YANG TERKUBUR DI BAWAH PADEPOKAN
Tok...
Tok...
Tok...
Ketukan itu terdengar dari bawah tanah.
Anto berdiri di tengah hamparan Kembang Mayit.
Wajahnya pucat.
Matanya tertuju pada tanah di bawah bunga pertama.
Tulisan yang baru muncul masih terlihat jelas.
AYAHMU MASIH MENUNGGU DI BAWAH.
Rehan membaca tulisan itu dari belakang Anto.
“Bukankah tadi Mbah bilang ayahmu sudah mati?”
Anto menoleh kepada Mbah Reksadana.
“Benar?”
Mbah Reksadana diam.
Anto kembali bertanya.
“Panjenengan bilang ayahku mati saat menutup pintu.”
“Benar.”
“Lalu kenapa tulisan itu bilang dia masih menunggu di bawah?”
Mbah Reksadana memandang tanah.
“Karena mati dan pergi bukan selalu hal yang sama.”
Anto mengerutkan kening.
“Apa maksudnya?”
“Tubuh ayahmu mungkin sudah tidak ada.”
“Lalu yang menunggu?”
Mbah Reksadana menatap Anto.
“Jiwanya.”
Suasana mendadak hening.
Rehan menggeleng.
“Tidak mungkin.”
Anita menatap Mbah Reksadana.
“Kalau benar jiwa ayah Anto ada di bawah, kenapa tidak pernah muncul?”
Mbah Reksadana menjawab:
“Karena ia tidak bisa.”
“Ditahan?”
“Ya.”
Anto mengepalkan tangan.
“Siapa yang menahannya?”
Mbah Reksadana tidak menjawab.
Namun sebelum Anto bertanya lagi, tanah di bawah mereka kembali bergetar.
Tok...
Tok...
Tok...
Kemudian suara laki-laki terdengar dari bawah tanah.
“Anto...”
Anto membeku.
Suara itu berbeda dari suara makhluk tadi.
Tidak berat.
Tidak mengerikan.
Suara itu terdengar seperti suara manusia.
Suara seorang ayah yang memanggil anaknya.
“Anto...”
Air mata Anto langsung jatuh.
“Ayah?”
Mbah Reksadana segera berkata:
“Jangan jawab.”
Anto menatapnya.
“Kenapa?”
“Kita tidak tahu apakah itu benar-benar ayahmu.”
Suara dari bawah kembali terdengar.
“Anto... jangan dengarkan Reksadana.”
Mbah Reksadana langsung terdiam.
Anto menatapnya.
“Dia tahu namamu.”
Mbah Reksadana menghela napas.
“Karena dia mengenalku.”
Suara itu kembali terdengar.
“Reksadana... kau masih berbohong.”
Mbah Reksadana menggenggam keris.
“Diam.”
“Sudah waktunya kau mengatakan semuanya.”
“Tidak.”
“Kalau kau tidak mengatakan... Anto akan mengetahui semuanya dengan cara yang lebih buruk.”
Anto menatap Mbah Reksadana.
“Buka jalannya.”
Mbah Reksadana menggeleng.
“Anto, dengarkan aku.”
“Buka.”
“Kalau kita membuka jalan itu, sesuatu akan ikut keluar.”
“Kalau ayahku ada di sana, aku akan menemukannya.”
“Dan kalau bukan ayahmu?”
Anto diam.
Mbah Reksadana mendekat.
“Justru itulah yang aku takutkan.”
Mereka kembali ke padepokan.
Langit mulai berubah warna.
Fajar belum muncul sepenuhnya.
Kabut masih menggantung di antara pepohonan.
Namun suasana di sekitar padepokan berubah.
Tidak ada lagi suara jangkrik.
Tidak ada burung.
Tidak ada angin.
Bahkan bunga Kembang Mayit di halaman tidak bergerak.
Seolah seluruh tempat sedang menunggu.
Mbah Reksadana membuka pintu padepokan.
Mereka masuk.
Anto langsung melihat lantai yang sebelumnya retak.
Sekarang retakan itu membentuk lingkaran sempurna.
Di tengahnya terdapat simbol yang sama dengan segelnya.
Anto mendekat.
“Ini jalan ke bawah?”
Mbah Reksadana mengangguk.
“Ya.”
“Dulu ayahku masuk dari sini?”
“Ya.”
“Dan tidak pernah keluar?”
“Tidak.”
Anto menatap lantai.
“Aku akan turun.”
Mbah Reksadana menahannya.
“Belum.”
“Kenapa lagi?”
“Kita membutuhkan tiga benda.”
“Apa?”
Mbah Reksadana menunjuk simbol di lantai.
“Darah.”
Kemudian ia menunjuk keris di pinggangnya.
“Keris.”
Lalu ia menatap segel Anto.
“Dan pengunci.”
Anto menggeleng.
“Segelku bukan kunci.”
“Benar.”
Mbah Reksadana menarik napas.
“Karena segelmu tidak membuka jalan.”
“Lalu?”
“Segelmu memastikan sesuatu tetap tertutup.”
Anto terdiam.
“Kalau begitu kenapa makhluk itu menginginkannya?”
“Karena selama segelmu ada, ia tidak bisa sepenuhnya kembali.”
Anita bertanya:
“Jadi selama ini Anto sebenarnya menahan makhluk itu?”
Mbah Reksadana mengangguk.
“Tanpa dia sadari.”
Rehan menatap Anto.
“Berarti kalau segelnya pecah...”
Mbah Reksadana menyelesaikan kalimatnya.
“Pintu akan terbuka.”
Anto menatap dadanya.
“Kalau begitu kita tidak boleh membiarkannya pecah.”
“Benar.”
“Tapi tadi segelnya retak.”
“Karena kau terlalu dekat dengan sumbernya.”
Anto terdiam.
Kemudian ia bertanya:
“Bagaimana memperbaikinya?”
Mbah Reksadana memandangnya.
“Ada satu cara.”
“Apa?”
“Temukan benda yang dipakai ibumu ketika membuat segel itu.”
Anto teringat kotak kayu.
“Kain?”
“Bukan.”
“Cincin?”
Mbah Reksadana diam.
Anto langsung menyadarinya.
“Cincin itu.”
Mbah Reksadana mengangguk.
“Itu bukan sekadar cincin.”
“Punya siapa?”
Mbah Reksadana menjawab:
“Milik orang yang membuat perjanjian pertama.”
Anto terdiam.
“Bukankah tadi katanya leluhur keluarga Jatmoko?”
“Benar.”
“Lalu kenapa ibu punya cincin itu?”
Mbah Reksadana tidak menjawab.
Anita menatapnya.
“Mbah?”
Lelaki tua itu akhirnya berkata:
“Karena cincin itu berpindah tangan.”
“Dari siapa ke siapa?”
Mbah Reksadana menatap Anto.
“Dari pembuat perjanjian... kepada ayahmu.”
Anto membeku.
“Jadi ayahku memilikinya?”
“Ya.”
“Dan ibu mengambilnya?”
“Ya.”
“Kenapa?”
“Untuk menghentikan perjanjian.”
Anto mengingat cincin yang ditemukan di kotak.
Ia segera mengambilnya.
Cincin tua itu terasa dingin.
Tetapi begitu didekatkan ke dadanya—
segelnya berhenti berdenyut.
Anto terkejut.
Mbah Reksadana mengangguk.
“Itu dia.”
Anto menatap cincin tersebut.
“Bagaimana cara menggunakannya?”
“Jangan digunakan.”
“Kenapa?”
“Karena cincin itu tidak dibuat untuk melindungi manusia.”
Anto melihat simbol di permukaannya.
“Lalu untuk apa?”
Mbah Reksadana menjawab:
“Untuk membuat perjanjian.”
Tiba-tiba pintu padepokan terbuka sendiri.
Angin dingin masuk.
Lampu minyak padam.
Gelap.
Kemudian suara langkah terdengar.
Satu.
Dua.
Tiga.
Seseorang masuk dari pintu.
Anto langsung menoleh.
Tidak ada siapa-siapa.
Namun suara langkah terus terdengar.
Mendekat.
Mendekat.
Kemudian berhenti tepat di belakang Anto.
“Anto.”
Anto memejamkan mata.
Suara ayahnya.
Kali ini sangat jelas.
“Jangan percaya Mbah Reksadana.”
Anto perlahan berbalik.
Sosok ayahnya berdiri di sana.
Wajahnya terlihat jelas.
Tidak lagi tertutup bayangan.
Luka di wajahnya.
Tatapan matanya.
Semuanya seperti nyata.
“Ayah...”
Sosok itu mengangguk.
“Anakku.”
Anto hampir berlari memeluknya.
Namun Anita menahan tubuhnya.
“Tunggu.”
Sosok itu menatap Anita.
“Kenapa kau menghalangi dia?”
Anita menjawab tegas.
“Karena aku tidak tahu siapa kamu.”
Sosok itu tersenyum.
“Aku ayahnya.”
Mbah Reksadana mengangkat keris.
“Bukan.”
Sosok itu menoleh.
“Kau masih keras kepala.”
Mbah Reksadana berkata:
“Kalau kau benar-benar ayah Anto, katakan sesuatu yang hanya ayahnya tahu.”
Sosok itu terdiam.
Anto menunggu.
Beberapa detik berlalu.
Sosok tersebut akhirnya berkata:
“Ketika kau masih kecil, kau selalu menangis ketika mendengar petir.”
Anto terdiam.
Rehan menatapnya.
“Itu benar?”
Anto mengangguk perlahan.
Sosok itu melanjutkan.
“Ibumu selalu memelukmu.”
Air mata Anto jatuh.
“Benar...”
Mbah Reksadana tetap tidak menurunkan keris.
“Belum cukup.”
Sosok itu menatapnya.
Mbah Reksadana berkata:
“Apa nama panggilan ayahmu kepadanya?”
Sosok itu diam.
Anto langsung menatapnya.
Ayahnya memiliki panggilan khusus yang hanya pernah ia dengar dalam satu kenangan masa kecil.
Sosok itu tidak menjawab.
Mata merah muncul di wajahnya.
Anto mundur.
“Bukan ayahku.”
Wajah sosok itu berubah.
Kulitnya menghitam.
Mulutnya melebar.
Suara manusia berubah menjadi geraman.
Mbah Reksadana langsung menyerang.
“Ajian Penutup Sukma!”
Kerisnya menebas udara.
Cahaya menghantam makhluk itu.
BRAKKK!
Makhluk tersebut terlempar ke dinding.
Namun sebelum menghilang, ia tertawa.
“Segelmu semakin lemah, Anto.”
Kemudian tubuhnya berubah menjadi asap.
Asap itu masuk ke celah lantai.
Anto berlari mendekat.
“Mbah!”
Mbah Reksadana menatap lantai.
“Dia mencoba membuka jalan dari dalam.”
Anita mengangkat tangannya.
“Kalau begitu kita harus menghentikannya.”
Mbah Reksadana mengangguk.
“Benar.”
“Sekarang?”
“Sekarang.”
Mbah Reksadana membuka lingkaran batu di lantai.
Di bawahnya terdapat tangga sempit.
Tangga itu turun ke dalam kegelapan.
Udara dari bawah sangat dingin.
Bau tanah bercampur kemenyan memenuhi ruangan.
Anto menyalakan senter.
“Siapa yang terakhir turun ke sana?”
Mbah Reksadana menjawab:
“Ayahmu.”
Anto menggenggam cincin.
“Aku akan menemukannya.”
Mereka mulai turun.
Sepuluh anak tangga.
Dua puluh.
Tiga puluh.
Semakin dalam.
Dinding di kiri-kanan mereka dipenuhi tulisan.
Sebagian merupakan simbol.
Sebagian lagi berupa nama.
Nama-nama manusia.
Rehan menyinari dinding.
“Ini nama korban?”
Mbah Reksadana mengangguk.
“Sebagian.”
Anto membaca satu per satu.
Kemudian ia berhenti.
Ada satu nama yang membuatnya membeku.
Nama ayahnya.
Di bawah nama itu terdapat tulisan:
PENJAGA TERAKHIR.
Anto menoleh.
“Apa maksudnya?”
Mbah Reksadana diam.
“Jawab.”
“Dia bukan korban.”
“Lalu?”
“Dia memilih menjadi penjaga.”
“Menjaga apa?”
Mbah Reksadana menatap ke bawah.
“Pintu.”
Mereka terus berjalan.
Akhirnya mereka sampai di ruangan besar.
Di tengah ruangan terdapat batu hitam.
Di belakangnya berdiri sebuah pintu.
Pintu yang sama.
Namun kali ini pintu itu sudah terbuka sedikit.
Dari celahnya keluar cahaya merah.
Anto merasakan segelnya panas.
Kemudian ia mendengar suara.
“Anto...”
Suara ayahnya.
Namun kali ini suara itu tidak berasal dari makhluk.
Suara itu terdengar dari balik pintu.
“Anto... jangan buka.”
Anto terdiam.
“Ayah?”
“Jangan percaya siapa pun.”
Mbah Reksadana memejamkan mata.
“Akhirnya...”
Anto menatapnya.
“Dia benar-benar ada di sana?”
Mbah Reksadana mengangguk.
“Ya.”
“Masih hidup?”
“Tidak.”
“Lalu?”
Mbah Reksadana menjawab:
“Jiwanya.”
Dari balik pintu terdengar suara ayah Anto lagi.
“Anakku...”
Anto mendekati pintu.
“Ayah.”
“Jangan masuk.”
“Kenapa?”
“Karena aku tidak sendirian.”
Tiba-tiba suara lain terdengar.
Sangat banyak.
Ribuan suara berbisik bersamaan.
“Buka...”
“Buka...”
“Buka...”
Anto mundur.
Segelnya berdenyut keras.
Mbah Reksadana mengangkat keris.
“Kita terlambat.”
“Kenapa?”
Mbah Reksadana menatap pintu.
“Karena perjanjian itu sudah menemukan penggantinya.”
“Siapa?”
Mbah Reksadana menatap Anto.
“Kau.”
Tiba-tiba—
BRAAAK!
Pintu batu terbuka lebar.
Gelombang angin hitam menghantam mereka.
Anita terlempar.
Rehan jatuh.
Mbah Reksadana berusaha bertahan.
Anto berdiri di tengah pusaran.
Di balik pintu...
sebuah sosok raksasa perlahan bangkit.
Tanah.
Akar.
Tulang.
Dan dua mata merah.
Sang Pamomong Peteng.
Ia menatap Anto.
“Pengunci terakhir.”
Anto mengepalkan tangan.
“Aku tidak akan membiarkanmu keluar.”
Makhluk itu tertawa.
“Bukan kau yang menentukan.”
Kemudian suara ayah Anto terdengar dari balik kegelapan.
“Anto... dengarkan ayahmu.”
Anto menoleh.
Dan sosok ayahnya muncul di dalam cahaya merah.
Wajahnya tenang.
“Segelmu harus dibuka.”
Anto terkejut.
“Ayah?”
Mbah Reksadana berteriak:
“JANGAN!”
Sosok ayah Anto menatapnya.
“Sudah waktunya.”
Anto menatap segelnya.
Kemudian menatap ayahnya.
Untuk pertama kalinya ia harus memilih:
mempertahankan segelnya...
atau membukanya untuk mengetahui kebenaran terakhir.
Dan dari balik pintu, Sang Pamomong Peteng mulai melangkah keluar.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!