Genta melonggarkan dasinya, tangannya masih memegang setir, setelah menyelesaikan masalah di ruang bawah tanah kantor Nagasastra, seharusnya dia pulang. Tapi malam ini dia ingin melarikan diri sebentar dari intrik yang membuat ular di sarang saling mendesis memamerkan taring dan bisa yang siap disemburkan kapan saja. Dua jam yang lalu, dia sudah memenggal salah satu kepala ular berbisa yang mencoba menggigitnya.
Dia sampai di gerbang rumah utama Ludira. Gerbang terbuka tanpa protokol panjang yang seharusnya. Kirana secara resmi memberi akses salah satu ular ini masuk tanpa dikuliti. Dan itu masih membuat Wana ingin menancapkan pisau di kepalanya.
Alih-alih tersinggung, Genta menerima kesinisan itu dengan lapang dada. Dia yang masuk sendiri ke sana, menyodorkan kepalanya untuk dilihat oleh Wana yang terang-terangan membenci keluarganya. Apalagi setelah Krisna membuat bungsu Ludira kehilangan akal sehat yang berujung menembak kepala Krisna di depan matanya sendiri.
Genta melangkah menuju pintu utama, seorang pengawal membukakan pintu dan mengangguk ke arahnya. Genta sudah bersiap untuk segala kemungkinan yang terjadi di dalam. Langkahnya terus menuju ruang kerja Kirana. Bahkan sebelum dia sempat melalui pintu, suara Kirana sudah terdengar.
“Wana, keluar!” Kirana hampir berteriak sambil tetap membuka dokumen di depannya. Dia mengetuk meja dengan bolpoinnya. “Jika dalam hitungan ke sepuluh kamu tidak pergi, aku akan mengirimmu ke luar kota. Kebetulan ada misi tingkat tinggi.”
Wana tahu itu bukan ancaman kosong, tapi saat mendengar Genta akan datang, dia sudah memutuskan untuk membenamkan dirinya di sofa ruang kerja Kirana. Dia duduk bersila tanpa membuka sepatu botnya yang masih penuh debu. Menatap pintu yang kini Genta sudah berdiri di sana.
Kala datang dengan donat gula di tangannya, bersandar di salah satu sisi kusen pintu di samping Genta yang berdiri mematung. “Masuk saja, anggap dia anjing penjaga.” Genta menoleh, Kala bahkan tidak melihat ke arahnya, dia menatap Wana yang duduk di kursi.
Genta maju beberapa langkah. “Diam di sana.” Wana memberi perintah.
“Wana!” Kirana melempar bolpoinnya dan mengenai kepala Wana.
Bayu yang mendengar keributan dari ruang kerja Wana di seberang ruangan Kirana akhirnya tidak tahan, dia keluar dan mendapati drama Wana sedang berlangsung. Dia berjalan masuk, menyenggol Kala dan melewati Genta. “Maafkan dia, Genta.” Bayu menarik kerah baju Wana, namun faktor usia membuat tenaga Bayu kalah telak. “Kal!” Bayu meminta bantuan pada Kala yang tampak tidak ingin membantu sama sekali.
“Andika!” Kala berteriak. Andika yang dari tadi diam di lorong mencoba tidak ikut campur drama murahan itu, akhirnya menyerah dan masuk.
“Wana, jangan mempersulit. Ayo pergi. Akan kuberi akses server satu bulan agar ruang senjatamu update setiap hari.” Andika membujuk sambil mencoba mengangkat kaki Wana.
“Aku menolak pergi. Tidak akan kubiarkan ular berbisa ini berduaan dengan Kirana.” Wana tidak mengalihkan pandangannya dari Genta.
Dewi masuk tanpa suara, dia mengambil salah satu map di meja Kirana, menggulungnya dan memukul kepala Wana dengan kesal. “Pergi, biarkan adikmu pacaran.”
Mendengar kata pacaran membuat rahang Wana semakin mengeras, dia masih belum bisa menerima kenyataan itu dengan biasa saja. Tapi pukulan Dewi datang lagi, membuatnya mau tak mau berdiri. Bayu dan Andika menyeretnya lagi, Dewi mendorong punggungnya.
“Sepuluh menit, lebih dari itu, lehermu aku patahkan.” Ancaman Wana membuat Genta mengangguk dan menahan senyumnya.
Kala menutup pintu setelah menghabiskan donatnya. Wana, memilih duduk di samping pintu bersandarkan dinding. Kala menendang kakinya dan pergi.
Kirana akhirnya menghela napas lega. Menatap Genta yang kemudian berjalan ke arahnya. Genta duduk di kursi di depan meja Kirana. Tangannya terulur di antara dokumen dan kertas, Kirana meletakkan tangannya di atas tangan Genta, mengusapnya pelan.
Drama barusanlah yang ironisnya, membuat Genta lupa dengan permasalahannya. Di rumah Nagasastra, kejadian tadi akan berakhir dengan pertumpahan darah, minimal ada salah satu yang terluka. Di sini, pertengkaran itu menjadi salah satu cara untuk memastikan tidak ada yang terluka.
Genta sadar, yang membuatnya jatuh cinta bukan hanya Kirana yang berwibawa menaklukkan musuh. Dia jatuh hati pada kehangatan berisik keluarga Ludira.
Genta menghembuskan napasnya, menyandarkan kepalanya di meja. Tangan Kirana terangkat dan mengusap kepala Genta dengan lembut. Dan sepuluh menit yang Wana berikan akan berlalu dalam diam dan sentuhan seperti itu.
Mereka tidak pernah banyak bicara, atau mengungkapkan perasaan mereka. Kehadiran masing-masing sudah cukup kuat untuk memberikan bentuk dari sesuatu yang membuat mereka memiliki satu sama lain.
Genta mengangkat kepalanya setelah beberapa lama. “Hampir sepuluh menit.” Dia tersenyum ke arah Kirana yang menggeleng kesal.
“Ayo, Dewi sepertinya sudah menyiapkan makan malam.” Kirana berdiri, lalu berjalan menuju pintu. Genta mengikutinya.
Saat pintu ditarik terbuka, Wana masih duduk bersandar di dinding lorong, matanya terpejam dan lengannya bersedekap, setia menjaga batas seperti anjing penjaga neraka.
Kirana bahkan tidak berhenti. Dengan gerakan mulus dan penuh rasa kesal yang tertahan, dia mengangkat sebelah kakinya dan menendang tulang kering Wana keras-keras dengan ujung pantofelnya.
Wana tersentak bangun, matanya membelalak kaget bercampur sakit. “Ki!” serunya protes, mengusap kakinya.
“Menghalangi jalan.” Kirana melenggang diikuti Genta menuju ruang makan. Wana bangkit dengan gerutuan kasar, membersihkan debu dari celananya, lalu mengekor di belakang mereka, memastikan posisinya persis berada di antara Kirana dan Genta. Dan Genta, sambil menyesuaikan langkahnya dengan ritme keluarga yang aneh ini, tahu pasti bahwa dia akan selalu kembali ke rumah sakit jiwa bernama Ludira ini. Karena hanya di sinilah dia merasa benar-benar hidup.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!