“Bagaimana kabarmu, Ra?” tanya Leo. Aku sedikit berjengit ketika mendengarnya menyebut namaku tanpa embel-embel sayang lagi. Ah, aku lupa, kini kami bukan lagi sepasang kekasih.
“Tidak sepenuhnya baik, Leo. How are you?” tanyaku balik. Di saat seperti ini untuk apa lagi kami berpura-pura baik. Toh, semuanya tidak akan mengubah keadaan.
Leo tidak langsung menjawab. Suara di sekitarnya juga sangat hening. Kutebak mungkin ia sedang berada di kamarnya, menyendiri.
“Aku? Ya, aku hancur. Seperti yang kamu ketahui. Kamu pasti lebih tahu dariku, tetapi kamu lebih layak untuk mendapatkan pria lain yang lebih kuat dan tegas daripada aku. Perempuan kuat sepertimu tidak pantas mendapatkan laki-laki buruk sepertiku,”
Mulai lagi, ia mulai menghina dirinya sendiri.
“Hmm, aku sudah membereskan semuanya. Soal undangan dan juga pernak-pernik pernikahan lainnya yang perlu dibatalkan, sudah kuurus. Detil semuanya sudah kukirim melalui email dan kuberitahukan perkembangannya lewat chat, tetapi kamu tidak pernah membalas,” ujarku berusaha mengalihkan pembicaraan. Aku jengah jika mendengar semua ketidakberdayaannya lagi.
“Jadi ayah ibumu sudah tahu?” tanyanya lagi.
“Iya, mereka memang sedih. Tapi kamu tak perlu khawatir. Kalau kamu sudah siap untuk bertemu dengan mereka, pasti akan kuatur pertemuannya. Aku juga perlu meminta maaf pada keluargamu karena pasti berita putusnya kita akan membuat semua orang kecewa.”
“Kenapa kamu bertindak tanpa berpikir dulu?” Tiba-tiba saja Leo menyemburku dengan kalimat dingin.
“Apa maksudnya kenapa? Aku sudah menunggumu selama berhari-hari dan kamu sama sekali tidak memberi kabar. Kediamanmu itu kuanggap sebagai pertanda kalau kamu sudah benar-benar ingin enyah dari hidupku.” Emosiku ikut terpancing setelah mendengar komentarnya.
“Yah, aku memang ingin kamu mencari laki-laki lain, tetapi aku tidak menyangka kalau kamu sudah bertindak jauh bahkan sampai membereskan semua urusan pernikahan sampai selesai tanpa melibatkanku langsung,”
Di titik ini aku sama sekali tidak paham dengan Leo. Dalam sekejap dia menjadi sosok asing yang sama sekali tak bisa kutebak. Bukannya dia hanya diam tiap kali kutelpon dan juga kukirimi pesan? Aku tidak bisa membiarkannya menggantung lama-lama, toh pada kenyataannya kami sudah putus.
“Bolehkah aku kembali bersamamu?” Suara Leo membuyarkan lamunanku.
Sekali lagi aku terkejut karenanya.
“Apa? Kamu ini ngomong apa sih?” tukasku marah,”kamu pikir putus itu untuk mainan?”
“Aku akan meminta maaf pada orang tuamu dan memohon untuk melanjutkan pertunangan itu lagi. Anggap saja pertengkaran kita kemarin tidak terjadi. Aku tidak bisa berjauhan darimu. I got mad, you know that exactly,” ujar Leo tenang, suaranya sudah tidak diliputi emosi.
Aku tahu permainan ini. Dia sedang mengulang permainan tarik ulur yang sama, selalu dilakukan tiap kali kami bertengkar hebat.
“Sepertinya keputusanku kali ini akan sangat sulit diubah, Leo. Kalau kamu memang ingin kembali, kamu harus berjuang lebih keras. Terserah mau bagaimana caranya.” Aku sudah ingin menutup pembicaraan sebelum Leo mengatakan kalimat pamungkasnya.
“Aku merindukanmu, sayang. Sungguh!” kata Leo, suaranya bergetar. Aku bisa merasakan gelombang emosinya sampai ke ulu hatiku.
“Kamu tahu, Leo? Kamu sudah pernah memecahkan kepercayaanku dulu, lalu kususun kembali meski dengan hati patah. Kali ini pecahan itu sudah hancur semakin halus. Jika kamu ingin membuatnya utuh lagi, berusahalah mencari kaca yang baru dan mirip dengan yang lama meski butuh waktu lama. Hati yang baru, itu yang kubutuhkan untuk bisa bersamamu,” tuturku sebelum akhirnya menutup pembicaraan.
Yang kukatakan itu sebuah kesungguhan, setengah kebohongan. Aku butuh sebentuk hati baru jika ingin bersama Leo lagi. Sebenarnya ingin kukatakan padanya jika rinduku sudah menggunung. Tetapi, aku takut Leo akan semakin besar kepala.
Apa ini cinta? Tidak seharusnya cinta diliputi tipu daya. Tetapi meskipun marah pada Leo, hatiku masih tak bisa sepenuhnya membencinya. Aku takut jika Leo melakukan tindakan bodoh. Karena dulu ia pernah membenturkan kepala ke dinding saat aku ingin berpisah untuk pertama kalinya.
Leo seringkali jatuh dalam kondisi rapuh dan akulah yang akan menjadi pelindungnya. Aku sudah terbiasa, begitulah cara kami saling mencintai.
Tiap diriku selalu tampil menjadi pelindung Leo, di satu sisi aku telah melemahkan bagian diriku yang lain. Aku menjadi abai pada bagian hatiku.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!