YANG BANGKIT DARI BAWAH TANAH
Sepasang mata merah menyala di ujung ruangan.
Anto berdiri membeku.
Napasnya tertahan.
Tangannya masih menggenggam senter yang cahayanya bergetar karena tubuhnya ikut gemetar.
Di sampingnya, Rehan mundur satu langkah.
“Anto...”
Anto tidak menjawab.
Matanya terpaku pada dua titik merah di dalam kegelapan.
Anita mengangkat tangannya.
Cahaya tipis mulai muncul dari telapak tangannya.
“Jangan bergerak.”
Suara Anita terdengar pelan, tetapi tegas.
“Jangan membuat suara.”
Dari dalam kegelapan terdengar suara napas.
Berat.
Panjang.
Seperti seseorang yang baru saja bangun dari tidur yang sangat lama.
Hhhhhaaaah...
Kemudian terdengar suara tanah bergeser.
Krek... krek...
Rehan menelan ludah.
“Itu manusia?”
Anto menggeleng perlahan.
“Bukan.”
Dua mata merah itu bergerak semakin dekat.
Satu langkah.
Duk.
Langkah kedua.
Duk.
Lantai tanah bergetar setiap kali makhluk itu berjalan.
Anita memusatkan tenaga.
“Kalau dia menyerang, aku akan gunakan Ajian Guntur Saketi.”
Anto mengangguk.
“Tunggu sampai dia mendekat.”
“Kenapa?”
“Aku ingin melihatnya.”
Anita menatap Anto.
“Dengan mata batin?”
Anto mengangguk.
Ia menarik napas panjang.
Kemudian menutup mata.
Sesaat semuanya menjadi gelap.
Namun ketika mata batinnya terbuka—
dunia di sekelilingnya berubah.
Ruang bawah tanah itu tidak lagi terlihat seperti ruangan biasa.
Dindingnya dipenuhi akar hitam.
Tanah di bawah kaki mereka bergerak seperti sesuatu yang hidup.
Dan di ujung ruangan berdiri sosok yang sangat besar.
Tubuhnya seperti tersusun dari tanah basah, akar, dan tulang manusia.
Kedua matanya merah menyala.
Di bagian dadanya terdapat lubang besar.
Di dalam lubang itu tampak cahaya merah seperti bara.
Anto tersentak.
Ia membuka mata.
Makhluk itu sudah berada beberapa meter di depan mereka.
Rehan melihat bentuknya samar-samar melalui cahaya senter.
“Ya Tuhan...”
Makhluk itu mengangkat kepalanya.
Suara berat keluar dari tenggorokannya.
“Sudah... waktunya...”
Anto mengerutkan kening.
“Waktu untuk apa?”
Makhluk itu tidak menjawab.
Sebaliknya, tatapannya berpindah ke dada Anto.
Segel yang selama ini tidak pernah ia pahami tiba-tiba terasa panas.
Sangat panas.
Anto memegang dadanya.
“Aaah!”
Ia jatuh berlutut.
Anita segera menghampirinya.
“Anto!”
“Segelnya...”
“Apa yang terjadi?”
“Panas.”
Makhluk itu bergerak mendekat.
Anita langsung berdiri di depan Anto.
“Jangan mendekat!”
Makhluk itu berhenti.
Kemudian terdengar suara yang aneh.
Seperti banyak manusia berbicara bersamaan.
“Dia... harus... dibuka...”
Anita mengerutkan kening.
“Apa yang harus dibuka?”
Makhluk itu menunjuk Anto.
“Segelnya.”
Anto mengangkat kepala.
“Siapa yang menyegelnya?”
Makhluk itu diam.
“Jawab!”
Makhluk itu hanya tertawa.
Suara tawanya menggema di ruang bawah tanah.
“Hahahaha...”
Kemudian tanah di bawah mereka bergerak.
Akar-akar hitam keluar dari dinding.
Satu akar melesat menuju Anita.
Srak!
Anita menghindar.
Akar itu menghantam dinding.
BRAK!
Batu-batu runtuh.
“Anto, mundur!”
Anita mengangkat kedua tangan.
“Ajian Guntur Saketi!”
Cahaya putih kebiruan berkumpul di telapak tangannya.
Petir kecil berputar di antara jari-jarinya.
Kemudian Anita menghentakkan tangannya ke depan.
DUARRR!
Ledakan petir menghantam tubuh makhluk tersebut.
Tanah beterbangan.
Ruangan dipenuhi asap.
Rehan menutup wajahnya.
“Apakah kena?”
Anita terengah-engah.
“Aku tidak tahu.”
Asap perlahan menghilang.
Makhluk itu masih berdiri.
Tubuhnya memang terbakar di beberapa bagian.
Namun luka itu perlahan menutup.
Akar-akar baru tumbuh dari tubuhnya.
Anita terkejut.
“Tidak mungkin...”
Makhluk itu kembali melangkah.
Anto berdiri.
“Anita!”
“Apa?”
“Jangan serang bagian tubuhnya.”
“Kenapa?”
“Dia tidak benar-benar berada di tubuh itu.”
Anita menatap Anto.
“Maksudmu?”
Anto menggunakan mata batinnya lagi.
Ia melihat sesuatu di balik tubuh makhluk tersebut.
Ada sebuah benda kecil yang tertanam jauh di dalam tanah.
Sebuah cincin tua.
Cincin itu terikat oleh benang hitam.
Benang tersebut menghubungkan cincin dengan tubuh makhluk itu.
“Di bawahnya!”
Anto menunjuk tanah.
“Ada sesuatu yang menjadi pengikat!”
Rehan langsung mengambil sekop kecil yang tergeletak di sudut ruangan.
“Yang ini?”
“Iya!”
Rehan mulai menggali.
Makhluk itu menggeram.
“JANGAN!”
Untuk pertama kalinya suaranya terdengar jelas.
Ia mengangkat tangannya.
Akar-akar bergerak menuju Rehan.
Anita segera berdiri di depan Rehan.
“Cepat!”
Rehan menggali semakin dalam.
Tanah semakin keras.
“Aku tidak melihat apa-apa!”
“Terus gali!”
Anto memusatkan mata batinnya.
“Sedikit lagi!”
Rehan menghantam tanah.
Tak!
Sekopnya mengenai benda keras.
“Ada!”
Ia membersihkan tanah dengan tangannya.
Sebuah cincin tua terlihat.
Permukaannya dipenuhi ukiran aneh.
Begitu Rehan menyentuhnya—
DUM!
Tubuhnya terpental.
“Rehan!”
Anto berlari menghampiri.
Rehan terbaring sambil memegangi tangannya.
“Panas...”
Cincin itu jatuh ke tanah.
Makhluk tersebut mengeluarkan suara geraman.
“Jangan sentuh milikku!”
Anto mengambil sebuah kain dan membungkus cincin itu.
Saat cincin tersebut terangkat dari tanah—
tubuh makhluk itu mulai retak.
Cahaya merah keluar dari sela-sela tubuhnya.
Anita kembali bersiap.
“Sekarang!”
Ia mengarahkan Ajian Guntur Saketi kepada cincin tersebut.
Namun sebelum ia menyerang—
terdengar suara lelaki tua.
“Berhenti!”
Semua terdiam.
Dari lorong belakang muncul seseorang.
Jubahnya hitam.
Rambutnya panjang dan putih.
Tangannya menggenggam sebuah keris tua.
Anto langsung mengenalinya.
“Mbah Reksadana.”
Lelaki tua itu berhenti beberapa meter dari mereka.
Wajahnya terlihat jauh lebih tua dibandingkan gambaran yang mereka dapat dari warga desa.
Matanya dalam.
Kulit wajahnya penuh keriput.
Namun tatapannya sangat tajam.
Mbah Reksadana melihat cincin yang berada di tangan Anto.
“Dari mana kalian mendapatkannya?”
Anto menjawab,
“Di bawah tanah.”
Mbah Reksadana menghela napas.
“Berarti dia sudah bangun.”
Rehan menatap makhluk itu.
“Dia siapa?”
Mbah Reksadana tidak menjawab.
Anto bertanya,
“Apakah itu Sang Pamomong Peteng?”
Mbah Reksadana menatap Anto.
Untuk beberapa detik, lelaki tua itu terlihat terkejut.
“Dari mana kau tahu nama itu?”
Anto diam.
“Aku melihatnya.”
Mbah Reksadana menghela napas panjang.
“Jangan gunakan mata batinmu terlalu lama.”
“Kenapa?”
“Karena sesuatu di sana juga bisa melihatmu.”
Anto merasakan bulu kuduknya berdiri.
“Apa maksudnya?”
Mbah Reksadana tidak menjawab.
Ia menatap segel di dada Anto.
Kemudian wajahnya berubah.
“Kau...”
“Apa?”
“Segel itu.”
Anto memegang dadanya.
“Kenapa?”
Mbah Reksadana mendekat satu langkah.
“Siapa yang memberikannya kepadamu?”
“Aku tidak tahu.”
“Tidak mungkin.”
“Sejak kecil segel ini sudah ada.”
Mbah Reksadana terdiam.
Kemudian ia memalingkan wajah.
“Aku mengenal segel itu.”
Anto langsung mendekat.
“Dari mana?”
Mbah Reksadana menggenggam kerisnya.
“Bukan sekarang.”
“Jawab!”
Suara Anto menggema.
Mbah Reksadana akhirnya menatapnya.
“Segel itu bukan berasal dari pesugihan Pak Jatmoko.”
Anto terdiam.
Anita ikut mendekat.
“Lalu dari mana?”
“Dari perjanjian yang jauh lebih tua.”
Rehan menatap sekeliling.
“Jangan bilang ada pesugihan lain.”
Mbah Reksadana menggeleng.
“Ini bukan sekadar pesugihan.”
Makhluk di belakang mereka tiba-tiba menggeram.
Mbah Reksadana langsung berbalik.
“Jangan dengarkan suaranya!”
Sang Pamomong Peteng membuka mulut.
“Reksadana...”
Mbah Reksadana mengangkat keris.
“Aku tidak akan mengembalikan apa yang sudah kuambil.”
Anto menatapnya.
“Apa yang kau ambil?”
Mbah Reksadana diam.
Sang Pamomong Peteng tertawa.
“Dia berbohong.”
Anto menoleh.
Makhluk itu kembali berkata,
“Dia yang membuka pintu.”
Mbah Reksadana berteriak,
“Diam!”
Ia mengayunkan keris.
Cahaya putih keluar dari bilahnya.
Sang Pamomong Peteng terdorong ke belakang.
Anita terkejut.
“Keris itu memiliki kekuatan.”
Mbah Reksadana menjawab,
“Keris ini dibuat untuk memutus ikatan.”
Anto melihat cincin di tangannya.
“Kalau begitu putuskan.”
Mbah Reksadana menatap cincin itu.
“Tidak bisa.”
“Kenapa?”
“Karena cincin ini bukan pengikat terakhir.”
Anto terdiam.
“Masih ada yang lain?”
Mbah Reksadana mengangguk.
“Tiga.”
Rehan mengusap wajah.
“Kenapa selalu ada tiga?”
Mbah Reksadana menatapnya.
“Karena perjanjian ini dibuat dengan tiga syarat.”
“Pertama?”
“Darah.”
“Kedua?”
“Jiwa.”
“Ketiga?”
Mbah Reksadana menatap Anto.
“Segel.”
Anto membeku.
“Segelku?”
Mbah Reksadana tidak menjawab.
Tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara perempuan.
“Anto...”
Anto menoleh.
Sari berdiri di ujung lorong.
Wajahnya pucat.
Matanya penuh kesedihan.
“Jangan percaya kepadanya.”
Mbah Reksadana langsung menatap Sari.
“Sari...”
Sari menatap lelaki tua itu.
“Dia tahu apa yang terjadi kepadaku.”
Anto berdiri di antara mereka.
“Mbah.”
“Apa?”
“Apakah Anda yang membunuh Sari?”
Mbah Reksadana terdiam.
Pertanyaan itu membuat seluruh ruangan sunyi.
Sari menundukkan kepala.
Kemudian menjawab sendiri.
“Bukan dia yang membunuhku.”
Anto menatapnya.
“Lalu siapa?”
Sari mengangkat wajah.
“Pak Jatmoko.”
Rehan mengepalkan tangan.
“Jadi benar.”
Sari mengangguk.
“Tapi Mbah Reksadana yang mengajarinya caranya.”
Mbah Reksadana memejamkan mata.
“Aku memang bersalah.”
Sang Pamomong Peteng kembali tertawa.
“Dan kesalahan itu belum selesai.”
Tanah mulai bergetar hebat.
Retakan muncul di seluruh dinding.
Mbah Reksadana langsung berteriak.
“Keluar!”
Anto menggenggam cincin.
“Tapi Anda?”
“Aku akan menahannya.”
“Tidak!”
“Anto!”
Mbah Reksadana menatapnya tajam.
“Kalau kau ingin mengetahui kebenaran tentang segelmu, pergilah ke Desa Karangwungu bagian utara.”
Anto terdiam.
“Cari rumah tua di dekat hutan.”
“Apa yang ada di sana?”
“Jawaban.”
Mbah Reksadana kemudian menatap segel di dada Anto.
“Dan mungkin... orang yang selama ini menunggumu.”
Anto belum sempat bertanya.
BRAAAK!
Dinding ruang bawah tanah runtuh.
Sang Pamomong Peteng menghilang ke dalam kegelapan.
Akar-akar hitam menyerbu dari segala arah.
“LARI!” teriak Mbah Reksadana.
Anto, Anita, dan Rehan berlari menuju tangga.
Namun sebelum Anto menaiki anak tangga terakhir, ia mendengar suara Mbah Reksadana.
“Anto!”
Anto menoleh.
Mbah Reksadana berdiri sendirian di tengah ruangan.
Kerisnya terangkat.
“Jangan pernah percaya suara yang memanggilmu dengan suara ibumu.”
Anto terdiam.
“Apa maksudnya?”
Mbah Reksadana menjawab,
“Karena sesuatu sudah mengetahui kelemahanmu.”
Kemudian sebuah akar besar menghantam lantai.
Anto terpaksa berlari.
Mereka bertiga keluar dari ruang bawah tanah.
Pintu rumah tua terbuka lebar.
Angin malam menerobos masuk.
Namun ketika Anto menoleh ke belakang—
Mbah Reksadana sudah tidak terlihat.
Yang tersisa hanya keris tua yang tertancap di lantai.
Dan sebuah suara lirih dari bawah tanah.
“Anto...”
Suara itu terdengar seperti suara ibunya.
“Anakku...”
Anto berdiri membeku.
Anita langsung menarik tangannya.
“Jangan dengarkan.”
Anto menatap lorong gelap.
Suara itu kembali terdengar.
“Anto... tolong Ibu...”
Air mata Anto hampir jatuh.
Namun ia teringat pesan Mbah Reksadana.
Jangan percaya suara yang memanggilmu dengan suara ibumu.
Anto menutup telinganya.
“Ayo pergi.”
Mereka bertiga meninggalkan rumah tua itu.
Di belakang mereka, kembang mayit mulai bermekaran satu per satu.
Dan jauh di dalam tanah—
sesuatu membuka matanya.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!