“Ini tumpukan naskah baru yang wajib selesai kamu edit sampai akhir bulan. Oya, untuk novelnya Kanaya Rizki yang bulan lalu kamu pegang, juga wajib selesai akhir minggu ini ya, Mayra.”
Suara serak-serak basah Bu Ivonne, berdengung di telingaku. Aku mendengarkannya dengan rasa malas yang teramat sangat. Belum sepenuhnya konsentrasiku bisa kupusatkan pada pekerjaan.
“Mayra, apa kamu mendengar dengan baik semua penjelasan saya?” Bu Ivonne, Editor Kepala Departemen Fiksi, sepertinya bisa menangkap ketidaksiapanku saat ini.
“Saya mendengar dengan jelas, Bu. Untuk novelnya Kanaya, akan saya selesaikan revisi editingnya secepat mungkin paling lambat akhir minggu ini,” dan akan membuatku sering lembur sampai malam pasti, pikirku.
“Oke, saya tunggu hasilnya, silakan lanjutkan pekerjaanmu,” perintah Bu Ivonne dengan suara mantap. Senyum puas tercetak di wajah tirusnya. Aku harus bekerja keras agar tidak mengecewakan perempuan yang sudah menjadi idolaku di kantor ini semenjak aku masih menjadi pegawai magang.
Dengan tidak bersemangat, aku berjalan dari luar ruangan Bu Ivonne dan kembali ke mejaku sendiri. Tumpukan naskah dan deadline yang harus selesai kuedit di tengah moodku yang sedang sangat kacau. Ah, sudahlah, lebih baik aku fokus sekarang. Untuk mengalihkan pikiran yang kurang menyenangkan, kupasangkan headset di telinga dan kuputar lagu-lagu dengan beat rancak.
Pertama, kuambil naskah Kanaya Rizki yang baru separuh kuekrjakan revisi editingnya. Penulis muda ini sudah menyelesaikan revisi pertamanya dan melakukan banyak perubahan sesuai dengan yang kusarankan. Kanaya, seorang penulis yang baru duduk di tingkat dua perguruan tinggi mengingatkan akan semangatku sendiri dua tahun lalu ketika baru bekerja di Wordholic Publishing, sebuah penerbitan indie yang kini terus berkembang menjadi agensi naskah dan juga penerbit mayor. Tahun ini adalah tahun yang krusial untuk perusahaan ini karena baru diresmikan menjadi peenrbit mayor serta berjuang menerbitkan buku-buku yang bersaing dengan penerbit mayor besar lainnya.
Aku mencintai pekerjaanku dan juga Wordhouse Publishing. Akan tetapi mungkin aku butuh banyak relaksasi agar bisa kembali fokus pada pekerjaan. Aku tidak boleh mengecewakan Bu Ivonne yang sudah banyak membimbingku di sini.
“Hmm, mari kita mulai,” gumamku dalam hati sambil mengambil pensil dan bolpoin serta tumpukan naskah yang siap untuk kuteliti.
Naskah pertama yang akan kuedit adalah milik Kanaya Rizki yang berjudul “Hati Perempuan”. Novel ini sangat menyentuh, hanya beberapa editing di bagian ejaan dan juga konteks kalimat. Ada juga bagian bab yang kurasa perlu lebih diperingkas lagi.
Ada banyak kalimat yang menyentuh hatiku dari novel ini. Meskipun Kanaya masih cukup muda, ia menuliskan sebuah kisah yang sangat kompleks untuk ukuran dirinya. Hati Perempuan menceritakan tentang seorang wanita berusia pertengahan dua puluhan yang ingin mencari cinta sejatinya setelah dirinya banyak menemui kegagalan.
Sebentar, tokoh Melati dalam novel ini memiliki kisah yang sedikit mirip dengan diriku sekarang. Ya Tuhan, bahkan di saat hatiku sedang kacau seperti sekarang, aku harus mengedit naskah yang isi ceritanya juga sama sedihnya, sungguh sebuah kebetulan yang tidak mengenakkan.
Kubaca kembali bagian-bagian yang sudah direvisi dengan semakin enggan. Waktu berjalan sangat lambat. Bagaimana kabar Leo sekarang? Apakah ia makan dengan cukup baik? Apakah ia sudah sarapan pagi? Biasanya Leo akan jarang sarapan jika tidak kuingatkan. Ugh, kupukul kepalaku agar tidak peduli pada mantanku itu.
Pluk, sebuah gumpalan kertas mengenai kepalaku. Aku menoleh ke samping kanan dan kiri, mencari siapa pelakunya. Kudapati sesosok pria bermata sipit dengan kacamata bingkai hitam yang duduk berjarak dua meja di samping kiriku, sedang menatapku jahil.
“Kamu yang lempar kertas tadi?” tembakku langsung.
“Iya, emang kenapa, Mei?” Laki-laki yang kupanggil Arga itu malah menjawab dengan santainya. Mulutnya terus bergerak dalam diam, pasti ia sedang mengunyah permen karet, dasar laki-laki slengekan.
“Sudah kubilang kan, namaku Mayra, bukannya Meira. Jadi kalau manggil tolong pakai ejaan yang benar,” tukasku kesal.
“Iya, suka-suka akulah mau manggil kamu apa daripada kupanggil, Mas,” ujarnya cuek, wajahnya innocent tanpa menunjukkan rasa bersalah. “Kalau kamu lagi sumpek, mending keluar kantor sebentar, hirup udara segar, baru terusin kerjaan lagi,” katanya lagi. Kemudian ia duduk kembali di kursinya dan melanjutkan pekerjaannya sendiri.
Untung hanya ada aku dan Arga di ruanganku saat ini, karena rekan editorku lainnya sedang memiliki pekerjaan lain di luar kantor. Jika saja yang lain ada di sini, pasti mereka akan bersemangat untuk menggodaku dengan Arga.
Aku berusaha kembali pada naskah yang akan kuteliti. Aah, masih saja pikiran-pikiran cemas tentang Leo kembali berebut masuk di otakku. Sepertinya, anjuran Arga agar aku keluar sebentar ada benarnya juga. Sebaiknya aku jalan-jalan sebentar ke tempat favoritku itu. Ke sebuah tempat di mana aku bisa mengamati awan dengan bebas dan pastinya hembusan angin akan lebih menyegarkan otakku yang sedang tidak berjalan normal.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!