PABRIK YANG KEMBALI HIDUP
Pagi belum sepenuhnya datang ketika Anto terbangun.
Suara burung terdengar dari kejauhan, tetapi udara di dalam rumah terasa dingin.
Terlalu dingin untuk sebuah pagi.
Anto membuka mata perlahan.
Untuk beberapa detik ia tidak bergerak.
Tatapannya langsung tertuju pada dadanya.
Garis hitam yang muncul malam sebelumnya masih terlihat.
Namun ada sesuatu yang berbeda.
Retakan itu tidak bertambah.
Sebaliknya, di sekelilingnya muncul pola tipis seperti akar.
Anto menyentuhnya.
Tidak terasa sakit.
Tetapi begitu jarinya menyentuh bagian tengah segel—
sebuah suara muncul dalam kepalanya.
Jangan datang ke sana.
Anto menarik tangannya.
Ia melihat ke sekeliling.
Tidak ada siapa-siapa.
“Siapa?”
Tidak ada jawaban.
Kemudian suara itu terdengar lagi.
Padepokan itu bukan tempat untukmu.
Anto berdiri.
“Kalau begitu, kenapa semua petunjuk membawaku ke sana?”
Hening.
Anto mengambil kain peta dari meja.
Garis merah di atasnya terlihat semakin jelas.
Salah satu tanda yang sebelumnya samar kini berubah menjadi merah tua.
Tanda itu berada tepat di kawasan pabrik keramik Pak Jatmoko.
Anto mengerutkan dahi.
“Kenapa berubah?”
Anita dan Rehan segera dipanggil.
Mereka bertiga kembali memeriksa peta.
Anita memperhatikan tanda merah tersebut.
“Semalam tanda ini tidak seperti ini.”
“Benar,” jawab Rehan.
Anto menunjuk garis yang menghubungkan pabrik dengan hutan.
“Lihat.”
Garis itu seperti jalur.
Dari pabrik.
Menuju rumah tua.
Lalu terus ke arah utara.
Menuju Padepokan Kembang Mayit.
Anita menarik napas.
“Berarti ketiganya terhubung.”
Rehan menggeleng.
“Kalau begitu kita harus pergi ke pabrik lagi?”
Anto menatapnya.
“Ya.”
Rehan langsung berdiri.
“Kenapa setiap kali kita mencoba menjauh dari tempat itu, malah kembali lagi?”
Anita menjawab datar.
“Karena mungkin semuanya memang dimulai dari sana.”
Menjelang siang mereka tiba di depan pabrik.
Namun pemandangan yang mereka lihat membuat ketiganya terdiam.
Pabrik yang sebelumnya terlihat seperti bangunan kosong kini kembali hidup.
Mesin-mesin terdengar bekerja.
Suara kendaraan keluar-masuk.
Para pekerja berjalan di sekitar halaman.
Asap mengepul dari cerobong.
Seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.
Rehan mengerutkan dahi.
“Bukankah pabrik ini sudah ditutup?”
Anto mengangguk.
“Seharusnya.”
Mereka berdiri di balik pagar.
Anita memejamkan mata.
“Ada sesuatu yang salah.”
“Apa?”
“Suara mesin.”
Rehan mendengarkan.
Mesin pabrik memang terdengar bekerja.
Tetapi iramanya tidak seperti mesin biasa.
Ada suara lain di baliknya.
Seperti suara orang menangis.
Anto membuka mata batinnya.
Sekejap pemandangan berubah.
Bangunan pabrik menjadi hitam.
Mesin-mesin terlihat seperti tulang besar.
Para pekerja yang berjalan di halaman berubah menjadi sosok tanpa wajah.
Dan bunga-bunga Kembang Mayit tumbuh dari tubuh mereka.
Anto langsung menutup matanya.
“Jangan masuk.”
Rehan menatapnya.
“Kenapa?”
“Yang kita lihat belum tentu nyata.”
Anita memandang gerbang.
“Justru itu alasan kita harus masuk.”
Gerbang terbuka sendiri.
Kreeek...
Tidak ada penjaga.
Mereka masuk perlahan.
Suara mesin semakin keras.
Namun anehnya tidak ada satu pun pekerja yang memperhatikan mereka.
Anto berjalan menuju gedung utama.
Begitu pintu dibuka—
bau tanah basah langsung menusuk hidung.
Rehan menutup hidung.
“Bau apa ini?”
Anita melihat lantai.
Ada tanah hitam berserakan.
Tanah itu bergerak perlahan.
Seperti ada sesuatu yang bernapas di bawahnya.
Anto berjongkok.
Tanah tersebut terasa dingin.
Ia mengusapnya dengan ujung jari.
Sekejap penglihatannya kembali berubah.
Ia melihat ruangan bawah tanah.
Sari terbaring di lantai.
Pak Jatmoko berdiri di atasnya.
Mbah Reksadana memegang sebuah benda seperti mangkuk batu.
Sari menangis.
“Jangan lakukan ini...”
Pak Jatmoko menjawab:
“Aku tidak punya pilihan.”
Mbah Reksadana menatapnya.
“Setiap pilihan memiliki harga.”
Kemudian sesuatu bergerak di belakang mereka.
Bayangan besar.
Mata merah.
Anto tersentak kembali ke dunia nyata.
“Anto?”
Anita memegang bahunya.
“Apa yang kamu lihat?”
“Ritual.”
Rehan menelan ludah.
“Ritual apa?”
“Ritual yang dilakukan kepada Sari.”
Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh dari lantai dua.
Brak!
Mereka bertiga menoleh.
Kemudian terdengar langkah.
Tap...
Tap...
Tap...
Seseorang berjalan menuruni tangga.
Anto langsung bersiap.
Namun sosok yang muncul membuat mereka terkejut.
Pak Jatmoko.
Wajahnya pucat.
Pakaiannya kotor.
Matanya cekung.
Ia terlihat jauh lebih tua dibandingkan ketika terakhir mereka melihatnya.
Rehan langsung mundur.
“Pak Jatmoko?”
Pak Jatmoko tidak menjawab.
Ia hanya menatap Anto.
“Kalian tidak seharusnya datang.”
Anto maju.
“Kenapa pabrik ini kembali hidup?”
Pak Jatmoko tertawa kecil.
“Karena perjanjiannya belum selesai.”
Anita bertanya,
“Perjanjian apa?”
Pak Jatmoko memandang lantai.
“Perjanjian yang kubuat dua puluh tahun lalu.”
Anto mendekat.
“Dengan siapa?”
Pak Jatmoko menatap dada Anto.
“Dengan sesuatu yang sekarang mulai mencari jalan keluar.”
Anto memegang segelnya.
“Jadi kau tahu tentang segel ini?”
Pak Jatmoko terdiam.
Kemudian menjawab:
“Tidak.”
Anto mengerutkan dahi.
“Bohong.”
“Aku tidak tahu siapa yang membuatnya.”
“Lalu kenapa makhluk itu menginginkannya?”
Pak Jatmoko menundukkan kepala.
“Karena segel itu pernah digunakan untuk menutup perjanjianku.”
Anita langsung menatap Anto.
“Apa maksudnya?”
Pak Jatmoko berjalan menuju sebuah ruangan di ujung koridor.
“Ikuti aku.”
Ruangan itu adalah kantor lama Pak Jatmoko.
Semua perabot masih ada.
Namun dindingnya dipenuhi bunga Kembang Mayit.
Beberapa tumbuh dari celah meja.
Beberapa tumbuh dari lantai.
Pak Jatmoko mengambil sebuah buku besar.
Sampulnya hitam.
Ia meletakkannya di atas meja.
“Ini catatan perjanjian.”
Anto membuka halaman pertama.
Ada tanggal lama.
Dua puluh tahun lalu.
Nama Pak Jatmoko tertulis di sana.
Di bawahnya terdapat tiga syarat.
DARAH.
JIWA.
JANJI.
Anto membalik halaman.
Nama-nama korban tertulis satu per satu.
Sari adalah salah satunya.
Rehan menatap daftar tersebut.
“Berapa banyak?”
Pak Jatmoko menjawab lirih.
“Tidak semuanya manusia.”
Rehan menatapnya bingung.
“Maksudnya?”
Pak Jatmoko tidak menjawab.
Anita mengambil buku itu.
Di halaman terakhir terdapat gambar sebuah pintu batu.
Pintu yang sama seperti yang mereka lihat di bawah rumah tua.
Namun di belakang gambar itu ada satu kalimat.
“Pintu hanya dapat dibuka oleh pemilik tanda.”
Anto membeku.
“Pemilik tanda?”
Pak Jatmoko mengangguk.
“Itulah sebabnya aku tidak pernah tahu siapa kamu.”
Anto menatapnya.
“Lalu bagaimana kau tahu aku memiliki tanda?”
Pak Jatmoko tersenyum pahit.
“Mbah Reksadana memberitahuku.”
Anto langsung terdiam.
“Mbah?”
“Dia bilang suatu hari seorang anak akan datang.”
“Anak siapa?”
Pak Jatmoko menatapnya.
“Anak perempuan yang mencoba menghentikan perjanjian.”
Anto merasakan dadanya sesak.
“Ibuku.”
Pak Jatmoko mengangguk.
“Ibumu datang ke pabrik sebelum perjanjian itu sempurna.”
Anita bertanya,
“Apa yang dia lakukan?”
Pak Jatmoko menutup buku.
“Dia menghentikannya.”
Anto menatapnya tajam.
“Kalau begitu kenapa masih ada korban?”
Pak Jatmoko tidak langsung menjawab.
Matanya berkaca-kaca.
“Karena aku melanjutkannya.”
Ruangan menjadi hening.
“Aku takut kehilangan semuanya.”
Anita berkata,
“Jadi kau memilih mengorbankan orang lain.”
Pak Jatmoko menundukkan kepala.
“Aku menyesal.”
Rehan tertawa pahit.
“Penyesalanmu tidak menghidupkan orang-orang yang mati.”
Pak Jatmoko mengangguk.
“Aku tahu.”
Tiba-tiba lantai bergetar.
DUG!
Buku di atas meja jatuh.
Pak Jatmoko langsung pucat.
“Dia datang.”
Anto berdiri.
“Siapa?”
Pak Jatmoko menatap lantai.
“Sang Pamomong Peteng.”
Tanah mulai keluar dari sela-sela keramik.
Akar hitam merayap di lantai.
Bunga Kembang Mayit tumbuh dengan cepat.
Satu.
Dua.
Sepuluh.
Puluhan.
Rehan mundur.
“Ini tidak mungkin!”
Anita mengangkat tangannya.
Energi Ajian Guntur Saketi mulai terkumpul.
Anto menatap akar-akar itu.
“Jangan serang dulu.”
“Kenapa?”
“Dia belum muncul.”
Tiba-tiba seluruh lampu padam.
Gelap.
Kemudian terdengar suara napas.
Haaaah...
Sangat dekat.
Di belakang Anto.
Ia perlahan menoleh.
Dua mata merah menyala dalam kegelapan.
Sosok besar berdiri di sana.
Tubuhnya seperti terbentuk dari tanah, akar, dan tulang.
Wajahnya tidak sempurna.
Namun senyumnya terlihat jelas.
“Pemilik tanda...”
Anto menatapnya.
Makhluk itu mengangkat tangannya.
“Buka jalan.”
Anto menjawab:
“Tidak.”
Senyum makhluk itu melebar.
“Kalau kau tidak membukanya...”
Akar hitam menghantam lantai.
BRAK!
“...kami akan membukanya sendiri.”
Anita menyerang.
“AJIAN GUNTUR SAKETI!”
Ledakan energi menghantam tubuh makhluk itu.
DUARRR!
Ruangan bergetar.
Asap memenuhi udara.
Namun dari balik asap—
makhluk itu masih berdiri.
Anto melihat sesuatu di dadanya.
Sebuah simbol.
Simbol yang sama dengan segelnya.
Anto tersadar.
“Bukan aku yang menjadi pintunya.”
Makhluk itu menatapnya.
Anto melanjutkan:
“Pabrik ini yang menjadi pintunya.”
Pak Jatmoko langsung pucat.
Makhluk itu tertawa.
“Sekarang kau mulai mengerti.”
Kemudian lantai pabrik tiba-tiba terbelah.
Retakan panjang membentang dari bawah kaki Anto hingga ke dinding.
Dari dalam retakan muncul cahaya merah.
Dan bersama cahaya itu—
terdengar suara ratusan orang berbisik.
“Tolong...”
“Tolong kami...”
“Anto...”
Anto menutup telinganya.
Namun satu suara terdengar paling jelas.
Suara ibunya.
“Jangan percaya Mbah Reksadana.”
Anto membuka mata.
Wajahnya berubah.
Kalimat itu membuatnya sadar bahwa masih ada bagian dari masa lalu yang belum terungkap.
Dan mungkin—
Mbah Reksadana tidak menceritakan semuanya.
Makhluk di depan mereka tiba-tiba menghilang.
Yang tersisa hanya bunga Kembang Mayit.
Pak Jatmoko terduduk di lantai.
Anto menatapnya.
“Di mana Mbah Reksadana?”
Pak Jatmoko mengangkat wajah.
“Pergi ke padepokan.”
“Kenapa?”
Pak Jatmoko menjawab dengan suara gemetar.
“Karena dia tahu waktunya sudah tiba.”
Anto menggenggam kain peta.
Tanda menuju Padepokan Kembang Mayit kini menyala merah.
Anita berdiri di sampingnya.
“Kalau begitu kita ke sana.”
Anto mengangguk.
Namun sebelum mereka meninggalkan ruangan, Pak Jatmoko memanggil.
“Anto.”
Anto berhenti.
Pak Jatmoko menatapnya dengan wajah penuh ketakutan.
“Kalau kau bertemu Mbah Reksadana...”
Ia menarik napas.
“Jangan langsung percaya semua yang dia katakan.”
Anto menatapnya.
“Kenapa?”
Pak Jatmoko menjawab lirih.
“Karena orang yang paling lama menjaga rahasia... biasanya juga orang yang paling banyak menyembunyikan kebenaran.”
Di luar pabrik, angin bertiup sangat kencang.
Seluruh bunga Kembang Mayit bergoyang bersamaan.
Dan dari arah hutan utara—
terdengar suara gong.
GONGGG...
Sekali.
Kemudian kedua kalinya.
GONGGG...
Pada gong ketiga—
semua bunga di halaman pabrik langsung menghadap ke arah utara.
Ke arah Padepokan Kembang Mayit.
Anto memandang ke sana.
Perjalanan mereka baru saja dimulai.
Namun tanpa mereka sadari—
dari dalam hutan, seseorang sedang menunggu.
Dan seseorang itu sudah mengetahui bahwa Anto akan datang.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!