Satu bulan berlalu.
Satu bulan yang mengubah segalanya di pemukiman Shizuoka.
Restoran Genji tidak pernah seramai ini sepanjang sejarahnya. Setiap malam, pengunjung membanjiri ruangan-ruangan yang sudah diperluas dua kali sejak kedatangan Ayumi, dan masih saja tidak cukup menampung semua orang yang datang. Antrian mengular dari pintu masuk hingga ke jalan utama, orang-orang dari desa-desa tetangga dan bahkan dari prefektur lain rela menempuh perjalanan berjam-jam hanya untuk menyaksikan pertunjukan Ayumi dan keenam penari kipasnya.
Uang mengalir ke pundi-pundi Genji seperti sungai yang tidak pernah kering. Gudang-gudang penyimpanannya penuh sesak dengan koin-koin emas dan perak. Pedagang-pedagang dari kota-kota besar mulai menawarkan kerja sama bisnis. Nama Komamura Genji dikenal hingga ke telinga-telinga bangsawan di Heian-Kyo.
Namun bagi Genji, semua kekayaan itu hanyalah pelengkap. Yang sesungguhnya mengisi hidupnya kini bukan emas atau perak.
Melainkan Ayumi.
Pagi-pagi itu, matahari bersinar lembut menembus jendela-jendela kertas di ruang makan kediaman Genji. Uap dari dua mangkuk ramen yang baru disajikan mengepul di udara, membawa aroma kaldu babi yang kaya dan kental, bercampur dengan aroma bawang daun yang baru dipotong dan telur rebus yang setengah matang.
Genji duduk di satu sisi meja rendah, sumpit di tangannya tidak bergerak. Dia tidak makan. Dia hanya menatap wanita yang duduk di seberangnya.
Ayumi mengangkat mangkuk ramennya dengan kedua tangan, meniup-niup uap yang mengepul dari permukaannya sebelum menyeruput mie dengan gerakan yang anggun. Beberapa tetes kuah menetes di bibirnya, dan dia mengelapnya dengan punggung tangannya sambil tersenyum malu.
“Kenapa kau menatapku seperti itu, Genji?” Ayumi bertanya tanpa mengangkat matanya dari mangkuk ramennya, namun pipinya merona merah muda.
“Karena kau cantik,” Genji menjawab dengan kejujuran yang polos.
“Kau selalu bilang begitu,” Ayumi tertawa kecil. “Nanti aku besar kepala.”
“Biar saja,” Genji tersenyum, senyum yang lebar dan tanpa penjagaan, senyum yang hanya muncul di wajahnya ketika dia bersama Ayumi. “Biar seluruh dunia tahu bahwa Komamura Genji memiliki wanita tercantik di seluruh Jepang.”
“Genji!” Ayumi menutup wajahnya dengan kedua tangannya, meskipun senyumnya masih terlihat dari celah-celah jari-jarinya. “Kau membuatku malu.”
“Aku serius,” Genji meletakkan sumpitnya dan meraih tangan Ayumi yang menutupi wajahnya, menurunkannya dengan lembut. “Sejak kau datang, Ayumi, hidupku berubah. Bukan hanya restorannya. Bukan hanya uangnya. Semuanya. Aku bangun setiap pagi dengan sesuatu yang dinantikan. Aku tidur setiap malam dengan seseorang di sampingku. Aku sudah lupa bagaimana rasanya itu.”
Ayumi menatap Genji. Mata-mata cokelat gelapnya, yang sebenarnya adalah mata-mata Jorogumo yang disamarkan, berkilat di bawah cahaya pagi. Di dalam dirinya, di tempat yang tidak bisa dijangkau oleh mata siapa pun, sesuatu bergerak. Sesuatu yang kecil dan tidak diundang dan sangat mengganggu.
Perasaan.
Jorogumo menekan perasaan itu ke bawah dengan kekuatan yang sama besarnya dengan kekuatan yang dia gunakan untuk mengikat mangsanya dengan jaring-jaringnya. Perasaan itu tidak boleh ada. Perasaan itu adalah musuh. Perasaan itu bisa menghancurkan semua rencana yang sudah dia bangun selama berbulan-bulan.
“Aku juga senang bersamamu, Genji,” Ayumi tersenyum, dan senyum itu, untuk sebagian kecil yang bahkan Jorogumo sendiri tidak sadari, tidak sepenuhnya palsu.
Langkah-langkah kaki terdengar dari koridor. Dua pasang langkah yang berusaha pelan namun gagal total.
“Pssst, Negi, jangan berisik!”
“Kau yang berisik, Hatsuki! Kakimu itu seperti gajah yang menari!”
Genji menghela napas. Ayumi menutup mulutnya menahan tawa.
Dua kepala muncul dari balik pintu geser yang terbuka sedikit. Hatsuki dan Negi mengintip ke dalam ruang makan dengan wajah-wajah yang tidak menyembunyikan niat mereka sama sekali.
“Oi, Bos!” Hatsuki melangkah masuk dengan santainya, seolah-olah dia tidak baru saja ketahuan mengintip. Negi mengikuti di belakangnya dengan senyum salah tingkah. “Selamat pagi! Wah, makan ramen berdua, romantis sekali.”
“Hatsuki, bukankah sudah kubilang untuk mengetuk pintu sebelum masuk?” Genji mengerutkan dahinya, namun tidak ada kekesalan yang sebenarnya di matanya.
“Aku tadi mau mengetuk,” Hatsuki mengangkat bahu. “Tapi kalau aku mengetuk, aku tidak bisa melihat ekspresi Bos yang sedang dimabuk cinta itu. Ekspresi itu sudah langka, harus dinikmati selagi ada.”
Negi berdeham. “Yang ingin kami sampaikan, Bos, adalah bahwa Ayumi-san terlihat sangat cocok dengan Bos. Kami semua berpikir begitu. Bukan hanya kami berdua, tapi Akagami, Mado, dan Ozai juga.”
“Kalian membicarakan ini di belakangku?” Genji mengangkat alisnya.
“Tentu saja,” Hatsuki menyeringai. “Itu pekerjaan utama kami kalau sedang tidak menjaga Bos. Membicarakan kehidupan cinta Bos yang menyedihkan. Tapi sekarang tidak menyedihkan lagi, jadi kami harus cari topik baru.”
Ayumi tertawa, tawanya yang merdu mengisi ruangan dan membuat semua orang tersenyum. Bahkan Genji yang wajahnya merah seperti kepiting rebus akhirnya tertawa juga, tawa yang lepas dan tanpa beban yang sudah bertahun-tahun tidak keluar dari mulutnya.
“Kalian berdua,” Genji menggeleng-gelengkan kepalanya, namun senyumnya tidak bisa disembunyikan. “Pergilah. Biarkan aku makan dengan tenang.”
“Baik, Bos!” Hatsuki dan Negi membungkuk bersamaan dengan gerakan yang berlebihan dramatis, lalu berbalik dan berjalan keluar sambil berbisik-bisik dan terkikik seperti dua anak kecil yang baru saja berhasil menggoda teman mereka.
Genji menatap kepergian mereka, lalu kembali menatap Ayumi.
“Maaf untuk mereka,” Genji berkata.
“Jangan minta maaf,” Ayumi menggeleng, matanya masih berkaca-kaca karena tertawa. “Mereka menyayangimu, Genji. Itu terlihat jelas.”
Genji terdiam sejenak. Lalu dia meraih sebuah kotak kecil yang terbungkus kain berwarna merah dari balik meja.
“Ini untukmu,” Genji menyodorkan kotak itu kepada Ayumi.
Ayumi mengambil kotak itu dan membukanya. Di dalamnya terdapat beberapa buah dango yang tertusuk di tusukan bambu, tiga buah di setiap tusuk, berwarna merah muda, putih, dan hijau. Dango itu terlihat segar dan mengkilap, dilumuri sirup gula yang manis dan lengket.
“Dango!” Ayumi berseru dengan kegembiraan yang terlihat sangat tulus. Dia mengambil satu tusuk dan menggigit dango merah muda yang paling atas. Matanya terpejam menikmati rasa manis dan kenyal yang memenuhi mulutnya. “Enak sekali! Kau yang membuatnya?”
“Aku menyuruh koki terbaikku membuatnya khusus untukmu,” Genji tersenyum. “Aku tahu kau suka makanan manis.”
“Kau memperhatikan,” Ayumi menatap Genji dengan mata-mata yang lembut.
“Tentu saja aku memperhatikan,” Genji menjawab. “Aku memperhatikan segalanya tentangmu, Ayumi.”
Mereka saling menatap selama beberapa saat. Cahaya pagi yang hangat menyelimuti mereka, menciptakan gambar yang indah dan damai, dua orang yang sedang jatuh cinta, duduk berhadapan di atas tatami dengan mangkuk-mangkuk ramen dan dango di antara mereka.
Gambar yang sempurna.
Gambar yang palsu.
Di dalam diri Ayumi, Jorogumo menatap Genji dengan mata-mata yang berbeda. Mata-mata yang menghitung. Mata-mata yang merencanakan. Mata-mata yang sudah menetapkan tanggal dan jam dan cara di mana semua keindahan ini akan berakhir.
Namun di sudut terkecil dari mata-mata itu, di tempat yang bahkan Jorogumo sendiri tidak berani mengakui keberadaannya, ada setitik cahaya yang berkedip-kedip lemah.
Cahaya yang menyerupai keraguan.
Hari-hari berlanjut. Genji memanjakan Ayumi dengan segala yang dimilikinya. Kimono-kimono sutra terbaik dari pedagang-pedagang di Heian-Kyo. Perhiasan-perhiasan yang terbuat dari emas dan batu-batu mulia. Makanan-makanan lezat dari koki-koki terhebat yang bisa dia pekerjakan. Dan setiap sore, tanpa gagal, sekotak dango segar selalu menunggu di meja Ayumi.
Mereka berjalan-jalan bersama di taman kediaman Genji, tangan mereka saling bertaut, langkah-langkah mereka pelan dan tanpa tujuan. Mereka duduk berdampingan di tepi kolam ikan koi, melemparkan remah-remah roti ke ikan-ikan yang berebut di permukaan air. Mereka mengobrol hingga larut malam di teras belakang, berbagi cerita dan tawa dan keheningan-keheningan yang nyaman.
Dan setiap malam, pertunjukan Ayumi di restoran menarik lebih banyak pengunjung. Koto berdenting, enam penari muncul dari balik punggungnya dengan kipas-kipas mereka, dan seluruh restoran tenggelam dalam keindahan yang memabukkan.
Genji tidak lagi malu memperlihatkan kedekatannya dengan Ayumi di hadapan orang-orang. Dia duduk di barisan depan setiap pertunjukan, matanya tidak pernah berpindah dari Ayumi, tepuk tangannya selalu yang paling keras dan paling lama. Setelah pertunjukan, dia menggandeng tangan Ayumi dan berjalan bersamanya melewati kerumunan pengunjung yang tersenyum dan berbisik-bisik.
“Mereka cocok sekali,” warga-warga bergumam.
“Genji-sama akhirnya menemukan kebahagiaannya lagi.”
“Ayumi-san adalah wanita yang sempurna untuknya.”
Pujian-pujian itu mengalir dari segala penjuru, dan Genji menerimanya dengan senyum bangga yang tidak bisa dia sembunyikan meskipun dia mencoba.
Sementara itu, di sudut tergelap restoran, Tarou tetap hadir setiap malam.
Topi caping bambunya menutupi wajahnya. Sake di mejanya hampir tidak tersentuh. Matanya yang tersembunyi di balik bayangan topi mengikuti setiap gerakan Ayumi dengan kewaspadaan yang tidak pernah berkurang.
Tarou tahu siapa Ayumi sebenarnya. Dia sudah melaporkan temuannya kepada Kaname, gurunya. Rencana sudah disusun. Kosuke sedang menjalani pelatihan teknik pedang ilusi yang akan digunakan untuk menghadapi Jorogumo.
Namun mereka belum bergerak. Kaname memerintahkan untuk menunggu. Menunggu Jorogumo memperlihatkan wujud aslinya. Menunggu momen yang tepat untuk menyerang.
Dan Tarou menunggu.
Setiap malam, dia duduk di sudut yang sama, memesan sake yang sama, dan mengamati dengan kesabaran yang melampaui batas manusia biasa. Dia memperhatikan cara Ayumi berjalan. Cara Ayumi berbicara. Cara Ayumi tersenyum. Dia mencari celah-celah dalam penyamarannya, detail-detail kecil yang mengkhianati identitas sebenarnya.
Dan setiap malam, dia mencium aroma yang sama. Bunga yang wangi di permukaan. Busuk yang menyengat di ujungnya. Aroma yang mengingatkannya bahwa di balik wajah cantik yang tersenyum itu, bersembunyi monster yang sudah membunuh banyak orang.
Tarou menunggu.
Sabar seperti laba-laba.
Ironis.
Malam itu, hujan turun.
Bukan hujan biasa. Ini adalah hujan musim gugur yang datang tiba-tiba dan tanpa peringatan, seperti dinding air yang runtuh dari langit. Petir menyambar-nyambar di kejauhan, cahayanya yang putih menerangi awan-awan hitam yang menggantung rendah di atas pemukiman. Angin bertiup kencang, membuat lentera-lentera di sepanjang jalan bergoyang-goyang liar dan beberapa di antaranya padam.
Restoran Genji sudah tutup. Pengunjung-pengunjung terakhir sudah pulang, berlari-lari di bawah hujan menuju rumah-rumah mereka. Koki-koki dan pelayan-pelayan sudah membereskan dapur dan meja-meja, lalu pergi meninggalkan restoran yang sunyi dan gelap.
Genji duduk di kamarnya, di sayap belakang kediamannya yang terhubung langsung dengan restoran melalui koridor kayu beratap. Dia mengenakan yukata tidur berwarna biru gelap, rambutnya yang biasanya tersisir rapi kini tergerai bebas di bahunya. Di tangannya ada cangkir sake yang isinya tinggal setengah, matanya menatap hujan yang turun di taman melalui pintu geser yang terbuka setengah.
Suara langkah kaki yang ringan terdengar di koridor.
Genji menoleh.
Ayumi berdiri di ambang pintu kamarnya. Kimono tidur putih yang dikenakannya terlihat bercahaya di keremangan ruangan. Rambutnya yang hitam tergerai di punggungnya, beberapa helai jatuh di wajahnya yang cantik. Matanya menatap Genji dengan tatapan yang lembut dan dalam.
“Ayumi,” Genji tersenyum dan meletakkan cangkir sakenya. “Kemarilah.”
Ayumi melangkah masuk ke kamar Genji. Langkahnya pelan dan tanpa suara, seperti kucing yang berjalan di atas sutra. Dia mendekati Genji dan duduk di sampingnya, bahu mereka bersentuhan.
“Hujannya deras sekali malam ini,” Ayumi berkata sambil menatap taman yang disiram hujan. “Aku tidak bisa tidur.”
“Aku juga,” Genji mengangguk. “Petirnya terlalu keras.”
Mereka duduk berdampingan dalam keheningan selama beberapa saat, mendengarkan suara hujan yang menghantam atap dan tanah, suara petir yang menggelegar di kejauhan, suara angin yang melolong di celah-celah dinding.
Ayumi menyandarkan kepalanya di bahu Genji. Genji melingkarkan lengannya di bahu Ayumi, memeluknya dengan kelembutan yang membuat Ayumi merasakan sesuatu yang tidak dia inginkan. Kehangatan. Keamanan. Kenyamanan.
Perasaan-perasaan yang seharusnya tidak dimiliki oleh pemburu terhadap mangsanya.
“Genji,” Ayumi berbisik.
“Ya?”
“Aku ingin mengatakan sesuatu.”
“Katakanlah.”
Ayumi mengangkat kepalanya dan menatap Genji. Mata-mata cokelat gelapnya berkilat di bawah cahaya lentera yang bergoyang-goyang. Wajahnya yang cantik menunjukkan ekspresi yang Genji belum pernah lihat sebelumnya. Ekspresi yang campuran antara kesedihan dan sesuatu yang lebih gelap, lebih dalam, sesuatu yang tidak bisa Genji pahami.
“Aku...” Ayumi memulai, namun kalimatnya terputus. Bibirnya gemetar sedikit, dan untuk sesaat yang sangat singkat, Genji melihat sesuatu berkedip di mata Ayumi. Sesuatu yang berwarna emas.
Namun itu hilang secepat kemunculannya, dan Genji menganggapnya sebagai pantulan cahaya lentera.
Ayumi memeluk Genji. Lengannya melingkari tubuh pria itu, menariknya dekat, merasakan detak jantungnya yang hangat dan teratur di dadanya. Genji membalas pelukan itu, tangannya mengelus rambut hitam Ayumi yang halus dan wangi.
“Apa yang ingin kau katakan?” Genji bertanya dengan suara lembut.
Ayumi tidak menjawab.
Karena Ayumi sudah tidak ada.
Di pelukan Genji, tubuh yang tadinya hangat dan lembut mulai berubah. Kulit yang tadinya halus menjadi kasar. Lengan-lengan yang tadinya melingkari tubuhnya dengan kelembutan kini mencengkeram dengan kekuatan yang tidak manusiawi. Dan dari punggung wanita yang dipeluknya, sesuatu mulai muncul.
Kaki-kaki.
Kaki-kaki yang besar dan hitam dan beruas-ruas, muncul satu per satu dari balik kain kimono yang mulai robek. Dua. Empat. Enam. Delapan. Kaki-kaki laba-laba raksasa yang menembus kain sutra seperti tombak-tombak yang menembus kertas, menjulur ke segala arah, menyentuh dinding, lantai, langit-langit.
Lentera padam.
Kegelapan menelan ruangan.
Dan di dalam kegelapan itu, dua mata emas menyala seperti dua bulan kecil yang terbakar.
“Ge... Genji...” suara Ayumi terdengar, namun bukan lagi suara yang merdu dan lembut. Suara itu dalam dan bergema, seperti suara yang keluar dari dasar sumur yang sangat dalam. “Aku ingin mengatakan... maafkan aku.”
Petir menyambar di luar, cahayanya yang membutakan menerangi kamar selama sepersekian detik. Dan dalam kilatan cahaya itu, Genji melihat.
Dia melihat Jorogumo.
Tubuh raksasa yang setengah wanita setengah laba-laba. Kaki-kaki hitam yang besar dan berlapis bulu-bulu kasar yang menyebar ke segala arah. Taring-taring panjang yang menjulur dari mulut yang terbuka. Dan mata-mata emas yang menatapnya dengan campuran kesakitan dan kebencian yang tidak bisa diukur oleh skala mana pun.
Genji berteriak.
Teriakan itu merobek keheningan malam, menembus suara hujan dan petir, bergema di koridor-koridor kediaman yang gelap.
“AYUMI! APA... APA INI?!”
“Aku bukan Ayumi,” Jorogumo berbisik, suaranya memenuhi seluruh ruangan seperti asap yang mengisi setiap celah. “Namaku Jorogumo. Dan aku... aku dendam pada kalian semua.”
“De... dendam?” Genji mundur merangkak di atas tatami, matanya terbelalak, wajahnya pucat seperti kertas. “A... apa yang sudah kulakukan padamu? Aku... aku mencintaimu!”
“Bukan kau,” Jorogumo berkata, dan untuk sesaat, suaranya terdengar sedih. Sangat sedih. “Bukan kau secara pribadi. Tapi manusia. Kalian manusia. Kalian yang membunuh anak-anakku. Kyo. Shigeru. Koji. Tiga anakku yang tidak pernah menyakiti siapa pun. Samurai kalian masuk ke rumahku dan menebas mereka seperti menebas rumput liar. Dan aku... aku tidak bisa memaafkan itu.”
“Aku tidak tahu tentang itu!” Genji berteriak, air matanya mengalir di pipinya. “Aku tidak pernah menyakiti anak-anakmu! Aku bahkan tidak tahu kau punya anak! Ayumi... Jorogumo... siapa pun kau... aku mencintaimu! Aku sungguh-sungguh mencintaimu!”
Jorogumo terdiam.
Kata-kata Genji menggema di kegelapan, bertabrakan dengan dinding-dinding kebencian yang telah dia bangun selama berbulan-bulan. Kata-kata yang tulus. Kata-kata yang jujur. Kata-kata yang mengingatkannya pada sesuatu yang hampir dia lupakan.
Bahwa tidak semua manusia adalah Kanbe.
Namun pengingat itu datang terlambat. Kegelapan yang sudah terlalu dalam. Dendam yang sudah terlalu mengakar. Dan wajah-wajah anak-anaknya yang berlumuran darah, yang muncul di balik kelopak matanya setiap kali dia menutup mata, yang berbisik-bisik menuntut keadilan yang tidak pernah datang.
“Maafkan aku, Genji,” Jorogumo berbisik. “Tapi ini sudah di luar kendali.”
Jorogumo menyerang.
Kaki-kaki laba-labanya yang besar menghantam lantai tatami, menghancurkannya menjadi serpihan-serpihan kayu yang beterbangan. Jaring-jaring melesat dari tubuhnya, melilit Genji sebelum pria itu sempat bergerak, membelit lengannya, kakinya, tubuhnya, menutupinya lapis demi lapis seperti kepompong yang menutup ulat.
Genji berteriak lagi. Teriakannya teredam oleh jaring-jaring yang menutupi mulutnya, menjadi rintihan yang tertahan yang nyaris tidak terdengar di balik suara hujan dan petir.
Lampu di seluruh kediaman padam.
Kegelapan total.
Dan di dalam kegelapan itu, suara-suara langkah kaki berlari terdengar dari koridor. Langkah-langkah yang cepat dan berat, langkah-langkah samurai yang terbangun oleh teriakan tuannya.
“BOS!”
Hatsuki yang pertama sampai. Dia mendobrak pintu kamar Genji dengan bahunya yang lebar, tubuhnya yang besar menerobos masuk ke kegelapan dengan katana terhunus di tangan kanannya. Di belakangnya, Negi menyusul dengan pedangnya yang ramping dan cepat. Akagami masuk dari sisi kiri, gerakannya tenang dan terkontrol meskipun matanya melebar oleh keterkejutan. Mado melompat masuk melalui jendela yang pecah, tubuhnya yang muda dan lincah mendarat dengan ringan di lantai yang sudah hancur. Dan Ozai, yang selalu terlihat setengah mengantuk, kini berdiri tegak dengan mata-mata yang terbuka lebar dan tajam, pedangnya terhunus dalam posisi bertahan.
Petir menyambar lagi, dan dalam kilatan cahayanya, kelima samurai itu melihat Jorogumo untuk pertama kalinya.
Mereka membeku.
Makhluk yang berdiri di tengah kamar itu bukan manusia. Bukan binatang. Bukan apa pun yang pernah mereka lihat atau bayangkan dalam mimpi-mimpi terburuk mereka. Tubuh bagian atasnya masih menyerupai Ayumi, wajah cantik yang mereka kenal, rambut hitam yang mereka kagumi. Namun tubuh bagian bawahnya adalah tubuh laba-laba raksasa, berwarna hitam kelam dengan kaki-kaki yang menjulur ke segala arah seperti akar-akar pohon mati. Mata-mata emas menyala di kegelapan, menatap mereka dengan intensitas yang membuat darah mereka terasa beku di pembuluh-pembuluhnya.
“Ayumi...” Mado berbisik, suaranya pecah. “Selama ini... kau...”
“Selama ini kalian tertipu,” Jorogumo menyelesaikan kalimat Mado dengan suara yang dingin dan bergema. “Tertipu oleh wajah cantik dan nyanyian yang merdu. Tertipu oleh senyum dan tawa. Tertipu oleh makhluk yang kalian biarkan masuk ke dalam rumah kalian, ke dalam hati kalian.”
“SIALAN!” Hatsuki mengangkat katananya dan menyerbu ke depan. Tubuhnya yang besar bergerak dengan kecepatan yang mengejutkan untuk ukurannya, katananya mengayun dalam busur lebar yang ditujukan ke leher Jorogumo.
Kaki laba-laba menangkis.
Bunyi logam bertemu dengan sesuatu yang lebih keras dari logam bergema di ruangan. Hatsuki terlempar ke belakang oleh kekuatan tangkisan itu, punggungnya menghantam dinding dan meretakkannya.
“SERANG BERSAMA!” Negi berteriak.
Kelima samurai menyerbu secara bersamaan. Pedang-pedang berkilat di kegelapan, ditimpa cahaya petir yang sesekali menerangi ruangan. Mereka menyerang dari lima arah yang berbeda, menggunakan formasi yang sudah mereka latih selama bertahun-tahun menjadi pengawal Genji.
Jorogumo menghadapi mereka semua.
Kaki-kaki laba-labanya bergerak dengan kecepatan yang melampaui kemampuan mata manusia untuk mengikuti. Setiap serangan pedang ditangkis, dibelokkan, atau dihindari. Kaki-kaki itu bergerak seperti delapan pedang raksasa yang memiliki pikiran masing-masing, setiap kaki menangani satu lawan, menghalangi, menyerang balik, mendorong mundur.
Negi meluncur ke bawah salah satu kaki laba-laba dan menusukkan pedangnya ke sisi tubuh Jorogumo. Ujung pedangnya menembus kulit, mengeluarkan darah hitam yang kental. Jorogumo mendesis kesakitan dan menghantam Negi dengan kaki belakangnya, melemparkan tubuh samurai itu ke seberang ruangan.
Akagami menyerang dalam diam, pedangnya memotong udara dengan presisi yang sempurna. Dia berhasil menggores salah satu kaki laba-laba, memotong beberapa ruas bulu-bulu kasar yang menutupinya. Namun sebelum dia bisa menyerang lagi, jaring-jaring melesat dari tubuh Jorogumo dan melilit lengannya yang memegang pedang, membuatnya tidak bisa bergerak.
Mado, dengan kecepatan yang luar biasa, melompat tinggi dan mengayunkan pedangnya dari atas. Pedangnya menggores bahu Jorogumo, memotong kain kimono dan kulit di bawahnya. Darah hitam menyembur. Namun kaki laba-laba menangkap pergelangan kaki Mado di udara dan membantingnya ke lantai dengan kekuatan yang menghancurkan tatami di bawahnya.
Ozai bergerak seperti bayangan. Pedangnya menari di kegelapan, menusuk dan memotong bagian-bagian yang terekspos dari tubuh Jorogumo. Dia berhasil menusuk satu kaki laba-laba, membuatnya lemas dan tidak bisa bergerak. Namun jaring-jaring yang melesat dari mulut Jorogumo menangkap kakinya dan menariknya ke depan, langsung ke jangkauan taring-taring yang panjang.
Hatsuki yang sudah bangkit kembali dari hantaman pertamanya berlari menyerang lagi, kali ini dengan teriakan yang memekakkan telinga. Katananya mengayun dalam serangan yang dibekali oleh seluruh berat tubuhnya yang besar.
Namun Jorogumo sudah kehilangan kesabaran.
Jaring-jaring melesat dari setiap bagian tubuhnya. Bukan seutas atau dua utas, melainkan puluhan, ratusan benang sutra yang melesat ke segala arah seperti hujan jarum yang mematikan. Benang-benang itu melilit setiap samurai, menutupi tubuh mereka lapis demi lapis, membelit lengan-lengan yang memegang pedang, mengikat kaki-kaki yang mencoba berlari, menutup mulut-mulut yang mencoba berteriak.
Satu per satu, kelima samurai itu tumbang.
Hatsuki yang kuat tumbang terakhir, tubuh besarnya dibelit jaring hingga terlihat seperti kepompong raksasa yang bergerak-gerak lemah di lantai.
Genji sudah tidak bergerak. Tubuhnya yang terbelit jaring tergeletak di sudut ruangan, matanya yang terbuka menatap langit-langit tanpa melihat apa pun, mulutnya terbuka dalam teriakan yang tidak pernah selesai.
Jorogumo berdiri di tengah-tengah kehancuran. Kamar Genji yang tadinya rapi dan nyaman kini menjadi reruntuhan. Dinding-dinding retak dan berlubang. Lantai tatami hancur berkeping-keping. Lentera-lentera pecah dan berserakan. Jaring-jaring laba-laba menutupi setiap permukaan, berkilau keperakan di bawah cahaya petir yang sesekali menyambar.
Tujuh tubuh yang dibelit jaring tergeletak di sekelilingnya. Tujuh manusia yang beberapa jam lalu masih tertawa, makan ramen, dan bercanda tentang cinta. Kini mereka terbaring tak bergerak, terperangkap dalam kepompong-kepompong sutra yang semakin mengerat setiap kali mereka mencoba bernapas.
Jorogumo menatap Genji.
Di mata-mata emasnya, ada sesuatu yang menyerupai penyesalan.
Namun penyesalan itu tidak cukup kuat untuk mengubah apa pun.
Tidak pernah cukup kuat.
Dari balik dinding restoran yang berdekatan dengan kediaman Genji, Tarou mendengar semuanya.
Dia sudah berada di restoran yang sudah tutup ketika teriakan pertama Genji merobek keheningan malam. Instingnya sebagai pemburu yokai langsung berteriak kepadanya bahwa inilah momennya. Jorogumo memperlihatkan wujud aslinya.
Tarou berlari menyusuri koridor yang menghubungkan restoran dengan kediaman Genji, katananya yang hitam terhunus di tangan kanannya. Kakinya yang ringan dan cepat membawanya menembus kegelapan tanpa suara, tanpa ragu, tanpa ketakutan.
Ketika dia sampai di kamar Genji dan melihat pemandangan di dalamnya, dia tidak terkejut. Dia sudah tahu. Dia sudah tahu sejak pertama kali dia mencium aroma busuk di balik aroma bunga.
Jorogumo berdiri di tengah ruangan, dikelilingi oleh tujuh kepompong sutra. Mata-mata emasnya belum menyadari kehadiran Tarou.
Tarou tidak membuang waktu untuk bicara.
Dia melompat.
Tubuhnya melesat ke udara, kakinya menendang dinding untuk mendapatkan momentum tambahan. Dari ketinggian, dia menukik ke bawah menuju Jorogumo, katananya teracung ke depan, ujungnya yang tajam mengarah tepat ke punggung makhluk itu.
Katana menghantam tubuh Jorogumo.
Darah hitam menyembur dari luka yang terbuka di punggung Jorogumo. Jorogumo mendesis, suaranya yang tinggi dan menusuk bergema di ruangan yang sudah hancur. Dia berputar dengan kecepatan yang luar biasa, kaki-kaki laba-labanya mengayun ke arah Tarou.
Tarou sudah bergerak. Dia mendarat di lantai, berguling ke samping menghindari sapuan kaki laba-laba yang menghancurkan lantai tatami di tempat dia berdiri sedetik lalu. Bangkit dengan satu gerakan, dia menyabet lagi, memotong satu kaki laba-laba yang terlalu dekat, mengeluarkan semburan darah hitam yang mengotori wajahnya.
Jorogumo berteriak kesakitan.
“Kau!” matanya yang emas menatap Tarou dengan pengenalan. “Kau yang duduk di sudut gelap setiap malam. Kau yang menciumku.”
“Aku pemburu yokai,” Tarou menjawab, napasnya stabil meskipun jantungnya berdebar kencang. “Dan malam ini, aku akan mengakhirimu.”
Tarou melompat ke dinding dan menggunakannya sebagai pijakan untuk meluncur ke atas. Dari ketinggian, dia menebas Jorogumo berkali-kali. Pedangnya menari di udara, memotong, menusuk, menggores tubuh Jorogumo dari berbagai sudut. Darah merah gelap menyembur dari setiap luka, membasahi dinding dan lantai dan langit-langit dengan warna yang mengerikan.
Jorogumo mundur. Untuk pertama kalinya sejak pertarungan dimulai, dia mundur. Luka-luka di tubuhnya berdenyut-denyut kesakitan. Pemburu ini berbeda dari samurai-samurai yang baru saja dia kalahkan. Gerakannya lebih cepat. Serangannya lebih tepat. Pedangnya memotong tidak hanya daging, tapi juga sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang supernatural, sesuatu yang membuat luka-lukanya lebih menyakitkan dari luka biasa.
“Pedang pembunuh yokai,” Jorogumo mendesis, matanya menyipit. “Sudah lama aku tidak melihat senjata seperti itu.”
Tarou tidak menjawab. Dia menyerang lagi, melompat dari dinding ke dinding, menggunakan setiap permukaan vertikal sebagai pijakan untuk meluncur dan menebas dari sudut-sudut yang tidak terduga. Pedangnya berkilat-kilat di kegelapan, setiap kilatan meninggalkan luka baru di tubuh Jorogumo.
Namun Jorogumo adalah makhluk yang sudah berusia ratusan tahun. Dia sudah menghadapi pemburu-pemburu lain sebelumnya, ratusan tahun yang lalu, dan dia masih hidup.
Jorogumo menunggu celah.
Dan celah itu datang.
Tarou mendarat di lantai setelah salah satu lompatan serangannya, dan kakinya tergelincir di genangan darah hitam yang sudah membasahi lantai. Keseimbangannya goyah selama sepersekian detik.
Sepersekian detik itu cukup.
Kaki laba-laba menghantam dada Tarou.
Kekuatan hantaman itu luar biasa. Tarou merasakan tulang-tulang rusuknya retak saat tubuhnya terangkat dari lantai dan terbang melintasi ruangan. Punggungnya menghantam dinding restoran yang berdekatan dengan kediaman Genji, menembus kayu dan kertas dengan kekuatan yang menghancurkan, dan tubuhnya terus terbang hingga menembus dinding restoran di sisi luar dan mendarat di tanah basah di luar bangunan.
Hujan menghantam wajahnya.
Tarou terbaring di tanah berlumpur, darahnya bercampur dengan air hujan, menciptakan aliran-aliran merah yang mengalir di tanah seperti sungai-sungai kecil. Pedangnya terlepas dari genggamannya dan tergeletak beberapa meter jauhnya, berkilau sesaat ditimpa cahaya petir.
Jorogumo melangkah keluar dari lubang di dinding restoran. Kaki-kaki laba-labanya menapak tanah basah satu per satu, setiap langkah meninggalkan bekas yang dalam di lumpur. Hujan membasahi tubuhnya, mencuci darah hitam yang mengalir dari luka-lukanya, namun mata-mata emasnya tetap menyala terang di kegelapan.
Dia berdiri di atas Tarou yang terbaring lemah.
Dan dia menyeringai.
“Manusia,” Jorogumo berkata, suaranya terdengar seperti guruh yang pelan dan mengancam. “Kalian selalu berpikir bisa melawan kami. Kalian datang dengan pedang-pedang kecil dan keberanian yang bodoh, dan kalian berpikir itu cukup.”
Tarou mencoba bergerak. Lengannya meraih-raih ke arah pedangnya yang tergeletak di tanah, jari-jarinya yang patah bergerak-gerak di lumpur. Namun tubuhnya tidak mau mematuhinya. Tulang-tulang yang retak, otot-otot yang robek, darah yang mengalir terlalu banyak. Tubuhnya sudah menyerah meskipun pikirannya belum.
“Dengan mudahnya... aku melawan kalian,” Jorogumo tertawa, tawanya terbawa angin dan hujan ke kejauhan. “Dengan mudahnya.”
Tarou menatap langit yang gelap di atasnya. Hujan membasahi wajahnya, air bercampur dengan darah yang mengalir dari luka di kepalanya. Matanya yang biasanya tajam dan fokus kini mulai kabur, cahaya-cahaya dari petir dan lentera bercampur menjadi gumpalan-gumpalan warna yang tidak berbentuk.
Di dalam hatinya, Tarou tahu bahwa dia sudah kalah.
Dia sudah memberikan segalanya. Setiap tebasan, setiap lompatan, setiap serangan, dia sudah mengeluarkan seluruh kemampuannya. Dan itu tidak cukup. Jorogumo terlalu kuat. Terlalu tua. Terlalu marah.
Tarou menutup matanya.
Di kejauhan, di antara bayangan-bayangan pohon yang bergoyang-goyang diterpa angin dan hujan, sepasang mata mengawasi.
Chihiro.
Kunoichi itu berdiri di dahan pohon yang tinggi, tubuhnya yang dibalut pakaian hitam menyatu dengan kegelapan malam. Matanya yang besar dan gelap menatap pemandangan di bawahnya dengan campuran kengerian dan keputusasaan.
Tarou terbaring di tanah, bersimbah darah, tidak bergerak. Jorogumo berdiri di atasnya, menang, tidak terkalahkan.
Chihiro merasakan dorongan yang kuat untuk melompat turun dan berlari menuju Tarou. Untuk mengangkat tubuhnya dari lumpur dan membawanya pergi. Untuk melawan Jorogumo meskipun dia tahu bahwa keahliannya sebagai mata-mata dan kunoichi tidak dirancang untuk pertarungan langsung melawan yokai sekuat ini.
Namun Chihiro bukan orang bodoh.
Dia tahu bahwa kalau dia melompat turun sekarang, dia akan mati. Dan kematiannya tidak akan menyelamatkan Tarou. Tidak akan menyelamatkan siapa pun.
“Maafkan aku, Tarou,” Chihiro berbisik, air matanya bercampur dengan air hujan yang membasahi wajahnya. “Maafkan aku.”
Chihiro berbalik.
Dan berlari.
Dia melompat dari dahan ke dahan, dari pohon ke pohon, tubuhnya melesat menyusuri hutan gelap dengan kecepatan yang melampaui batas manusia biasa. Hujan menghantam wajahnya, angin merobek pakaiannya, ranting-ranting menggores kulit-kulitnya. Namun Chihiro tidak melambat. Dia tidak bisa melambat. Setiap detik yang terbuang adalah detik yang membawa Tarou lebih dekat kepada kematian.
Pondok Kaname gelap ketika Chihiro mendarat di depannya.
Chihiro mendobrak pintu dan nyaris jatuh tersungkur di lantai kayu. Napasnya memburu, tubuhnya gemetar oleh campuran kelelahan dan ketakutan.
“Sensei!” Chihiro berteriak. “Sensei!”
Cahaya lilin menyala di kegelapan. Kaname duduk di tempat biasanya, seolah-olah dia sudah menunggu. Matanya yang tajam menatap Chihiro dengan ketenangan yang kontras tajam dengan kepanikan muridnya.
Kosuke duduk di samping Kaname, tubuhnya tegak, matanya waspada. Katana biru gelapnya tergeletak di sampingnya, siap digunakan kapan saja.
“Chihiro,” Kaname berkata dengan suara yang datar. “Bicara.”
“Jorogumo!” Chihiro terengah-engah, kata-katanya keluar bersamaan dengan napasnya yang terputus-putus. “Dia... dia memperlihatkan wujud aslinya di restoran Genji. Dia menyerang Genji dan semua anak buahnya. Tarou... Tarou mencoba melawannya. Tapi dia...”
Chihiro berhenti. Air matanya mengalir lagi.
“Tarou terluka parah, Sensei,” Chihiro berbisik. “Dia... dia terbaring di luar restoran. Bersimbah darah. Aku... aku tidak bisa menolongnya. Aku tidak punya kemampuan untuk melawan Jorogumo. Aku... aku meninggalkannya.”
Keheningan yang mengiringi kata-kata Chihiro terasa seperti batu besar yang jatuh ke dalam kolam yang tenang, menciptakan gelombang-gelombang yang menyebar ke segala arah dan mengguncang segalanya.
Kaname menutup matanya.
Di balik kelopak matanya yang tertutup, ada badai yang mengamuk. Kemarahan. Kesedihan. Kekhawatiran. Rasa bersalah karena mengirim muridnya ke pertarungan yang dia tahu bisa berakhir seperti ini. Semuanya berputar-putar di dalam dadanya seperti angin topan yang mencoba menghancurkan segalanya dari dalam.
Namun Kaname adalah guru yang sudah menghadapi puluhan pertarungan dengan yokai selama hidupnya. Dia tahu bahwa emosi, meskipun penting, tidak boleh mengendalikan keputusan di saat-saat seperti ini.
Kaname membuka matanya. Matanya yang tajam menatap Kosuke.
“Jorogumo tidak mudah dikalahkan,” Kaname berkata, suaranya tetap datar meskipun tangannya yang mencengkeram cangkir teh bergetar sedikit. “Tarou adalah petarung terbaik di antara kalian bertiga, dan dia kalah. Itu menunjukkan betapa kuatnya makhluk ini.”
“Lalu apa yang harus kita lakukan, Sensei?” Kosuke bertanya, suaranya tegang namun terkontrol.
“Kita tidak bisa menyelamatkan Tarou sekarang,” Kaname berkata, dan setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa seperti batu yang harus dia telan. “Jorogumo masih ada di sekitar restoran Genji. Pergi ke sana sekarang sama saja dengan bunuh diri.”
“Tapi Tarou...” Chihiro memulai.
“Aku tahu,” Kaname memotong, suaranya sedikit lebih tajam dari biasanya. “Aku tahu, Chihiro. Ini hal yang berat. Ini keputusan yang paling berat yang pernah kubuat. Tapi kita tidak punya pilihan lain.”
Kaname menarik napas panjang dan menghembuskannya pelan.
“Kosuke,” Kaname menatap muridnya. “Esok pagi, aku akan melatihmu teknik pedang ilusi. Teknik ini akan memungkinkan seranganmu memanipulasi pikiran Jorogumo, membalikkan senjata andalannya kepadanya sendiri. Dengan teknik ini, kau memiliki peluang.”
“Peluang, bukan kepastian?” Kosuke bertanya.
“Dalam pertarungan melawan yokai setua dan sekuat Jorogumo,” Kaname menjawab, “tidak ada yang namanya kepastian. Yang ada hanya persiapan dan keberanian.”
Kosuke mengangguk. Rahangnya mengeras, matanya berkilat dengan tekad yang tidak bisa digoyahkan.
“Aku siap, Sensei,” Kosuke berkata. “Ajarkan aku semuanya.”
Di luar pondok, hujan masih turun dengan deras.
Dan di kejauhan, di restoran Genji yang sudah berupa puing-puing, Jorogumo berdiri di tengah-tengah kehancuran.
Hujan membasahi tubuhnya yang masih dalam wujud setengah laba-laba. Darah hitam dari luka-lukanya bercampur dengan air hujan dan mengalir di tanah. Kaki-kaki laba-labanya tertancap di tanah berlumpur, menopang tubuhnya yang kelelahan setelah pertarungan.
Dan Jorogumo tertawa.
Tawanya keras dan panjang, meledak-ledak dari mulutnya seperti gunung berapi yang meletus setelah bertahun-tahun tertidur. Tawa yang dipenuhi kemenangan dan kebencian dan kesakitan dan kegilaan, semua bercampur menjadi satu suara yang mengerikan yang terbawa angin ke seluruh penjuru Shizuoka.
“HAHAHAHAHA!”
Dia menang.
Saudagar kaya dan enam samurainya. Pemburu yokai yang sombong. Semuanya tumbang di hadapannya.
Manusia lemah. Manusia rapuh. Manusia tidak berdaya.
Tawa itu berlanjut hingga petir menyambar dan menerangi wajahnya yang basah oleh hujan dan darah. Wajah yang setengah cantik setengah mengerikan. Wajah yang menyimpan kemenangan yang terasa hampa.
Karena di ujung tawanya, di tempat yang tidak terjangkau oleh kemenangan atau kebencian, Jorogumo merasakan kekosongan yang dingin dan tak berdasar.
Kemenangan ini tidak membawa anak-anaknya kembali.
Tidak ada kemenangan yang bisa melakukan itu.
Lalu Jorogumo mendengarnya.
Langkah-langkah kaki. Banyak langkah kaki. Dari arah pemukiman, semakin dekat, semakin keras. Suara-suara manusia yang berteriak-teriak, suara obor-obor yang berkobar di bawah hujan, suara senjata-senjata yang disiapkan.
Warga-warga Shizuoka, dibangunkan oleh suara kehancuran dan teriakan-teriakan, sedang menuju ke arah restoran.
Jorogumo menyadari bahwa ini bukan saat yang tepat untuk memperlihatkan wujud aslinya kepada seluruh pemukiman. Tidak sekarang. Tidak dalam kondisi terluka seperti ini.
Jorogumo menutup matanya dan berkonsentrasi. Kaki-kaki laba-labanya perlahan-lahan menyusut, masuk kembali ke dalam tubuhnya. Kulit yang kasar kembali menjadi halus. Taring-taring panjang menghilang di balik bibir-bibir yang merah. Mata-mata emas berubah kembali menjadi cokelat gelap.
Ayumi kembali.
Namun Ayumi yang berdiri di bawah hujan saat ini bukanlah Ayumi yang biasa. Kimononya robek dan berlumuran darah, baik darah hitamnya sendiri maupun darah merah manusia. Wajahnya penuh goresan dan memar, bekas-bekas sabetan pedang Tarou yang masih terasa perih. Rambutnya yang biasanya tersisir rapi kini berantakan, menempel di wajahnya yang basah oleh hujan.
Ayumi jatuh berlutut di tanah berlumpur.
Dan menangis.
Tangisnya keras dan menyayat hati, tangisan seorang wanita yang terluka dan ketakutan. Air matanya bercampur dengan air hujan dan darah, mengalir di pipinya yang pucat dan menetes ke tanah yang sudah basah.
Dari kejauhan, suara derap kuda terdengar mendekati. Lima, enam ekor kuda berlari menerobos hujan, penunggangnya memakai jubah-jubah perjalanan yang basah kuyup. Di kuda terdepan, Satoru duduk dengan punggung tegak, matanya yang kecil dan licik menyapu pemandangan di depannya.
Satoru sudah lama menunggu momen ini.
Sejak pertama kali melihat Ayumi di restoran Genji, dia sudah merencanakan cara untuk merebut wanita itu. Dia sudah mengerahkan mata-matanya untuk mengawasi restoran Genji setiap malam, menunggu celah, menunggu kesempatan.
Dan malam ini, kesempatan itu datang dalam bentuk yang tidak dia perkirakan.
Satoru menarik tali kekang kudanya, menghentikan hewan itu beberapa meter dari Ayumi yang berlutut di tanah. Matanya menyapu pemandangan restoran yang hancur, puing-puing kayu yang berserakan, jaring-jaring laba-laba yang berkilau di bawah cahaya petir. Namun perhatiannya segera kembali terfokus pada Ayumi.
“Ayumi!” Satoru melompat turun dari kudanya dan berlari menghampiri wanita itu. Dia berlutut di sampingnya, tangannya yang kasar menyentuh bahu Ayumi yang gemetar. “Apa yang terjadi? Siapa yang melakukan ini padamu?”
Ayumi mengangkat wajahnya. Mata-matanya yang basah oleh air mata menatap Satoru dengan ekspresi yang menghancurkan hati. Bibirnya yang bergetar terbuka, dan suaranya yang keluar pecah-pecah dan parau.
“Ge... Genji,” Ayumi terisak-isak. “Genji dan anak-anak buahnya. Dan... dan pemuda yang selalu memakai topi caping bambu itu. Mereka... mereka berusaha memperkosaku. Dan ketika aku melawan, mereka menyabetku dengan pedang.”
Kata-kata itu keluar dari mulut Ayumi dengan keyakinan dan kesakitan yang tidak mungkin diragukan oleh siapa pun yang mendengarnya. Air matanya yang mengalir deras, tubuhnya yang gemetar, luka-luka di tubuhnya yang berdarah, semuanya menyatu menjadi gambaran seorang wanita yang baru saja mengalami kekejaman yang paling mengerikan.
Wajah Satoru menggelap. Rahangnya mengeras. Urat-urat di lehernya menonjol.
“Bajingan-bajingan itu,” Satoru mendesis, suaranya dipenuhi kemarahan yang panas dan gelap. “Mereka berani menyentuhmu.”
Satoru melepas jubah perjalanannya dan menyampirkannya di bahu Ayumi yang gemetar. Dia mengangkat Ayumi dari tanah dengan kedua tangannya, menggendongnya dengan kelembutan yang kontras tajam dengan kemarahan yang berkobar di matanya.
“Kau ikut bersamaku,” Satoru berkata dengan nada yang tidak menerima penolakan. “Kau aman bersamaku. Tidak ada yang akan menyentuhmu lagi.”
Satoru membawa Ayumi ke kudanya dan mendudukkannya di belakang pelana. Ayumi melingkarkan lengannya di pinggang Satoru, kepalanya bersandar di punggung pria tua itu, matanya tertutup, air matanya masih mengalir.
“Kita pergi,” Satoru memerintahkan anak-anak buahnya. “Sekarang.”
Lima anak buah Satoru yang menunggangi kuda-kuda mereka masing-masing mengangguk dan memutar kuda-kuda mereka. Dalam hitungan detik, rombongan itu sudah melesat meninggalkan restoran Genji yang hancur, derap kuda mereka bergema di jalan-jalan yang basah oleh hujan, semakin menjauh, semakin samar, hingga akhirnya lenyap ditelan kegelapan dan badai.
Dan di punggung kuda Satoru, tersembunyi di balik jubah perjalanan yang basah dan wajah yang penuh air mata, Jorogumo tersenyum.
Senyum yang tidak dilihat oleh siapa pun.
Senyum yang menyimpan rencana berikutnya.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!