RAHASIA DI BALIK PINTU

0 dibaca

A

RAHASIA DI BALIK PINTU

Mata merah itu terbuka perlahan.

Sangat perlahan.

Tidak berkedip.

Tidak bergerak.

Hanya menatap Anto dari balik celah pintu batu.

Anto berdiri membeku.

Seluruh tubuhnya terasa dingin.

Namun dadanya justru seperti terbakar.

Segel yang berada di tubuhnya terus berdenyut.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Denyutannya semakin kuat.

“Anto!”

Suara Anita terdengar dari belakang.

Anto tidak menjawab.

Pandangannya hanya tertuju pada mata merah di balik pintu.

Mata itu bergerak sedikit.

Kemudian suara berat terdengar dari dalam.

“Pengunci...”

Suara tersebut menggema di lorong.

“...akhirnya kembali.”

Anto menarik napas.

“Siapa kamu?”

Mata merah itu semakin mendekat.

Celah pintu yang semula hanya beberapa sentimeter mulai terbuka.

Kreeeek...

Batu bergesekan dengan batu.

Suara itu membuat bulu kuduk mereka berdiri.

Mbah Reksadana langsung mengangkat keris.

“Jangan menjawabnya!”

Anto menoleh.

“Kenapa?”

“Karena setiap pertanyaan yang kau berikan akan membuatnya semakin kuat.”

Rehan menatap Mbah Reksadana.

“Jadi sekarang bagaimana?”

“Keluar.”

“Sekarang?”

“SEKARANG!”

Mbah Reksadana mengayunkan keris ke udara.

Angin keras tiba-tiba menerjang lorong.

Api kecil muncul di ujung keris.

Dari balik pintu terdengar suara geraman.

Mata merah itu bergerak menjauh.

Mbah Reksadana berteriak.

“LARI!”

Anita menarik tangan Anto.

Rehan mengikuti dari belakang.

Mereka berlari menaiki tangga batu.

Namun belum sampai setengah jalan—

BRAK!

Pintu batu di bawah mereka terbuka lebih lebar.

Angin hitam menyembur keluar.

Rehan terjatuh.

“Rehan!”

Anto kembali.

Ia menarik tubuh Rehan.

Tetapi sesuatu mencengkeram kaki Rehan.

“Tolong!”

Anto melihat ke bawah.

Sebuah tangan hitam muncul dari celah lantai.

Jari-jarinya panjang dan kurus.

Anto langsung menendangnya.

Tidak terjadi apa-apa.

Tangan itu justru semakin kuat mencengkeram.

Anita mengangkat kedua tangannya.

“Ajian Guntur Saketi!”

Kilatan cahaya menghantam tangan tersebut.

BRAKKK!

Cengkeraman terlepas.

Rehan segera bangkit.

“Ayo!”

Mereka berlari.

Di belakang mereka, Mbah Reksadana masih berdiri di depan pintu.

Ia menatap sesuatu yang keluar dari balik pintu.

Wajahnya pucat.

“Jadi kau benar-benar bangun...”

Sebuah suara tertawa terdengar.

Mbah Reksadana menggenggam kerisnya.

“Dua puluh tahun aku menahannya.”

Suara itu menjawab.

“Bukan dua puluh tahun.”

Mbah Reksadana terdiam.

“Lebih lama.”

Mbah Reksadana menatap gelap di balik pintu.

“Tidak mungkin.”

“Perjanjian pertama belum pernah berakhir.”

Mbah Reksadana menggigit bibir.

Kemudian ia berbalik dan berlari menyusul Anto.


Mereka keluar dari padepokan.

Udara malam terasa lebih dingin daripada sebelumnya.

Bunga-bunga Kembang Mayit di sekitar halaman bergoyang meskipun tidak ada angin.

Satu per satu bunga itu menghadap ke arah Anto.

Rehan menyadarinya.

“Kenapa semua bunganya menghadap ke kita?”

Tidak ada yang menjawab.

Kemudian—

Satu bunga bergerak.

Batangnya membengkok.

Kelopaknya membuka.

Dari tengah bunga terdengar suara seorang perempuan menangis.

“Anto...”

Anto berhenti.

Itu suara Sari.

“Sari?”

Anita segera menahan bahunya.

“Jangan mendekat.”

Suara itu kembali terdengar.

“Anto... jangan percaya dia.”

Anto menatap bunga tersebut.

“Siapa?”

Sari menjawab.

“Mbah Reksadana.”

Semua mata langsung tertuju kepada lelaki tua itu.

Mbah Reksadana berdiri beberapa meter dari mereka.

Wajahnya tidak berubah.

Namun tangannya masih menggenggam keris.

Anto menatapnya.

“Kenapa Sari bilang jangan percaya panjenengan?”

Mbah Reksadana menghela napas.

“Karena dia tidak tahu seluruh kebenarannya.”

“Kalau begitu jelaskan.”

“Aku sudah menjelaskan.”

“Belum.”

Anto maju.

“Panjenengan bilang ibu dan ayahku datang ke padepokan ini untuk menghentikan sesuatu.”

“Benar.”

“Panjenengan bilang segelku adalah pengunci.”

“Benar.”

“Panjenengan bilang ada perjanjian yang lebih tua dari Pak Jatmoko.”

Mbah Reksadana diam.

“Siapa yang membuat perjanjian pertama?”

Mbah Reksadana menatap Anto lama.

Kemudian ia berkata pelan.

“Seseorang yang sangat dekat dengan keluargamu.”

Anto membeku.

“Siapa?”

Mbah Reksadana tidak menjawab.

“Siapa?”

Tetap diam.

Anto semakin emosi.

“Siapa, Mbah?”

Tiba-tiba suara keras terdengar dari belakang.

BRAK!

Pintu padepokan tertutup sendiri.

Bunga-bunga Kembang Mayit di halaman serentak layu.

Kemudian tanah mulai bergetar.

Mbah Reksadana menatap pintu.

“Dia sudah keluar.”

Anita bersiap.

“Siapa?”

Mbah Reksadana menjawab pelan.

“Bukan dia.”

“Lalu?”

Mbah Reksadana menatap tanah.

“Yang lebih buruk.”


Tanah di depan padepokan terbelah.

Retakan panjang membentuk garis menuju hutan.

Dari dalam retakan keluar asap hitam.

Anto merasakan segelnya kembali panas.

Namun kali ini berbeda.

Segel itu tidak seperti sedang diserang.

Seolah-olah sedang mencoba memperingatkan.

“Anto,” kata Anita.

“Aku tahu.”

“Apa yang kau rasakan?”

“Dia ada di bawah tanah.”

Mbah Reksadana langsung menatap Anto.

“Jangan dengarkan apa pun yang kau dengar.”

Anto menutup mata.

Mata batinnya terbuka.

Hutan berubah.

Pohon-pohon menjadi hitam.

Tanah dipenuhi akar.

Di kejauhan terlihat sebuah bangunan tua.

Namun bangunan itu bukan padepokan.

Itu rumah.

Rumah yang pernah ia lihat sebelumnya.

Rumah di ujung hutan.

Rumah tempat ia menemukan peninggalan ibunya.

Anto membuka mata.

“Kita harus kembali ke rumah itu.”

Mbah Reksadana terkejut.

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Karena tempat itu sudah tidak aman.”

“Justru karena itu kita harus ke sana.”

Mbah Reksadana menggeleng.

“Tidak ada yang bisa kalian temukan di sana.”

Anto menatapnya.

“Panjenengan tahu sesuatu.”

Mbah Reksadana diam.

“Di rumah itu ada sesuatu tentang ibuku.”

“Anto...”

“Aku melihatnya.”

“Melihat apa?”

“Ibu.”

Mbah Reksadana menundukkan wajah.

“Dia meninggalkan pesan.”

“Pesan apa?”

Anto menjawab dengan suara bergetar.

“Dia menyegel sesuatu di tubuhku.”

Mbah Reksadana menatapnya.

“Dan dia bilang apa?”

“Dia bilang... lebih baik aku membencinya daripada menjadi milik mereka.”

Mbah Reksadana langsung memejamkan mata.

Kalimat itu rupanya sangat ia kenal.

“Jadi benar...” gumamnya.

Anto mendekat.

“Benar apa?”

Mbah Reksadana tidak menjawab.

“Benar apa, Mbah?”

Lelaki tua itu akhirnya berkata:

“Ibumu tahu apa yang ada di balik pintu.”

“Seberapa banyak?”

“Cukup untuk membuatnya rela meninggalkanmu.”

Anto terdiam.

Dadanya terasa sesak.

“Dia meninggalkanku untuk menyelamatkanku?”

Mbah Reksadana tidak menjawab.

Anto mengepalkan tangan.

“Kenapa tidak kembali?”

Mbah Reksadana menatapnya.

“Karena dia tidak pernah benar-benar pergi.”

Anto mengangkat kepala.

“Maksudnya?”

Mbah Reksadana menunjuk hutan.

“Selama ini dia masih menjaga jalan itu.”

“Di mana?”

“Di tempat yang tidak bisa kau lihat.”


Tiba-tiba suara langkah terdengar dari dalam hutan.

Satu langkah.

Berhenti.

Kemudian langkah kedua.

Mereka semua menoleh.

“Siapa?” teriak Rehan.

Tidak ada jawaban.

Hanya suara dedaunan.

Anita memusatkan tenaga.

Kemudian sebuah sosok perempuan muncul di antara pepohonan.

Pakaiannya putih.

Rambutnya panjang.

Wajahnya pucat.

Sari.

Anto langsung mengenalinya.

“Sari...”

Sari berjalan mendekat.

Namun kali ini ada sesuatu yang berbeda.

Tidak ada luka.

Tidak ada darah.

Wajahnya justru terlihat tenang.

Ia berhenti beberapa meter di depan Anto.

“Anto.”

“Kenapa?”

Sari menatap Mbah Reksadana.

“Kau harus tahu semuanya.”

Mbah Reksadana langsung berkata:

“Tidak.”

Sari tersenyum sedih.

“Sudah terlalu lama kau menyimpan kebohongan itu.”

Anto menatap keduanya.

“Kebohongan apa?”

Sari menjawab:

“Bukan Pak Jatmoko yang pertama kali membuat perjanjian.”

Anto diam.

Sari melanjutkan.

“Bukan pula Mbah Reksadana.”

Rehan mengerutkan kening.

“Kalau begitu siapa?”

Sari menatap Anto.

“Orang yang darahnya mengalir di dalam tubuhmu.”

Anto membeku.

“Siapa?”

Sari tidak menjawab.

Tubuhnya perlahan mulai memudar.

Anto berlari mendekat.

“Sari!”

Sari hanya meninggalkan satu kalimat.

“Cari tempat di mana bunga pertama tumbuh.”

Tubuhnya menghilang.

Seketika semua bunga Kembang Mayit di halaman padepokan kembali mekar.

Namun kali ini kelopaknya berwarna merah gelap.

Mbah Reksadana menatap bunga-bunga tersebut.

“Tidak...”

Anto menoleh.

“Apa?”

Mbah Reksadana berkata dengan suara gemetar:

“Bunga pertama... bukan di padepokan.”

“Lalu di mana?”

Mbah Reksadana menunjuk ke arah hutan.

“Di rumah tempat ibumu pernah menyegelmu.”

Anto terdiam.

Rehan menarik napas panjang.

“Berarti kita harus kembali ke sana?”

Mbah Reksadana mengangguk.

“Tapi kali ini...”

Ia menatap Anto.

“...kita tidak hanya akan mencari jawaban.”

“Apa yang akan kita cari?”

Mbah Reksadana menjawab:

“Orang pertama yang membuat perjanjian.”

Anto menatap hutan yang gelap.

Kemudian ia bertanya:

“Dan kalau orang itu masih hidup?”

Mbah Reksadana tidak langsung menjawab.

Beberapa detik kemudian, ia berkata:

“Kalau dia masih hidup...”

Mbah Reksadana menatap segel di dada Anto.

“...maka selama ini dia sedang menunggu kau kembali.”

Angin tiba-tiba berhenti.

Hutan menjadi sunyi.

Kemudian dari kejauhan terdengar suara perempuan.

Suara ibu Anto.

“Anto...”

Anto menoleh.

“Ibu?”

Suara itu kembali terdengar.

Kali ini lebih dekat.

“Jangan pulang ke rumah itu...”

Anto terdiam.

Mbah Reksadana menatap gelapnya hutan.

Namun sebelum siapa pun sempat berkata-kata—

terdengar suara lain.

Suara yang sama persis.

Tetapi berasal dari arah berlawanan.

“Anto... pulanglah.”

Anto berdiri di tengah mereka.

Dua suara ibunya terdengar bersamaan.

Satu dari hutan sebelah kiri.

Satu dari hutan sebelah kanan.

Dan keduanya memanggil namanya.

“Anto...”

“Anto...”

Anto menutup telinganya.

Segelnya tiba-tiba menyala.

Untuk pertama kalinya, simbol itu membentuk sebuah garis menuju satu arah.

Ke utara.

Ke tempat bunga pertama tumbuh.

Dan dari dalam kegelapan hutan...

sepasang mata merah terbuka.

Kemudian terdengar bisikan:

“Anak dari pembuat perjanjian... akhirnya kau kembali.”

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk