Bab 2

1 dibaca

A

Jam di dinding kamarnya menunjukkan angka tiga lewat dua puluh menit pagi. Udara bulan Mei terasa gerah bahkan ketika mesin pendingin ruangan sudah disetel pada suhu terendah. Kala berdiri di tengah kamarnya. Matanya menyapu sekeliling. Tempat tidur berantakan, buku-buku sejarah berserakan di meja, dan tirai yang tertutup rapat.

Ruangan ini terasa makin sempit dari hari ke hari. Semakin lama dia diam di sini, semakin banyak suara-suara di kepalanya yang tidak bisa dia hentikan.

Kala melangkah ke arah lemari pakaian. Dia membuka pintu kayu itu. Deretan kemeja, kaos, dan jas tergantung rapi. Dia meraih sebuah tas jinjing kanvas berwarna hitam dari rak bagian atas. Tas itu jatuh ke lantai dengan suara pelan.

Dia mengambil beberapa potong pakaian secara acak. Tiga kaos hitam polos, dua kaos putih, dua pasang celana kargo berwarna khaki, dan beberapa potong pakaian dalam. Dia melempar semuanya ke dalam tas jinjing tanpa repot-repot melipatnya.

Kala berjalan ke kamar mandi, membuka kabinet di atas wastafel. Dia mengambil sikat gigi, pasta gigi, dan pisau cukur. Dia memasukkan barang-barang itu ke dalam kantong plastik kecil sebelum melemparkannya menyusul tumpukan pakaian di dalam tas.

Setelah tasnya terisi setengah, Kala berjalan menuju meja kecil di samping tempat tidur. Dia membuka laci paling atas.

Di dalam laci itu, tergeletak sebuah harnes kulit berwarna hitam. Di sebelahnya, sepucuk pistol semiotomatis bersandar diam. Senjata yang selalu dia rawat dan bersihkan, senjata yang sudah menumbangkan banyak nyawa.

Kala berdiri menatap benda itu cukup lama. Bertahun-tahun, harnes ini adalah pakaian pertamanya setelah mandi. Benda itu mengikat tulang rusuknya, menempel di tubuhnya seperti kulit kedua. Membawa senjata adalah hal yang sealami bernapas baginya.

Dia mengulurkan tangan, mengambil pistol tersebut. Besi dingin menyentuh telapak tangannya. Jempolnya menekan tombol pelepas magasin. Magasin meluncur keluar, menampilkan deretan peluru berwarna kuningan yang tersusun rapi. Kala mendorong kembali magasin itu hingga terdengar bunyi klik tertahan.

Dia meraih harnes kulit tersebut. Tangannya tidak bergerak untuk melingkarkan tali kulit itu ke bahunya. Sebagai gantinya, Kala melipat harnes itu menjadi gulungan tebal, lalu menyusupkan pistol ke dalam lipatan kulitnya.

Kala berjalan ke arah tas jinjingnya. Dia memasukkan gulungan harnes dan senjata itu ke bagian paling bawah tas, menumpuknya dengan celana dan kaos hingga benda itu tidak terlihat sama sekali. Dia menarik resleting tas hingga tertutup rapat.

Dada kirinya terasa kosong. Tidak ada beban kulit dan logam yang menekan rusuknya. Sensasi ringan ini justru membuatnya merasa janggal, tapi dia membiarkannya. Hari ini, dia tidak akan mengenakan senjatanya.

Kala kembali ke meja. Dia menarik laci kedua, mencari kertas. Dia menemukan sebuah buku catatan kecil berlogo hotel dan sebuah pena hitam.

Dia menyobek selembar kertas. Memutar tutup pena, lalu menulis beberapa kata singkat.

“Aku keluar sebentar. Jangan dicari.”

Dia meletakkan kertas itu di tengah kasur yang berantakan, di tempat yang pasti akan langsung terlihat oleh siapa pun yang membuka pintu kamarnya.

Kala meraih tali tas jinjingnya, menyampirkannya di bahu kanan. Dia membuka pintu kamar dan keluar menuju lorong lantai dua.

Lorong rumah utama sunyi senyap. Lampu dinding memancarkan cahaya kekuningan yang temaram. Kala melangkah tanpa suara, sepatunya menyentuh karpet tebal di sepanjang lorong. Dia melewati pintu kamar Kirana yang tertutup rapat. Dia juga melewati kamar Wana yang gelap gulita. Tidak ada suara dengkuran malam ini, kakaknya itu mungkin tidur di pelabuhan atau sedang bertugas.

Kala turun melalui tangga kayu berpelitur licin. Ruang keluarga di lantai bawah gelap. Televisi layar datar di dinding memantulkan bayangan samar perabotan. Dia berjalan menyusuri ruang makan, tempat beberapa kursi kayu jati berdiri rapi mengelilingi meja panjang.

Dia membuka pintu belakang yang menghubungkan area dalam rumah dengan garasi. Bau khas garasi langsung menyergap. Campuran aroma bensin, karet ban, dan lantai beton yang lembap.

Deretan mobil terparkir rapi. Sedan hitam milik Kirana, mobil operasional jenis minivan, dan jeep hitam miliknya.

Kala membuka kotak kunci yang menempel di dinding garasi. Dia mengambil kunci jeepnya. Suara denting kunci logam beradu di keheningan pagi.

Dia membuka pintu jeep, melempar tas jinjingnya ke kursi penumpang di sebelah kiri. Kala naik ke kursi kemudi, menutup pintu, dan memasukkan kunci. Mesin diesel menyala dengan suara deruman yang memecah kesunyian garasi.

Kala menyalakan lampu utama. Sorot lampu menerangi dinding garasi dan pintu besi di depannya. Dia menginjak pedal gas perlahan, mengemudikan jeep keluar dari garasi menuju halaman depan.

Di pos penjagaan dekat gerbang utama, seorang pengawal melangkah keluar. Pria itu menyipitkan mata, menahan silau lampu jeep. Dia memegang senter di tangan kanannya, berjalan mendekat ke arah kaca pengemudi.

Kala menurunkan kaca jendela.

Pengawal itu menunduk sedikit, melihat wajah di balik kemudi. “Mas Kala? Mau keluar jam segini?” tanyanya sambil melirik jam tangan di pergelangan kirinya.

“Buka gerbangnya,” perintah Kala dengan nada datar.

“Andika berpesan kalau ada pergerakan malam harus lapor dulu ke pos.”

“Kalau begitu, laporkan padanya aku bergerak maju,” balas Kala.

Pengawal itu mengerjap, terlihat bingung dengan jawaban tersebut. “Perlu saya temani, Mas Kala?”

“Kamu mau meninggalkan pos ini dan membiarkan gerbang terbuka tanpa penjagaan?”

“Tidak, Mas.”

“Buka gerbangnya.”

Pengawal itu tidak berani membantah lebih jauh. Dia berbalik ke arah pos dan menekan tombol di dinding. Gerbang besi tinggi bergeser terbuka perlahan, roda-rodanya bergesekan dengan rel baja menciptakan suara decitan kasar.

Kala tidak menunggu gerbang terbuka sepenuhnya. Dia memajukan jeepnya, melewati celah gerbang yang cukup untuk badan mobilnya, dan meluncur keluar dari area rumah utama.

Kala menaikkan kembali kaca jendela. Dia berada di jalanan perumahan yang sepi. Deretan rumah mewah di kanan kirinya tampak gelap. Hanya beberapa lampu taman yang menyala. Kala mengemudi dengan kecepatan sedang, menuju jalan raya utama.

Ibukota pada pukul empat pagi adalah pemandangan yang berbeda. Tidak ada kemacetan, tidak ada klakson yang saling bersahutan. Hanya ada truk-truk logistik besar yang melaju di lajur kanan dan beberapa taksi yang mangkal di pinggir jalan.

Kala mengarahkan kendaraannya menuju gerbang tol terdekat. Dia menempelkan kartu uang elektronik pada mesin pemindai. Palang pintu terbuka. Kala memacu jeepnya memasuki jalan bebas hambatan.

Lampu penerangan jalan berwarna kuning berjejer rapi, tiang-tiangnya melintas cepat di sisi jendela. Kala tidak menyalakan radio. Dia membiarkan suara dengung mesin dan gesekan ban dengan aspal menjadi satu-satunya suara di dalam kabin.

Dia mengemudi tanpa tujuan spesifik. Yang ada di kepalanya hanyalah menjauh. Menjauh dari meja makan tempat keluarganya biasa berkumpul, menjauh dari ruang baca yang terlalu sepi, menjauh dari tatapan cemas Dewi dan Andika.

Setelah lebih dari satu jam melaju di jalan tol, langit mulai berubah warna. Semburat biru gelap berganti menjadi abu-abu terang di ufuk timur. Kala melihat papan penunjuk jalan berwarna hijau. Dia mengambil jalur keluar tol secara acak, masuk ke jalan raya provinsi yang mulai ramai oleh aktivitas pagi.

Orang-orang mulai keluar rumah. Pedagang sayur menata dagangan di pinggir jalan, anak-anak sekolah berseragam berjalan kaki di trotoar, dan angkutan umum berhenti sembarangan untuk menaikkan penumpang. Kala mengemudi di tengah keramaian itu. Dia tidak lagi berada di wilayah Ludira. Di sini, dia hanya seorang pria di balik kemudi jeep hitam.

Tenggorokannya terasa kering. Kala menepi di depan sebuah minimarket yang buka dua puluh empat jam. Dia mematikan mesin, mencabut kunci, dan turun dari mobil.

Lonceng kecil berbunyi saat Kala mendorong pintu kaca minimarket. Udara dingin dari mesin pendingin menyambutnya. Di dalam minimarket hanya ada seorang kasir dan seorang pria paruh baya yang sedang memilih kopi saset.

Kala berjalan menuju deretan lemari pendingin di sudut ruangan. Dia mengambil dua botol air mineral ukuran besar. Dia berbalik menuju rak roti, mengambil sebungkus roti isi cokelat tanpa melihat mereknya, lalu berjalan menuju meja kasir.

Kasir muda berseragam minimarket itu sedang menguap sambil menggosok mata. Dia berdiri tegak saat Kala meletakkan barang belanjaannya di atas meja kasir.

Mesin pemindai berbunyi tiga kali. “Selamat pagi,” sapa kasir itu dengan suara serak. “Totalnya dua puluh empat ribu lima ratus. Ada tambahan pulsa atau rokok?”

“Tidak,” jawab Kala. Dia mengeluarkan selembar uang pecahan lima puluh ribu dari saku celana kargonya dan menyerahkannya.

Kasir itu menerima uang tersebut, mengetik sesuatu di mesin kasir, dan laci uang terbuka. “Kembaliannya, Mas. Mau sekalian donat gula? Sedang promo beli dua gratis satu. Baru dikirim dari pabrik setengah jam lalu.”

Gerakan tangan Kala terhenti tepat sebelum menyentuh uang kembalian yang disodorkan kasir. Matanya terpaku pada kotak etalase kaca di samping mesin kasir. Di dalam kotak itu, deretan donat bulat dengan lubang di tengahnya tertata rapi. Taburan gula putih menutupi seluruh permukaan roti tersebut.

Napas Kala tertahan di dada. Udara di dalam minimarket tiba-tiba terasa tebal. Gambar seorang gadis berseragam pelayan kafe menyodorkan piring berisi donat gula melintas di kepalanya dengan sangat jelas. Suara tawa gadis itu mengalahkan dengung mesin pendingin ruangan.

Kala menarik napas panjang. Dia merenggut uang kembaliannya dan barang belanjaannya dari meja kasir.

“Tidak usah,” ucapnya dengan nada sedikit tinggi.

Dia berjalan cepat menuju pintu keluar. Lonceng berbunyi lagi saat dia mendorong pintu kaca. Kala setengah berlari menuju jeepnya. Dia membuka pintu, melempar botol air dan roti ke kursi penumpang, lalu masuk ke kursi kemudi.

Kala membanting pintu hingga tertutup rapat. Dia mencengkeram setir dengan kedua tangan erat-erat. Jantungnya berdebar keras menabrak tulang rusuknya. Dia memejamkan mata, berusaha mengatur napasnya yang memburu.

Dia memukul roda kemudi satu kali. Bunyi kulit setir yang dipukul tidak terlalu keras, tapi cukup mengalihkan fokusnya. Rasa perih menjalar di buku-buku jarinya.

Kala membuka mata. Dia menyalakan mesin. Kendaraannya kembali menyatu dengan arus lalu lintas yang semakin padat.

Sinar matahari pagi mulai menyilaukan mata. Kala mengambil kacamata hitam dari laci dasbor dan memakainya. Dia terus melajukan mobilnya ke arah timur.

Di dalam saku celananya, ponselnya bergetar panjang. Getaran itu berhenti sesaat, lalu berlanjut lagi dengan ritme konstan. Kala tahu siapa yang mencoba menghubunginya. Dia mengeluarkan ponsel tersebut dan melihat nama Kirana menyala di layar.

Kala tidak menekan tombol tolak. Dia membiarkan layar itu berkedip selama beberapa detik, lalu menekan tombol daya di sisi ponsel dan menahannya sampai layar menjadi gelap. Dia meletakkan ponsel yang sudah mati itu di konsol tengah.

Dia mengambil botol air mineral dari kursi penumpang, membuka tutupnya dengan satu tangan, dan menenggak airnya. Kerongkongannya tidak lagi kering, tapi rasa sesak di dadanya tidak kunjung hilang.

Kala memutar tuas transmisi, menginjak pedal gas, dan membiarkan jalanan aspal terus membawanya menjauh dari rumah.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk