Bab 01

Bab 1

1 dibaca

A

Pagi di rumah utama selalu dimulai dengan suara denting peralatan masak dari arah dapur. Kala melangkah masuk dengan piyama yang belum dia ganti sejak dua hari lalu. Rambutnya mencuat berantakan ke segala arah. Dia tidak peduli. Langkahnya terseret di lantai marmer yang dingin, menciptakan gema pelan di ruangan yang luas tersebut.

Di area dapur bersih, Kala membuka kabinet atas. Matanya menyapu deretan toples kaca berderet rapi. Kopi bubuk, gula, dan beberapa kotak kemasan. Pandangannya terpaku pada kotak teh earl grey dengan kemasan kuning pudar. Tangannya mengambang di udara selama beberapa detik. Aroma daun teh yang diseduh air panas mendadak memenuhi kepalanya, menyergap rongga dadanya tanpa peringatan. Kala membuang muka. Dia meraih toples kopi paling ujung dengan cepat.

Satu sendok kopi. Air panas. Tanpa gula. Kala mengaduknya lambat. Sendoknya membentur dinding cangkir keramik, menghasilkan bunyi berisik yang mengganggu keheningan pagi.

“Kamu terlihat seperti gembel yang tersesat di rumah mewah,” tegur Andika yang baru masuk dari pintu belakang. Tangannya membawa kantong kertas berisi tumpukan roti tawar.

“Gembel tidak minum kopi dengan biji pilihan,” jawab Kala. Dia menyesap kopinya yang masih mengepul. Lidahnya kebas karena panas, tapi dia tidak bereaksi.

Andika menarik kursi bar dan duduk. Dia mengeluarkan sepotong roti dan menggigitnya langsung tanpa selai. “Mandilah. Dewi akan mengomel jika melihatmu masih memakai baju yang sama sejak Selasa.”

“Hari ini hari apa?” Kala bertanya tanpa menatap Andika.

“Kamis.”

“Berarti baru dua hari. Masih layak pakai.” Kala berbalik dan bersandar pada meja dapur. Matanya menatap ke arah dinding di hadapannya, sengaja menghindari pandangan ke luar jendela besar yang menghadap taman samping.

“Terserah.” Andika mengunyah rotinya lambat. “Kirana mencarimu tadi.”

Kala tidak menjawab. Dia membawa cangkir kopinya berjalan meninggalkan dapur, menuju ruang makan utama. Meja kayu jati panjang itu sudah terisi. Wana duduk di kursi tengah, sedang mengunyah tumpukan nasi goreng.

Kala menarik kursi di ujung meja dan duduk. Dia meletakkan cangkir kopinya di atas meja tanpa berniat mengambil piring.

“Kamu mau diam di rumah sampai jamuran?” tanya Wana saat menyadari kehadiran adiknya. Mulutnya masih penuh dengan makanan.

“Aku sedang tidak ingin keluar,” jawab Kala.

“Ada urusan pengiriman barang dari pelabuhan. Orang-orang di lapangan butuh pengawasan,” kata Wana. “Hanya melihat kotak kayu diturunkan dari kapal. Tidak perlu tenaga. Cocok untuk orang malas sepertimu.”

“Suruh Bayu.”

“Bayu sedang mengurus orang-orang pajak.” Wana menelan makanannya dengan paksa lalu meminum air putih dari gelas besar. “Setidaknya pergilah ke luar. Menghirup udara berpolusi Jakarta lebih baik daripada kamu menghirup udara pendingin ruangan di kamarmu seharian.”

Dewi muncul dari lorong utama. Tangannya membawa tumpukan map laporan. Dia meletakkan map itu di bufet kecil di sudut ruang makan, lalu menarik napas panjang. Wajahnya terlihat kurang tidur dengan lingkaran hitam samar di bawah matanya.

“Wana, jangan paksa adikmu jika dia tidak mau,” tegur Dewi. Dia menarik kursi di sebelah Kala. “Kal, makanlah sesuatu. Aku tidak melihatmu mengunyah apapun sejak kemarin sore.”

“Kopi ini punya kalori,” jawab Kala beralasan.

Dewi menggeleng pelan. “Itu kafein. Bukan karbohidrat.”

“Sama-sama masuk perut.” Kala meletakkan cangkirnya. Dia berdiri. “Aku kenyang.”

“Kamu bahkan belum mengunyah apa-apa!” protes Wana.

Kala mengabaikan teriakan kakaknya. Dia berbalik dan berjalan meninggalkan ruang makan. Saat dia mencapai tangga utama menuju lantai dua, suara ketukan sepatu hak tinggi terdengar menuruni anak tangga.

“Kal!” Suara Kirana menghentikan langkah Kala.

Kirana berpapasan dengannya di pertengahan tangga. Penampilannya rapi dengan blus satin putih dan celana kain hitam. Rambutnya digelung ke atas, menampilkan lehernya yang jenjang. Tangannya sibuk merapikan kerah jas yang dia kenakan.

“Bantu aku sebentar,” kata Kirana.

Kala berdiri diam di anak tangga. “Ada apa?”

“Di meja kerjaku ada map biru tebal. Tagihan rumah sakit dari yayasan. Bawa itu ke ruangan Bayu. Aku harus pergi sekarang, klien dari luar kota mempercepat jadwal pertemuan.” Kirana tidak menunggu jawaban Kala. Dia bergegas menuruni sisa anak tangga, menyemprotkan parfum sambil berjalan. Aroma wangi yang manis menguar di udara. Kala menahan napas sejenak, lalu melangkah naik.

Dia berjalan menyusuri lorong dan membuka pintu ruang kerja Kirana. Ruangan itu tertata sangat rapi. Rak buku menempel di dinding kanan, berisi deretan literatur sejarah dan dokumen keuangan yang disusun berdasarkan abjad. Di tengah ruangan, meja kayu mahoni besar berdiri kokoh.

Kala melangkah mendekati meja. Map biru yang Kirana maksud tergeletak di atas tumpukan dokumen lain. Kala mengambil map itu. Sesuatu menarik perhatiannya sesaat setelah dia mengangkat map tersebut. Laci kedua di sebelah kanan meja Kirana tidak tertutup rapat. Ada celah kecil sekitar satu sentimeter.

Kala tahu persis laci itu. Laci khusus tempat Kirana menyimpan dokumen-dokumen lama dan arsip mati. Di dalam sana, di bawah tumpukan kertas laporan bulanan yang berdebu, ada sebuah proposal. Dokumen yang dulu pernah Kala susun berhari-hari pada saat ayahnya masih hidup. Berlembar-lembar rencana dan skema untuk mengubah prioritas operasi Ludira, untuk membawa keluarga ini keluar dari urusan berdarah. Proposal yang dulu ditolak mentah-mentah oleh Danar karena dianggap sekadar gagasan emosional yang mengada-ada.

Kala menatap celah laci itu. Tangannya terulur, ibu jarinya menyentuh tepi kayu laci. Dia bisa saja menariknya. Dia bisa saja membuka kembali kertas-kertas itu dan membacanya ulang.

Namun, otaknya menghentikan pergerakan tangannya. Ayahnya sudah mati. Sam sudah tidak ada. Rencana-rencana di atas kertas itu tidak menyelamatkan siapa pun dari tanah kuburan.

Kala menarik tangannya kembali. Dia berbalik dan berjalan keluar dari ruang kerja Kirana sambil membawa map biru.

Setelah menyerahkan map kepada Bayu yang sedang sibuk memaki seseorang di telepon, Kala melangkah keluar menuju halaman. Matahari mulai naik, sinarnya menyengat kulit. Udara bulan Maret terasa gerah dan tebal.

Kala duduk di kursi rotan di teras samping. Dia menyandarkan kepalanya ke belakang. Pandangannya jatuh lurus ke arah hamparan rumput dan pot-pot tanah liat besar. Di sudut taman, seorang pelayan sedang menyiram tanaman hias berbunga putih yang mekar dengan lebat. Air dari selang membentur daun, menyebarkan aroma tanah basah dan wangi kelopak bunga ke udara.

Kala menatap kelopak putih yang berguguran ditiup angin kencang. Tangannya mencengkeram pegangan kursi rotan.

“Bunga apa itu?” Kala bertanya pada pelayan yang memegang selang air.

Pelayan itu menoleh terkejut, langsung mematikan aliran air. “Itu melati belanda, Mas Kala. Wanginya paling tajam kalau sore hari.”

Kala mengalihkan pandangannya ke arah dinding bata. Dia sangat benci kenyataan bahwa otaknya otomatis merekam dan mengenali berbagai jenis bunga sekarang. Pengetahuan yang tidak pernah dia pedulikan seumur hidupnya, sampai seseorang memperkenalkannya pada beraneka rupa jenis tanaman.

Kala memejamkan mata. Dada sebelah kirinya terasa berat. Tidak ada peluru yang bersarang di sana, tapi nyerinya mengalahkan sobekan daging akibat luka tembak. Dia mengatur napasnya yang mendadak tidak beraturan.

“Mas Kala sakit?” tegur pelayan itu dengan nada khawatir saat melihat Kala memegang dadanya sendiri.

“Tidak,” jawab Kala cepat. Dia membuka mata dan menurunkan tangannya. “Lanjutkan pekerjaanmu.”

Kala bangkit dari kursi rotan. Jika dia terus duduk di sini menghirup aroma bunga, otaknya akan mulai memutar ulang kejadian di lorong kafe, di balkon flat, dan di tanah kosong berhujan tempat tangannya menggali kuburan. Dia berjalan masuk kembali ke dalam rumah dengan langkah cepat.

Menjelang sore hari, Kala mengurung diri di ruang baca keluarga. Dia duduk di sofa kulit tunggal, memangku sebuah buku sejarah setebal bantal yang halamannya tidak dia balik sejak satu jam lalu.

Pintu terbuka tanpa ketukan. Dewi masuk membawa secangkir keramik berasap di atas nampan kecil. Dia meletakkan nampan itu di meja kayu di samping Kala.

“Jahe hangat,” kata Dewi. “Bukan kopi. Bukan teh.”

Kala melirik cangkir itu. Uap panasnya membawa aroma jahe pedas yang kuat. “Aku tidak memintanya.”

“Aku yang memutuskan kamu butuh ini,” balas Dewi. Dia tidak segera pergi, melainkan berdiri di dekat jendela, melihat rintik gerimis yang mulai membasahi kaca. “Hujan turun lagi. Bulan Maret tapi cuacanya terus mendung.”

Kala menutup bukunya dan meletakkannya di meja.

“Kamu tidak bisa terus seperti ini, Kal,” kata Dewi. Nada suaranya biasa, tanpa nada menggurui. “Kirana dan Wana mulai kehabisan cara. Mereka hanya tidak tahu cara berbicara denganmu tanpa memicu keributan.”

“Aku baik-baik saja.”

“Kamu mandi dua hari sekali. Kamu makan satu porsi sehari. Kamu menatap dinding kosong lebih lama daripada menatap wajah saudaramu.” Dewi berbalik menghadapnya. “Jika itu definisi baik-baik saja bagimu, standar kehidupan kita sudah bergeser jauh ke bawah.”

“Aku tidak mengganggu operasional Ludira. Kirana dan Wana menjalankan semuanya dengan lancar.”

“Ini bukan tentang Ludira. Ini tentang kamu.”

Kala menghela napas pendek. Pembicaraan ini menyedot sisa energinya yang hanya sedikit. Dia menghindari orang-orang yang mencoba mengurai isi kepalanya.

“Biarkan aku sendiri, Dewi,” pinta Kala.

Dewi tidak mendesak lebih jauh. Wanita itu sudah terlalu hafal batasan saat berhadapan dengan anak-anak Gema yang dia asuh sejak kecil. Dia mengangguk pelan.

“Minum jahenya selagi hangat,” pesannya sebelum berjalan keluar ruangan dan menutup pintu rapat-rapat.

Kala memandangi cangkir jahe tersebut. Dia mengangkatnya, merasakan panas keramik menembus telapak tangannya. Dia meneguknya sedikit. Rasanya pedas membakar tenggorokan. Sensasi panas itu menjalar sebentar di dadanya, lalu menghilang seketika, menyisakan kekosongan yang tidak berubah.

Malam harinya, Kala menemukan dirinya duduk di karpet ruang tengah, bersandar pada kaki sofa. Televisi menyala terang, menampilkan saluran berita. Seorang pembawa acara melaporkan kasus penggelapan dana di sebuah perusahaan konstruksi dengan intonasi menggebu-gebu. Kala menontonnya tanpa menyerap satu kata pun.

Andika duduk di sofa tepat di belakang Kala. Tangannya sibuk memencet layar ponsel.

“Kamu menghalangi pandanganku ke televisi,” kata Andika.

“Kepalaku tidak sebesar itu,” balas Kala tanpa menyingkir.

“Rambutmu mencuat tinggi menutupi terjemahan di layar.”

Kala menekan rambutnya dengan telapak tangan hingga rata dengan kulit kepala, lalu melepaskannya kembali sehingga rambutnya mencuat kembali seperti semula. “Sudah.”

Andika mendengus kasar. “Kirana akan pulang telat. Ada makan malam dengan kolega. Wana baru saja menelepon, dia bilang malam ini dia tidak pulang. Tidur di pelabuhan sepertinya.” Kala tidak memberikan komentar. “Jadi, untuk makan malam, mau pesan dari luar atau makan makanan sisa di dapur?” tanya Andika.

“Terserah.”

“Nasi goreng pete?”

“Tidak.”

“Mi ayam?”

“Bosan.”

“Sate padang?”

“Terlalu pedas.”

Andika meletakkan ponselnya di bantal sofa. Dia menunduk menatap puncak kepala Kala. “Katamu terserah.”

“Terserah yang tidak bertentangan dengan preferensiku hari ini.”

“Selera makan orang yang tidak punya tujuan hidup sangat merepotkan.” Andika mengambil bantal sofa kecil dan memukulkannya perlahan ke kepala Kala.

Kala sama sekali tidak menghindar. Bantal itu menabrak kepalanya tanpa tenaga berarti dan jatuh ke karpet.

“Beli saja burger daging lapis tiga,” ucap Kala akhirnya setelah keheningan yang cukup lama.

“Saus ekstra?”

“Tidak pakai saus. Tidak pakai sayur.”

“Itu hanya setumpuk roti dan daging tawar.” Andika memutar bola matanya ke arah langit-langit. “Baiklah. Gembel yang tidur di rumah mewah hanya mau makan roti dan daging tawar malam ini.”

Andika berdiri dan berjalan menuju pintu depan untuk memberikan instruksi pada pengawal yang berjaga di pos agar membelikan pesanan mereka.

Kala kembali sendirian. Saluran televisi berganti menampilkan iklan pembersih lantai. Kala mengambil remote dari atas karpet dan mematikan televisi. Keheningan langsung menyergap ruang tengah. Suara deru pelan dari mesin pendingin ruangan menjadi satu-satunya sumber suara.

Kala menatap layar televisi yang hitam legam. Layar itu memantulkan bayangan dirinya duduk bersandar di lantai. Wajahnya terlihat pucat. Matanya sayu dengan kantung mata yang menghitam tegas. Garis rahangnya ditumbuhi bulu-bulu halus yang tidak dicukur rapi sejak beberapa minggu lalu.

Bayangan di layar itu tampak asing. Dia berdiri secara perlahan. Udara di rumah ini tiba-tiba terasa menyempit dan mencekik rongga dadanya. Terlalu banyak ruang kosong yang tidak terisi. Terlalu banyak tempat yang mengingatkannya pada hal-hal yang tidak bisa dia miliki lagi. Rumah ini dulunya adalah tempat dia kembali setelah segala masalah di luar selesai, tapi kini, bangunan besar ini tidak ubahnya seperti kotak etalase yang mengurung tubuh matinya.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk