DESA KARANGWUNGU
Hujan turun sejak sore.
Jalan menuju Desa Karangwungu berubah menjadi licin dan berlumpur. Kabut turun dari perbukitan, menutup sebagian jalan yang hanya diterangi cahaya lampu kendaraan.
Anto duduk di kursi depan.
Tatapannya kosong memandang jalan.
Sejak meninggalkan pabrik keramik milik Pak Jatmoko, pikirannya terus tertuju pada satu nama.
Mbah Reksadana.
Orang tua itulah yang diyakini mengetahui awal mula pesugihan Pak Jatmoko.
Di kursi belakang, Anita memeriksa benda-benda yang mereka bawa.
Sementara Rehan beberapa kali melihat ke luar jendela.
“Desanya masih jauh?” tanyanya.
Anto melihat petunjuk jalan.
“Tidak jauh lagi.”
Rehan menghela napas.
“Semoga kita menemukan orang itu sebelum malam.”
Anita menatapnya.
“Kenapa?”
“Karena sejak tadi aku merasa seperti ada yang mengikuti.”
Anto langsung menoleh.
“Apa?”
Rehan menunjuk kaca belakang.
“Entahlah. Dari tadi seperti ada lampu kendaraan di belakang kita.”
Anto memperhatikan.
Tidak ada kendaraan.
Hanya jalan kosong dan kabut.
“Tidak ada apa-apa.”
Rehan kembali melihat ke depan.
“Semoga memang begitu.”
Beberapa menit kemudian mereka memasuki Desa Karangwungu.
Suasananya jauh berbeda dari desa-desa yang pernah mereka lewati.
Rumah-rumah terlihat tertutup.
Tidak banyak lampu menyala.
Tidak ada anak-anak bermain.
Bahkan warung-warung di pinggir jalan sudah tutup meskipun malam belum terlalu larut.
Anto memperlambat kendaraan.
“Kenapa sepi sekali?”
Anita melihat ke luar.
“Seperti semua orang memilih berada di dalam rumah.”
Mereka berhenti di sebuah warung kecil yang masih buka.
Seorang lelaki tua duduk sendirian di dalam.
Anto turun.
“Permisi, Pak.”
Lelaki itu mengangkat wajah.
“Ada apa?”
“Kami mencari seseorang bernama Mbah Reksadana.”
Seketika wajah lelaki tua itu berubah.
Tangannya yang memegang gelas berhenti.
“Siapa yang menyuruh kalian mencari nama itu?”
Anto diam sejenak.
“Kami sedang mencari informasi tentang kejadian di pabrik keramik Pak Jatmoko.”
Lelaki tua itu langsung menaruh gelasnya.
“Pulang.”
Rehan yang baru turun ikut mendekat.
“Kami cuma ingin bertanya.”
“Pulang!”
Suara lelaki tua itu lebih keras.
Beberapa detik kemudian ia merendahkan suaranya.
“Kalau kalian masih ingin hidup, jangan mencari Mbah Reksadana.”
Anto bertanya,
“Kenapa?”
Lelaki tua itu melihat ke arah jalan.
“Mbah Reksadana bukan orang yang seharusnya kalian temui.”
“Dia masih hidup?”
Lelaki tua itu tidak menjawab.
Anto kembali bertanya.
“Di mana rumahnya?”
Lelaki tua itu akhirnya menunjuk ke arah utara.
“Lewati jalan menuju makam desa.”
Rehan langsung menatapnya.
“Rumahnya dekat makam?”
“Dulu.”
“Sekarang?”
Lelaki itu menelan ludah.
“Sekarang rumah itu sudah lama kosong.”
Anita bertanya,
“Kenapa?”
“Karena sejak Mbah Reksadana pergi, tidak ada orang yang berani tinggal di sana.”
Anto merasakan bulu kuduknya berdiri.
“Pergi ke mana?”
Lelaki tua itu menatap Anto.
“Tidak ada yang tahu.”
Kemudian ia berkata pelan,
“Yang kami tahu hanya satu.”
“Apa?”
“Setiap orang yang datang ke rumah itu akan mendengar suara orang yang sudah meninggal.”
Suasana mendadak hening.
Rehan menatap Anto.
“Kayaknya kita sudah mendapat petunjuk.”
Mereka mengucapkan terima kasih lalu meninggalkan warung.
Jalan menuju makam desa semakin gelap.
Pepohonan tumbuh rapat di kiri dan kanan.
Kabut semakin tebal.
Anto menghentikan kendaraan di depan jalan setapak.
“Dari sini kita jalan kaki.”
Rehan melihat sekeliling.
“Serius?”
Anita mengambil senter.
“Kalau takut, tunggu di kendaraan.”
Rehan langsung turun.
“Siapa bilang takut?”
Mereka berjalan memasuki jalan setapak.
Tidak lama kemudian terlihat sebuah pemakaman tua.
Nisan-nisan berdiri tidak beraturan.
Sebagian tertutup lumut.
Sebagian lainnya hampir tenggelam oleh tanah.
Anto tiba-tiba berhenti.
“Ada sesuatu.”
Anita mendekat.
“Apa?”
Anto menatap ke salah satu sudut makam.
“Aku melihat seseorang.”
Sosok perempuan berdiri jauh di antara nisan.
Pakaiannya putih.
Rambutnya panjang.
Anto langsung mengenalinya.
“Sari.”
Sosok itu mengangkat kepala.
Namun sebelum Anto memanggilnya, perempuan itu berbalik dan berjalan menuju bagian makam yang lebih dalam.
Anto mengikuti.
“Anto!” Anita memanggil.
Anto berhenti.
Sari sudah menghilang.
Di tanah tempat perempuan itu berdiri terdapat bunga putih.
Kembang mayit.
Anita berjongkok.
“Bunga ini lagi.”
Anto menyentuh tanah di sampingnya.
Dingin.
Sangat dingin.
Kemudian mata batinnya terbuka.
Ia melihat Sari berdiri di tempat yang sama.
Namun kali ini tubuhnya penuh tanah.
Wajahnya penuh luka.
Tangannya menunjuk ke sebuah makam.
Anto mengikuti arah tangannya.
Di batu nisan itu tertulis:
SARI
Anto terdiam.
“Ini makam Sari.”
Rehan mendekat.
“Kalau begitu siapa yang selama ini kita lihat?”
Tidak ada jawaban.
Tiba-tiba suara Sari terdengar dari belakang.
“Jangan menoleh.”
Anto membeku.
Suara itu sangat dekat.
Anita dan Rehan juga mendengarnya.
“Jangan menoleh.”
Rehan berbisik,
“Kenapa?”
“Karena yang berdiri di belakang kalian bukan aku.”
Anto memejamkan mata.
Ia mengaktifkan mata batinnya.
Di belakang mereka berdiri sosok tinggi.
Tubuhnya kurus.
Lehernya terlalu panjang.
Tangannya menjulur sampai hampir menyentuh tanah.
Wajahnya tidak terlihat.
Anto berkata pelan,
“Jangan bergerak.”
Sosok itu semakin dekat.
Satu langkah.
Dua langkah.
Kemudian berhenti tepat di belakang Rehan.
Rehan mulai gemetar.
“Aku tidak suka situasi seperti ini.”
Anita menggenggam tangannya.
“Diam.”
Anto mengambil napas.
“Sari, apa yang harus kami lakukan?”
Suara perempuan itu terdengar lagi.
“Pergi ke rumah lama.”
“Rumah Mbah Reksadana?”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Karena jawaban tentang kematianku ada di sana.”
Anto bertanya,
“Siapa yang membunuhmu?”
Sari tidak langsung menjawab.
Beberapa detik kemudian terdengar suara lirih.
“Orang yang kalian percaya.”
Anto terdiam.
“Siapa?”
Sari tidak menjawab.
Sebaliknya, terdengar suara langkah kaki dari arah rumah tua.
Satu.
Dua.
Tiga.
Sosok tinggi di belakang mereka tiba-tiba menghilang.
Anto membuka mata.
Tidak ada apa-apa.
Di kejauhan, di balik pepohonan, tampak sebuah rumah tua.
Pintunya terbuka.
Anto menatap Anita.
“Itu rumahnya.”
Mereka bertiga berjalan menuju rumah tersebut.
Semakin dekat, hawa dingin semakin terasa.
Pintu kayu berderit ketika Anto mendorongnya.
Kreeeek...
Ruangan di dalam gelap.
Debu memenuhi lantai.
Ada meja tua.
Lemari.
Beberapa benda ritual yang sudah rusak.
Dan di dinding terdapat banyak goresan.
Anita mengarahkan senter.
“Anto.”
Anto mendekat.
Goresan itu membentuk tulisan.
JANGAN BUKA PINTU BAWAH TANAH.
Rehan langsung mundur.
“Kalau menurutku, tulisan itu justru alasan kita harus pergi.”
Anto tidak menjawab.
Ia melihat lantai.
Ada bagian yang berbeda.
Sebuah papan kayu tua menutupi sesuatu.
Anto berjongkok.
Ia menyentuhnya.
Dari bawah terdengar suara.
Tok.
Anto menarik tangannya.
“Dengar.”
Tok.
Kali ini lebih keras.
Tok. Tok.
Rehan memucat.
“Ada orang di bawah?”
Anto menatap papan itu.
“Mungkin.”
Anita mengangkat tangannya.
Cahaya kecil mulai muncul di telapak tangannya.
“Aku siap kalau sesuatu keluar.”
Anto dan Rehan mengangkat papan tersebut.
Debu beterbangan.
Di bawahnya terdapat tangga menuju ruang gelap.
Bau tanah basah dan kemenyan langsung menyebar.
Anto menatap ke bawah.
Kemudian suara seorang lelaki tua terdengar dari dalam.
“Anto...”
Anto membeku.
Ia mengenal suara itu.
Suara yang selama ini mereka cari.
Mbah Reksadana.
“Kalau kau ingin mengetahui kebenaran tentang Sari...”
Suara itu kembali terdengar.
“...turunlah.”
Anto menatap Anita dan Rehan.
Anita mengangguk.
Mereka bertiga mulai menuruni tangga.
Namun sebelum kaki terakhir menginjak lantai bawah—
pintu rumah di atas mereka menutup sendiri.
BRAK!
Gelap.
Kemudian terdengar suara tawa dari bawah tanah.
Bukan satu suara.
Melainkan banyak suara.
Dan di tengah kegelapan itu, terdengar bisikan Sari:
“Anto... jangan percaya Mbah Reksadana.”
Anto menoleh ke arah kegelapan.
Tetapi sebelum ia sempat berkata apa-apa
sepasang mata merah menyala di ujung ruangan.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!