JAGAD ASMOROLOYO
KEMBANG MAYIT
BAB 11 — PERJANJIAN SANG AYAH
“Sudah waktunya kau mengenal ayahmu.”
Suara itu terdengar dari tengah hamparan Kembang Mayit.
Anto membeku.
Tangannya masih menggenggam surat yang baru saja ditemukan di dalam kotak tua.
Sosok laki-laki itu berdiri di antara bunga-bunga.
Wajahnya masih tertutup bayangan.
Namun cara berdirinya...
Cara ia menggenggam keris...
Semuanya terasa begitu familiar.
Anto menatapnya tanpa berkedip.
“Ayah?”
Sosok itu tidak menjawab.
Mbah Reksadana justru mundur beberapa langkah.
“Tidak mungkin...”
Anita menoleh.
“Mbah, siapa dia?”
Mbah Reksadana tidak menjawab.
Sosok laki-laki itu berjalan mendekat.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Setiap kali kakinya menyentuh tanah, bunga Kembang Mayit di sekitarnya langsung layu.
Anto merasakan segelnya kembali panas.
“Ayah?”
Kali ini sosok itu berhenti.
Perlahan ia mengangkat wajah.
Cahaya bulan menyinari sebagian wajahnya.
Anto melihat wajah seorang laki-laki yang sudah tua.
Ada bekas luka panjang di sebelah kiri wajahnya.
Namun mata itu...
Anto mengenalinya dari foto lama yang pernah ia lihat.
Mata ayahnya.
Anto kehilangan tenaga.
“Ayah...”
Lelaki itu tersenyum tipis.
“Anto.”
Satu kata itu cukup membuat air mata Anto jatuh.
Selama bertahun-tahun ia hanya memiliki satu pertanyaan.
Mengapa ayahnya pergi?
Mengapa ibunya meninggalkannya?
Mengapa hidupnya dipenuhi rahasia?
Kini orang yang selama ini hanya hidup dalam ingatan berdiri di hadapannya.
“Ayah masih hidup?”
Lelaki itu menggeleng.
“Aku sudah mati.”
Anto terdiam.
“Lalu... siapa Ayah?”
“Yang tersisa dari diriku.”
Rehan berbisik kepada Anita.
“Ini makin aneh.”
Anita tidak menjawab.
Perhatiannya tertuju pada sosok di depan mereka.
Mbah Reksadana akhirnya bersuara.
“Bukan dia.”
Anto menoleh.
“Apa?”
“Itu bukan ayahmu.”
Sosok laki-laki itu tersenyum.
“Masih seperti dulu, Reksadana.”
Mbah Reksadana menggenggam keris.
“Kau tidak berhak menggunakan wajahnya.”
Sosok itu tertawa kecil.
“Aku tidak menggunakan wajah siapa pun.”
Kemudian ia menatap Anto.
“Aku hanya menunjukkan apa yang selama ini ingin kau lihat.”
Anto merasa dadanya sesak.
“Jadi kau bukan ayahku?”
“Bukan.”
“Lalu kenapa kau tahu suaranya?”
Sosok itu menjawab:
“Karena aku mengenalnya.”
Anto mengepalkan tangan.
“Siapa kau?”
Sosok itu tidak menjawab.
Ia justru menunjuk surat di tangan Anto.
“Baca.”
Anto membuka surat tersebut.
Tangannya masih gemetar.
Tulisan tangan di dalamnya jelas.
Tulisan ibunya.
Anto, jika kau membaca surat ini, berarti ayahmu telah gagal menepati janjinya.
Anto membaca kalimat berikutnya.
Jangan percaya siapa pun yang mengatakan bahwa ayahmu meninggalkanmu karena tidak mencintaimu.
Anto terdiam.
Matanya berkaca-kaca.
Ia melanjutkan.
Ayahmu pergi karena berusaha menghentikan sesuatu yang tidak seharusnya pernah dibangunkan.
Anto menelan ludah.
Kemudian kalimat berikutnya membuatnya membeku.
Perjanjian pertama bukan dibuat oleh ayahmu.
Anto menatap Mbah Reksadana.
“Jadi siapa?”
Mbah Reksadana diam.
Anto kembali membaca.
Ayahmu hanya mewarisi kesalahan yang dibuat oleh orang sebelum dirinya.
Anto mengerutkan kening.
“Orang sebelum ayah?”
Sosok di hadapan mereka tertawa pelan.
“Teruskan.”
Anto membaca.
Jika suatu hari kau sampai di tempat bunga pertama tumbuh, jangan mencari siapa yang membuat perjanjian.
Anto berhenti.
Ia membaca kalimat berikutnya.
Carilah siapa yang pertama kali mengkhianati perjanjian itu.
Angin tiba-tiba berembus.
Bunga-bunga bergerak.
Mbah Reksadana menutup matanya.
“Dia tahu...”
Anto menatapnya.
“Tahu apa?”
Mbah Reksadana tidak menjawab.
Anto melipat surat.
“Panjenengan tahu semuanya.”
“Tidak.”
“Jangan bohong lagi.”
Mbah Reksadana menatap Anto.
“Aku tahu bagaimana semuanya dimulai.”
“Ceritakan.”
Mbah Reksadana menarik napas.
“Dulu ada seseorang yang datang ke tempat ini.”
“Siapa?”
“Seorang manusia.”
“Namanya?”
Mbah Reksadana diam cukup lama.
Kemudian ia berkata:
“Namanya Jatmoko.”
Anto terkejut.
“Pak Jatmoko?”
Mbah Reksadana menggeleng.
“Bukan Pak Jatmoko yang sekarang.”
Rehan mengerutkan kening.
“Maksudnya?”
“Jatmoko adalah nama keluarga.”
Anto terdiam.
Mbah Reksadana melanjutkan.
“Orang yang pertama kali datang ke tempat ini adalah leluhur keluarga Jatmoko.”
Anita berkata,
“Jadi perjanjian itu diwariskan?”
“Tidak.”
Mbah Reksadana menatap bunga-bunga.
“Keserakahanlah yang diwariskan.”
Anto menatapnya.
“Lalu ayahku?”
“Bertahun-tahun kemudian, ayahmu menemukan catatan tentang perjanjian itu.”
“Kenapa?”
“Karena ia ingin menghentikannya.”
Anto menunduk.
“Dan ibu?”
Mbah Reksadana menjawab pelan.
“Ibumu membantunya.”
“Lalu kenapa mereka tidak berhasil?”
Mbah Reksadana diam.
Sosok misterius di depan mereka tiba-tiba tertawa.
“Karena ada seseorang yang mengkhianati mereka.”
Anto langsung menatap Mbah Reksadana.
Mbah Reksadana tidak bergerak.
“Aku tidak mengkhianati mereka.”
Sosok itu menjawab:
“Kau membiarkan mereka masuk.”
“Aku mencoba menghentikan mereka.”
“Kau tahu harga yang harus dibayar.”
Mbah Reksadana menggenggam keris semakin kuat.
“Cukup.”
Anto menatap lelaki tua itu.
“Mbah.”
Mbah Reksadana menoleh.
“Apa yang terjadi pada malam itu?”
Lelaki tua itu terdiam.
Kemudian akhirnya ia berkata:
“Ayahmu datang ke sini membawa ibumu.”
“Untuk apa?”
“Menghancurkan pintu.”
“Pintu yang ada di padepokan?”
“Ya.”
“Lalu?”
“Mereka berhasil membuka sebagian.”
Anto merasakan segelnya panas.
“Dan sesuatu keluar?”
Mbah Reksadana mengangguk.
“Namun ayahmu mengorbankan dirinya untuk menutupnya kembali.”
Anto membeku.
“Dia mati karena itu?”
“Ya.”
Air mata Anto jatuh.
“Lalu ibu?”
Mbah Reksadana menatapnya.
“Ibumu membawa kau pergi.”
“Kenapa?”
“Karena pintu itu membutuhkan pengunci.”
Anto menyentuh dadanya.
“Segel ini?”
Mbah Reksadana mengangguk.
“Ibumu menyegel sesuatu di dalam tubuhmu.”
“Apa?”
“Bukan kekuatan.”
Anto menatapnya.
“Lalu apa?”
Mbah Reksadana berkata:
“Jejak.”
“Jejak apa?”
“Jejak untuk menemukan jalan kembali.”
Anto terdiam.
Sosok misterius itu tersenyum.
“Sekarang kau mulai mengerti.”
Anto menatapnya.
“Jadi selama ini aku bukan kunci?”
“Bukan.”
“Bukan pula pintu?”
“Bukan.”
“Lalu aku apa?”
Sosok itu menjawab:
“Pengingat.”
Anto mengerutkan kening.
“Pengingat?”
“Selama segel itu ada, perjanjian tidak dapat diselesaikan.”
Mbah Reksadana tiba-tiba membentak:
“Jangan dengarkan dia!”
Sosok itu tertawa.
“Kenapa, Reksadana?”
Kemudian wajahnya berubah.
Tidak lagi menyerupai ayah Anto.
Kulitnya menghitam.
Matanya menjadi merah.
Mulutnya terbuka terlalu lebar.
Bunga-bunga di sekitarnya langsung membusuk.
Rehan berteriak.
“Makhluk itu!”
Anita langsung maju.
“Anto, mundur!”
Makhluk itu mengangkat tangannya.
Tanah berguncang.
Akar-akar hitam keluar dari bawah tanah dan bergerak menuju mereka.
“Ajian Guntur Saketi!”
Anita menghantam tanah.
BRAKKK!
Petir menyebar.
Beberapa akar terbakar.
Namun puluhan akar lain muncul.
Rehan menarik Anto.
“Lari!”
Anto tidak bergerak.
Ia menatap bunga pertama.
Bunga itu sekarang berubah.
Kelopaknya terbuka.
Di tengahnya terdapat wajah ibunya.
“Anto...”
Anto terdiam.
“Anakku...”
Air mata Anto jatuh.
“Ibu?”
Mbah Reksadana berteriak:
“Jangan!”
Wajah ibunya tersenyum.
“Jangan takut.”
Anto melangkah mendekat.
“Apa yang harus kulakukan?”
“Pergilah ke tempat ayahmu mati.”
Anto berhenti.
“Di mana?”
“Di bawah padepokan.”
Mbah Reksadana langsung pucat.
“Tidak.”
Suara ibu Anto melanjutkan:
“Di sana kau akan menemukan apa yang ayahmu tinggalkan.”
“Apa?”
“Jawaban terakhir.”
Bunga itu tiba-tiba terbakar.
Wajah ibunya menghilang.
Makhluk hitam menjerit.
“JANGAN!”
Ledakan menghantam tanah.
Anto terlempar.
Anita dan Rehan ikut jatuh.
Mbah Reksadana berusaha berdiri.
Makhluk itu mulai mendekat.
Namun tiba-tiba—
sebuah cahaya putih muncul dari dada Anto.
Segelnya menyala.
Makhluk itu berhenti.
“Tidak...”
Mbah Reksadana menatap Anto.
“Segelnya...”
Retakan pada segel perlahan menutup.
Bukan karena kekuatannya bertambah.
Melainkan karena sesuatu di dalamnya kembali terkunci.
Makhluk itu mundur.
“Belum waktunya.”
Anto bangkit.
“Aku akan datang.”
Makhluk itu tertawa.
“Kau akan datang.”
Kemudian tubuhnya berubah menjadi asap hitam dan menghilang ke dalam hutan.
Keheningan kembali.
Anto menatap Mbah Reksadana.
“Kita kembali ke padepokan.”
Mbah Reksadana mengangguk.
“Tapi setelah ini tidak ada lagi rahasia.”
Anto menatapnya tajam.
“Benar.”
Ia menggenggam surat ibunya.
“Karena aku akan mencari sendiri jawabannya.”
Mereka berjalan meninggalkan tanah lapang.
Namun sebelum Anto pergi, ia menoleh sekali lagi.
Di antara ribuan bunga Kembang Mayit, satu bunga masih berdiri.
Bunga pertama.
Dan di bawahnya terdapat bekas tulisan yang baru muncul di tanah.
Anto mendekat.
Tulisan itu hanya terdiri dari lima kata.
AYAHMU MASIH MENUNGGU DI BAWAH.
Anto membeku.
Kemudian tanah di bawah bunga tersebut bergetar.
Dari kejauhan terdengar suara lonceng.
Satu kali.
Dua kali.
Tiga kali.
Dan dari bawah tanah...
terdengar ketukan.
Tok...
Tok...
Tok...
Seolah seseorang sedang menunggu untuk dibebaskan.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!