Asap Cengkih dan Genggaman

1 dibaca

A

Ruang rapat utama Nagasastra kedap suara, sengaja dirancang agar tidak ada percakapan yang bocor ke luar. Namun hari ini, ruangan itu terasa lebih mirip ruang interogasi yang kehabisan oksigen. Perdebatan sudah berputar di titik yang sama selama dua jam.

Genta menarik simpul dasinya, melonggarkannya untuk ketiga kalinya dalam satu jam terakhir. Pendingin ruangan bekerja maksimal, namun kerah kemejanya terasa mencekik. Gerakan tangannya lambat dan terkontrol, sebuah pengalihan fisik semata agar dia tidak membiarkan tangannya meraih pistol di balik jasnya dan menembak kepala Haris yang duduk tepat di seberang meja.

Haris bersandar di kursi kulitnya, mengembuskan asap cerutu cengkih ke udara. Asap tebal itu mengambang, menyebarkan aroma tajam yang membuat suasana semakin pengap. Beberapa tetua lain di meja bundar itu hanya diam, memilih menatap layar tablet atau memutar gelas air mineral mereka. Tidak ada yang berani memotong saat Haris sedang memegang kendali percakapan.

“Kamu sekarang bersembunyi di bawah rok perempuan Ludira itu?” Haris mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Genta dengan sorot menantang.

Ruangan mendadak sunyi. Kabar kedekatan Genta dan Kirana memang sudah bergulir menjadi spekulasi liar di forum bawah. Keputusan sepihak Genta beberapa bulan terakhir untuk memotong jalur uang hitam dan mengalihkan armada Nagasastra sepenuhnya ke ekspedisi logistik bersih dianggap sebagai bunuh diri. Mengingat Ludira saat ini juga berhenti menerima kontrak pembunuhan dan beralih ke pengawalan tingkat tinggi, faksi konservatif menarik kesimpulan logis mereka sendiri: Genta disetir oleh Ludira.

Genta menengadah, matanya menatap langit-langit sejenak, mencari sisa kesabaran yang sudah terkikis habis sejak lima puluh menit yang lalu. Dia kembali menatap Haris. “Kirana sama sekali tidak ikut campur dalam keputusan logistik kita,” suara Genta rendah, namun bergema jelas di seluruh sudut ruangan. “Jangan pernah membawa nama Kirana dalam meja rapat internal Nagasastra.”

“Lalu apa alasanmu membuang rute-rute lama kita?” Haris mengetukkan ujung cerutunya ke asbak kaca. “Kita membuang potensi jutaan dolar hanya untuk mengangkut kontainer legal yang keuntungannya dipotong pajak. Nagasastra bukan perusahaan rintisan anak kuliahan. Nyatanya, kamu adalah kelemahan yang menjadikan bisnis kita mandek.”

Genta tahu Haris adalah tetua dengan pengaruh mengakar di lapis bawah Nagasastra. Pria tua itu adalah ular yang sangat berbisa, yang terbiasa hidup dari uang gelap dan negosiasi berdarah. Tapi Genta tidak duduk di kursi ujung meja ini karena belas kasihan. Tahta ini diserahkan langsung oleh ayahnya, diamini oleh kakeknya sebelum mereka tiada. Keputusannya adalah garis akhir, bukan bahan diskusi. Haris mungkin lupa bahwa darah murni Nagasastra mengalir di nadi Genta, dengan bisa yang jauh lebih mematikan karena dia tahu kapan harus menyimpannya.

Genta membuka map di depannya, mendorong perlahan tumpukan kertas itu ke tengah meja. “Aku sudah memberikan laporan keuangan bulan lalu,” kata Genta, jarinya mengetuk meja dengan ritme stabil. “Operasional kita tidak goyah. Surplus kita masih berada di batas dua digit, jauh di atas ambang aman. Kargo bersih tidak memerlukan biaya tutup mulut untuk aparat, tidak ada risiko penyitaan, dan tidak ada anggota kita yang harus mati di perbatasan karena perebutan wilayah. Bagian mana yang lemah?”

Haris diam. Rahangnya menegang. Genta membaca itu dengan jelas. Alasan kemarahan Haris tidak ada hubungannya dengan kesejahteraan Nagasastra. Rute logistik bersih membuat semua pencatatan menjadi transparan. Sistem baru ini menutup semua jalur gelap yang selama bertahun-tahun dipakai Haris untuk memotong uang perusahaan dan memperkaya dirinya sendiri. Haris bukan marah karena Nagasastra melemah; dia marah karena dompetnya sendiri yang mengering.

“Kita akhiri rapat ini,” Genta berdiri, menutup mapnya. “Pertemuan ini tidak membawa kita ke tujuan yang produktif. Laporan terperinci sudah ada di meja kalian. Pelajari. Atau kalau kalian terlalu malas membacanya, suruh asisten kalian yang membacakan.”

Tidak ada ruang untuk bantahan. Genta tidak menunggu persetujuan. Dia merapikan jasnya dan melangkah menuju pintu. Haris ikut berdiri dengan kasar, mendorong kursinya hingga berderit nyaring bergesekan dengan karpet. Dia melangkah lebar mendahului beberapa tetua lain, emosinya memuncak karena merasa diabaikan.

Saat Seno, membuka pintu ruang rapat dari dalam, udara segar langsung menyerbu masuk. Namun, langkah Haris terhenti mendadak. Di ruang tunggu tamu yang luas dan sepi, Kirana duduk menyilangkan kaki di sofa. Dia menatap layar ponsel, membalik halaman dokumen digital, sama sekali tidak terpengaruh oleh pintu ruang rapat yang baru saja terbuka lebar. Melihat kehadiran Kirana, wajah Haris memerah. Harga dirinya yang baru saja diinjak Genta di dalam ruangan menemukan sasaran baru.

“Lihat!” Haris setengah berteriak, sengaja mengeraskan suaranya agar seluruh staf di lorong bisa mendengar. “Rapat internal ini saja harus berhenti karena wanita yang sudah menggoyang ranjangmu ada di sini, Genta?”

Langkah Genta yang baru saja melewati pintu terhenti. Tangan kanannya terkepal, bersiap mengayun dan menghancurkan rahang pria tua di depannya itu.

Namun sebelum Genta sempat mendekat, Kirana mengangkat wajahnya dari ponsel. Dia berdiri, lalu tersenyum sopan. Senyum yang biasa dia gunakan sebelum menghancurkan lawan bisnisnya di meja perundingan.

“Selamat siang, Tuan Haris,” sapa Kirana dengan tenang, sama sekali tidak terpancing. “Apa kabar? Rapatnya sudah selesai?” Haris mendengus kasar, tidak menjawab. Kirana melangkah mendekat. “Saya bahkan tidak tahu-menahu soal topik rapat Anda hari ini. Saya duduk di sini karena saya harus menjemput laki-laki saya untuk makan siang setelah dia menghadapi rapat yang panjang.” Kirana mempertahankan senyumnya, menatap Haris tanpa gentar. “Dan keputusan apapun yang terjadi di dalam ruangan itu, saya sama sekali tidak berminat mengetahuinya. Jika saya ingin menginterupsi dan mengambil alih kendali Nagasastra.” Kirana memiringkan kepalanya sedikit. “Sudah dari tadi saya masuk ke ruang rapat Anda dan mengambil kursi Anda.”

Kirana tidak berteriak, tidak mengancam dengan senjata, tetapi kalimatnya menelanjangi posisi Haris.

Haris tidak membalas. Dia hanya mendelik tajam, menyadari bahwa meladeni Kirana di sini hanya akan membuatnya terlihat semakin bodoh. Dia berbalik dan melangkah pergi dengan cepat, diikuti oleh dua tetua lain yang sedari tadi hanya diam menunduk.

Genta memperhatikan punggung Haris yang menjauh. Napasnya masih sedikit memburu, sisa dari amarah yang tertahan. Seno, dengan isyarat mata dari Genta, kembali masuk ke ruang rapat untuk membereskan dokumen dan membiarkan mereka berdua.

Genta melangkah mendekati Kirana. “Laki-laki saya?” Genta mengulangi kata itu. Suaranya rendah, nyaris berbisik. Amarahnya perlahan menguap, digantikan oleh sesuatu yang membuat dadanya terasa penuh.

Kirana berbalik menghadapnya. Dia tidak langsung menjawab. Tangannya terulur ke kerah kemeja Genta, menarik ujung dasi yang sejak tadi dilonggarkan pria itu. Jari-jari Kirana bergerak cekatan, merapikan simpul dasi yang berantakan, menempatkannya kembali ke posisi yang sempurna di bawah kerah.

“Kenapa?” Kirana membalas tatapan Genta. “Kamu tidak ingin kuakui di depan orang-orangmu sendiri?”

Genta mengangkat tangannya, menarik tangan Kirana menjauh dari kerahnya, menyelipkan jari-jarinya di sela-sela jari Kirana, lalu menggenggamnya erat.

“Sesering mungkin kalau bisa,” jawab Genta pelan. Jempolnya mengusap punggung tangan Kirana. “Kita makan di luar.”

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk