Kabar tentang Ayumi menyebar lebih cepat dari api yang menjalar di padang rumput kering.
Dalam tiga hari sejak pertunjukan pertamanya di alun-alun Shizuoka, nama Ayumi sudah dikenal oleh setiap telinga di pemukiman itu dan bahkan melampaui batas-batasnya. Pedagang-pedagang yang datang dari desa-desa tetangga membawa cerita tentang gadis cantik yang memainkan koto dengan keahlian yang melampaui musisi-musisi istana, dan tentang enam penari misterius yang muncul dari balik punggungnya seperti kelopak-kelopak bunga yang mekar dari tangkai yang sama.
Cerita-cerita itu semakin berwarna setiap kali diceritakan ulang. Ada yang mengatakan bahwa jari-jari Ayumi tidak menyentuh senar koto, namun senar-senar itu bergetar sendiri mengikuti gerakan tangannya di udara. Ada yang mengatakan bahwa enam penari itu sebenarnya adalah roh-roh yang dipanggil oleh musik Ayumi dari alam lain. Ada yang mengatakan bahwa siapa pun yang mendengar nyanyian Ayumi akan melupakan semua kesedihan dan rasa sakitnya, setidaknya untuk sementara waktu.
Yang terakhir itu tidak sepenuhnya salah.
Setiap malam, Ayumi tampil di alun-alun di bawah pohon ek tua. Setiap malam, warga-warga berkumpul lebih banyak dari malam sebelumnya. Setiap malam, koto itu berdenting, nyanyian itu mengalun, dan enam penari itu menari dengan kipas-kipas mereka yang berkibar-kibar di udara malam. Dan setiap malam, untuk beberapa saat yang singkat namun berharga, penduduk Shizuoka melupakan bahwa mereka hidup di bawah bayang-bayang siluman laba-laba yang memburu mereka satu per satu.
Ironis, mengingat siluman itu sedang berdiri di depan mereka, tersenyum dan memainkan koto.
Di sebelah timur pemukiman Shizuoka, terletak sebuah kediaman yang ukurannya sepuluh kali lipat dari rumah-rumah warga biasa. Kediaman itu dikelilingi oleh pagar batu yang tinggi dan kokoh, dengan gerbang kayu besar yang dijaga oleh dua orang pria bertubuh kekar yang berdiri tegak seperti patung-patung penjaga kuil. Di balik pagar itu, taman-taman yang tertata rapi mengelilingi bangunan utama yang terdiri dari beberapa sayap yang dihubungkan oleh koridor-koridor kayu beratap. Kolam ikan koi yang jernih membentang di halaman depan, permukaannya ditaburi kelopak-kelopak bunga yang jatuh dari pohon-pohon plum yang tumbuh di tepiannya. Lentera-lentera batu berjajar di sepanjang jalan setapak yang menghubungkan gerbang dengan pintu utama, setiap malam menyala dengan cahaya yang hangat dan mengundang.
Inilah kediaman Komamura Genji.
Genji adalah saudagar terkaya di prefektur Shizuoka. Bisnisnya beragam, dari perdagangan kain sutra hingga penjualan rempah-rempah dari luar negeri, namun yang paling terkenal dan paling menguntungkan adalah restoran sushinya yang terletak bersebelahan dengan kediaman utamanya. Restoran itu dikenal hingga ke kota-kota tetangga, menarik pengunjung-pengunjung dari berbagai kalangan yang datang untuk mencicipi sushi yang dikatakan sebagai yang terbaik di seluruh wilayah timur Jepang.
Genji sendiri adalah pria berusia empat puluh lima tahun dengan tubuh yang tegap namun tidak gemuk, dibalut dalam kimono-kimono mahal yang selalu berganti setiap hari. Wajahnya berkarakter kuat, dengan rahang yang lebar, hidung yang menonjol, dan mata-mata yang kecil namun tajam seperti mata elang yang mengawasi mangsanya dari ketinggian. Rambutnya yang mulai beruban di pelipisnya disisir ke belakang dengan rapi, diikat dengan tali sutra berwarna emas. Kumis tipisnya yang terpangkas rapi memberikan kesan seorang pria yang memperhatikan penampilannya dengan seksama.
Namun di balik penampilan saudagar yang rapi dan berwibawa itu, Genji adalah pria yang kesepian. Istrinya meninggal dunia lima tahun lalu karena penyakit yang tidak bisa disembuhkan oleh tabib mana pun, dan sejak saat itu, Genji tidak pernah lagi memiliki pendamping. Dia mengisi kekosongan itu dengan bisnis, dengan seni, dengan apa pun yang bisa mengalihkan perhatiannya dari ruang kosong di sisi ranjangnya yang selalu dingin di malam hari.
Genji sangat mencintai seni. Musik, tarian, lukisan, puisi. Dinding-dinding kediamannya dipenuhi oleh lukisan-lukisan karya seniman-seniman terkenal dari Heian-Kyo. Rak-rak kayunya dipenuhi oleh gulungan-gulungan puisi dan naskah-naskah drama. Dan setiap malam, sebelum tidur, dia memainkan shakuhachi-nya sendirian di teras belakang rumahnya, melodi-melodi yang sedih dan indah yang mengalun ke kegelapan malam tanpa ada yang mendengarkan.
Selain kekayaan dan kecintaannya pada seni, Genji memiliki enam orang anak buah yang selalu berada di sisinya. Mereka bukan pelayan biasa. Mereka adalah samurai-samurai tak bertuan, ronin-ronin yang kehilangan tuan mereka dan memilih untuk menjual keahlian pedang mereka kepada siapa pun yang mampu membayar. Genji mempekerjakan mereka sebagai pengawal pribadi, dan sebagai imbalannya, mereka mendapatkan atap di atas kepala, makanan tiga kali sehari, dan bayaran yang cukup untuk hidup dengan nyaman.
Yang pertama adalah Hatsuki. Dia yang paling tua di antara keenamnya, berusia sekitar empat puluh tahun, dengan tubuh besar dan berotot yang menceritakan kisah tentang puluhan pertempuran yang dimenangkan. Wajahnya kasar dan penuh bekas luka, namun matanya menyimpan kehangatan yang tidak terduga. Hatsuki adalah pemimpin tidak resmi dari keenam ronin itu, yang paling dihormati dan yang paling dipercaya oleh Genji. Dia juga yang paling blak-blakan, tidak pernah segan untuk mengatakan apa yang ada di pikirannya meskipun kadang kata-katanya membuat Genji merasa malu.
Yang kedua adalah Negi. Tubuhnya ramping dan lincah, dengan gerakan-gerakan yang cepat dan efisien. Wajahnya muda untuk usianya yang tiga puluh lima tahun, dengan fitur-fitur halus yang hampir bisa disebut tampan. Negi adalah yang paling diplomatis di antara keenamnya, yang selalu dikirim Genji untuk urusan-urusan yang membutuhkan kelembutan dan persuasi alih-alih kekuatan.
Yang ketiga adalah Akagami. Namanya berasal dari rambutnya yang berwarna merah gelap, warna yang sangat jarang ditemui di Jepang. Tubuhnya sedang, tidak besar dan tidak kecil, namun setiap otot di tubuhnya terlatih dengan sempurna. Akagami pendiam dan jarang berbicara, namun ketika dia berbicara, kata-katanya selalu tepat sasaran.
Yang keempat adalah Mado. Dia yang paling muda, baru berusia dua puluh empat tahun, dengan wajah yang masih polos dan mata-mata yang penuh semangat. Mado belum memiliki pengalaman pertempuran yang banyak, namun kecepatannya dengan pedang melebihi ronin-ronin yang jauh lebih berpengalaman darinya.
Dan yang kelima adalah Ozai. Pria berusia tiga puluh tahun dengan tubuh yang kurus dan tinggi. Mata-matanya yang sipit selalu menyipit lebih sempit lagi, memberikan kesan bahwa dia selalu mengantuk atau selalu merencanakan sesuatu. Yang mana dari kedua kesan itu yang benar, tidak ada yang tahu pasti.
Malam itu, Genji duduk di teras belakang kediamannya, shakuhachi di tangannya terlupakan, matanya menatap ke kegelapan taman tanpa benar-benar melihat apa pun. Hatsuki berdiri di belakangnya, bersandar di tiang kayu dengan kedua tangan disilangkan di dada.
“Bos,” Hatsuki berkata dengan nada kasualnya yang biasa. “Kau melamun lagi.”
“Aku tidak melamun,” Genji menjawab tanpa menoleh. “Aku berpikir.”
“Berpikir dan melamun itu sama saja kalau yang kau pikirkan tidak menghasilkan uang,” Hatsuki mendengus.
Genji tidak menjawab. Dia meletakkan shakuhachi-nya di pangkuannya dan menghela napas panjang.
“Hatsuki,” Genji berkata setelah keheningan yang cukup lama. “Apa kau pernah mendengar tentang penyanyi baru yang tampil di alun-alun?”
“Penyanyi?” Hatsuki mengangkat alis tebalnya. “Oh, kau bicara tentang gadis yang membawa koto itu? Yang katanya memiliki penari-penari yang muncul entah dari mana?”
“Ya, dia.”
“Aku belum melihatnya sendiri,” Hatsuki mengangkat bahu. “Tapi anak-anak di bawah semua membicarakannya. Negi bilang musik yang dimainkannya luar biasa. Mado bilang penari-penarinya cantik-cantik sekali. Ozai bilang...” Hatsuki berhenti dan terkekeh. “Ozai tidak bilang apa-apa. Dia cuma bilang ‘hmm’ seperti biasa.”
“Aku ingin melihatnya,” Genji berkata.
Hatsuki menatap Genji selama beberapa saat. Lalu senyum lebar merekah di wajahnya yang kasar.
“Akhirnya,” Hatsuki berkata. “Ada sesuatu yang menarik perhatianmu selain laporan keuangan dan shakuhachi.”
“Bukan begitu,” Genji mengelak, namun telinganya sedikit memerah. “Aku ini saudagar yang memiliki restoran. Kalau ada penghibur yang berbakat, mungkin aku bisa mempekerjakannya untuk tampil di restoranku. Itu akan menarik lebih banyak pengunjung.”
“Tentu, tentu,” Hatsuki mengangguk-angguk dengan seringai yang membuat Genji semakin salah tingkah. “Ini semata-mata urusan bisnis. Tidak ada hubungannya dengan fakta bahwa semua orang bilang gadis itu sangat cantik.”
“Hatsuki.”
“Baik, baik. Jadi kau mau aku yang pergi melihatnya?”
Genji menggeleng. “Bukan kau. Kirim Negi. Dia lebih pandai bicara. Suruh dia menonton pertunjukan gadis itu dan sampaikan tawaranku. Kalau dia mau, aku ingin dia menjadi penyanyi tetap di restoranku. Bayarannya bisa kita bicarakan.”
“Negi, hm?” Hatsuki mengangguk. “Pilihan yang tepat. Kalau aku yang pergi, mungkin aku malah menakut-nakutinya dengan wajahku ini.”
Genji tersenyum tipis. “Pergilah. Sampaikan ke Negi sekarang.”
Hatsuki membungkuk sedikit dan berbalik pergi. Langkah-langkahnya yang berat bergema di koridor kayu, semakin menjauh, semakin samar, hingga akhirnya lenyap.
Genji kembali menatap kegelapan taman. Jari-jarinya memainkan shakuhachi di pangkuannya tanpa sadar, memutar-mutarnya pelan seperti anak kecil yang memainkan mainan favoritnya.
“Penyanyi berbakat,” Genji bergumam pada dirinya sendiri. “Ini hanya urusan bisnis.”
Bahkan dia sendiri tidak percaya dengan kata-katanya.
Keesokan malamnya, Negi berdiri di pinggir kerumunan yang berkumpul di alun-alun Shizuoka.
Dia mengenakan kimono biru gelap yang sederhana namun terbuat dari kain berkualitas tinggi, dengan hakama abu-abu dan waraji yang bersih. Pedang katananya tersembunyi di balik jubah perjalanan yang tersampir di bahunya, tidak terlihat namun selalu dalam jangkauan tangan. Wajahnya yang tampan dan ramah membuatnya mudah berbaur dengan kerumunan, tidak menarik perhatian yang berlebihan namun juga tidak terlalu biasa untuk diabaikan.
Negi sudah tiba sejak sebelum pertunjukan dimulai. Dia memilih posisi yang strategis, cukup dekat untuk melihat dan mendengar dengan jelas, namun cukup jauh untuk mengamati tanpa terlihat mengamati. Kebiasaan seorang samurai yang terlatih, selalu waspada, selalu memperhatikan, selalu siap.
Ketika Ayumi duduk di bawah pohon ek dan memulai permainan kotonya, Negi merasakan sesuatu yang tidak dia perkirakan.
Musiknya... merasuk.
Negi bukan orang yang mudah terpengaruh oleh seni. Dia menghargai musik dan tarian seperti pria budaya pada umumnya, namun dia tidak pernah merasa terhanyut oleh keduanya. Musik adalah musik. Tarian adalah tarian. Menyenangkan untuk dinikmati, namun tidak lebih dari itu.
Namun musik yang dimainkan Ayumi berbeda.
Nada-nada koto itu tidak hanya masuk melalui telinganya. Mereka menembus lebih dalam, melewati tulang-tulang tengkoraknya, meresap ke dalam otaknya, dan kemudian turun ke dadanya, ke tempat di mana dia menyimpan semua hal-hal yang tidak pernah dia bicarakan kepada siapa pun. Kerinduan pada kampung halaman yang sudah tidak ada. Rasa bersalah karena meninggalkan keluarga yang tidak bisa dia lindungi. Kesepian yang dia sembunyikan di balik senyum ramah dan kata-kata diplomatis.
Negi mengedipkan matanya berkali-kali. Tangannya yang terlatih untuk memegang pedang dengan mantap gemetar sedikit di sisinya.
Lalu enam penari muncul dari balik punggung Ayumi, dan Negi lupa untuk bernapas.
Mereka muncul begitu saja. Tidak berjalan dari belakang. Tidak melangkah dari sisi. Mereka muncul dari balik tubuh Ayumi seperti bayangan-bayangan yang tiba-tiba memiliki substansi, seperti mimpi yang tiba-tiba menjadi nyata. Satu detik tidak ada siapa pun di belakang Ayumi, detik berikutnya enam wanita cantik sudah berdiri di sana dengan kipas-kipas di tangan mereka, siap menari.
Negi menyipitkan matanya. Akal sehatnya meneriakkan bahwa ada sesuatu yang tidak wajar tentang kemunculan itu. Manusia tidak muncul dari ketiadaan. Manusia membutuhkan ruang dan waktu untuk bergerak dari satu titik ke titik lain. Namun keenam penari itu seolah-olah melewati hukum itu dengan mudahnya, seperti air yang melewati celah-celah batu tanpa perlu meminta izin.
Namun ketika penari-penari itu mulai menari, ketika kipas-kipas mereka membentang di udara dan tubuh-tubuh mereka bergerak dengan keanggunan yang memukau, Negi melupakan kecurigaannya. Pertunjukan itu terlalu indah untuk diragukan. Terlalu sempurna untuk dicemaskan.
Pertunjukan berlangsung selama hampir satu jam. Ayumi memainkan beberapa lagu yang berbeda, dari yang lembut dan penuh kerinduan hingga yang cepat dan bersemangat. Setiap lagu diiringi oleh tarian yang berbeda dari enam penarinya, kipas-kipas mereka membentuk pola-pola yang berubah-ubah mengikuti suasana musik. Dan di antara lagu-lagu itu, Ayumi bernyanyi. Suaranya jernih dan murni, mengalun di udara malam seperti sutra yang direntangkan di antara dua pohon, bergetar di bawah sentuhan angin.
Ketika pertunjukan selesai dan nada terakhir koto menghilang ke dalam kesunyian, seluruh alun-alun meledak dalam tepuk tangan yang gemuruh. Orang-orang berteriak, berseru, menghentakkan kaki mereka di tanah. Anak-anak melompat-lompat dan bertepuk tangan dengan wajah-wajah yang berseri-seri.
Ayumi berdiri dan membungkuk dengan anggun. Senyumnya merekah, hangat dan tulus, atau setidaknya terlihat seperti itu.
“Terima kasih banyak, semuanya,” Ayumi berkata dengan suara yang lembut namun cukup keras untuk didengar oleh seluruh kerumunan. “Namaku Ayumi. Aku sangat senang bisa bermain untuk kalian semua malam ini.”
Tepuk tangan semakin keras. Nama Ayumi bergema di mulut-mulut orang yang mengucapkannya berulang-ulang, seperti mantra yang semakin kuat setiap kali diucapkan.
“AYUMI! AYUMI! AYUMI!”
Jorogumo tersenyum di balik wajah Ayumi. Di dalam dadanya, di tempat yang tidak bisa dijangkau oleh cahaya lentera atau kehangatan tepuk tangan, kegelapan yang dingin bergerak-gerak seperti ular yang melingkar di sarangnya.
Mereka semua menyebut namanya.
Mereka semua mencintainya.
Dan tidak satu pun dari mereka yang tahu bahwa mereka mencintai kematian mereka sendiri.
Setelah kerumunan mulai bubar, Negi mendekati Ayumi.
Dia menunggu hingga warga-warga terakhir yang ingin berbicara dengan Ayumi pergi, lalu melangkah maju dengan senyum ramahnya yang biasa dan membungkuk sopan.
“Ayumi-san,” Negi berkata, suaranya tenang dan bersahabat. “Pertunjukanmu malam ini sangat luar biasa. Aku belum pernah mendengar permainan koto seindah itu sepanjang hidupku.”
Ayumi menatap Negi. Mata-mata cokelat gelapnya menyapu pria di depannya dari ujung kepala hingga ujung kaki dalam sepersekian detik, menilai, menganalisis, menyimpulkan. Samurai. Terlatih. Sopan namun waspada. Bukan ancaman langsung, namun tidak boleh diremehkan.
“Terima kasih,” Ayumi tersenyum. “Kau terlalu memuji. Aku hanya memainkan apa yang kurasakan.”
“Justru itulah yang membuatnya istimewa,” Negi menjawab. “Banyak musisi yang memainkan nada-nada yang benar. Tapi sangat sedikit yang memainkan perasaan yang benar.”
“Kau pandai berkata-kata,” Ayumi tertawa kecil, tawa yang ringan dan merdu yang membuat Negi merasa seolah-olah hari yang panjang dan lelah yang baru dilaluinya tiba-tiba menjadi layak untuk dijalani.
“Aku hanya jujur,” Negi tersenyum. “Tapi sebenarnya, aku datang malam ini bukan hanya untuk menonton, Ayumi-san. Aku datang membawa pesan dari tuanku.”
“Tuanmu?”
“Komamura Genji-sama. Mungkin kau pernah mendengar namanya. Dia saudagar yang memiliki restoran sushi terbesar di Shizuoka.”
Ayumi memiringkan kepalanya sedikit, gerakan yang terlihat polos dan penuh rasa ingin tahu. “Aku pernah mendengar nama itu dari beberapa warga. Mereka bilang dia orang yang sangat kaya.”
“Genji-sama memang saudagar yang sukses,” Negi mengangguk. “Namun yang lebih penting dari itu, dia adalah pencinta seni yang sejati. Dia sangat menyukai musik, dan kabar tentang penampilanmu sudah sampai ke telinganya. Dia ingin menawarkan sesuatu kepadamu, Ayumi-san.”
“Menawarkan apa?” Ayumi bertanya, matanya sedikit melebar dengan keingintahuan yang terlihat sangat alami.
“Genji-sama ingin mengundangmu untuk menjadi penyanyi tetap di restorannya,” Negi menjelaskan. “Kau akan tampil setiap malam untuk menghibur para pengunjung. Sebagai imbalannya, Genji-sama akan menyediakan tempat tinggal, makanan, dan tentu saja bayaran yang sepadan dengan bakatmu.”
Ayumi terdiam sejenak. Wajahnya menunjukkan ekspresi seseorang yang sedang mempertimbangkan tawaran dengan serius, bibir bawahnya sedikit digigit, dahinya sedikit berkerut. Namun di balik ekspresi itu, di tempat yang tidak bisa dilihat oleh mata Negi atau mata manusia mana pun, Jorogumo sedang tersenyum.
Ini adalah kesempatan.
Restoran saudagar kaya. Banyak pengunjung. Banyak manusia yang datang dan pergi setiap malam. Posisi di tengah-tengah kehidupan pemukiman, bukan di pinggir seperti yang selama ini dia tempati. Akses langsung ke orang-orang berpengaruh di Shizuoka.
Ini adalah jaring yang sempurna.
Dan dia bahkan tidak perlu menenunnya sendiri. Manusia-manusia itu menawarkan jaring ini kepadanya dengan sukarela, dengan senyuman dan tepuk tangan.
“Itu tawaran yang sangat murah hati,” Ayumi berkata setelah jeda yang cukup lama untuk terlihat meyakinkan. “Aku hanya penghibur keliling yang sederhana. Aku tidak yakin aku layak untuk tampil di restoran saudagar yang terhormat.”
“Genji-sama yang memutuskan siapa yang layak,” Negi tersenyum. “Dan berdasarkan apa yang kudengar dan kulihat malam ini, kau lebih dari layak, Ayumi-san.”
Ayumi menatap Negi selama beberapa saat, seolah-olah dia sedang memutuskan nasib hidupnya di titik itu. Matanya yang cokelat gelap berkilat sesaat di bawah cahaya lentera, dan jika Negi memperhatikan lebih seksama, mungkin dia akan melihat bahwa kilatan itu bukan pantulan cahaya lentera.
Namun Negi tidak memperhatikan.
“Baiklah,” Ayumi tersenyum, senyum yang cerah dan penuh harapan. “Aku menerima tawaran Genji-sama. Akan menjadi kehormatan bagiku untuk bermain di restorannya.”
Wajah Negi berseri-seri. “Genji-sama pasti akan sangat senang mendengar ini. Kalau kau tidak keberatan, aku ingin mengantarmu ke restoran sekarang untuk memperkenalkanmu langsung kepada Genji-sama.”
“Tentu saja,” Ayumi mengangguk. “Tunjukkan jalannya, Negi-san.”
Mereka berjalan berdampingan menyusuri jalan-jalan pemukiman yang sudah sepi. Lentera-lentera yang tergantung di depan rumah-rumah memancarkan cahaya kekuningan yang bergoyang-goyang tertiup angin malam, melemparkan bayangan-bayangan mereka yang panjang di jalan tanah. Negi berjalan dengan langkah-langkah ringannya yang biasa, sesekali melirik Ayumi di sampingnya dengan pandangan yang dia usahakan agar tidak terlalu sering.
Ayumi berjalan dengan koto di tangannya, enam boneka penarinya sudah tersembunyi kembali di balik punggungnya, menyusut dan melipat diri menjadi lapisan-lapisan sutra yang tipis dan tak terlihat di balik obi-nya. Langkahnya ringan dan anggun, geta kayunya mengetuk-ngetuk jalan tanah dengan irama yang teratur dan menyenangkan.
“Negi-san,” Ayumi berkata sambil berjalan. “Ceritakan tentang Genji-sama. Seperti apa orangnya?”
“Genji-sama adalah orang yang baik,” Negi menjawab tanpa ragu. “Keras dalam bisnis, tapi lembut di dalam hati. Dia sangat menyukai seni, terutama musik. Setelah istrinya meninggal beberapa tahun lalu, dia menjadi lebih pendiam. Tapi aku yakin kehadiranmu akan membawa keceriaan baru baginya.”
“Istrinya meninggal?” Ayumi menunjukkan ekspresi simpati. “Dia pasti sangat kehilangan.”
“Ya,” Negi mengangguk. “Genji-sama tidak pernah benar-benar pulih dari kehilangan itu. Dia mengisi waktunya dengan pekerjaan dan seni, tapi semua orang bisa melihat bahwa dia kesepian.”
“Kesepian,” Ayumi mengulangi kata itu dengan suara pelan, seolah-olah merasakan bobot kata itu di lidahnya. “Aku mengerti perasaan itu.”
Negi menatap Ayumi sekilas. Ada sesuatu dalam cara Ayumi mengucapkan kalimat itu yang terasa terlalu nyata untuk menjadi basa-basi belaka. Namun Negi tidak memikirkannya terlalu lama. Mereka sudah hampir sampai di kediaman Genji.
Gerbang kediaman Genji terbuka lebar menyambut mereka. Dua penjaga di gerbang menundukkan kepala kepada Negi dan menatap Ayumi dengan kekaguman yang tidak bisa mereka sembunyikan.
Negi mengantar Ayumi menyusuri jalan setapak yang diterangi lentera-lentera batu, melewati kolam ikan koi yang permukaannya berkilau memantulkan cahaya bulan, dan menuju bangunan utama yang pintunya sudah terbuka.
Di dalam, Genji sudah menunggu.
Dia duduk bersila di ruangan utama yang luas, dikelilingi oleh lima anak buahnya yang tersisa. Hatsuki berdiri di belakangnya dengan kedua tangan disilangkan di dada. Akagami duduk di sudut ruangan, matanya yang tajam mengawasi pintu masuk. Mado duduk bersila dengan gelisah, tubuhnya bergerak-gerak kecil karena tidak sabar. Dan Ozai bersandar di dinding dengan mata setengah terpejam, entah mengantuk entah berpikir.
Ketika Ayumi melangkah masuk ke ruangan, semuanya berubah.
Genji yang tadinya duduk dengan ekspresi tenang dan berwibawa mendadak menegakkan punggungnya. Matanya yang kecil melebar, mulutnya sedikit terbuka, dan untuk beberapa detik yang terasa sangat panjang, dia hanya menatap Ayumi tanpa berkedip.
Ayumi berdiri di ambang pintu, dibalut cahaya lentera yang hangat yang memberikan pendar keemasan pada kulit putihnya. Kimono merah tuanya jatuh dengan sempurna di tubuhnya, motif-motif bunga plum emasnya berkilau samar di bawah cahaya. Rambutnya yang hitam legam terurai di punggungnya, beberapa helai jatuh di bahunya dan membingkai wajahnya yang cantik dengan sempurna. Dia tersenyum, senyum yang sederhana dan tulus yang membuat ruangan yang sudah terang terasa semakin terang.
Genji melongo.
Waktu seolah-olah berhenti di ruangan itu. Genji menatap Ayumi, Ayumi menatap Genji, dan kelima ronin menatap Genji yang menatap Ayumi dengan ekspresi-ekspresi yang bervariasi dari geli hingga prihatin.
Keheningan itu dipecahkan oleh Hatsuki.
“Ah, sudahlah, Bos,” Hatsuki berkata dengan nada santai yang sengaja dibuat keras agar semua orang mendengar. “Kau ini karena sudah lama sendiri, sedang butuh wanita, hahaha!”
Ruangan meledak dalam tawa.
Mado tertawa hingga terbatuk-batuk. Akagami menunjukkan senyum tipis yang langka. Ozai membuka matanya sepenuhnya untuk pertama kalinya malam itu dan mengeluarkan dengusan yang mungkin adalah tawanya. Negi menutup mulutnya dengan tangan, berusaha menahan tawa agar tetap sopan.
Dan Ayumi tertawa.
Tawanya riang dan bebas, mengisi ruangan dengan suara yang merdu dan menular. Dia menutup mulutnya dengan ujung jari-jarinya yang lentik, matanya menyipit oleh tawa yang tidak bisa ditahannya, pipinya merona merah muda yang membuatnya terlihat semakin cantik.
Di dalam dirinya, Jorogumo tersenyum dengan cara yang sangat berbeda.
Inilah saatnya. Perang akan dimulai.
Genji berdeham keras, wajahnya merah seperti tomat yang matang. “Ha-Hatsuki! Jaga bicaramu!”
“Aku hanya mengatakan yang semua orang pikirkan, Bos,” Hatsuki mengangkat bahu tanpa rasa bersalah.
“Tidak ada yang memikirkan itu!” Genji berdiri dari duduknya dan membenarkan kimononya yang sedikit berantakan karena gerakan tiba-tibanya. Dia berdeham sekali lagi, menegakkan punggungnya, dan memasang ekspresi yang dia harapkan terlihat berwibawa. “Ehem. Selamat datang di kediamanku, Ayumi-san. Aku Komamura Genji. Aku sudah mendengar banyak tentang penampilanmu yang luar biasa.”
Ayumi membungkuk dengan anggun. “Terima kasih atas undangannya, Genji-sama. Aku sangat tersanjung dengan kebaikanmu.”
“Tolong, duduk,” Genji menunjuk tempat di depannya, tangannya sedikit gemetar meskipun dia berusaha keras untuk menyembunyikannya. “Negi bilang kau bersedia menjadi penyanyi tetap di restoranku. Benarkah itu?”
“Benar, Genji-sama,” Ayumi duduk bersimpuh di depan Genji dengan keanggunan yang membuat setiap gerakan terlihat seperti gerakan tarian. “Kalau kau mengizinkan, aku akan sangat senang bisa bermain di restoranmu setiap malam.”
“Tentu saja aku mengizinkan!” Genji menjawab terlalu cepat, lalu berdeham lagi karena menyadari antusiasmenya yang berlebihan. “Maksudku, tentu saja. Restoranku selalu terbuka untuk seniman-seniman berbakat.”
Hatsuki berdeham keras di belakang Genji, dan Genji melirik anak buahnya itu dengan tatapan membunuh yang tidak mempan sama sekali.
“Kalau begitu,” Ayumi tersenyum. “Bolehkah aku memainkan satu lagu untuk kalian malam ini? Sebagai tanda terima kasihku.”
“Kami akan sangat senang!” Mado yang dari tadi menahan diri akhirnya menyahut, wajahnya berseri-seri. “Benar kan, Bos?”
Genji mengangguk, kali ini dengan senyum yang lebih tenang dan lebih tulus. “Ya. Kami akan sangat senang mendengarnya.”
Ayumi meletakkan kotonya di atas meja rendah yang sudah disiapkan di tengah ruangan. Dia meluruskan punggungnya, menarik napas panjang, dan menutup matanya sejenak. Ketika matanya terbuka kembali, jari-jarinya sudah berada di atas senar-senar koto.
Dan dia mulai bermain.
Lagu yang dimainkannya malam itu berbeda dari lagu-lagu yang dimainkannya di alun-alun. Ini lebih intim, lebih personal, lebih dalam. Nada-nadanya mengalir pelan seperti sungai yang berkelok-kelok di antara bukit-bukit hijau, kadang mempercepat ketika melewati bebatuan, kadang melambat ketika memasuki kolam yang tenang. Melodi itu menceritakan kisah tanpa kata-kata, kisah tentang kehilangan dan kerinduan, tentang keindahan yang fana dan kesakitan yang abadi.
Lalu dari balik punggung Ayumi, enam penari muncul.
Genji tersentak. Hatsuki menegakkan tubuhnya. Akagami meletakkan tangannya di gagang pedang secara refleks. Mado melompat sedikit dari duduknya. Ozai membuka matanya lebar-lebar. Dan Negi, yang sudah pernah melihat kemunculan ini di alun-alun, tetap terperangah untuk kedua kalinya.
Enam wanita cantik berdiri di belakang Ayumi dalam formasi setengah lingkaran, kipas-kipas mereka terbuka lebar, tubuh-tubuh mereka mulai bergerak mengikuti irama koto. Kimono-kimono berwarna-warni mereka berputar-putar, menciptakan pusaran-pusaran warna yang memukau. Kipas-kipas mereka melayang di udara dengan keanggunan yang melampaui batas kemampuan manusia, membentuk pola-pola yang rumit dan indah yang berubah-ubah setiap saat.
Keenam ronin itu terpaku. Mata-mata mereka melekat pada penari-penari itu, mengikuti setiap gerakan, setiap putaran, setiap ayunan kipas dengan intensitas yang biasanya hanya mereka tunjukkan ketika menghadapi musuh di medan pertempuran.
Hatsuki menatap penari berkimono biru langit yang menari dengan keanggunan seorang dewi. Negi tidak bisa mengalihkan pandangannya dari penari berkimono hijau daun yang kipasnya berputar-putar seperti daun yang terbang tertiup angin musim gugur. Akagami, yang biasanya tidak menunjukkan emosi apa pun, menatap penari berkimono ungu tua dengan mata-mata yang sedikit melebar dari biasanya. Mado hampir menjatuhkan cangkir tehnya karena terlalu fokus memperhatikan penari berkimono kuning keemasan yang menari tepat di depannya. Dan Ozai, yang selalu terlihat tidak peduli pada apa pun, menatap penari berkimono putih salju dengan ekspresi yang belum pernah dilihat siapa pun di wajahnya sebelumnya.
Genji sendiri hanya memiliki mata untuk Ayumi. Jari-jarinya yang bergerak di atas senar koto, wajahnya yang tenang dan terpejam setengah, bibirnya yang sedikit terbuka ketika dia bernyanyi dengan suara yang lembut menyertai melodi kotonya. Genji merasakan sesuatu di dalam dadanya yang sudah lama tidak dia rasakan sejak kematian istrinya. Sesuatu yang hangat dan menyakitkan secara bersamaan, seperti matahari pertama musim semi yang menyinari salju terakhir musim dingin.
Pertunjukan berakhir. Enam penari membeku di posisi terakhir mereka, kipas-kipas terbuka lebar, lalu perlahan-lahan mundur ke belakang punggung Ayumi dan menghilang. Satu per satu mereka melangkah di balik tubuh Ayumi dan lenyap, seolah-olah tubuh Ayumi adalah pintu menuju dimensi lain yang tidak bisa dijangkau oleh mata manusia.
Ruangan sunyi selama beberapa saat.
Lalu Genji bertepuk tangan. Pelan pada awalnya, lalu semakin keras, semakin bersemangat. Kelima roninnya mengikuti, tepuk tangan mereka memenuhi ruangan dengan suara yang hangat dan tulus.
“Luar biasa,” Genji berkata, suaranya sedikit serak oleh emosi yang tidak bisa dia sembunyikan. “Benar-benar luar biasa, Ayumi-san.”
Ayumi tersenyum dan membungkuk. “Terima kasih, Genji-sama. Aku senang kalian menikmatinya.”
Dan di balik senyum itu, Jorogumo menghitung.
Tujuh orang laki-laki di ruangan ini. Satu saudagar kaya. Enam samurai bersenjata. Semua sudah masuk ke dalam jaringnya.
Restoran Genji berubah sejak malam itu.
Berita bahwa Komamura Genji merekrut penyanyi berbakat bernama Ayumi untuk tampil setiap malam di restorannya menyebar ke seluruh penjuru Shizuoka dan bahkan melampaui batas-batas prefektur. Pengunjung berdatangan dari mana-mana, dari desa-desa tetangga, dari kota-kota di pesisir, dari pedalaman yang jauh. Mereka datang untuk mencicipi sushi yang terkenal, namun mereka kembali lagi dan lagi karena Ayumi.
Setiap malam, restoran itu dipenuhi oleh pengunjung hingga tidak ada satu kursi pun yang tersisa. Orang-orang yang tidak mendapatkan tempat duduk berdiri di luar, menjulurkan leher-leher mereka melalui jendela-jendela yang terbuka, berusaha menangkap secuil dari pertunjukan yang terjadi di dalam.
Ayumi duduk di panggung kecil yang dibangun Genji khusus untuknya di tengah restoran. Panggung itu diangkat sedikit dari lantai, dihiasi oleh lentera-lentera kertas berwarna merah dan putih yang menggantung di atasnya. Kotonya diletakkan di atas meja rendah berlapis sutra, dan di belakangnya, setiap kali dia bermain, enam penari muncul dan menari dengan kipas-kipas mereka yang memukau.
Uang mengalir ke pundi-pundi Genji lebih deras dari sebelumnya. Pengunjung-pengunjung tidak hanya memesan sushi, mereka memesan sake terbaik, makanan-makanan mahal, dan bahkan membeli oleh-oleh dari toko kecil yang Genji buka di samping restoran khusus untuk memanfaatkan lonjakan pengunjung.
Genji sangat senang. Namun kesenangannya tidak hanya tentang uang.
Setiap malam setelah restoran tutup, Genji dan Ayumi duduk berdua di teras belakang kediaman Genji, ditemani oleh teh hangat dan cahaya bulan. Mereka mengobrol tentang banyak hal, tentang musik dan seni, tentang kehidupan dan kematian, tentang mimpi-mimpi dan penyesalan-penyesalan. Genji menceritakan tentang istrinya yang sudah tiada, tentang rasa kesepian yang menggerogotinya setiap malam. Ayumi mendengarkan dengan penuh perhatian, mengangguk di saat-saat yang tepat, menyentuh tangan Genji dengan jari-jarinya yang lembut ketika kata-katanya tercekat oleh emosi.
Dan Genji, sedikit demi sedikit, jatuh cinta.
Di antara pengunjung-pengunjung yang datang setiap malam ke restoran Genji, ada tiga orang yang perlu diperhatikan secara khusus.
Yang pertama adalah Satoru.
Satoru adalah pria berusia enam puluh tahun namun tubuhnya masih bugar dan tegap seperti pria yang dua puluh tahun lebih muda. Rambutnya yang sudah sepenuhnya putih dipangkas pendek dan rapi, memperlihatkan tengkoraknya yang bulat dan kokoh. Wajahnya persegi dengan rahang yang kuat, hidung yang lebar, dan mata-mata yang kecil namun berkilat-kilat dengan kecerdasan dan kelicikan yang diasah selama puluhan tahun menjalani kehidupan yang keras. Bekas luka panjang melintang di lehernya, peninggalan dari masa mudanya yang penuh kekerasan yang tidak pernah dia ceritakan kepada siapa pun.
Satoru adalah tuan tanah terkaya kedua di Shizuoka setelah Genji. Bisnisnya adalah perdagangan kayu dan batu, bahan-bahan bangunan yang selalu dibutuhkan dan tidak pernah kehilangan nilai. Rumahnya tidak kalah megah dari kediaman Genji, dengan halaman-halaman luas yang dijaga oleh lima orang anak buah yang selalu menunggangi kuda-kuda mereka, siap bergerak kapan saja tuannya memerintahkan.
Satoru duduk di sudut restoran, ditemani oleh satu botol sake terbaik yang bisa ditawarkan oleh restoran Genji. Matanya yang kecil dan licik menatap Ayumi yang sedang bermain koto di panggung dengan tatapan yang tidak bisa disebut sebagai tatapan mengagumi seni. Itu adalah tatapan seorang pria yang melihat sesuatu yang dia inginkan dan sudah mulai merancang cara untuk mendapatkannya.
Kecantikan Ayumi menggugah jiwa muda Satoru yang sudah lama tertidur. Pipi-pipinya yang biasanya kering dan kaku kini merona tipis, dan jari-jarinya yang kasar mengetuk-ngetuk cangkir sake dengan irama yang gelisah.
Satoru menginginkan Ayumi.
Bukan hanya sebagai penyanyi. Bukan hanya sebagai penghibur. Satoru menginginkan Ayumi sepenuhnya, untuk dirinya sendiri, di rumahnya sendiri, di bawah kendalinya sendiri. Namun Satoru adalah pria yang sabar. Dia tidak menjadi orang terkaya kedua di Shizuoka dengan bertindak tergesa-gesa. Dia akan menunggu. Mengamati. Mencari celah. Dan ketika waktunya tepat, dia akan merebut Ayumi dari genggaman Genji.
Yang kedua adalah Matsumoto Takeda.
Takeda adalah dokter muda berusia dua puluh delapan tahun, dengan wajah yang tampan dan tubuh yang ramping. Rambutnya hitam dan tebal, ditata dengan rapi ke belakang memperlihatkan dahinya yang lebar dan cerdas. Matanya besar dan gelap, menyimpan kehangatan dan kebaikan yang tulus. Kulitnya bersih dan terawat, tangan-tangannya halus dan terlatih, tangan-tangan seorang penyembuh yang terbiasa menyentuh luka dan memperbaiki yang rusak.
Takeda berasal dari keluarga terkaya di prefektur Shizuoka, keluarga Matsumoto yang telah menjadi dokter selama tujuh generasi berturut-turut. Ayahnya, Yamada, adalah dokter paling dihormati di seluruh wilayah, dan Takeda mewarisi keahlian dan reputasi ayahnya sekaligus menambahkannya dengan pengetahuan-pengetahuan baru yang dipelajarinya dari tabib-tabib asing yang datang dari negeri-negeri jauh.
Takeda duduk di barisan depan restoran, posisi yang memungkinkannya melihat Ayumi dari dekat. Matanya yang gelap dan hangat menatap wanita di panggung itu dengan kekaguman yang tidak dia coba sembunyikan. Takeda bukan pria yang pandai menyembunyikan perasaannya. Apa yang ada di hatinya selalu terlihat di wajahnya, dan saat ini, apa yang ada di hatinya adalah kekaguman yang mendalam terhadap kecantikan dan bakat Ayumi.
Suatu saat, Takeda berencana untuk mendekati Ayumi. Memperkenalkan diri. Mungkin menawarkan pemeriksaan kesehatan gratis, kalau perlu, apa pun untuk bisa berbicara dengan wanita itu secara langsung.
Yang ketiga, dan yang paling berbahaya, adalah Tarou.
Tarou duduk di sudut tergelap restoran, di meja paling belakang yang paling jauh dari panggung. Di kepalanya terdapat topi caping besar yang terbuat dari bambu, jenis topi yang biasa dipakai oleh petani-petani di sawah untuk melindungi diri dari matahari, namun yang dipakai Tarou menutupi hampir seluruh wajahnya, hanya memperlihatkan dagu dan bibirnya yang datar dan tanpa ekspresi.
Tubuhnya ramping dan kurus, dibalut oleh kimono hitam sederhana yang sudah lusuh di beberapa bagian. Di pinggangnya tersembunyi sebuah katana dengan sarung berwarna hitam kelam, tanpa ornamen, tanpa ukiran, katana yang dibuat untuk satu tujuan saja.
Membunuh yokai.
Tarou adalah pemburu yokai.
Sejak pertama kali Ayumi muncul di alun-alun Shizuoka, Tarou sudah ada di sana. Dia berdiri di pinggir kerumunan, tersembunyi di balik topi capingnya, mengamati dengan mata-mata yang terlatih untuk melihat hal-hal yang tidak bisa dilihat oleh mata-mata manusia biasa.
Dan sejak pertama kali enam penari itu muncul dari balik punggung Ayumi, Tarou sudah curiga.
Manusia tidak muncul dari ketiadaan. Itu hukum alam yang tidak bisa dilanggar. Namun keenam penari itu muncul begitu saja, seperti jaring laba-laba yang tiba-tiba terlihat ketika cahaya matahari mengenainya dari sudut yang tepat. Ada sesuatu yang tidak alami tentang kemunculan itu. Sesuatu yang supernatural. Sesuatu yang yokai.
Malam ini, di restoran Genji, Tarou duduk dan mengamati Ayumi dengan intensitas yang tidak berkurang sejak pertunjukan dimulai. Kepalanya menunduk, topi capingnya menutupi matanya, namun dari balik bayangan topi itu, mata-matanya yang tajam mengikuti setiap gerakan Ayumi tanpa berkedip.
Tarou menghirup udara perlahan-lahan melalui hidungnya. Indra penciumannya, yang telah dilatih selama bertahun-tahun untuk mendeteksi aura-aura yokai, menangkap sesuatu dari arah panggung.
Aroma bunga.
Aroma yang wangi dan memabukkan, seperti bunga-bunga yang bermekaran di taman istana pada puncak musim semi. Manis dan lembut, menyenangkan dan mengundang.
Namun di ujung aroma itu, tersembunyi di balik keharuman yang memukau, Tarou mencium sesuatu yang lain.
Bau busuk.
Bau buah yang membusuk selama seminggu. Bau manis yang sudah berubah menjadi asam, yang lembut berubah menjadi menyengat. Bau kematian yang disamarkan oleh parfum kehidupan.
Tarou menyipitkan matanya di bawah bayangan topinya.
Aroma itu bukan aroma manusia. Manusia memiliki bau yang khas, campuran keringat, kulit, dan apa pun yang mereka makan dan minum. Aroma yang tercium dari Ayumi bukan itu. Ini adalah aroma yokai. Aroma makhluk yang bukan manusia namun berpura-pura menjadi manusia.
Namun Tarou tidak bergerak. Belum.
Dia adalah pemburu yang sabar. Dia tidak menyerang berdasarkan kecurigaan. Dia membutuhkan bukti. Bukti yang tidak bisa disangkal, yang akan mengkonfirmasi identitas sebenarnya dari wanita yang menyebut dirinya Ayumi.
Dan malam itu, dia mendapatkan buktinya.
Itu terjadi di tengah-tengah pertunjukan. Ayumi sedang memainkan bagian yang paling intens dari lagunya, jari-jarinya bergerak dengan kecepatan yang luar biasa di atas senar-senar koto, melodi yang mengalun memenuhi setiap sudut restoran. Enam penari di belakangnya berputar-putar dengan kipas-kipas mereka, tubuh-tubuh mereka bergerak semakin cepat, semakin dinamis.
Ayumi mengangkat tangannya tinggi-tinggi untuk memetik senar terakhir dalam satu gerakan dramatis. Dan di saat itu, di saat lengannya terangkat dan kimononya sedikit tersingkap di bagian ketiak, Tarou melihatnya.
Jaring laba-laba.
Seutas jaring laba-laba tipis yang membentang dari ketiak Ayumi ke sisi tubuhnya, berkilau sesaat di bawah cahaya lentera sebelum menghilang ketika Ayumi menurunkan tangannya. Jaring itu hanya terlihat selama sepersekian detik, namun itu cukup bagi mata Tarou yang terlatih.
Jaring laba-laba di tubuh manusia.
Tarou merasakan aliran darahnya bergerak lebih cepat. Jantungnya berdebar sedikit lebih keras, namun wajahnya tetap tidak menunjukkan perubahan apa pun. Bibirnya tetap datar. Posisi duduknya tetap sama. Hanya tangannya di bawah meja yang bergerak sedikit, jari-jarinya menyentuh gagang katananya dan merasakannya, meyakinkan dirinya bahwa senjatanya masih ada di tempatnya.
Jaring laba-laba. Penari-penari yang muncul dari ketiadaan. Aroma bunga yang menyembunyikan bau busuk.
Tidak salah lagi.
Ayumi adalah yokai.
Dan bukan sembarang yokai.
Dia adalah Jorogumo.
Tarou bangkit dari tempat duduknya perlahan-lahan, tidak menarik perhatian siapa pun di restoran yang masih terpaku oleh pertunjukan. Dia meninggalkan uang di atas meja untuk sakenya yang hampir tidak tersentuh dan berjalan menuju pintu belakang dengan langkah-langkah yang tenang dan tanpa suara.
Pertunjukan masih berlangsung di belakangnya. Suara koto dan tepuk tangan dan tawa mengikutinya hingga dia keluar dari restoran dan disambut oleh kegelapan malam yang dingin.
Tarou berdiri di belakang restoran selama beberapa saat, matanya menatap langit yang bertaburan bintang. Napasnya teratur dan tenang, namun pikirannya berputar dengan kecepatan yang luar biasa.
Jorogumo. Siluman laba-laba yang namanya sudah menjadi momok di Shizuoka selama berminggu-minggu. Siluman yang membunuh nelayan-nelayan dan warga-warga yang tak berdosa. Dan sekarang siluman itu duduk di tengah-tengah restoran paling ramai di Shizuoka, dikelilingi oleh puluhan manusia yang tidak tahu bahwa mereka sedang makan malam bersama kematian mereka.
Tarou tidak bisa menghadapinya sendirian. Tidak di sini. Tidak di tengah-tengah kerumunan. Tidak tanpa persiapan yang memadai.
Dia membutuhkan gurunya. Dia membutuhkan rekan-rekannya.
Tarou berlari.
Kakinya yang terlatih membawanya melesat menyusuri jalan-jalan gelap pemukiman, melompati pagar-pagar rendah dan memotong melalui gang-gang sempit yang dihafalnya dengan sempurna. Keluar dari pemukiman, dia memasuki hutan, dan di hutan, kecepatannya semakin bertambah. Dia melompat dari dahan ke dahan, dari batu ke batu, tubuhnya bergerak di antara pepohonan dengan kelincahan yang nyaris tidak manusiawi.
Hujan mulai turun ketika dia mencapai bagian dalam hutan. Tetesan-tetesan air membasahi topi capingnya dan kimononya, namun Tarou tidak melambatkan langkahnya. Dia terus berlari, terus melompat, terus menembus kegelapan dan hujan.
Pondok Kaname terletak di sebuah lembah kecil yang tersembunyi di balik bukit-bukit yang ditumbuhi bambu. Pondok itu sederhana, terbuat dari kayu dan bambu, dengan atap jerami yang sudah berlumut dan dinding-dinding yang tidak sepenuhnya rapat. Cahaya lilin yang bergoyang-goyang terlihat dari celah-celah dindingnya, menandakan bahwa penghuninya masih terjaga meski malam sudah larut.
Tarou mendarat di depan pondok itu tanpa suara. Dia menarik napas beberapa kali untuk menenangkan detak jantungnya sebelum menggeser pintu dan melangkah masuk.
Di dalam pondok, duduk seorang lelaki tua.
Kaname.
Usia Kaname sudah melewati tujuh puluh tahun, namun tubuhnya masih tegak dan matanya masih tajam. Rambutnya yang sepenuhnya putih diikat di atas kepalanya, memperlihatkan wajahnya yang kurus dan penuh keriput namun menyimpan ketajaman yang menusuk. Janggut putih tipisnya menjuntai di dagunya, ujungnya menyentuh dadanya yang tertutup jubah kelabu. Tangan-tangannya yang kurus dan penuh urat menonjol memegang cangkir teh dari tanah liat, jari-jarinya yang panjang melingkari cangkir itu dengan genggaman yang masih kuat meskipun kulit yang menutupinya sudah tipis dan bertotol-totol.
Di hadapan Kaname, duduk dua orang.
Yang pertama adalah Chihiro. Wanita berusia dua puluh lima tahun dengan tubuh yang ramping dan lincah, dibalut pakaian hitam ketat yang dirancang untuk bergerak dalam kegelapan tanpa suara. Rambutnya hitam pendek, dipotong tepat di bawah telinga agar tidak menghalangi gerakannya. Wajahnya kecil dan runcing, dengan mata-mata yang besar dan gelap yang selalu bergerak-gerak mengawasi sekeliling, kebiasaan seorang kunoichi yang sudah mendarah daging. Di punggungnya tersandang sebuah tanto pendek dan beberapa shuriken yang tersembunyi di balik selendang hitam.
Yang kedua adalah Kawamura Kosuke. Pria berusia dua puluh tujuh tahun dengan tubuh yang tegap dan berotot, lebih besar dari Tarou namun tidak sebesar Hatsuki. Wajahnya tegas dengan rahang yang persegi dan mata-mata yang tajam dan fokus. Rambutnya diikat ke belakang dengan ikatan yang ketat, memperlihatkan dahinya yang lebar dan bekas luka kecil di alis kirinya. Di pinggangnya terselip katana dengan sarung berwarna biru gelap, katana yang sama seperti milik Tarou, dibuat khusus untuk membunuh yokai.
Chihiro, Kosuke, dan Tarou. Mereka bertiga adalah murid-murid Kaname. Mereka tergabung dalam kelompok pembunuh yokai yang telah beroperasi di wilayah timur Jepang selama bertahun-tahun, memburu dan memusnahkan makhluk-makhluk supernatural yang mengancam kehidupan manusia.
“Tarou,” Kaname mengangkat matanya dari cangkir tehnya ketika Tarou masuk. Suaranya tenang dan datar, seperti permukaan danau yang tidak pernah terganggu oleh angin. “Kau basah kuyup.”
“Sensei,” Tarou membungkuk dalam-dalam, air menetes dari topi caping dan kimononya, membentuk genangan kecil di lantai kayu pondok. “Aku membawa kabar penting.”
“Duduk dulu,” Kaname menunjuk tempat kosong di depannya. “Keringkan dirimu. Lalu bicara.”
Tarou melepas topi capingnya dan duduk di tempat yang ditunjukkan Kaname. Chihiro melemparkan handuk kecil kepadanya tanpa diminta, dan Tarou mengangguk sebagai tanda terima kasih sambil mengeringkan rambutnya yang basah.
“Aku menemukan yokai itu, Sensei,” Tarou berkata setelah meneguk teh hangat yang dituangkan Kosuke untuknya. “Jorogumo. Siluman laba-laba yang sudah membunuh warga-warga di Shizuoka.”
Kaname meletakkan cangkir tehnya. Matanya yang tajam menatap Tarou dengan intensitas yang membuat udara di pondok itu terasa lebih berat.
“Ceritakan,” Kaname berkata.
Tarou menceritakan semuanya. Tentang Ayumi, gadis cantik yang muncul di alun-alun Shizuoka dengan koto dan enam penari misterius. Tentang penari-penari yang muncul dari balik punggungnya seperti makhluk-makhluk dari dimensi lain. Tentang aroma bunga yang menyembunyikan bau busuk di ujungnya. Dan tentang jaring laba-laba yang terlihat sesaat di ketiak Ayumi ketika lengannya terangkat.
“Jaring laba-laba di tubuhnya,” Tarou mengakhiri laporannya. “Aku baru kali ini mengidentifikasi yokai yang memiliki serat jaring laba-laba di tubuh manusianya. Tidak salah lagi, Sensei. Dia adalah Jorogumo.”
Kaname terdiam selama beberapa saat yang panjang. Jari-jarinya yang kurus mengelus-elus janggut putihnya, matanya menatap api lilin yang bergoyang-goyang di antara mereka.
Lalu Kaname bangkit dari duduknya dan berjalan menuju rak kayu di sudut pondok. Dia menarik keluar sebuah gulungan kertas yang sudah tua dan menguning, membukanya dengan hati-hati, dan membentangkannya di lantai.
Gulungan itu berisi tulisan-tulisan dan gambar-gambar yang sudah pudar oleh waktu. Di tengah-tengahnya terdapat gambar seekor makhluk yang setengah wanita setengah laba-laba, dengan delapan kaki hitam yang panjang dan mata-mata emas yang menyala.
“Jorogumo,” Kaname berkata sambil menunjuk gambar itu. “Menurut literatur kuno tentang yokai, Jorogumo adalah siluman laba-laba yang bisa menjerat hati manusia. Dia mampu memanipulasi pikiran manusia agar menyukainya, mencintainya, mempercayainya. Dan ketika mangsanya sudah sepenuhnya terjerat, Jorogumo akan menyerang.”
Chihiro yang mendengarkan dengan seksama menelan ludah. Matanya yang besar melebar sedikit.
“Jadi semua orang yang menyukai Ayumi di restoran itu...” Chihiro berbisik.
“Sedang dimanipulasi,” Kaname menyelesaikan kalimatnya. “Mereka tidak benar-benar jatuh cinta pada Ayumi. Mereka jatuh cinta pada jebakan yang ditenun Jorogumo untuk mereka.”
Kosuke yang dari tadi diam akhirnya bersuara. Suaranya dalam dan tegas, suara seorang pejuang yang terbiasa menghadapi bahaya dan tidak gentar.
“Kalau begitu kita harus menyerang sekarang,” Kosuke berkata. “Sebelum dia menyakiti lebih banyak orang.”
“Tidak,” Kaname menggeleng. “Jorogumo yang sedang menyamar di tengah kerumunan manusia terlalu berbahaya untuk diserang secara langsung. Kalau kita menyerang di restoran, dia bisa menggunakan manusia-manusia di sekitarnya sebagai perisai atau sandera. Kita harus menunggu.”
“Menunggu apa, Sensei?” Tarou bertanya.
“Menunggu dia memperlihatkan wujud aslinya,” Kaname menjawab. “Jorogumo yang menyamar tidak bisa menggunakan kekuatan penuhnya. Dia harus kembali ke wujud aslinya untuk menyerang. Dan saat itulah dia paling rentan, karena saat itulah penyamarannya pecah dan dia harus bertarung dengan kekuatan yang sudah terbagi antara mempertahankan wujud dan menyerang.”
Tarou mengangguk. Logika gurunya masuk akal. Menyerang Jorogumo di tengah kerumunan bisa menyebabkan korban sipil yang tidak perlu. Lebih baik menunggu sampai dia membuka identitasnya sendiri.
“Aku akan terus mengawasi Ayumi,” Tarou berkata. “Setiap malam. Aku akan berpura-pura menjadi pengunjung biasa dan terus memantaunya. Ketika dia memperlihatkan wujud aslinya, aku akan bergerak.”
“Bukan hanya kau,” Kaname menatap Tarou dengan mata-mata yang serius. “Tarou, kau kuat. Tapi Jorogumo yang sudah berusia ratusan tahun dan didorong oleh dendam bukan lawan yang bisa kau hadapi sendirian.”
Kaname mengalihkan pandangannya ke Kosuke.
“Kosuke,” Kaname berkata. “Mulai besok pagi, aku akan melatihmu teknik pedang ilusi.”
Kosuke menegakkan punggungnya. “Teknik pedang ilusi?”
“Teknik yang bisa memanipulasi pikiran lawanmu,” Kaname menjelaskan. “Jorogumo adalah ahli manipulasi pikiran. Untuk melawannya, kita membutuhkan seseorang yang bisa membalikkan senjatanya sendiri kepadanya. Teknik pedang ilusi akan memungkinkan seranganmu menembus pertahanan mental Jorogumo dan menyerang pikirannya secara langsung.”
“Aku siap, Sensei,” Kosuke mengangguk tegas.
“Chihiro,” Kaname menatap murid wanitanya. “Tugasmu tetap sama. Pengawasan dan pengumpulan informasi. Gunakan keahlianmu untuk memantau pergerakan Jorogumo tanpa terdeteksi. Laporkan setiap perubahan perilaku, setiap anomali, sekecil apa pun.”
“Dimengerti, Sensei,” Chihiro mengangguk.
Kaname menatap ketiga muridnya satu per satu. Wajahnya yang tua dan keriput menyimpan kekhawatiran yang biasanya tidak dia tunjukkan. Jorogumo bukanlah yokai biasa. Dia adalah salah satu yokai tertua dan terkuat yang masih hidup, dan fakta bahwa dia menyamar di tengah-tengah pemukiman manusia dan sudah membunuh beberapa orang menunjukkan bahwa dia didorong oleh motivasi yang sangat kuat.
Dendam.
Dan dendam, seperti yang diketahui Kaname dari pengalaman bertahun-tahun memburu yokai, adalah bahan bakar yang paling berbahaya. Lebih berbahaya dari kelaparan. Lebih berbahaya dari kegilaan. Karena dendam memberikan fokus, memberikan tujuan, memberikan kekuatan yang melampaui batas-batas normal.
“Berhati-hatilah, kalian semua,” Kaname berkata dengan suara yang lebih pelan dari biasanya. “Jorogumo bukan yokai yang bisa dianggap remeh. Satu kesalahan kecil bisa menjadi kesalahan terakhir kalian.”
Ketiga muridnya mengangguk.
Di luar pondok, hujan masih turun dengan deras. Petir menyambar sesekali, menerangi hutan dengan kilatan-kilatan putih yang membuat bayangan-bayangan pohon melompat-lompat di dinding pondok seperti makhluk-makhluk hidup yang menari-nari.
Dan di kejauhan, di restoran Genji yang sudah tutup, Jorogumo berdiri di jendela kamar yang disediakan Genji untuknya, menatap hujan yang turun dengan mata-mata yang bersinar emas di kegelapan.
Dia merasakan sesuatu malam ini. Sesuatu yang berbeda. Salah satu dari pengunjung restorannya memiliki aura yang tidak sama dengan manusia-manusia lainnya. Aura yang waspada. Aura yang berbahaya. Aura seorang pemburu.
Jorogumo tersenyum tipis.
“Jadi ada yang mencurigaiku,” dia berbisik kepada hujan. “Menarik.”
Dia berbalik dari jendela dan menatap kegelapan kamarnya. Di sudut ruangan, kotonya bersandar di dinding, senar-senarnya berkilau samar ditimpa cahaya petir yang sesekali menembus jendela.
“Tidak masalah,” Jorogumo bergumam. “Biarkan mereka curiga. Biarkan mereka mengawasi. Biarkan mereka mempersiapkan diri.”
Mata-mata emasnya berkilat di kegelapan.
“Karena ketika aku memperlihatkan wujud asliku, tidak ada persiapan yang akan cukup.”
Petir menyambar lagi, menerangi wajah Jorogumo selama sepersekian detik. Wajah yang cantik. Wajah yang tersenyum. Wajah yang menyembunyikan monster di baliknya.
Lalu kegelapan kembali menelan segalanya.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!