Wana berdiri mematung di depan jendela kamarnya. Kaca jendela yang dingin mulai memantulkan bayangan tubuhnya dengan lebih jelas daripada pemandangan taman belakang rumah utama yang mulai remang oleh senja.
Berdiri menghadap jendela adalah kebiasaan lama Wana. Sebuah ritual bisu setiap kali ada benang kusut di kepalanya yang menolak diurai. Kali ini, duri yang mengganggu pikirannya adalah pertanyaan Kala siang tadi.
Kamu tidak ingin mencari kekasih?
Kalimat itu terdengar menggelikan, namun menancap kuat. Kata-kata itu terasa terlalu bersih, terlalu rapuh untuk bersanding dengan tubuhnya yang dipenuhi bekas luka tembak dan sayatan pisau. Wana mencoba menggali ingatan, mencari celah di masa lalunya di mana ia mungkin pernah, walau hanya sedetik, membayangkan kehidupan normal seperti itu. Tapi yang ia temukan hanyalah daftar inventaris senjata, jadwal patroli Andika, wajah-wajah musuh yang harus ia hafal, dan titik-titik lemah rumah utama yang harus terus ditambal.
Pintu kamarnya terbuka tanpa ketukan. Wana tidak menoleh. Ia tahu siapa yang berani masuk tanpa izin ke kamarnya. Kirana langsung menuju ke arah jendela, melompat ringan dan duduk di ceruk ambang jendela, menyilangkan kaki dan menghalangi sebagian pandangan Wana ke halaman luar.
“Ki,” tegur Wana pelan, suaranya berat.
“Apa?” Kirana tersenyum tipis, matanya mengobservasi raut wajah kakaknya. “Kamu masih memikirkan pertanyaan Kala tadi siang, kan?”
Wana bisa saja berbohong. Ia bisa mengatakan ia sedang memikirkan masalah vendor logistik Garda Medika yang disinggung Bayu. Tetapi ia tahu Kirana. Jika ia berbohong, Kirana tidak akan membantah, ia hanya akan duduk di sana, menatap Wana dengan pandangan menelisik sampai kebohongan itu terasa jauh lebih melelahkan daripada kejujuran.
Wana menghela napas, bahunya turun sedikit. “Apakah menurutmu aku bisa?”
Kirana tidak langsung menjawab, membuat Wana menyesali pertanyaannya. Ia melangkah mundur dari jendela, menarik kursi di dekat meja kerjanya dan duduk dengan punggung tegak kaku. Bertanya soal taktik penyergapan, ia bisa melakukannya tanpa ragu. Tetapi menanyakan kelayakan dirinya untuk dicintai? Itu membuatnya merasa telanjang di tengah medan tembak.
“Kamu bahkan belum pernah mencoba,” kata Kirana akhirnya, suaranya melembut. Wana menunduk. Kirana memiringkan kepalanya, senyum jahil mulai terbit di bibirnya. “Atau kamu ingin mencoba? Kalau kamu bingung mulai dari mana, mungkin aku bisa bertanya pada Genta. Dia pasti punya banyak kenalan perempuan di lingkaran Nagasastra yang bisa direkomendasikan untukmu.”
Seperti bensin yang disiramkan ke bara api, nama Genta dan Nagasastra langsung memicu reaksi reaktif Wana. Laki-laki itu seketika berdiri melangkah maju dan mencengkeram bahu Kirana kuat “Jangan pernah berpikir untuk melakukan itu, Ki,” geram Wana.
Kirana tertawa lepas. Tawa itu menggema di kamar yang suram. Dia tahu persis tombol mana yang harus ditekan untuk mengusir kemurungan kakaknya. Bagi Wana, membiarkan satu anggota Nagasastra berada di dekat adiknya saja sudah menyiksa seluruh kewaspadaannya. Membayangkan ada satu orang lagi dari klan musuh yang disodorkan ke dalam hidupnya sendiri adalah sebuah penghinaan.
“Aku hanya menawarkan bantuan kemanusiaan,” goda Kirana, matanya berbinar geli.
“Bantuanmu akan berakhir dengan kepalanya terpisah dari badan jika dia berani macam-macam di rumah ini. Jangan pancing kesabaranku.” Wana mengusap wajahnya dengan kasar. Ia sadar Kirana sengaja mempermainkan emosinya, dan ia lebih kesal lagi karena dirinya selalu termakan umpan itu.
Sebelum Wana bisa membalas lebih jauh, pintu kembali terbuka. Kala berdiri di ambang pintu, bersandar santai pada kusen dengan satu tangan di saku celana. Matanya menyapu Kirana yang masih tertawa dan Wana yang tampak frustasi. “Kalian sedang membicarakan apa? Kedengarannya menyenangkan,” tanya Kala datar.
Wana memberikan tatapan peringatan pada Kirana. Namun, Kirana mengabaikannya. Perempuan itu melompat turun dari ceruk jendela dengan gerakan luwes, merapikan roknya, dan berjalan ke arah pintu dengan ketenangan yang dibuat-buat.
“Wana sedang mempertimbangkan tawaran untuk meminta Genta merekomendasikan seorang wanita dari Nagasastra untuknya.”
Begitu kalimat itu meluncur, Kirana langsung mempercepat langkahnya, menjadikan tubuh Kala sebagai tameng hidup antara dirinya dan amukan Wana yang akan meledak.
“Oh,” respons Kala, matanya melebar sedikit dalam apresiasi sarkastik. “Ide yang sangat brilian.”
Pukulan Wana datang setengah detik kemudian. Tangan besarnya melesat membelah udara, mengincar kerah baju Kala. Kala, yang sudah membaca pergeseran bahu Wana sebelum serangan itu dimulai, merunduk dan menghindar. Kirana menyelinap keluar kamar sambil tertawa puas, meninggalkan dua saudara laki-lakinya terkunci dalam ruang sempit.
“Diam, Kal!” Wana membentak. Ia berhasil menangkap lengan Kala ketika adiknya itu mencoba memutar ke sisi meja. Dengan manuver cepat, Wana memelintir lengan itu ke belakang dan memiting leher Kala. Kuncian itu tidak dimaksudkan untuk mematahkan tulang, hanya pitingan yang cukup kuat untuk memastikan sang adik tidak bisa lari ke mana-mana.
“Ini semua gara-gara pertanyaan sialanmu tadi siang,” gerutu Wana di dekat telinga Kala.
Kala tertawa teredam, napasnya sedikit tertahan karena tekanan lengan Wana di lehernya. “Kamu bisa saja mengabaikannya.”
“Aku sedang berusaha keras mengabaikannya!” Wana menekan kunciannya sedikit lebih erat.
“Yah, jelas tidak terlihat berhasil.”
Wana mendengus kesal, lalu melepaskan pitingannya dengan dorongan kecil. Kala meluruskan bahunya, menggerakkan lehernya ke kiri dan kanan. Mereka berdua tumbuh dengan bahasa kasih sayang semacam ini. Kekerasan yang terkontrol. Pukulan yang tidak dimaksudkan membunuh. Pitingan yang menjadi pengganti pelukan. Terkadang, benturan fisik jauh lebih jujur daripada diskusi dari hati ke hati.
Wana kembali berjalan mendekati jendela, menyilangkan tangannya di dada. Kala tidak langsung pergi. Ia berdiri di dekat meja kerja Wana, memperhatikan kamar kakaknya dengan tatapan yang lambat laun berubah menjadi serius.
“Kenapa kamu bertanya hal itu padaku, Kal?” tanya Wana akhirnya, tanpa menoleh ke belakang.
Kala menatap punggung kakaknya yang lebar. “Karena kamu selalu mendedikasikan hidupmu untuk menjaga nyawa orang lain, seolah-olah hidupmu sendiri tidak punya hak untuk terjadi.”
Wana terdiam. Rahangnya mengeras. “Aku tidak cocok untuk hal-hal semacam itu, Kal.”
“Kamu tidak tahu karena kamu menolak mencarinya.”
“Aku tahu diriku!” Nada suara Wana meninggi, membentur dinding kamar. Ia berbalik menatap Kala dengan sorot mata terluka. “Aku tahu medan perang. Aku tahu jenis-jenis kaliber peluru. Aku tahu dari sudut mana seorang pembunuh bayaran akan menyerang dalam gelap. Pengetahuan itu tidak bisa disandingkan dengan secangkir teh hangat di pagi hari.”
Kala balas menatap tanpa berkedip. “Itu bukan hal yang tidak bisa dipelajari, Wana.”
Wana memejamkan matanya rapat-rapat. Dia sangat benci ketika Kala mulai berbicara dengan nada serius yang tidak mengandung ejekan. Ejekan bisa ia balas dengan pukulan.
“Lalu bagaimana denganmu?” Suara Wana merendah, nyaris berbisik namun menusuk tajam. “Apakah kau merasa pernah cocok dengan hal semacam itu?”
Pertanyaan itu menggantung di udara. Wana tahu ia telah melewati batas tak terlihat. Ia baru saja menyentuh bayang-bayang Sam.
Wana mengira Kala akan pergi. Ia mengira Kala akan mengunci diri lagi. Namun, setelah tarikan napas panjang, Kala menoleh ke arah jendela, menatap pantulan dirinya sendiri di kaca.
“Tidak,” jawab Kala pelan. “Tapi aku pernah sangat menginginkannya.” Kalimat pendek itu menghantam dada Wana lebih keras dari peluru. Ia menoleh, mendapati adiknya telah membuang pandangan lebih dulu. Kala membalikkan badan dan berjalan keluar kamar dalam diam, menutup pintu dengan pelan.
Wana kembali menghadap ke luar jendela. Wana menatap kedua telapak tangannya lagi. Wana beranjak dari jendela. Di atas mejanya, sebuah pisau lipat taktis tergeletak di atas kain lap mikrofiber. Ia mengambil pisau itu. Bilahnya sudah bersih, tajam dan mengilap sempurna. Tetapi Wana tetap menggosoknya berulang-ulang. Ia melakukannya karena merawat benda mati yang tajam dan mematikan jauh lebih mudah, dan jauh lebih aman, daripada harus merawat sebuah harapan.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!