PADEPOKAN KEMBANG MAYIT

0 dibaca

A

PADEPOKAN KEMBANG MAYIT


Suara ketukan itu terdengar lagi.


Tok...


Tok...


Tok...


Bukan dari pintu depan.


Bukan pula dari jendela.


Suara itu datang dari bawah lantai padepokan.


Anto berdiri terpaku.


Napasnya tertahan ketika telapak kakinya merasakan getaran halus dari papan lantai yang diinjaknya.


Anita segera berdiri di sampingnya.


“Anto...”


“Aku dengar.”


Rehan menelan ludah.


“Jangan bilang suara itu dari bawah kita.”


Tok...


Tok...


Tok...


Ketukan kembali terdengar.


Kali ini lebih keras.


Debu-debu halus berjatuhan dari langit-langit.


Mbah Reksadana yang sejak tadi berdiri di dekat pintu hanya menatap lantai dengan wajah tegang.


Untuk pertama kalinya, ketenangan di wajah lelaki tua itu menghilang.


Anto memperhatikannya.


“Panjenengan tahu apa yang ada di bawah sana?”


Mbah Reksadana tidak langsung menjawab.


Ia menggenggam keris tua yang terselip di pinggangnya.


“Aku tahu.”


“Lalu kenapa tidak dibuka?”


Mbah Reksadana mengangkat wajah.


“Karena tidak semua pintu dibuat untuk dibuka.”


Rehan tertawa kecil karena gugup.


“Kalau begitu, kenapa suara dari bawah malah mengetuk-ngetuk?”


Mbah Reksadana menatap Rehan.


“Karena sesuatu di bawah sana tahu kalian sudah datang.”


Suasana mendadak hening.


Angin malam menyusup melalui celah-celah dinding.


Api lampu minyak di sudut ruangan bergoyang.


Bayangan mereka bergerak di dinding.


Namun ada satu bayangan yang berbeda.


Bayangan itu berdiri di belakang Anto.


Padahal tidak ada seorang pun di sana.


Anto perlahan menoleh.


Kosong.


“Anto?” Anita memanggil.


Anto kembali menatap dinding.


Bayangan itu sudah tidak ada.


“Ada sesuatu di belakangku.”


Anita langsung mengangkat tangan.


Kilatan kecil muncul di telapak tangannya.


“Di mana?”


Anto menunjuk dinding.


“Di sana.”


Mbah Reksadana segera memadamkan sebagian lampu.


Ruangan menjadi lebih gelap.


Ia kemudian berjalan menuju dinding sebelah timur.


Tangannya menyentuh ukiran tua yang hampir tertutup lumut.


“Sudah waktunya kalian melihat.”


“Melihat apa?” tanya Anto.


Mbah Reksadana tidak menjawab.


Ia mengusap permukaan dinding dengan kain.


Debu dan lumut berjatuhan.


Perlahan sebuah ukiran muncul.


Ukiran seorang perempuan sedang menggendong bayi.


Di dada bayi itu terdapat sebuah lingkaran.


Di tengah lingkaran terdapat simbol menyerupai mata.


Anto mendekat.


Dadanya tiba-tiba terasa panas.


Ia memegang bagian dada yang terdapat segel.


“Simbol itu...”


Mbah Reksadana mengangguk.


“Ya.”


“Segelku?”


“Bukan.”


Anto menatapnya tajam.


“Lalu apa?”


Mbah Reksadana menarik napas panjang.


“Segelmu memiliki hubungan dengan tempat ini. Tapi tempat ini bukan asal segelmu.”


Anita memperhatikan ukiran itu.


“Kalau begitu, kenapa gambarnya sama?”


Mbah Reksadana diam.


Rehan mendekat.


“Pak tua... jangan membuat kami semakin bingung.”


Mbah Reksadana menatap mereka satu per satu.


“Karena apa yang kalian cari sebenarnya jauh lebih tua daripada pesugihan milik Pak Jatmoko.”


Anto terdiam.


“Pak Jatmoko?”


“Ya.”


Mbah Reksadana berjalan menuju meja tua.


Di atas meja terdapat sebuah buku besar yang dibungkus kain hitam.


Ia membuka kain itu perlahan.


Debu mengepul.


Buku tersebut tampak sangat tua.


Sampulnya terbuat dari kulit berwarna cokelat gelap.


Di bagian tengah terdapat simbol yang sama.


Anto langsung merasakan panas pada dadanya.


“Apa itu?”


“Catatan perjanjian.”


“Perjanjian Pak Jatmoko?”


Mbah Reksadana menggeleng.


“Bukan hanya miliknya.”


Ia membuka halaman pertama.


Tulisan kuno memenuhi halaman.


Sebagian sudah pudar.


Namun beberapa kalimat masih bisa dibaca.


Mbah Reksadana membacanya perlahan.


“Darah untuk membuka jalan.”


Ia membalik halaman.


“Jiwa untuk mempertahankan kehidupan.”


Halaman berikutnya.


“Dan janji untuk menjaga pintu.”


Anto mengerutkan kening.


“Pintu?”


Mbah Reksadana menutup buku.


“Pak Jatmoko hanya salah satu orang yang menggunakan jalan ini.”


“Berapa lama?”


“Dua puluh tahun.”


Rehan terkejut.


“Dua puluh tahun?”


Mbah Reksadana mengangguk.


“Perjanjian awalnya hanya sepuluh tahun.”


Anto langsung teringat perkataan Pak Jatmoko.


“Lalu dia memperpanjangnya?”


“Berkali-kali.”


“Dengan korban?”


Mbah Reksadana diam.


Jawaban itu sudah cukup.


Anita mengepalkan tangan.


“Jadi selama dua puluh tahun itu, orang-orang mati karena perjanjian tersebut?”


“Sebagian.”


“Sebagian?”


Mbah Reksadana menatap api lampu.


“Tidak semua kematian terjadi karena pesugihan. Tapi beberapa orang memang dijadikan pembayaran.”


Wajah Anto mengeras.


“Sari?”


Mbah Reksadana menatapnya.


“Ya.”


Anto mengepalkan tangan.


“Panjenengan tahu semuanya.”


“Aku tahu sebagian.”


“Dan tetap membiarkannya terjadi?”


Mbah Reksadana tidak menjawab.


Anto maju selangkah.


“Panjenengan yang mengajari Pak Jatmoko.”


“Aku mengajarinya membuka jalan.”


“Dan korban-korbannya?”


Mbah Reksadana menundukkan kepala.


“Aku tidak menyuruhnya membunuh.”


“Tapi panjenengan tahu.”


“Ya.”


Jawaban itu membuat ruangan terasa semakin dingin.


Anita menatap Mbah Reksadana dengan penuh kecurigaan.


“Kalau begitu kenapa sekarang ingin menghentikannya?”


Mbah Reksadana menatapnya.


“Karena sesuatu yang seharusnya berhenti dua puluh tahun lalu ternyata belum berhenti.”


“Karena Sang Pamomong Peteng?”


Mbah Reksadana tidak menjawab.


Tetapi matanya berubah.


Anto melihatnya.


“Dia bukan sumbernya, kan?”


Mbah Reksadana perlahan mengangkat kepala.


“Tidak.”


“Lalu siapa?”


“Jangan buru-buru mencari nama.”


“Kenapa?”


“Karena beberapa nama tidak boleh disebut.”


Tiba-tiba...


Tok...


Tok...


Tok...


Ketukan dari bawah lantai kembali terdengar.


Kali ini lebih keras.


BRAK!


Salah satu papan lantai terangkat sedikit.


Rehan mundur.


“Gila!”


Anita langsung berdiri dalam posisi siap.


Anto menatap lantai.


Segelnya terasa semakin panas.


“Dia memanggilku.”


Mbah Reksadana langsung memegang bahu Anto.


“Jangan jawab.”


“Aku tidak bicara.”


“Bukan mulutmu yang dia cari.”


Anto menatapnya.


“Maksudnya?”


Mbah Reksadana berbisik.


“Dia sedang mencoba mengenali segelmu.”


Papan lantai bergerak lagi.


Krek...


Krek...


Sebuah garis hitam muncul di sela-sela papan.


Dari celah itu keluar asap tipis.


Bau tanah basah memenuhi ruangan.


Anto memejamkan mata.


Mata batinnya terbuka.


Dan seketika seluruh padepokan berubah.


Dinding menghilang.


Lantai menghilang.


Ia melihat ruang bawah tanah yang sangat luas.


Di tengah ruangan terdapat batu besar berbentuk lingkaran.


Di atasnya terdapat beberapa simbol.


Di sekeliling batu itu berdiri manusia.


Mereka semua mengenakan pakaian hitam.


Kemudian Anto melihat seorang perempuan.


Perempuan itu tidak asing.


Ibunya.


Anto membeku.


“Ibu...”


Perempuan itu berdiri di depan batu.


Di sampingnya ada seorang lelaki.


Ayah Anto.


Keduanya tampak jauh lebih muda.


Ibunya memegang sesuatu di tangannya.


Sebuah cincin.


Mbah Reksadana muda berdiri beberapa langkah di belakang mereka.


Anto melihat ibunya berbicara.


“Aku tidak akan membiarkan pintu itu dibuka.”


Mbah Reksadana muda menjawab.


“Kalau pintunya tidak dibuka, segel itu akan terus menahan sesuatu yang ada di baliknya.”


Ibu Anto menggeleng.


“Biarkan aku yang menanggungnya.”


Ayah Anto memegang tangannya.


“Kita harus membawa Anto pergi.”


Anto mencoba mendekat.


“Ibu!”


Tidak ada yang mendengar.


Tiba-tiba tanah di bawah mereka bergetar.


Dari balik batu muncul suara.


Suara yang sama dengan yang pernah Anto dengar.


“Pemilik tanda...”


Ibunya langsung berbalik.


Wajahnya pucat.


“Dia sudah bangun.”


Ayah Anto menarik tangan istrinya.


“Kita pergi sekarang.”


Tetapi Mbah Reksadana muda justru berdiri di depan mereka.


“Tidak ada jalan keluar.”


“Reksadana!”


“Kalian tahu perjanjiannya.”


Ibu Anto mengangkat cincin itu.


“Perjanjian itu bisa dihentikan.”


Mbah Reksadana tersenyum pahit.


“Tidak dengan cara yang kau pikirkan.”


Penglihatan Anto mendadak berubah.


Ia melihat ibunya menggendong seorang bayi.


Bayi itu adalah dirinya.


Ada sesuatu yang hitam bergerak di sekitar tubuh bayi tersebut.


Ibunya menangis.


Kemudian ia menekan telapak tangannya ke dada bayi itu.


Cahaya muncul.


Sebuah tanda terbentuk.


Segel.


Ibunya berbisik.


“Maafkan ibu.”


Anto tersentak.


Matanya terbuka.


Ia kembali berada di padepokan.


“Apa yang terjadi?” Anita bertanya.


Anto tidak menjawab.


Air mata mengalir di pipinya.


“Ibu... pernah datang ke sini.”


Mbah Reksadana memejamkan mata.


“Ya.”


“Bersama ayahku.”


“Ya.”


“Dan panjenengan ada di sana.”


Mbah Reksadana diam.


Anto mendekat.


“Apa yang terjadi malam itu?”


“Aku tidak bisa menjawab semuanya.”


“Kenapa?”


“Karena aku sendiri tidak mengetahui semuanya.”


Anto menatapnya.


“Bohong.”


Mbah Reksadana tidak membalas.


Tiba-tiba suara perempuan terdengar dari arah belakang mereka.


“Anto...”


Anto langsung membeku.


Itu suara ibunya.


Sangat jelas.


Sangat lembut.


Seperti suara yang selama bertahun-tahun hanya hidup dalam ingatannya.


“Anto...”


Rehan menatap Anto.


“Kamu dengar?”


Anto mengangguk.


Mbah Reksadana langsung berkata keras.


“Jangan jawab!”


Suara itu kembali terdengar.


“Anto... ibu di sini.”


Anto menutup telinganya.


“Ibu?”


“Anto...”


Air matanya kembali jatuh.


Anita memegang lengannya.


“Jangan.”


“Tapi itu suara ibu.”


“Bisa jadi bukan.”


Suara itu berubah.


Lebih dalam.


Lebih berat.


“Anto... bukalah pintunya.”


Mbah Reksadana langsung berdiri.


“Jangan dengarkan!”


BRAK!


Papan lantai di tengah padepokan pecah.


Sebuah tangan hitam keluar dari bawah.


Rehan berteriak.


Anita mengangkat kedua tangannya.


“Ajian Guntur Saketi!”


Petir kecil menyambar telapak tangannya.


BRAKKK!


Ledakan menghantam tangan hitam tersebut.


Tangan itu terlempar ke bawah.


Namun tanah di bawah mereka bergerak.


Seluruh padepokan berguncang.


Mbah Reksadana menarik kerisnya.


“Semua mundur!”


Anto menatap lantai.


Di bawah papan yang pecah, ia melihat sebuah lorong.


Lorong itu menuju ke bawah tanah.


Namun di ujungnya terdapat pintu batu.


Pintu yang sama dengan yang ia lihat dalam penglihatannya.


Anto berjalan mendekat.


Mbah Reksadana langsung menghadang.


“Jangan.”


“Di balik sana ada jawaban tentang ibuku.”


“Belum waktunya.”


“Siapa yang menentukan waktunya?”


Mbah Reksadana diam.


Anto melangkah melewatinya.


Anita dan Rehan mengikuti.


Mereka turun melalui tangga batu yang sempit.


Semakin dalam mereka turun, semakin dingin udara yang terasa.


Dindingnya dipenuhi akar.


Beberapa akar bergerak perlahan.


Rehan memperhatikannya.


“Anto... itu akar hidup.”


Akar tersebut bergerak seperti jari.


Anto tidak menjawab.


Di depan mereka terdapat pintu batu besar.


Pintu itu memiliki ukiran lingkaran.


Simbol yang sama dengan segelnya.


Mbah Reksadana berdiri di belakang.


“Anto.”


Anto tidak menoleh.


“Jangan buka.”


“Kenapa?”


“Karena pintu itu bukan sekadar pintu.”


“Lalu?”


“Di baliknya ada sesuatu yang selama ini ditahan.”


Anto menyentuh permukaan batu.


Segelnya langsung menyala.


Anita terkejut.


“Anto!”


Cahaya merambat dari telapak tangan Anto ke seluruh pintu.


Ukiran-ukiran tua mulai bergerak.


Tanah bergetar.


Dari balik pintu terdengar jeritan.


Banyak suara.


Suara laki-laki.


Perempuan.


Anak-anak.


Semuanya menangis.


Kemudian terdengar satu suara yang membuat Anto membeku.


“Ibu.”


Anto menatap pintu.


Suara itu berubah menjadi suara ibunya.


“Anto...”


Air mata kembali mengalir.


“Kalau kau membuka pintu itu...”


Suara ibunya terdengar semakin jelas.


“...kau akan tahu kenapa ibu meninggalkanmu.”


Anto terdiam.


Mbah Reksadana memegang kerisnya erat.


Anita menatap Anto dengan cemas.


Rehan hanya bisa berdiri terpaku.


Lalu terdengar suara retakan.


Krek...


Sebuah garis tipis muncul di permukaan pintu.


Segel di dada Anto kembali terasa terbakar.


Ia menatap tangannya.


Sebuah retakan kecil muncul pada tanda tersebut.


Mbah Reksadana berbisik:


“Tidak...”


Anto menatapnya.


“Apa?”


Wajah Mbah Reksadana berubah pucat.


“Segelmu...”


Retakan itu semakin panjang.


Krek...


Krek...


Kemudian dari balik pintu terdengar bisikan yang bukan lagi suara ibunya.


Suara itu jauh lebih tua.


Jauh lebih dalam.


“Pemilik pengunci telah kembali.”


Anto mengangkat wajah.


Dan untuk pertama kalinya, Mbah Reksadana terlihat benar-benar ketakutan.


“Jangan buka pintu itu, Anto.”


Namun terlambat.


Satu tetes darah jatuh dari tangan Anto ke permukaan batu.


Begitu darah menyentuh pintu—


DUARRR!


Seluruh padepokan berguncang.


Ratusan bunga Kembang Mayit di luar padepokan mekar bersamaan.


Dan dari balik pintu batu terdengar suara tawa panjang.


“Hahahahaha...”


Anto menatap pintu itu.


Sementara suara ibunya kembali berbisik:


“Anto... kalau kau membuka pintu itu, kau akan tahu kenapa ibu meninggalkanmu.”


Di dada Anto, segel itu terus retak.


Dan dari celah pintu batu...


sebuah mata merah perlahan terbuka.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk