Bab 15

0 dibaca

A

Matahari Jakarta bersinar terik, memantulkan hawa panas dari aspal jalanan yang padat oleh kendaraan. Kala membelokkan jeep hitamnya masuk ke pelataran parkir sebuah restoran privat di kawasan selatan kota. Dia mematikan mesin, mencabut kunci, dan meraih tas kanvas hitamnya dari kursi penumpang. Perjalanannya dari pinggiran Tangerang memakan waktu lebih lama karena kemacetan, membuat kerongkongannya menuntut asupan kafein yang layak sebelum dia benar-benar menginjakkan kaki di rumah utama.

Kala mendorong pintu kaca restoran. Udara sejuk dari pendingin ruangan langsung menyapu wajahnya. Restoran ini sepi, hanya ada alunan musik instrumental pelan dan beberapa pelayan yang berdiri di sudut ruangan. Kala melangkah menuju area ruang VIP yang dibatasi oleh partisi kayu berukir. Dia bermaksud mencari meja yang paling tersembunyi.

Langkah sepatunya terhenti tepat di ujung partisi. Di salah satu meja bundar yang berada di sudut ruangan, dua orang sedang duduk berhadapan. Kala mengenali postur punggung wanita yang mengenakan kemeja sutra berwarna krem tersebut. Itu Kirana. Duduk di seberang Kirana adalah Genta, pemimpin dari klan Nagasastra.

Kala tidak langsung mendekat. Matanya mengamati kedua orang itu dengan cepat. Genta tidak membawa pengawal. Tidak ada tonjolan senjata di balik jas pria itu. Kirana juga terlihat sangat santai, duduk dengan postur rileks tanpa ada tanda-tanda ketegangan. Hal yang paling menarik perhatian Kala adalah tangan kanan Genta yang terulur di atas meja, menggenggam erat tangan kiri Kirana.

Kala menghela napas pendek. Dia melangkah maju tanpa berusaha menyembunyikan suara tapak sepatunya.

“Kalian?” sapa Kala dengan nada datar.

Kirana tersentak kaget dan menoleh dengan cepat. Matanya membelalak melihat Kala berdiri hanya dua meter dari meja mereka.

“Kal!” teriak Kirana. Wajahnya menunjukkan kekesalan karena adiknya itu muncul secara tiba-tiba tanpa pemberitahuan.

Kala mengabaikan teriakan kakaknya. Matanya turun menatap tautan tangan di atas meja. “Apa yang kalian lakukan dengan berpegangan tangan?” selidik Kala. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi terkejut atau marah, hanya rasa ingin tahu yang datar. “Kalian bermaksud akan mengawinkan Ludira dengan Nagasastra?”.

Genta terdiam selama sedetik sebelum akhirnya tertawa pelan. Tawa pria itu memecah ketegangan yang sempat mengudara. Kesimpulan yang Kala tarik terdengar sangat absurd namun memiliki dasar logika yang tidak bisa dibantah.

Genta melepaskan tangan Kirana, lalu berdiri dari kursinya. Dia menepuk pundak Kala dengan santai. “Kalau iya, apa yang akan kamu lakukan, Kal?” tantang Genta menguji reaksi pemuda itu.

Kala menatap Genta tepat di mata. “Aku akan membunuh orang yang menghalangi kalian,” jawab Kala tanpa keraguan sekecil apa pun.

Kirana menarik napas lega hingga bahunya turun. Dia sempat merasa cemas memikirkan reaksi Kala terhadap kedekatannya dengan Genta, mengingat sejarah panjang permusuhan antara kedua klan mereka di masa lalu. Namun, jawaban Kala membuktikan bahwa adiknya itu telah menerima kenyataan dengan lapang dada. Kala memberikan persetujuannya dengan cara yang paling mematikan dan wajar bagi seorang anggota Ludira.

Kala menyunggingkan senyum tipis. Dia melihat wajah Kirana yang memerah. Dia merasa senang melihat kakaknya pada akhirnya bisa menemukan seseorang untuk bersandar dan membangun keluarga.

“Kamu akan pulang?” tanya Kirana mengalihkan pembicaraan, berusaha menutupi rasa salah tingkahnya.

Kala mengangguk. Dia akan kembali ke rumah utama dan mengambil alih peran yang selama ini ayahnya minta. Lima tahun pelariannya sudah cukup untuk memberinya jawaban atas segala pertanyaan di kepalanya.

Kirana bangkit dari kursi. Dia melangkah maju dan langsung memeluk Kala dengan erat. Dia menumpahkan seluruh kerinduannya pada adik bungsunya itu. “Jangan pergi lagi,” bisik Kirana di telinga Kala.

Kala menepuk punggung Kirana perlahan. “Bukankah tanpa aku, kamu tidak kesusahan?” goda Kala dengan nada datar.

Kirana melepaskan pelukannya, merengut kesal, lalu memukul dada Kala dengan kepalan tangannya.

“Jangan menggodanya, Kal. Belakangan dia sangat manja,” timpal Genta dari samping, sengaja ikut menggoda wanita itu.

Kirana menoleh dan menatap tajam ke arah Genta, memberikan tatapan protes yang membuat pria itu mengangkat kedua tangan tanda menyerah.

“Selama dia tidak menarik pelatuknya, aku kira itu kasih dalam batas aman dan wajar,” kata Kala sambil terkekeh pelan.

Genta mengangguk setuju. “Kita pulang sekarang,” ajaknya. Dia tahu Wana dan orang-orang di rumah utama pasti akan sangat gembira menyambut kepulangan Kala.

“Aku yang menyetir,” kata Kala saat mereka berjalan keluar dari restoran menuju area parkir.

Genta melemparkan kunci mobil sedannya kepada Kala. Kala menangkap kunci itu dengan satu tangan. Dia merasa rindu duduk di balik kemudi dan membelah jalanan Jakarta yang macet. Dia sangat hafal setiap rute dan persimpangan yang mengarah ke rumah utama Ludira.

Kala masuk ke kursi pengemudi. Genta duduk di kursi penumpang depan, sementara Kirana mengambil tempat di kursi belakang. Mesin mobil menyala halus. Kala menginjak pedal gas, membawa kendaraan itu membaur dengan arus lalu lintas siang hari.

Di kursi belakang, Kirana mengeluarkan ponselnya. Dia mengetik pesan singkat dan mengirimkannya kepada Wana untuk mengabarkan kepulangan Kala.

Di rumah utama, Wana sedang tertidur di kamarnya saat ponselnya berbunyi. Dia membaca pesan dari Kirana. Wana terlonjak dari kasurnya dan langsung berdiri. Dia berlari keluar kamar, bergegas menuruni tangga menuju ruang kerja Dewi.

“Kala kembali!” seru Wana begitu dia membuka pintu ruangan itu dengan kasar.

Dewi, Bayu, dan Andika yang sedang mendiskusikan dokumen keuangan menoleh serentak. Ketiganya menatap Wana dengan tatapan tidak percaya. Wana membalik layar ponselnya, menunjukkan pesan teks dari Kirana sebagai bukti.

“Mereka sudah menuju rumah,” tambah Wana dengan napas memburu.

Dewi langsung berdiri dari kursinya. Dia meraih telepon meja dan menghubungi bagian dapur. Dia memberikan instruksi cepat untuk menyiapkan makanan kesukaan Kala. Empal daging, pecel, donat dengan taburan gula putih, dan es krim rasa cokelat.

Bayu dan Andika mengikuti langkah Wana berjalan menuju area pintu utama. Mereka berdiri berjajar di teras depan, menunggu dengan perasaan campur aduk.

Suara mesin mobil terdengar dari balik pagar tinggi. Gerbang besi bergeser terbuka. Sedan milik Genta melaju masuk dan berhenti perlahan di depan undakan teras. Kala membuka pintu pengemudi dan melangkah turun. Tas kanvas hitam tersampir di bahu kanannya.

Wana tidak menunggu Kala mendekat. Dia berlari menuruni undakan teras, menghambur ke arah adiknya, dan langsung mendekap tubuh Kala dengan erat.

“Lepas!” teriak Kala, merasa sesak akibat pelukan yang terlalu bertenaga itu.

Wana tidak memedulikan protes tersebut. Dia mengeratkan pelukannya, meluapkan seluruh rasa rindu dan lega yang tertahan selama lima tahun ini melalui dekapan fisik. Kala mendengus pasrah. Dia akhirnya membiarkan kakaknya itu memeluknya dan membalas tepukan di punggung Wana.

Setelah Wana melepaskannya, Kala mengalihkan pandangannya ke arah pintu utama. Dewi berdiri di sana, menyeka ujung matanya dengan jari telunjuk.

Kala melangkah menghampiri wanita yang sudah merawatnya sejak bayi itu. Dia meraih tangan Dewi dan mencium punggung tangannya dengan takzim, lalu memeluk wanita itu dengan rasa haru yang tidak dia tutupi.

“Maafkan aku masih menyusahkanmu,” bisik Kala di telinga Dewi.

Dewi mengelus punggung Kala dengan lembut. “Kamu akan selalu membuatku repot, tapi aku akan tetap merindukan semua itu,” balas Dewi dengan suara bergetar. Kala mengeratkan pelukannya sejenak sebelum melepaskannya.

“Lalu kamu tak merindukan kami?” sindir Bayu dari samping, melipat kedua lengannya di dada.

Kala menoleh ke arah Bayu dan Andika. Dia terkekeh pelan mendengar sindiran tersebut. Dia tidak akan pernah melupakan orang-orang yang berjasa menjaga keluarganya ini.

Mereka semua berjalan masuk ke dalam rumah. Aroma kuah kaldu dan bumbu kacang dari arah dapur menguar di udara, memenuhi ruang tengah dengan bau khas rumah yang sudah lama Kala tinggalkan. Kala berjalan menuju sofa panjang di ruang keluarga dan meletakkan tas kanvasnya di atas lantai.

Wana, Kirana, Genta, Dewi, Bayu, dan Andika mengambil tempat duduk mengelilingi meja kaca besar di tengah ruangan. Mereka semua menatap Kala, menunggu pemuda itu memulai pembicaraan.

Kala berjongkok di samping tasnya. Dia menarik resleting hingga terbuka, lalu mengeluarkan sebuah buku tulis bersampul biru tebal dan sebuah map plastik transparan. Dia meletakkan kedua benda itu di atas meja kaca.

“Mari berbicara tentang Ludira,” kata Kala, membuka percakapan dengan nada suara yang tenang dan berwibawa.

Wana mencondongkan tubuhnya ke depan. “Maksudmu?” tanyanya heran.

“Aku mempunyai beberapa ide yang mungkin akan membuat kita mengenang nama Ludira dengan bangga,” jawab Kala. Dia menatap setiap wajah yang ada di ruangan itu secara bergantian.

Kala meletakkan telapak tangannya di atas buku biru tersebut. “Aku hanya berpikir untuk membuat kemampuan kita berguna dengan membuka jasa pengawalan swasta. Sumber daya kita bisa dipergunakan daripada hanya menganggur,” papar Kala menjelaskan gagasan dasarnya.

Wana mengerutkan dahi. “Sudah banyak usaha serupa, Kal,” bantahnya.

Kala menyandarkan punggungnya ke sofa. Dia memandang Wana dengan tatapan penuh perhitungan. “Tapi, apakah ada yang akan memberikannya dengan gratis?” Kala melempar pertanyaan balasan yang sama sekali tidak terduga.

Semua orang di ruangan itu menatap Kala dengan ekspresi tidak percaya. Kata gratis terdengar sangat asing bagi telinga mereka yang selama ini terbiasa dengan nilai tukar berharga fantastis.

“Aku akan memberikan ide detailnya nanti, setelah makan,” kata Kala memotong rasa penasaran mereka. Dia berdiri dari sofa. “Otakku perlu istirahat”.

Kala tidak menunggu persetujuan. Dia berjalan meninggalkan ruang keluarga menuju arah dapur, mengikuti aroma makanan yang sudah memanggil perutnya sejak tadi.

Genta tetap duduk di posisinya. Pria itu menyilangkan kaki dan menatap buku biru di atas meja. Otaknya mulai bekerja, memikirkan ide gila yang baru saja dilontarkan Kala dan mencari cara untuk menggabungkannya dengan ide dasar yang dia miliki untuk Nagasastra.

Pelarian selama lima tahun itu telah resmi berakhir. Kala tidak kembali dengan tangan kosong. Pemuda itu pulang membawa sebuah landasan baru yang akan mengubah seluruh peta permainan mereka.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk