Dewi meletakkan map di atas meja ruang rapat Garda Medika. Bunyinya pelan, tetapi cukup untuk memotong kalimat perwakilan vendor yang sejak sepuluh menit lalu berputar-putar mencari pembenaran. Tiga pria bersetelan rapi di seberang meja itu terdiam, saling melirik dengan gelisah.
“Kalian memasukkan sub-kontraktor baru tanpa adendum persetujuan dari Garda.” Dewi tidak bertanya, ia menyatakan fakta. Matanya menatap tajam satu per satu pria di depannya. “Dan catatan harga logistik medis bulan ini membengkak lima belas persen dengan alasan penyesuaian pasar. Saya sudah mengecek harga pasar pagi ini. Tidak ada penyesuaian.”
“Ibu Dewi, fluktuasi bahan baku—“
“Jangan membuang waktu saya,” potong Dewi dingin. “Garda Medika bukan institusi yang bisa kalian jadikan celah untuk menutupi kerugian proyek kalian di tempat lain. Cabut sub-kontraktor siluman itu, perbaiki angka tagihannya sesuai kontrak awal, dan serahkan ke meja saya besok pagi. Atau kontrak kalian saya putus sepihak dan nama perusahaan kalian akan masuk daftar hitam seluruh jaringan bisnis kami.”
Dewi berdiri sebelum mereka sempat menjawab. Ia merapikan jas kerjanya, mengambil mapnya, dan berjalan keluar. Keputusannya final. Jika ini adalah Ludira bertahun-tahun lalu, ketiga orang itu mungkin sudah tidak bisa keluar dari ruangan ini dengan kaki mereka sendiri. Kini, Dewi hanya memastikan bisnis mereka secara legal.
Sementara Dewi menyelesaikan urusannya di lantai atas, Kala berdiri diam di lobi bawah. Hujan turun dengan deras, menghantam kaca lobi Garda Medika hingga pandangan ke luar nyaris tertutup tirai air. Cuaca buruk membuat orang-orang tertahan. Pasien, keluarga pasien, dan staf rumah sakit menumpuk di area lobi dan teras depan, menunggu hujan reda atau taksi daring yang tak kunjung tiba.
Kala memilih berdiri di dekat akses parkir manajemen, menyandar pada pilar di sebelah mesin penjual minuman otomatis yang berdengung pelan. Meskipun lobi itu sesak, ada ruang kosong sekitar radius satu meter setengah yang memisahkan Kala dari kerumunan. Orang-orang menghindari area itu. Beberapa yang awalnya berniat membeli kopi kaleng dari mesin langsung mengurungkan niat begitu melihat Kala berdiri di sana. Kala menyadari ruang kosong itu, tetapi tidak memedulikannya. Ia hanya menunggu Dewi.
Dari arah lorong staf, Senara berjalan dengan langkah ringan. Ia baru saja menyelesaikan sifnya. Tas kanvas tersampir di bahu, dan sebuah payung lipat tergenggam di tangannya. Saat matanya menangkap sosok Kala di dekat mesin kopi berjalan lurus menghampiri laki-laki itu. “Hai!” sapa Senara riang.
Kala mendongak. Senara sudah berdiri tepat di depan mesin kopi, memunggunginya setengah badan. Perempuan itu mengeluarkan kartu uang elektronik dari dompetnya dan menempelkannya ke panel sensor. Mesin itu merespons dengan bunyi beep pendek, menampilkan saldo, tetapi saat Senara menekan tombol kopi hitam, tidak ada barang yang jatuh ke kompartemen bawah.
“Yah, kok error.” Senara mengetuk kaca mesin. Tidak ada reaksi. Ia menekan tombol yang sama lebih keras. Tetap tidak ada yang keluar.
“Hei, kamu sudah menelan uangku!” Senara sedikit menaikkan suaranya. Kesal, ia mengangkat kaki dan menendang bagian bawah mesin penjual otomatis itu dengan ujung sepatunya. Beberapa orang di lobi menoleh ke arah suara, tetapi buru-buru membuang muka saat mata mereka tak sengaja bersirobok dengan tatapan tajam Kala yang berdiri tepat di belakang Senara.
Kala biasanya tidak pernah berniat membantu orang asing. Jika sesuatu rusak, ia membiarkannya. Jika seseorang kesulitan, itu bukan urusannya. Namun, saat ia melihat wajah Senara yang cemberut menatap deretan kaleng kopi di balik kaca, ada sesuatu yang membuat Kala bergerak. Perempuan ini lucu. Itu kesimpulan pertama yang lewat di kepalanya.
Kala menarik tangan kanannya dari dalam saku jaket. Ia melangkah ke depan, mengangkat tangan, lalu menghantam bagian samping mesin kopi itu dengan pangkal telapak tangannya. Pukulannya tidak menggunakan tenaga penuh, tetapi bunyi benturannya sangat tepat. Mesin itu bergetar. Satu detik kemudian, terdengar bunyi kaleng berjatuhan beruntun ke dasar kompartemen pengeluaran. Dua kaleng kopi hitam meluncur ke bawah.
Senara menatap mesin itu, lalu menoleh ke arah Kala dengan mata melebar. Keterkejutannya hanya bertahan sesaat sebelum senyum lebar kembali muncul di wajahnya.
“Wah, kekerasan yang berguna,” kata Senara santai. Ia membungkuk, mengambil kedua kaleng kopi yang dingin itu. “Dan mesin ini membayar kompensasinya karena sudah membuatku marah.”
Senara menyodorkan salah satu kaleng kopi itu ke arah Kala. Kala menatap kaleng itu, lalu menatap wajah Senara. Otaknya, yang terbiasa memproses ancaman, racun, dan strategi, mendadak melambat saat dihadapkan pada tawaran sesederhana ini. Ia menerima kaleng kopi itu dengan kaku.
“Terima kasih bantuannya, Kala.” Senara mengangguk ke arahnya. Ia membenarkan letak tas di bahunya. “Aku pulang dulu, ya. Bus empat masih keburu kalau aku berlari ke halte depan.”
Senara membuka payung lipatnya, tidak menunggu jawaban Kala. Ia langsung berlari menembus hujan deras, meninggalkan Kala yang masih berdiri mematung. Kala menunduk, menatap kaleng kopi hitam di tangannya. Perlahan, ia menarik kait pembukanya hingga berbunyi desis, lalu menyesapnya.
Dari jarak sepuluh meter, di balik pilar dekat lift manajemen, Dewi melihat seluruh interaksi itu. Dewi sengaja menghentikan langkahnya sejak melihat Senara menghampiri Kala. Ia menahan napas saat Kala memukul mesin itu, dan matanya tidak berkedip ketika Kala menerima kaleng kopi dari tangan Senara. Kala yang tidak pernah menerima makanan atau minuman dari tangan orang asing. Itu adalah protokol keamanan dasar yang sudah tertanam di kepala anak itu sejak kecil.
Namun, Kala meminumnya. Ia meminumnya sambil menatap lurus ke arah pintu kaca, ke arah perginya perempuan itu.
Dewi merasakan dadanya menghangat. Tidak ada kekakuan dalam interaksi itu. Kala merespons perempuan sebagai manusia biasa yang membetulkan mesin kopi yang rusak. Dewi tidak ingin merusak momen sekecil itu dengan kehadirannya. Ia menunggu beberapa menit hingga Kala menurunkan kaleng kopinya, barulah ia berjalan mendekat.
“Ayo,” kata Dewi pelan, menepuk lengan Kala. Kala menoleh, mengangguk, lalu berjalan mengikuti Dewi menuju mobil.
Sepanjang perjalanan pulang menembus kemacetan hujan, mobil itu hening. Dewi tidak melontarkan satu pertanyaan pun. Ia membiarkan Kala duduk di kursi penumpang, memandang ke luar jendela, dengan kaleng kopi yang masih digenggam erat. Anak itu pasti belum menyadari perubahannya. Dewi membiarkannya.
Begitu mobil memasuki gerbang rumah utama Ludira, Dewi turun. Ia tidak menuju dapur atau kamarnya. Langkahnya menuju tangga ruang bawah tanah, tempat pusat server berada.
Ruangan itu dingin dan dipenuhi layar monitor yang menyala. Andika duduk di tengah-tengahnya, memakai headset, mengetik sesuatu di papan ketik dengan kecepatan tinggi.
“Andika,” panggil Dewi. Ia menarik sebuah kursi beroda dan duduk di sebelahnya. “Cek CCTV lobi Garda. Dekat mesin kopi, sekitar satu jam yang lalu.”
Andika tidak banyak bertanya. Tangannya langsung mengetik perintah baru. Layar di depannya berkedip, memutar mundur rekaman keamanan lobi rumah sakit.
Dewi menatap layar lekat-lekat. Begitu rekaman menunjukkan Senara mendekati mesin kopi, Dewi mengangkat telunjuknya. “Berhenti di sana.” Layar berhenti, menampilkan frame Kala dan Senara yang berdiri berdekatan.
“Oh,” Andika menggumam. Ia langsung mengetik lagi di layar sebelahnya, memanggil sebuah folder terenkripsi yang sudah ia buat sebelumnya. “Ini perempuan yang sama.”
“Kamu sudah tahu?” Dewi membaca sekilas deretan data yang muncul di monitor Andika.
“Dia menegur Kala di depan toko roti saat Kala menegur staf lapanganku yang mengikutinya terlalu dekat,” jelas Andika santai. Matanya membaca rekaman CCTV itu. “Lalu beberapa hari setelahnya, mereka tidak sengaja bertemu di lift barang. Dia staf bagian rekam medis Garda. Dan yang paling menarik, dia sama sekali tidak mengingat Kala dari insiden toko roti. Di matanya, Kala cuma karyawan baru divisi IT yang kebetulan numpang lewat.”
Dewi menyandarkan punggungnya ke kursi. Matanya menelusuri data riwayat hidup Senara. Tidak ada yang mencurigakan. Tidak ada afiliasi dengan klan musuh, tidak ada anomali keuangan, dan tidak ada jejak forum bawah. Perempuan biasa dengan kehidupan yang sangat biasa.
“Aman?” Dewi menatap Andika, meminta kepastian. Di rumah ini, kebetulan adalah hal pertama yang harus dicurigai.
“Aman,” jawab Andika tanpa ragu. “Identitas bersih. Tidak ada pihak yang sengaja menanamnya di sana. Kamu mau aku masukkan dia ke daftar prioritas pengawasan lapangan? Aku bisa mengirim satu orang untuk menjaga radiusnya.”
Dewi terdiam sejenak. Ia mengingat bagaimana Kala saat menerima kopi tadi. Jika Andika mengirim pengawas, Kala akan langsung menyadarinya. Dan interaksi itu akan kembali berubah menjadi kewaspadaan.
“Tidak,” putus Dewi akhirnya. “Biarkan saja. Simpan dulu semua datanya.”
Andika mengangguk, mengunci folder itu dengan kata sandi tingkat tinggi.
“Tetap awasi saat mereka berada di dalam lingkar wilayah Garda Medika,” pesan Dewi sebelum melangkah menuju pintu. “Tapi jangan ada yang mendekat secara fisik.”














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!