendahan hati dan rasa terima kasih yang sempurna. Dia tersenyum kepada semua orang, membungkuk kepada semua orang, mengucapkan kata-kata yang manis dan menyentuh hati kepada semua orang.
Dan di balik senyum Ayumi yang hangat, di balik mata-mata cokelat gelap yang ramah, di balik suara yang lembut dan tawa yang riang, Jorogumo mengamati.
Dia mengamati tata letak pemukiman dari dalam. Jarak-jarak antara rumah-rumah. Posisi-posisi api unggun. Titik-titik buta di pertahanan mereka yang tidak terlihat dari luar. Jumlah penjaga dan jadwal pergantian mereka. Dia mencatat semuanya di dalam pikirannya dengan ketelitian dan ketepatan seekor laba-laba yang memetakan setiap simpul di jaringnya.
Dia juga mengamati orang-orangnya. Siapa yang kuat dan siapa yang lemah. Siapa yang waspada dan siapa yang mudah percaya. Siapa yang memimpin dan siapa yang mengikuti. Siapa yang masih menyimpan keraguan tentang kehadirannya dan siapa yang sudah sepenuhnya terjerat pesona Ayumi.
Kenshiro tidak ada di antara penonton.
Jorogumo menyadari ketidakhadiran itu. Pria yang lolos dari perburuan pertamanya, pria yang menyebarkan namanya ke seluruh Shizuoka, pria yang pernah melihat wajah aslinya di permukaan kolam. Kenshiro adalah satu-satunya manusia di pemukiman ini yang mungkin bisa mengenali sesuatu yang tidak benar tentang Ayumi. Sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh mata-mata yang tidak pernah bertatapan langsung dengan mata-mata emas Jorogumo.
Jorogumo membuat catatan mental untuk mengawasi Kenshiro dengan lebih seksama.
Sore hari, setelah pertunjukan selesai dan warga-warga mulai kembali ke rumah-rumah mereka dengan langkah-langkah yang lebih ringan dan senyuman-senyuman yang lebih lebar dari yang pernah mereka tunjukkan selama berminggu-minggu, Jorogumo duduk sendirian di rumah kosong yang ditawarkan kepadanya.
Rumah itu kecil dan sederhana, dengan satu ruangan utama dan satu dapur kecil. Dinding-dinding kayunya tipis dan sudah mulai lapuk di beberapa bagian. Futon yang disediakan oleh warga sudah tua namun bersih, dan bantal-bantal yang menyertainya berbau bunga lavender yang dikeringkan.
Enam boneka penarinya berdiri berjajar di sudut ruangan, kipas-kipas mereka terlipat rapi di tangan masing-masing, mata-mata batu mereka menatap ke kekosongan. Tanpa kendali Jorogumo, mereka hanyalah patung-patung sutra yang indah namun tak bernyawa.
Jorogumo meletakkan kotonya di atas meja rendah dan menatap keluar melalui jendela. Matahari sore bersinar keemasan di atas atap-atap rumah, melemparkan bayangan-bayangan panjang di jalan-jalan tanah yang sepi. Seorang anak laki-laki berlari melewati jendela, mengejar kucing hitam besar yang membawa ikan curian di mulutnya. Tawa anak itu bergema di udara, ringan dan tanpa beban.
Jorogumo menatap anak itu hingga sosoknya menghilang di balik tikungan jalan.
Anak itu mengingatkannya pada Shigeru.
Jorogumo mengepalkan tangannya di atas meja. Kuku-kuku jarinya yang menyerupai kuku manusia menekan permukaan kayu, meninggalkan bekas-bekas bulan sabit yang dalam.
Dia tidak boleh lupa. Tidak boleh membiarkan kehangatan dan keramahan mereka melunturkan tekadnya. Tidak boleh membiarkan tawa anak-anak dan senyuman orang-orang tua dan kebaikan hati yang mereka tunjukkan kepadanya menembus dinding-dinding kebencian yang sudah dia bangun selama berminggu-minggu.
Mereka manusia. Mereka semua manusia. Dan manusia yang membunuh anak-anaknya juga pernah tersenyum dan tertawa dan menunjukkan kebaikan hati sebelum dia mengangkat pedangnya.
“Ini hanya permulaan,” Jorogumo berbisik pada dirinya sendiri, suaranya datar dan dingin di ruangan yang sunyi. “Biarkan mereka percaya pada Ayumi. Biarkan mereka membuka pintu-pintu mereka. Biarkan mereka menurunkan pertahanan mereka.”
Jorogumo menutup matanya dan menyandarkan punggungnya ke dinding.
Di kegelapan di balik kelopak matanya, wajah-wajah anak-anaknya muncul. Kyo. Shigeru. Koji. Mereka tersenyum kepadanya, senyum-senyum yang sama yang selalu mereka tunjukkan ketika mereka masih hidup. Dan kemudian senyum-senyum itu menghilang, digantikan oleh kegelapan yang tebal dan berat dan tak berujung.
Jorogumo membuka matanya.
Mata-mata itu bukan lagi cokelat gelap.
Selama sesaat yang sangat singkat, sebelum dia mengendalikannya kembali, mata-mata itu berkilat emas di kegelapan ruangan.
Emas yang menyimpan dendam.
Emas yang menyimpan rencana.
Emas yang menyimpan kematian.
Dan di luar sana, di pemukiman yang tidak tahu bahwa predator terbesar mereka sudah bersarang di tengah-tengah mereka, warga-warga Shizuoka menutup hari dengan senyuman di bibir-bibir mereka dan harapan baru di hati-hati mereka. Harapan yang dibawa oleh seorang gadis cantik bernama Ayumi yang memainkan koto dengan indah dan memiliki enam penari kipas yang luar biasa.
Mereka tidak tahu bahwa gadis itu adalah jaring terbesar yang pernah ditenun Jorogumo.
Jaring yang mereka masuki dengan sukarela, dengan senyuman, dengan tepuk tangan.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!