Bab 5

1 dibaca

A

Andes baru melewati pintu ruang tamu ketika suara ayahnya menyapa dari samping.

“Gimana tadi?”

Pria tua itu tersenyum ramah sambil bertumpu ringan pada dinding, seolah rumahnya sendiri butuh dipegangi supaya tidak roboh. Tatapannya lurus pada anak bungsunya.

“Seru, kok, Yah.” Andes menyalami tangan ayahnya.

“Ya memang begitu.” Garen mengangguk-angguk. “Kamu atau Atlas harus bisa mengambil hati Elvina. Tahun ini salah satu dari kalian harus menikah dengannya.”

Dia memutar tubuh, lalu tertatih menuju sofa panjang di ruang tengah. Di layar televisi yang mati, bayangan ayah dan anak itu memantul berdampingan---dua kepala, satu rencana, sudah berjalan lebih lama dari yang disadari siapa pun di ruangan itu.

“Ayah dan Om Darel sudah sepakat soal ini bahkan sebelum Elvina lahir,” kata Garen pelan. “Waktu Tante Mirel hamil dan dokter bilang anaknya perempuan, kami sudah bicara.”

Jarinya mengetuk-ngetuk lengan sofa. Dua puluh enam tahun kesepakatan itu berjalan, dan tak sekali pun Elvina diberi kesempatan untuk keberatan.

“Darah keluarga jangan sampai terlalu jauh terpisah.”

“Andes mengerti, Ayah.”

Garen memutar pinggang, menatap langsung pada putranya. “Kamu cuti dua minggu, kan? Manfaatkan waktumu sebelum balik ke Pontianak. Mumpung Elvina juga belum sibuk.”

Andes mengangguk sekali lagi. Tidak ada jawaban lain yang bisa diberikan---atau lebih tepatnya, tidak ada jawaban lain yang pernah diminta untuk diberikan. Setelah berpamitan, dia naik ke lantai dua.

Kamar Atlas tertutup, pemiliknya masih bekerja. Ketika pintu dibuka, parfum Atlas menguar duluan, dan hidung Andes yang terlalu sensitif langsung protes. Matanya memindai ruangan---komputer, lemari, AC di atas jendela, lalu ranjang, yang menariknya seperti gravitasi menarik tubuh yang terlalu lelah untuk melawan.

Dia menjatuhkan tubuh ke kasur. Lelah yang sedari tadi ditahan akhirnya diberi izin untuk datang.

Dia bermimpi. Mimpi yang sama sejak dulu. Air. Kegelapan. Titik cahaya yang perlahan menghilang. Serta tangan yang tak mampu menggapai apa-apa.

Lampu menyala. Andes menegapkan badan, peluh menetes di pelipisnya. Pandangannya mendapati Atlas tengah meletakkan ransel di atas meja.

“Mimpi lagi?” Atlas bertanya tanpa menoleh.

Andes memijat batang hidung.

“Psikolog? Psikiater?”

“Gue gak mau dianggap orang gila.”

“Lu selalu bilang begitu.”

Andes terkekeh, tipis, seperti suara yang dipaksa keluar demi sopan santun.

Atlas duduk di tepi ranjang. “Tadi langsung pulang?”

“Gak enak sama El kalau ngajak jalan lagi. Dia pasti capek habis ngurus berkas. Belum lagi mau nyiapin seminar.”

“Lu nanya dia?”

“Enggak.”

“Kebiasaan.”

Andes menghela napas panjang---jenis napas yang dipakai orang untuk mengganti kalimat yang malas diucapkan.

Atlas merebahkan diri, mengistirahatkan punggung. Andes ikut berbaring, tangan bertaut di atas perut, dua bersaudara yang berbagi kasur dan sepertiga rahasia masing-masing.

“Las, lu suka sama El?”

Atlas tidak menjawab. Dia membaca sesuatu di ponselnya, dengan wajah orang yang sedang berpura-pura sibuk.

Andes menyikut perutnya.

“Kenapa?”

“Gue nanya. Lu suka sama El?”

“Baru juga dua hari ketemu lagi.” Atlas mendengus.

“Tapi kan dulu kita sering main bareng. Lu ga ingat waktu bolanya jatuh ke kolam terus lu lompat buat ambilin?”

“Kebalik. Lu yang lompat, hampir tenggelam. Gue yang nolongin.”

“Oh? Lupa gue.”

Hening.

“Gue inget,” kata Atlas akhirnya, dan entah kenapa dua kata itu terdengar lebih berat dari seharusnya.

“Tuh. Kita dah kenal lama sama dia. Masa ga ada benih-benih gitu.”

Atlas mengangkat bahu. “Ga tahu.” Ia melirik Andes. “Kalau lu?”

“Ga tahu juga.”

“Tapi dah manggil my calon bini.”

“Biar Ayah seneng aja sebenarnya.” Andes terkekeh. “By the way, gue tidur sini ya.”

“Ga sudi,” kata Atlas, datar, tanpa menoleh.

“Lu gak rindu gue apa, Las?” Andes menyenggol bahunya. “Enam bulan sekali loh gue pulangnya.”

Atlas mendorong bahu Andes. Dan mungkin, itu jawaban paling jujur yang diberikan malam itu.

Andes terdorong keluar kamar, terkekeh, lalu menyeberang ke kamarnya sendiri.

Di beranda, ia bersandar di pagar sambil membuka aplikasi chat. Angin malam itu tidak istimewa---hanya angin biasa, dari arah yang biasa---tapi di tab status, sesuatu berhenti sebentar di layarnya.

Status Elvina.

Laut.

Pemecah ombak.

Tidak ada keterangan lain. Tidak ada emoji, tidak ada lokasi, tidak ada apa pun yang biasanya menyertai unggahan semacam itu---dan justru kekosongan itulah yang membuat Andes menatapnya lebih lama dari yang seharusnya diperlukan untuk dua foto biasa.

Dia memasukkan ponsel ke saku, mengambil jaket dari lemari, lalu keluar kamar dengan langkah cepat.

Di depan pintu kamar Atlas, ia berhenti sepersekian detik. “Las, pinjam motor.”

Tidak ada jawaban dari dalam.

Andes turun ke bawah.

Di rumah itu, tak seorang pun benar-benar melihat dia pergi. Yang mereka dengar, kalau ditanya besok, hanyalah suara motor yang menjauh---dan tidak satu pun dari mereka akan bisa memastikan jam berapa suara itu berhenti.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk