Suatu hari
“Ini buat permintaan maafku. Maafin aku udah marah-marah sama kamu, sayang,”
Aku begitu marah pada Leo karena ia telah membuatku hampir terjebak malu. Bagaimana bisa ia membuntutiku diam-diam ketika aku sedang jalan berdua dengan Reine, kawanku sekelas?
“Kenapa kamu segitu nggak percayanya sih?” tukasku gusar.
Leo menimbang-nimbang cokelat dengan kacang mente favoritku di kedua tangannya. Wajahnya terlihat sangat menyesal.
“Aku nggak butuh sogokan seperti cokelat itu. Lebih baik kamu makan sendiri aja,” kataku lagi ketus,”kalau kamu terus posesif begini, lebih baik kita putus aja,”
Seketika Leo begitu terkejut dengan keputusanku. Ini kali kedua aku meminta putus darinya. Aku sendiri sudah begitu tertekan dengan sikap posesifnya. Menurutku tindakan Leo kali ini sudah melewati ambang batas. Kadang-kadang kecurigaannya tanpa alasan.
“Kenapa kamu bisa gampang bilang putus sih? Semuanya kan bisa dibicarakan baik-baik,”katanya dengan tatapan kecewa.
Aku berdiri dan memegang handle pintu rumah,”Sebaiknya kamu pulang dulu.”
Leo memegang pundakku beberapa detik, lalu pergi berpamitan dengan suara lirih. Cokelat yang hendak diberikan padaku, ditinggalkan begitu saja di meja teras. Dan sikap keras kepalaku hanya bertahan selama beberapa jam saja, karena ruang hatiku begitu kosong ketika kupikir ulang semua kata-kataku.
“Dari awal aku tahu rasa sayangku ke kamu lebih besar dibanding rasa sayangmu ke aku. Aku hadir ketika kamu belum benar-benar lepas dari kenangan Niko. Aku tahu, dan aku sudah berkorban perasaan begitu banyak, rasanya sudah habis semua perasaanku kuberikan buatmu, sayang,” katanya ketika aku minta hubungan kami membaik lagi.
Dan ada harga yang harus dibayar setelah aku berbicara atau meminta putus. Perlahan Leo menjauh, meski kami tak jadi berpisah. Ia sempat berpaling pada perempuan lain yang bisa menyejukkan hatinya.
**
“Kenapa bisa begitu, Nak?”
Suara lembut di seberang sana terdengar begitu sedih. Aku tahu jika pemberitahuanku barusan membuat Mama terkejut. Ia pasti khawatir dengan diriku sekarang.
“Aku belum bisa cerita semuanya sekarang, Ma. Oya, mungkin sebaiknya Mama dan Tante Lina nggak perlu datang ke Surabaya dulu. Semua hal di sini akan kubereskan sendiri. Aku sudah bilang ke percetakan undangannya kalau tidak jadi pesan 300 lembar lagi. Jadi untuk seratus lembar yang sudah jadi, udah kubayar sendiri. Pesanan katering dan juga baju nikahnya juga udah kuberesin,” tuturku pelan-pelan, berusaha menahan tangis yang hendak pecah lagi
Mulanya pernikahanku dengan Leo akan diadakan di Surabaya, karena di sinilah keluargaku menetap dan juga sekaligus tempat kelahiranku. Orang tuaku pindah ke Jakarta setahun lalu setelah salah satu perusahaan cabang tempat Papa bekerja membutuhkan sosok yang cakap untuk memperbaiki sistem salah satu bagian departemen kantor pusat yang sedang kritis.
“Mama akan tetap ke Surabaya, justu di saat seperti ini, kamu tidak boleh sendirian.” Mama masih bersikeras untuk datang.
“Nggak perlu, Ma. Justru aku lagi pengen sendirian. Tenang aja, Chika dan teman-temanku yang lain nggak akan biarin aku sedih. Chika juga sesekali datang ke rumah buat nginep. Dek Mahesa juga Sabtu Minggu selalu pulang ke rumah kalau dia sedang tidak ada kegiatan di kampusnya.” Kusebutkan semua orang yang memang silih berganti menemaniku di rumah selain dua orang asisten rumah tangga yang bertugas menjaga dan membersihkan rumah.
“Iya, biar Mama yang akan menjelaskan ke Papa dan juga keluarga eyangmu,” ujar Mama penuh pengertian.
Ah aku ingin sekali berlari ke Jakarta dan memeluk Mama erat-erat. Aku sadar akan ada kehebohan besar di keluarga besarku jika berita ini sampai di telinga mereka. ”Ini bukan salahmu, jadi Mama akan selalu mendukung apapun yang kamu putuskan. Pasti ada alasan kuat sampai kamu memutuskan untuk berpisah. Mama sangat kenal kamu,” lanjut Mama lagi seolah sedang membaca pikiranku.
Kuhela nafas dalam-dalam. Menahan sesak yang sudah berada di ujung tenggorokan rasanya sulit sekali,”Iya Ma, terima kasih.” Tidak ini salahku!” jeritku dalam hati.
“Ya sudah, kalau begitu sebaiknya kamu istirahat dulu. Berdoalah, jangan lupa solat, Insyaallah kamu akan bisa melewati semua masalah ini,” kata Mama kemudian mengucap salam. Setelah sambungan telepon diputus, sesak di dadaku akhirnya bisa terangkat sedikit.
Aku menyandarkan punggung di sofa ruang tamu. Kugeletakkan smartphone di meja dengan gerakan sedikit kasar. Mataku menjelajah langit-langit ruang tamu yang dicat putih gading. Kupejamkan mata, namun lagi-lagi yang muncul adalah kenangan-kenangan bersama Leo. Kali ini adalah kenanganku saat pertama kali ia khianati.
Semuanya terjadi karena sebuah alasan. Waktu itu tanpa sengaja akulah yang mendorong Leo menjauh.
“Jangan sok baik hati, Mayra. Katakan saja kalau kamu masih trauma dengan pengkhianatan Leo, bukan? Kamu tidak pernah tulus memaafkan dia. Makanya kamu begitu brutal marah pada Leo hanya gara-gara persahabatan Leo dengan kawan perempuan yang tidak kau kenal. Kau cemburu buta!” Salah satu bagian diriku mulai melancarkan aksi provokasinya.
“Jangan dengarkan, Mayra! Leo sudah hampir terganggu lagi kesetiaannya, bahkan ia ingin memikirkan ulang penikahan kalian. Itu bibit tidak baik. Kamu akan sakit jika nekat meneruskan dengannya.” Sisi diriku yang lain balas memprotes.
Dan saat sedang berperang dua pikiran di otakku yang rumit, aku dikejutkan dengan suara ringtone smartphone yang tergeletak terbalik di atas meja. Layarnya berkedip-kedip, mengejutkanku. Nama Leo muncul di layarnya.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!