Bab 14

0 dibaca

A

Matahari benar-benar tertelan garis cakrawala, menyisakan langit gelap tanpa bintang. Angin malam berembus kencang melintasi bukit tanah berumput itu, membawa hawa dingin yang menusuk lapisan pakaian. Kirana berdiri, melipat kursi kanvas dan menutup payung besarnya dengan gerakan efisien. Wana meregangkan otot lehernya hingga terdengar bunyi tulang bergemeretak pelan.

Kala masih duduk menghadap barat. Tangannya bertumpu pada lutut. Dia menarik napas panjang, membiarkan udara malam mengisi paru-parunya secara penuh.

“Aku berjanji,” kata Kala memecah suara angin. Dia menoleh menatap Kirana dan Wana secara bergantian. “Tidak ada lagi masa berkabung yang berlebihan tahun depan”.

Kirana menghentikan gerakannya memasukkan payung ke dalam sarung kain. Dia menatap Kala lekat. “Bagus. Biaya operasional mencari lokasimu setiap bulan Desember membuat pengeluaran bengkak.”

“Terutama biaya untuk mengganti pintu motel yang rusak dan membayar uang tutup mulut pengelola,” timpal Wana. Kakak sulungnya itu memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana.

Kala berdiri dari posisinya. Dia membersihkan sisa rumput kering yang menempel di celana kargonya. “Kalian tidak perlu lagi mencariku. Aku akan berhenti bersembunyi.”

“Kamu akan pulang ke rumah utama?” tanya Kirana. Nada suaranya terdengar netral, tapi ada kelegaan yang tertahan di sana.

“Ya. Tapi tidak untuk sekadar duduk di ruang baca,” jawab Kala. Dia berjalan mendekati kedua kakaknya. “Aku menghabiskan waktu bertahun-tahun di jalanan. Aku melihat bagaimana kelompok lain hancur karena saling bantai, dan bagaimana kelompok lain bertahan karena mereka mengubah cara kerja mereka secara total. Aku niat membawa Ludira sepenuhnya keluar dari bursa dunia bawah”.

Wana mendengus pendek. “Semua orang di forum akan menertawakan kita.”

“Biarkan mereka tertawa. Mereka bisa tertawa sampai rahang mereka kaku. Kita tidak hidup dari validasi mereka,” balas Kala datar. “Aku punya rencana transisi yang konkret. Aku punya bukti nyata dari riset jalananku selama ini”.

Kirana melangkah maju satu langkah. Matanya menyipit, insting strategisnya langsung bekerja. “Kamu menyusun rencana tanpa memberitahuku sama sekali? Bagaimana struktur perubahannya? Apa jaminan kelompok lain tidak akan menyerang saat kita menyatakan mundur?”

Kala mengangkat tangan kanannya, menghentikan rentetan pertanyaan Kirana. “Tidak di sini. Aku tidak akan membahas detail rencana itu di atas bukit berangin.”

“Lalu di mana?” desak Kirana.

“Nanti. Saat aku menginjakkan kaki di rumah utama.” Kala membalikkan badan dan mulai berjalan menuruni bukit menuju tempat mobil mereka terparkir.

Wana menepuk bahu Kirana, memberikan isyarat agar adiknya itu tidak mencecar Kala lebih jauh. Mereka berdua berjalan menyusul Kala dari belakang. Tanah bukit yang menurun membuat langkah mereka sesekali tergelincir, tapi mereka menjaga keseimbangan dengan mudah.

Setibanya di area parkir tanah lapang, Wana bersandar pada kap mobil jeep hitam milik Kala. Dia menyilangkan kaki.

“Perutku kosong. Kita makan sebelum pulang,” kata Wana. “Ada warung tenda sate kambing di dekat jalan raya provinsi.”

“Aku memakai kemeja sutra, Wana,” keluh Kirana. “Bau asap pembakaran lemak kambing akan menempel sampai minggu depan.”

“Kamu bisa makan di dalam mobil. Aku dan Kala makan di luar,” jawab Wana santai. Dia menegakkan tubuhnya. “Ayo. Jangan buang waktu.”

Tiga puluh menit kemudian, mereka duduk di bangku kayu panjang di bawah tenda terpal berwarna oranye yang terang benderang. Suara kendaraan bermotor berlalu lalang tepat di belakang punggung mereka. Asap tebal dari panggangan sate mengepul tertiup angin kipas angin kecil, menyebar membawa aroma daging bakar dan kecap manis.

Kirana duduk dengan punggung tegak. Tangannya memegang selembar tisu kering, menggosok permukaan meja kayu yang lengket berulang kali.

“Kamu memindahkan kuman dari satu sisi meja ke sisi lain dengan menggosoknya seperti itu,” komentar Kala. Dia memegang gelas kaca berisi teh tawar hangat, menatap Kirana dengan wajah datar.

“Aku memastikan tanganku tidak menempel pada sisa bumbu kacang pelanggan sebelumnya,” balas Kirana tanpa menghentikan gerakannya.

Wana menerima dua piring besar berisi puluhan tusuk sate kambing dan semangkuk gulai dari pelayan warung. Dia meletakkan piring-piring itu tepat di tengah meja, nyaris menyentuh tangan Kirana.

“Makan,” perintah Wana. Dia mengambil lima tusuk sate sekaligus dan memindahkannya ke piring nasinya sendiri.

Kala mengambil tiga tusuk sate. Dia mengunyah daging bakar itu perlahan. Suasana warung sangat bising. Pengamen jalanan bernyanyi dengan gitar kecil di ujung tenda, sementara penjual sate berteriak menyebutkan pesanan kepada asistennya. Ketiga pewaris klan Ludira duduk di tengah keramaian tersebut, terlihat sangat kontras dengan pengunjung lain, namun tidak ada yang menyadari siapa mereka sebenarnya.

“Kamu mau pulang kapan?” tanya Wana di sela kunyahannya.

“Tiga hari lagi,” jawab Kala. Dia mengambil sepotong daging gulai. “Aku harus mengembalikan kunci kontrakan dan membayar tunggakan iuran kebersihan lingkungan.”

Kirana meletakkan tisunya. Dia menatap Kala dengan dahi berkerut. “Pewaris Ludira menunggak iuran kebersihan.”

“Hanya tiga bulan. Aku menyamar sebagai penjaga gudang yang gajinya sering terlambat,” balas Kala tanpa ekspresi. “Membayar tepat waktu akan merusak penyamaran.”

Wana tertawa pelan hingga tersedak. Dia buru-buru meminum es jeruknya. “Alasan yang bagus untuk menutupi sifat malasmu mengurus administrasi warga.”

“Aku juga harus membereskan beberapa barang,” tambah Kala mengabaikan tawa Wana.

Kirana mengambil satu tusuk sate dengan sangat hati-hati agar ujung bambunya tidak mengenai lengan bajunya. “Jangan bawa barang rongsokan dari kontrakanmu ke rumah utama. Lemari pakaianmu sudah cukup penuh.”

“Hanya beberapa potong baju dan satu buku catatan,” kata Kala.

Mereka menyelesaikan makan malam dalam waktu singkat. Wana memanggil penjual dan membayar seluruh pesanan dengan beberapa lembar uang seratus ribuan. Dia menyuruh penjual menyimpan kembaliannya.

Mereka berjalan kembali ke area parkir tanah di pinggir jalan raya. Wana berdiri di depan mobilnya, memutar kunci mobil di telunjuknya.

“Tiga hari,” kata Wana menatap Kala. “Jangan mati dalam tiga hari ini. Aku malas mencari pengurus pemakaman di akhir tahun.”

“Aku tidak ada rencana mati minggu ini,” jawab Kala.

Kirana mendekat. Dia tidak memeluk Kala lagi, hanya merapikan kerah kaos adiknya itu sekilas. “Pastikan kamu membawa proposalmu itu dalam keadaan utuh. Aku ingin membaca setiap halamannya.”

Kala mengangguk. Dia membuka pintu jeep hitamnya, naik ke kursi kemudi, dan menyalakan mesin. Wana dan Kirana melambaikan tangan sekilas sebelum masuk ke mobil sedan Kirana. Kala menginjak pedal gas, melajukan jeepnya berlawanan arah dengan mobil kakak-kakaknya. Dia mengarah kembali ke kawasan permukiman padat di perbatasan Tangerang.

Jalan tol malam hari cukup lengang. Kala memacu kendaraannya dengan kecepatan konstan. Otaknya bekerja menghitung hari. Lima tahun masa pelariannya akan resmi berakhir. Dia telah melangkah keluar dari bayangan Samantha, bukan dengan melupakan gadis itu, tapi dengan meletakkan kenangan itu di tempat yang semestinya. Dia tidak akan membiarkan rasa kehilangannya menahan langkah Ludira lebih lama lagi.

Kala tiba di depan gang kontrakannya saat jam menunjukkan pukul sebelas malam. Lingkungan itu sudah sepi. Pintu-pintu rumah tertutup rapat. Beberapa motor bebek terparkir dengan rantai pengaman tambahan. Kala memarkir jeepnya di lahan kosong dekat jalan raya, lalu berjalan kaki memasuki gang sempit tersebut.

Dia membuka kunci gembok pintu kontrakannya. Bau udara pengap dan debu menyambutnya. Kala menyalakan lampu bohlam di langit-langit. Ruangan petak itu terlihat sama seperti saat dia tinggalkan. Kasur busa tipis di lantai, kipas angin berdebu di sudut, dan meja lipat kayu di dekat jendela.

Kala berjalan ke arah kamar mandi. Dia menyalakan keran air sebentar, memastikan tidak ada kebocoran baru, lalu mematikannya kembali. Suara tetesan air tidak terdengar. Perbaikannya masih bertahan dengan baik.

Dia kembali ke ruang tengah dan menarik tas kanvas hitamnya dari sudut ruangan. Kala membuka resleting tas lebar-lebar. Dia mulai mengambil pakaian dari dalam lemari plastik susun. Kaos, celana kargo, jaket. Dia memasukkan semuanya ke dalam tas tanpa repot-repot melipatnya dengan rapi.

Setelah lemarinya kosong, Kala beralih ke meja lipat kayu. Dia menatap buku tulis bersampul biru tebal dan map plastik transparan yang berdebu. Kala mengusap debu di permukaan map plastik itu dengan telapak tangannya.

Buku ini berisi setiap detail rencana masa depannya. Rincian integrasi aset properti, transisi perusahaan logistik Wana, dan penguatan yayasan Kirana. Semuanya tergambar jelas melalui tulisan tangannya. Kala tidak membuka buku itu untuk membacanya ulang. Rencana itu sudah tercetak kuat di dalam kepalanya. Dia mengangkat buku dan map tersebut, lalu menyisipkannya dengan hati-hati ke bagian belakang tas kanvas, memastikannya tidak tertekuk oleh tumpukan pakaian.

Langkah terakhirnya adalah mengosongkan laci kecil di bawah meja. Di sanalah dia menyimpan identitas palsunya. Kartu tanda penduduk atas nama Gilang, kartu anggota perpustakaan daerah, dan beberapa lembar kwitansi pembayaran listrik. Kala mengambil semua kertas itu. Dia tidak akan membutuhkannya lagi. Dia merobek kertas-kertas tersebut menjadi potongan-potongan kecil dan membuangnya ke dalam kantong sampah plastik di sudut dapur.

Kala duduk di tepi kasur busa. Dia menarik harnes kulit dari bagian bawah tas kanvasnya. Benda itu sempat dia tinggalkan saat dia berangkat untuk meratapi akhir tahun. Sekarang, masa berkabungnya sudah selesai.

Kala membuka kaos hitamnya. Udara malam terasa dingin menyentuh kulit dadanya. Dia mengangkat harnes tersebut dan melingkarkan tali kulitnya ke bahu. Dia mengencangkan gesper logamnya hingga benda itu menempel ketat memeluk tulang rusuknya. Bobot harnes itu terasa pas.

Dia mengambil pistol semiotomatis dari meja, memeriksa magasinnya sekilas, lalu menyarungkan senjata itu ke dalam sarung kulit di bawah lengan kirinya. Berat logam itu tidak lagi terasa sebagai beban penderitaan atau alat pencabut nyawa yang mengutuknya. Senjata ini sekarang terasa seperti alat perlindungan, sebuah alat bantu yang memastikan dia bisa bertahan hidup cukup lama untuk menyelesaikan rencananya.

Kala mengambil kaos bersih dari dalam tas dan memakainya kembali, menutupi senjata tersebut. Dia menatap sekeliling ruangan kontrakannya. Besok dia akan menemui Pak Heri, menyerahkan kunci, dan beralasan dia mendapat pekerjaan baru di luar kota.

Kala merebahkan tubuhnya di atas kasur busa yang keras. Dia menatap langit-langit berjamur untuk terakhir kalinya. Perjalanan panjangnya bersembunyi dari musuh dan dari dirinya sendiri telah mencapai garis akhir. Rumah utama menunggunya.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk