PETA DARAH
Krek...
Suara retakan kecil terdengar dari dada Anto.
Bukan suara tulang.
Bukan pula suara kain yang robek.
Namun suara seperti sesuatu yang selama bertahun-tahun terkunci, perlahan mulai membuka celah.
Anto menunduk.
Garis hitam tipis terlihat di kulitnya.
Garis itu memanjang beberapa sentimeter, membentuk pola seperti akar yang menjalar.
Rasa panas menjalar dari dadanya menuju leher.
“Anto!”
Anita langsung memegang lengannya.
“Jangan sentuh segelnya!”
“Aku tidak menyentuhnya.”
“Lalu kenapa bisa retak?”
Anto tidak menjawab.
Tatapannya tertuju pada pintu batu di hadapan mereka.
Dari balik pintu terdengar suara tawa.
Pelan.
Berat.
Seolah berasal dari sebuah tempat yang jauh lebih dalam daripada ruang bawah tanah itu.
Sari berdiri di belakang mereka dengan wajah pucat.
“Pergi.”
Anto menoleh.
“Sari?”
“Sekarang.”
“Apa yang ada di balik pintu itu?”
Sari menggeleng.
“Bukan sesuatu yang harus kamu lihat.”
Anto melangkah mendekati pintu.
“Aku sudah terlalu lama tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi padaku.”
“Anto, jangan!”
Sari berteriak.
Namun Anto tetap maju.
Begitu jaraknya tinggal beberapa langkah, pintu batu itu kembali bergetar.
DUG!
Debu jatuh dari langit-langit.
Rehan langsung menarik Anita.
“Kita harus keluar!”
Anita masih memandang Anto.
“Anto!”
Anto menatap pintu.
Lalu menatap kedua temannya.
Ia tahu mereka benar.
Belum waktunya membuka pintu tersebut.
Bukan karena takut.
Tetapi karena ia merasa sesuatu di balik pintu sedang menunggunya.
Dan semakin ia mendekat, semakin kuat sesuatu itu mencoba menarik kesadarannya.
Anto mundur.
Saat itulah—
BRAAAK!
Salah satu akar hitam menerobos celah pintu.
Akar tersebut menghantam lantai beberapa meter dari kaki Anto.
Tanah pecah.
Rehan berteriak.
“LARI!”
Mereka bertiga berbalik dan berlari menaiki tangga.
Sari masih berada di bawah.
Anto sempat menoleh.
“Sari!”
Roh perempuan itu berdiri di depan pintu batu.
Ia tidak bergerak.
Ia hanya menatap Anto.
“Jangan kembali sebelum kamu menemukan asal segelmu.”
Kemudian tubuh Sari perlahan menghilang menjadi kabut putih.
Pintu batu kembali tertutup.
Anto berlari.
Mereka keluar dari rumah tua tepat ketika suara gemuruh terdengar dari bawah tanah.
GRAAAK!
Tanah halaman berguncang.
Beberapa bunga Kembang Mayit terlepas dari tanah.
Namun bukannya layu, bunga-bunga itu justru bermekaran lebih besar.
Kelopak putihnya terbuka lebar.
Rehan terengah-engah.
“Apa yang sebenarnya kita bangunkan?”
Anita tidak menjawab.
Matanya tertuju pada rumah.
“Kita belum membangunkan apa pun.”
Anto menoleh.
“Lalu?”
Anita menjawab perlahan.
“Mungkin sesuatu itu memang sudah bangun sejak lama.”
Angin tiba-tiba bertiup.
Kabut bergerak mengelilingi rumah.
Kemudian terdengar suara perempuan.
“Anto...”
Anto menegang.
Anita segera berdiri di depannya.
“Jangan dengarkan.”
Suara itu berubah menjadi lebih jelas.
“Anto... ibu di sini.”
Anto memejamkan mata.
Tangannya mengepal.
“Aku tahu itu bukan ibu.”
Suara tersebut tertawa.
Lalu hilang.
Untuk beberapa saat tidak ada apa-apa.
Kemudian dari rumah tua terdengar suara benda jatuh.
Brak!
Rehan menoleh.
“Sepertinya ada sesuatu di dalam.”
Anita menggeleng.
“Kita tidak kembali.”
Anto masih memandang rumah itu.
“Ada sesuatu yang harus kita cari.”
“Apa?”
“Jawaban.”
Mereka meninggalkan rumah tua sebelum matahari terbit.
Setelah cukup jauh dari hutan, mereka berhenti di sebuah gubuk kosong milik warga yang sudah lama tidak digunakan.
Rehan menyalakan lampu kecil.
Cahaya kuning menerangi wajah mereka yang kelelahan.
Anto duduk bersandar pada dinding.
Tangannya masih menutupi dada.
Garis hitam itu belum hilang.
Anita memeriksanya dari jarak dekat.
“Retakannya berhenti.”
“Bisa sembuh?”
“Aku tidak tahu.”
Rehan duduk di lantai.
“Kalau segel itu benar-benar terbuka, apa yang terjadi?”
Anto menjawab jujur.
“Aku juga tidak tahu.”
Anita menatapnya.
“Justru itu masalahnya.”
Mereka terdiam.
Kemudian Rehan membuka tasnya.
“Ada sesuatu yang tadi aku ambil dari rumah.”
Anto menoleh.
“Apa?”
Rehan mengeluarkan sebuah benda kecil yang dibungkus kain.
Anita langsung waspada.
“Kamu mengambil sesuatu?”
“Bukan mencuri.”
“Terus?”
“Aku menemukannya di dekat meja.”
Rehan membuka kain tersebut.
Sebuah kotak kayu tua muncul.
Ukurannya tidak besar.
Permukaannya dipenuhi noda hitam.
Di bagian atas terdapat simbol yang sama dengan tanda pada tubuh Anto.
Anto langsung mendekat.
“Itu...”
Rehan menyerahkan kotak tersebut.
Begitu tangan Anto menyentuhnya—
Duk!
Jantungnya berdegup keras.
Kotak itu terasa hangat.
Anita menatapnya.
“Buka.”
Anto mencoba membuka penutupnya.
Tidak bisa.
Ada sesuatu yang mengunci dari dalam.
Rehan mengambil pisau kecil.
“Coba pakai ini.”
Anto menggeleng.
“Tidak.”
Ia mengusap simbol di atas kotak.
Mendadak terdengar bunyi:
Klik.
Kotak terbuka sendiri.
Di dalamnya terdapat tiga benda.
Selembar kain tua.
Sebuah keris kecil.
Dan gulungan kertas yang sudah menguning.
Anto mengambil kertas tersebut.
Ada tulisan tangan.
Tulisan seorang perempuan.
Ia mengenalinya.
Tulisan ibunya.
Tangannya gemetar.
“Ibu...”
Anita berdiri di sampingnya.
“Apa isinya?”
Anto membaca perlahan.
«Jika kau menemukan tulisan ini, berarti segel dalam tubuhmu mulai melemah.»
Anto berhenti.
Napasnya terasa berat.
Ia melanjutkan.
«Jangan mencari siapa dirimu sebelum kau mengetahui siapa yang membuat perjanjian itu.»
Rehan menatap Anto.
“Perjanjian?”
Anto terus membaca.
«Segel itu bukan hadiah.
Bukan pula kutukan.
Segel itu adalah pengunci.»
Anto terdiam.
Di bagian bawah kertas terdapat gambar sederhana.
Sebuah lingkaran.
Di tengahnya ada gambar pohon.
Di bawah pohon terdapat sebuah tanda seperti mata.
Anita mengamati gambar itu.
“Ini peta?”
Anto menggeleng.
“Bukan.”
Rehan menunjuk bagian bawah.
“Ada tulisan.”
Anto membaca.
“Cari tempat di mana bunga pertama tumbuh.”
Pagi mulai datang.
Cahaya matahari perlahan muncul dari balik pepohonan.
Namun bagi Anto, malam belum benar-benar berakhir.
Mereka membawa semua benda dari kotak tersebut dan kembali menuju desa.
Sesampainya di tempat mereka menginap, Anto membentangkan kain tua di atas meja.
Kain tersebut ternyata bukan kain biasa.
Ada garis-garis merah yang membentuk jalur.
Beberapa titik diberi tanda lingkaran.
Satu titik berada di pabrik keramik milik Pak Jatmoko.
Satu lagi berada di rumah tua.
Dan satu titik paling besar berada jauh di utara.
Di tengah hutan.
Rehan mengernyitkan dahi.
“Itu apa?”
Anita menunjuk tulisan kecil di pinggir kain.
PADEPOKAN KEMBANG MAYIT.
Anto menatap tulisan itu.
“Padepokan?”
Anita mengangguk.
“Mungkin ini tempat yang dimaksud Mbah Reksadana.”
Rehan menggeleng.
“Kalau begitu kenapa Mbah tidak langsung menyuruh kita ke sana?”
Anto terdiam.
Karena ia tahu jawabannya.
“Mungkin karena dia takut.”
Anita menatap Anto.
“Takut pada apa?”
Anto menunjuk simbol di kain.
“Pada tempat ini.”
Sore harinya, mereka mendatangi seorang warga tua bernama Mbah Sastro.
Rumahnya berada di ujung desa.
Mbah Sastro adalah salah satu orang yang sebelumnya memperingatkan mereka tentang Mbah Reksadana.
Ketika melihat kain tersebut, wajah lelaki tua itu langsung berubah.
“Kalian mendapatkan ini dari mana?”
“Dari rumah tua di utara,” jawab Anto.
Mbah Sastro diam cukup lama.
Kemudian ia menutup pintu rumah.
“Jangan bicara keras-keras.”
Rehan bingung.
“Kenapa?”
Mbah Sastro duduk.
“Padepokan Kembang Mayit bukan tempat biasa.”
“Apa itu padepokan?”
“Dulu tempat orang-orang belajar ilmu.”
Anita bertanya,
“Ilmu apa?”
Mbah Sastro menatap mereka satu per satu.
“Ilmu yang seharusnya tidak dipelajari manusia.”
Suasana menjadi hening.
Mbah Sastro melanjutkan.
“Bertahun-tahun lalu, sebelum pabrik Pak Jatmoko berdiri, kawasan utara itu sudah dikenal sebagai tempat terlarang.”
“Kenapa?”
“Karena banyak orang hilang.”
“Siapa yang menghilangkan mereka?”
Mbah Sastro menggeleng.
“Tidak ada yang tahu.”
Ia menunjuk kain tersebut.
“Tapi orang-orang tua dulu percaya ada satu tempat di sana yang digunakan untuk melakukan perjanjian.”
“Perjanjian dengan siapa?”
Mbah Sastro menatap Anto.
“Dengan sesuatu yang bukan manusia.”
Anto merasakan dadanya kembali panas.
Ia memegang segelnya.
Mbah Sastro melihat gerakan itu.
Wajahnya berubah.
“Kamu...”
“Apa?”
Mbah Sastro berdiri.
“Dari mana kamu mendapatkan tanda itu?”
Anto menjawab,
“Sejak lahir.”
Mbah Sastro mundur.
“Berarti benar.”
“Apa yang benar?”
Mbah Sastro tidak menjawab.
Ia berjalan menuju lemari tua.
Dari dalamnya ia mengambil sebuah buku lusuh.
Buku itu penuh debu.
Ketika dibuka, terdapat gambar yang sama dengan tanda di tubuh Anto.
“Ini disebut tanda pengunci.”
Anto menatap halaman tersebut.
“Pengunci apa?”
Mbah Sastro menggeleng.
“Tidak pernah ditulis.”
“Kenapa?”
“Karena orang yang mengetahui jawabannya tidak pernah kembali.”
Malam kembali turun.
Anto tidak bisa tidur.
Ia duduk sendirian di teras.
Bulan terlihat pucat.
Ia mengeluarkan surat ibunya.
Bagian terakhir surat belum ia baca.
Tangannya membuka lipatan terakhir.
Ada satu kalimat.
Hanya satu.
Tetapi kalimat itu membuat darahnya terasa dingin.
«Anto, jika suatu hari seseorang memberitahumu bahwa segel itu adalah jalan menuju kekuatan, jangan percaya.»
Di bawahnya ada tulisan tambahan.
«Segel itu adalah jalan menuju tempat di mana aku menyembunyikan sesuatu yang tidak boleh ditemukan olehnya.»
Anto menatap kalimat itu berkali-kali.
“Dia?”
Siapa yang dimaksud ibunya?
Mbah Reksadana?
Pak Jatmoko?
Atau makhluk yang berada di balik pintu?
Tiba-tiba suara langkah terdengar.
Tap...
Anto menoleh.
Tidak ada siapa-siapa.
Tap...
Suara itu semakin dekat.
Anto berdiri.
“Siapa?”
Hening.
Kemudian seorang perempuan muncul di ujung halaman.
Ibunya.
Anto membeku.
Perempuan itu tersenyum.
“Anto...”
Air mata hampir jatuh dari mata Anto.
“Ibu?”
Perempuan itu mengangguk.
“Pulanglah.”
Anto melangkah satu langkah.
Kemudian berhenti.
Ia teringat pesan Mbah Reksadana.
Jangan pernah percaya suara yang memanggilmu dengan suara ibumu.
Anto mengepalkan tangan.
“Kamu bukan ibu.”
Senyum perempuan itu perlahan menghilang.
Wajahnya mulai berubah.
Kulitnya menghitam.
Matanya menjadi merah.
Mulutnya terbuka terlalu lebar.
“Anak pintar...”
Sosok itu menghilang menjadi kabut.
Anto berdiri dengan napas memburu.
Dari dalam kabut terdengar suara:
“Temukan padepokan itu.”
Anto menatap kain peta di tangannya.
Suara tersebut kembali berbisik.
“Karena jawaban tentang segelmu ada di sana.”
Kemudian semuanya kembali sunyi.
Anto menatap langit.
Ia sadar satu hal.
Mereka tidak lagi sekadar mencari penyebab kematian di pabrik.
Mereka sedang membuka rahasia yang sengaja disembunyikan selama bertahun-tahun.
Rahasia tentang ibunya.
Tentang Mbah Reksadana.
Tentang segel di tubuhnya.
Dan tentang sesuatu yang berada jauh di dalam hutan.
Padepokan Kembang Mayit.
Namun sebelum mereka pergi ke sana, masih ada satu pertanyaan yang belum terjawab.
Apa yang sebenarnya disembunyikan ibu Anto di balik segel itu?
Dan mengapa sesuatu yang berada di bawah tanah begitu takut jika rahasia tersebut ditemukan?
Di kejauhan, dari arah utara desa—
sebuah bunga Kembang Mayit mekar di tengah jalan.
Tidak ada tanah makam.
Tidak ada tubuh manusia.
Tidak ada yang menanamnya.
Bunga itu tumbuh sendiri.
Dan di bawah kelopaknya, terlihat setetes cairan merah jatuh ke tanah.
Tetes.
Lalu terdengar suara bisikan dari dalam hutan.
“Dia sudah mulai mengingat.”
Bersambung...














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!