JALAN MENUJU PADEPOKAN
GONGGG...
Suara gong ketiga menggema dari dalam hutan.
Suara itu begitu berat hingga kaca-kaca jendela pabrik bergetar.
Setelahnya—
sunyi.
Bunga-bunga Kembang Mayit yang memenuhi halaman perlahan berhenti bergerak.
Semua menghadap ke arah yang sama.
Utara.
Anto berdiri di depan pintu pabrik sambil menggenggam kain peta pemberian ibunya.
Di permukaan kain itu, garis merah menuju Padepokan Kembang Mayit terlihat semakin jelas.
Anita berdiri di sebelahnya.
Rehan berada beberapa langkah di belakang.
Tidak seorang pun berbicara selama beberapa saat.
Akhirnya Rehan memecah kesunyian.
“Jadi kita benar-benar mau masuk hutan itu?”
Anto mengangguk.
“Ya.”
Rehan menghela napas panjang.
“Aku cuma mau memastikan satu hal.”
“Apa?”
“Kalau nanti ada sesuatu yang mengejar kita, aku boleh lari dulu?”
Anita hampir tersenyum.
“Kalau kamu lari terlalu cepat, kami juga belum tentu menunggu.”
“Wah, terima kasih.”
Anto tersenyum tipis.
Namun senyum itu segera hilang.
Ia kembali melihat ke arah hutan.
Ada perasaan aneh di dalam dadanya.
Seperti seseorang sedang memanggilnya.
Bukan dengan suara.
Melainkan dengan sesuatu yang jauh lebih dalam.
Sebuah ingatan.
Sebuah tempat.
Sebuah janji yang bahkan tidak pernah ia buat.
Mereka meninggalkan pabrik menjelang sore.
Jalan menuju utara hanya berupa jalan tanah yang semakin lama semakin sempit.
Setelah beberapa kilometer, rumah-rumah warga mulai menghilang.
Pohon-pohon besar berdiri rapat.
Cahaya matahari semakin sedikit.
Rehan berjalan sambil membawa tas berisi air dan beberapa makanan.
“Kenapa tidak lewat jalan biasa?”
Anita menjawab,
“Karena tidak ada jalan biasa menuju padepokan.”
“Bagus.”
Rehan melihat ke kiri dan kanan.
“Semakin lama semakin seperti tempat orang hilang.”
Anto tidak menanggapi.
Ia terus mengikuti garis merah pada kain.
Anehnya, setiap kali mereka mengambil jalan yang benar, tanda pada kain menjadi lebih terang.
Namun jika mereka salah arah—
tanda itu menghilang.
Setelah hampir satu jam berjalan, mereka menemukan sebuah batu besar di tengah jalan.
Batu itu dipenuhi lumut.
Di permukaannya terdapat ukiran.
Anto mendekat.
Ukiran tersebut berbentuk bunga.
Kembang Mayit.
Di bawahnya terdapat tulisan:
JANGAN MELANGKAH JIKA BELUM SIAP KEHILANGAN.
Rehan membaca tulisan itu.
“Ini peringatan?”
Anita mengangguk.
“Sepertinya.”
Rehan memandang Anto.
“Masih bisa pulang, kan?”
Anto diam.
Kemudian ia melangkah melewati batu tersebut.
Anita mengikuti.
Rehan menghela napas.
“Kenapa aku selalu ikut orang keras kepala?”
Ia pun menyusul.
Begitu mereka melewati batu—
angin berhenti.
Hutan menjadi sunyi.
Tidak ada burung.
Tidak ada serangga.
Bahkan suara langkah mereka terasa seperti tertelan tanah.
Anto berhenti.
“Dengar.”
Anita dan Rehan diam.
Dari kejauhan terdengar suara perempuan menangis.
Pelan.
Sangat pelan.
“Tolooong...”
Rehan merinding.
“Siapa itu?”
Anto menatap ke arah suara.
“Jangan cari.”
“Tapi kalau ada orang—”
“Bukan manusia.”
Tangisan itu terdengar lagi.
“Tolooong...”
Kemudian suara lain menyusul.
“Anto...”
Anto menutup mata.
Suara ibunya.
Namun kali ini ia tidak bergerak.
“Jangan dengarkan,” kata Anita.
Anto mengangguk.
Mereka terus berjalan.
Suara tangisan mengikuti dari belakang.
Semakin jauh mereka melangkah, semakin dekat suara itu terdengar.
Sampai akhirnya—
sebuah suara berbisik tepat di telinga Rehan.
“Rehan...”
Rehan membeku.
Ia tidak menoleh.
Anita langsung berbisik.
“Jangan jawab.”
Rehan mengangguk.
Suara itu kembali.
“Rehan...”
Lalu terdengar suara lain.
Suara ayahnya.
“Pulang, Nak.”
Rehan memejamkan mata.
Air mata hampir jatuh.
Anto menatapnya.
“Kamu tidak sendirian.”
Rehan mengangguk.
“Aku tahu.”
Suara itu berubah menjadi tawa.
Kemudian menghilang.
Hari mulai gelap.
Mereka menemukan sebuah sungai kecil.
Airnya hitam.
Tidak mengalir.
Permukaannya tenang seperti kaca.
Di seberang sungai terdapat jalan menuju sebuah bukit.
Anto melihat kain peta.
Garis merah berhenti di sungai.
Anita menatap sekeliling.
“Berarti kita harus menyeberang.”
Rehan memandang air.
“Aku tidak suka sungai ini.”
“Kenapa?”
“Tidak ada suara air.”
Anto memperhatikan permukaan sungai.
Benar.
Tidak ada arus.
Tidak ada suara.
Ia mengambil batu kecil dan melemparkannya.
Byur.
Batu jatuh.
Namun lingkaran air tidak muncul.
Batu itu seolah menghilang begitu saja.
Rehan mundur.
“Kita jangan lewat sini.”
Anto mengeluarkan keris kecil dari kotak tua.
Keris tersebut tiba-tiba bergetar.
Kemudian ujungnya mengarah ke kanan.
Anto mengikuti arah tersebut.
Di antara pepohonan terdapat jembatan kayu tua.
“Lewat sana.”
Mereka mendekati jembatan.
Baru beberapa langkah, terdengar suara dari bawah.
“Anto...”
Anto berhenti.
Dari celah papan jembatan, tampak tangan putih muncul.
Rehan hampir berteriak.
Anita langsung menariknya.
Jangan lihat ke bawah.
Tangan itu menggenggam papan.
Kemudian muncul tangan kedua.
Lalu ketiga.
Puluhan tangan berusaha naik dari bawah jembatan.
Anita mengangkat tangan.
“Ajian Guntur Saketi!”
Kilatan energi menghantam bawah jembatan.
DUARRR!
Tangan-tangan itu menghilang.
Air hitam berubah menjadi merah sesaat.
Kemudian kembali gelap.
Anita menarik napas.
“Jangan berhenti.”
Mereka berlari melewati jembatan.
Begitu sampai di seberang—
jembatan itu runtuh.
BRAAAK!
Kayunya jatuh ke sungai.
Rehan menatapnya.
“Kalau tadi kita terlambat sedikit...”
“Jangan pikirkan,” jawab Anto.
Mereka kembali berjalan.
Malam tiba.
Mereka membuat tempat berlindung sederhana di bawah pohon besar.
Anto tidak tidur.
Ia duduk sambil memandangi keris.
Keris tersebut memiliki ukiran yang sama dengan simbol pada segelnya.
Anita duduk di sampingnya.
“Kamu yakin ingin terus mencari?”
Anto menjawab,
“Aku harus tahu.”
“Kalau jawabannya menyakitkan?”
“Aku tetap harus tahu.”
Anita diam.
“Bagaimana kalau ibumu memang menyembunyikan sesuatu yang berbahaya?”
Anto menatap api kecil di depan mereka.
“Justru itu alasan aku harus menemukannya.”
Rehan yang berbaring di sisi lain tiba-tiba berbicara.
“Aku dengar sesuatu.”
Anto dan Anita langsung menoleh.
“Apa?”
Rehan menunjuk ke arah pepohonan.
“Suara orang berjalan.”
Mereka semua diam.
Krek.
Ranting patah.
Kemudian terdengar langkah.
Tap...
Tap...
Tap...
Seseorang berjalan mengelilingi tempat mereka.
Anto berdiri.
Anita bersiap.
“Siapa?”
Tidak ada jawaban.
Langkah terus berputar.
Kemudian berhenti tepat di belakang Anto.
Anto berbalik.
Tidak ada siapa-siapa.
Namun di tanah terdapat sebuah benda.
Sebuah gelang kecil.
Anto mengambilnya.
Ia langsung mengenali benda tersebut.
Milik ibunya.
Tangannya gemetar.
“Dari mana ini?”
Anita melihat gelang tersebut.
“Kamu yakin?”
Anto mengangguk.
“Ibu selalu memakainya.”
Rehan bangkit.
“Berarti ibumu pernah sampai di sini.”
Anto menatap hutan.
“Mungkin.”
Tiba-tiba terdengar suara perempuan dari kejauhan.
“Anto...”
Anto berdiri.
Suara itu berbeda dari sebelumnya.
Tidak menyeramkan.
Tidak memaksa.
Hanya lembut.
“Anto...”
Anto menggenggam gelang itu.
“Ibu?”
Anita menahan tangannya.
“Tunggu.”
Suara itu kembali.
“Kalau kamu mencari jawaban...”
Hening.
“...datanglah ke padepokan.”
Anto menatap kegelapan.
“Siapa kamu?”
Tidak ada jawaban.
Kemudian suara itu berkata:
“Aku pernah menyegel jalan itu.”
Anto membeku.
Itu suara ibunya.
Namun sebelum ia bisa menjawab—
suara tersebut berubah menjadi jeritan.
“JANGAN BIARKAN REKSADANA MEMBUKA PINTUNYA!”
Kemudian hutan kembali sunyi.
Anita menatap Anto.
“Sekarang kita punya masalah baru.”
Anto mengangguk.
“Mbah Reksadana.”
Pagi berikutnya mereka melanjutkan perjalanan.
Bukit semakin tinggi.
Pepohonan semakin tua.
Banyak batang pohon memiliki bekas goresan seperti bekas cakar.
Anto memperhatikan salah satunya.
“Ini bukan bekas hewan.”
Anita menyentuhnya.
“Benar.”
Rehan melihat ke atas.
“Ada sesuatu yang mengawasi kita.”
Anto mengaktifkan mata batinnya.
Dunia berubah.
Kabut merah memenuhi hutan.
Di antara pepohonan berdiri puluhan sosok.
Semuanya tanpa wajah.
Semuanya menghadap kepada mereka.
Namun tidak satu pun bergerak.
Anto memejamkan mata.
Ketika membukanya kembali, sosok-sosok itu sudah hilang.
“Banyak yang mati di sini.”
Anita bertanya,
“Korban perjanjian?”
“Mungkin.”
Mereka terus mendaki.
Hingga akhirnya—
sebuah bangunan tua terlihat di balik kabut.
Atapnya tinggi.
Dindingnya terbuat dari batu hitam.
Di depan bangunan terdapat gapura tua.
Pada bagian atasnya terdapat ukiran bunga.
Kembang Mayit.
Anto berhenti.
Kain peta di tangannya tiba-tiba terbakar dari ujung.
Namun tidak menjadi abu.
Tulisan merah muncul di atas kain:
PADEPOKAN KEMBANG MAYIT.
Rehan menatap bangunan itu.
“Jadi... ini tempatnya.”
Anita mengangguk.
Anto melangkah mendekati gapura.
Begitu kakinya menyentuh halaman padepokan—
segelnya kembali terasa panas.
Krek...
Retakan di dadanya bertambah satu.
Anto terhuyung.
Anita memegangnya.
“Anto!”
“Aku tidak apa-apa.”
Di depan mereka terdapat sebuah pintu besar.
Tertutup rapat.
Di tengah pintu terdapat simbol yang sama dengan segel Anto.
Anto mendekat.
Tiba-tiba pintu terbuka sendiri.
Kreeeeeeek...
Di balik pintu terdapat halaman luas.
Bunga Kembang Mayit tumbuh memenuhi tanah.
Namun di tengah halaman—
seseorang berdiri.
Jubah hitam.
Rambut putih.
Memegang sebuah keris tua.
Anto langsung mengenalinya.
“Mbah Reksadana.”
Lelaki tua itu mengangkat wajah.
Tatapannya terlihat lelah.
“Anto...”
Ia menatap segel di dada Anto.
“Kau seharusnya tidak datang.”
Anto menggenggam keris kecil yang ditemukan di rumah tua.
“Kami datang untuk mengetahui kebenaran.”
Mbah Reksadana diam.
Kemudian matanya berpindah kepada Anita dan Rehan.
“Kalian tidak tahu apa yang sudah kalian bawa ke sini.”
Anita menjawab,
“Kami membawa Anto.”
Mbah Reksadana menggeleng.
“Bukan.”
Ia menunjuk dada Anto.
“Kalian membawa kunci.”
Tiba-tiba seluruh bunga Kembang Mayit di halaman bergerak.
Satu demi satu menghadap Anto.
Mbah Reksadana berbisik:
“Dan sekarang mereka tahu bahwa kuncinya sudah kembali.”
Dari dalam padepokan terdengar suara rantai diseret.
KREK...
KREK...
Kemudian suara berat terdengar dari balik bangunan.
“Buka pintunya...”
Anto menatap Mbah Reksadana.
“Mbah... pintu apa?”
Mbah Reksadana tidak menjawab.
Ia hanya memandang Anto dengan wajah penuh ketakutan.
Kemudian—
dari bawah tanah padepokan terdengar suara ketukan.
TOK.
TOK.
TOK.
Mbah Reksadana menutup matanya.
“Sudah terlambat.”
Anto menatap tanah.
Segelnya kembali retak.
KREK.
Dan dari bawah kaki mereka—
terdengar suara ibunya.
“Anto... jangan percaya siapa pun.”














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!