RUMAH DI UJUNG HUTAN

2 dibaca

A

RUMAH DI UJUNG HUTAN


Malam semakin dalam.


Kabut menggantung rendah di atas jalan tanah Desa Karangwungu. Cahaya bulan hampir tidak mampu menembusnya. Pepohonan di kanan dan kiri jalan berdiri seperti barisan manusia tua yang sedang mengawasi perjalanan tiga orang yang berjalan tergesa-gesa.


Anto berada paling depan.


Anita berjalan beberapa langkah di belakangnya, sementara Rehan terus menoleh ke belakang.


Tidak ada yang banyak bicara.


Mereka baru saja meninggalkan rumah Mbah Reksadana.


Namun suara dari bawah tanah masih terngiang-ngiang di kepala Anto.


Anto...


Suara itu.


Suara perempuan.


Suara yang sangat ia kenal.


Suara ibunya.


Anto mengepalkan tangan.


Ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa suara itu hanyalah tipuan makhluk yang berada di bawah rumah Mbah Reksadana.


Tetapi semakin ia mencoba melupakannya, semakin jelas suara tersebut terdengar dalam pikirannya.


“Anto...”


Langkahnya berhenti.


Anita hampir menabraknya.


“Kenapa berhenti?”


Anto tidak langsung menjawab.


Ia menatap ke arah pepohonan di sebelah kiri.


Di antara batang-batang pohon, tampak sesuatu bergerak.


Putih.


Samar.


Seperti seseorang berdiri di balik kabut.


Rehan langsung mendekat.


“Ton?”


Anto menunjuk.


“Itu.”


Anita menyipitkan mata.


“Apa?”


Sosok putih itu tiba-tiba menghilang.


Hanya kabut yang tersisa.


“Tidak ada apa-apa,” kata Anita.


Anto menggeleng.


“Aku melihat seseorang.”


Rehan menghela napas.


“Sejak dari rumah Mbah Reksadana, aku sudah merasa kita diikuti.”


Anita menatapnya.


“Kamu merasakan sesuatu?”


“Bukan merasakan.”


Rehan menunjuk ke tanah.


“Lihat.”


Di tanah berlumpur terdapat jejak kaki.


Satu.


Dua.


Tiga.


Jejak itu mengikuti mereka.


Namun ada yang aneh.


Jejak tersebut bukan jejak kaki manusia biasa.


Ukurannya terlalu kecil.


Dan yang lebih mengerikan—


jejak itu tidak memiliki arah datang.


Seolah-olah seseorang tiba-tiba muncul di belakang mereka.


Anto berjongkok.


Ia menyentuh salah satu jejak.


Dingin.


Sangat dingin.


Sekejap, pandangan Anto berubah.


Ia melihat sebuah rumah tua.


Seorang perempuan berdiri di depan rumah sambil menggendong bayi.


Perempuan itu menangis.


Di belakangnya berdiri seorang laki-laki tua.


Mbah Reksadana.


Tetapi wajahnya jauh lebih muda.


Perempuan itu berkata:


“Kalau mereka menemukannya, anakku akan mati.”


Mbah Reksadana menjawab:


“Bukan dia yang akan mati.”


“Lalu siapa?”


Mbah Reksadana menatap bayi yang berada dalam gendongan perempuan itu.


“Yang akan bangkit adalah sesuatu yang selama ini kita kubur.”


Anto tersentak.


Penglihatan itu menghilang.


Ia kembali melihat jalan berlumpur.


“Anto!”


Anita memegang bahunya.


“Kamu kenapa?”


Anto berdiri perlahan.


“Aku melihat ibuku.”


Rehan bertanya,


“Di sini?”


Anto menggeleng.


“Dulu.”


Anita menatap wajah Anto yang pucat.


“Apa yang kamu lihat?”


Anto menceritakan semuanya.


Anita terdiam.


“Berarti rumah yang kita cari memang berkaitan dengan keluargamu.”


Anto menatap jauh ke depan.


“Dan mungkin jawaban tentang segel ini juga ada di sana.”


Mereka kembali berjalan.




Hampir satu jam mereka menyusuri jalan menuju bagian utara Karangwungu.


Rumah-rumah warga sudah tidak terlihat.


Suara jangkrik pun semakin jarang.


Yang terdengar hanya suara langkah kaki mereka dan sesekali suara burung malam dari dalam hutan.


Kemudian Anita melihat sesuatu.


“Di sana.”


Sebuah bangunan tua berdiri di balik pepohonan.


Atapnya hampir roboh.


Dinding kayunya hitam karena usia.


Halaman rumah dipenuhi semak.


Tetapi ada satu hal yang membuat mereka bertiga langsung berhenti.


Bunga.


Kembang Mayit.


Bunga-bunga putih tumbuh di seluruh halaman.


Jumlahnya puluhan.


Bahkan beberapa bunga tumbuh dari celah-celah dinding rumah.


Rehan menggeleng pelan.


“Ini sudah bukan kebetulan.”


Anto menatap bunga-bunga itu.


Mata batinnya terbuka tanpa ia sengaja.


Sekejap, bunga-bunga putih tersebut berubah.


Di balik setiap bunga, ia melihat wajah.


Wajah manusia.


Ada yang menangis.


Ada yang berteriak.


Ada yang membuka mulut seolah meminta pertolongan.


Anto mundur.


“Jangan lihat!”


Anita segera memegang wajah Anto dan memalingkannya.


“Apa yang kamu lihat?”


Anto menarik napas.


“Wajah orang-orang.”


Rehan menatap bunga-bunga tersebut.


“Aku cuma melihat bunga.”


“Itu karena kamu tidak melihat dengan mata batin,” jawab Anita.


Tiba-tiba salah satu bunga bergerak.


Bukan tertiup angin.


Batangnya membungkuk perlahan ke arah Anto.


Kemudian bunga itu menghadap kepadanya.


Seolah sedang menatap.


Anto bergidik.


Dari dalam bunga terdengar suara sangat pelan.


“Pulang...”


Anto membeku.


Suara itu kembali terdengar.


“Pulang, Nak...”


Suara ibunya.


Anto melangkah maju.


Anita langsung menahannya.


“Jangan.”


“Tapi itu suara ibu.”


“Justru karena itu.”


Anto menatap bunga tersebut.


“Bagaimana kalau benar?”


Anita menjawab tegas.


“Kalau benar ibumu ada di sana, dia tidak akan memanggilmu melalui bunga seperti itu.”


Anto terdiam.


Ia sadar Anita benar.


Suara itu terdengar seperti ibunya.


Tetapi ada sesuatu yang salah.


Terlalu sempurna.


Terlalu mirip.


Seolah sesuatu sedang meniru ingatan Anto.




Mereka mendekati rumah.


Pintu depannya terbuka sedikit.


Kreeeek...


Suara kayu berderit terdengar panjang.


Rehan berdiri di belakang Anita.


“Rumah ini benar-benar kosong?”


“Seharusnya,” jawab Anto.


“Seharusnya?”


Anto tidak menjawab.


Ia melangkah masuk.


Begitu kakinya melewati pintu—


semua suara dari luar mendadak hilang.


Tidak ada jangkrik.


Tidak ada angin.


Tidak ada suara dedaunan.


Hening.


Terlalu hening.


Anita dan Rehan ikut masuk.


Ruang depan rumah dipenuhi debu.


Sebuah meja kayu tua berdiri di tengah ruangan.


Di atasnya terdapat beberapa benda lama.


Lilin.


Botol kaca.


Kain putih.


Dan sebuah foto.


Anto mengambil foto tersebut.


Tangannya langsung gemetar.


Foto itu memperlihatkan seorang perempuan muda.


Ibunya.


Anto menatap foto tersebut cukup lama.


“Ibu...”


Anita mendekat.


“Foto lama?”


Anto mengangguk.


Di sebelah ibunya terdapat seorang bayi.


Anto sendiri.


Tetapi ada sesuatu yang aneh.


Bagian dada bayi dalam foto itu ditutupi kain.


Anto membalik foto.


Di belakangnya terdapat tulisan tangan.


“Jika suatu hari dia datang ke rumah ini, jangan biarkan dia membuka pintu bawah.”


Anto mengerutkan dahi.


“Pintu bawah?”


Rehan melihat lantai.


“Jangan-jangan...”


Tiba-tiba—


TOK.


Mereka semua terdiam.


Suara ketukan berasal dari bawah lantai.


TOK.


Sekali lagi.


TOK. TOK.


Rehan mundur.


“Tidak mungkin.”


Anita menatap lantai.


“Ada ruang di bawah rumah.”


Anto berjongkok.


Mata batinnya kembali terbuka.


Di bawah lantai ia melihat tangga.


Panjang.


Gelap.


Dan di ujung tangga terdapat sebuah pintu batu.


Pintu itu dipenuhi tulisan kuno.


Namun yang paling membuat Anto ketakutan adalah sesuatu yang berdiri di depan pintu.


Sosok perempuan.


Rambutnya panjang.


Tubuhnya kurus.


Wajahnya tidak terlihat.


Anto langsung berdiri.


“Ada seseorang di bawah.”


Anita bertanya,


“Siapa?”


Anto menggeleng.


“Aku tidak tahu.”


Kemudian terdengar suara dari bawah lantai.


“Anto...”


Suara itu membuat tubuh Anto membeku.


Ibunya.


“Anto... turunlah.”


Rehan berbisik,


“Jangan jawab.”


Anto menggigit bibir.


Suara itu kembali terdengar.


“Anakku...”


Air mata Anto hampir jatuh.


Sudah bertahun-tahun ia tidak mendengar suara ibunya seperti itu.


Lembut.


Hangat.


Seperti masa kecil.


Anto menutup telinganya.


“Bukan ibu.”


“Anto...”


“Bukan!”


Tiba-tiba suara itu berubah.


Dari suara perempuan lembut menjadi suara berat dan serak.


“KAU YAKIN?”


Lantai rumah bergetar.


Bunga-bunga Kembang Mayit di luar rumah bergerak bersamaan.


Anita langsung mengeluarkan energi dari Ajian Guntur Saketi.


Cahaya samar muncul di telapak tangannya.


“Keluar!”


Tidak ada jawaban.


Kemudian—


BRAK!


Sebuah papan lantai terangkat sendiri.


Debu berhamburan.


Di bawahnya terlihat lubang gelap.


Tangga batu turun ke dalam tanah.


Rehan menatap lubang itu.


“Ini jalan menuju ruang bawah tanah.”


Anto mendekat.


Di dinding tangga terdapat ukiran yang sama dengan tanda pada tubuhnya.


Jantungnya berdegup semakin keras.


“Ini...”


Anita melihat ukiran tersebut.


“Tandanya sama.”


Anto menyentuhnya.


Seketika tubuhnya tersentak.


Penglihatan kembali muncul.


Ia melihat ibunya berada di ruang bawah tanah.


Di hadapannya terdapat sebuah pintu batu.


Mbah Reksadana berdiri di sampingnya.


Ibunya membawa bayi Anto.


“Segel itu harus ditutup,” kata ibunya.


Mbah Reksadana menjawab,


“Kalau ditutup, anakmu akan membawanya sepanjang hidup.”


“Aku tidak peduli.”


“Dia mungkin akan membencimu suatu hari nanti.”


Ibunya menangis.


“Lebih baik dia membenciku daripada menjadi milik mereka.”


Kemudian ibunya meletakkan tangan di dada bayi Anto.


Cahaya putih muncul.


Sebuah tanda terbentuk.


Segel.


Sebelum penglihatan itu menghilang, Anto mendengar suara ibunya:


“Maafkan ibu.”


Anto membuka mata.


Air mata mengalir di pipinya.


Anita berdiri di sampingnya.


“Anto?”


Anto mengusap wajah.


“Ibu yang menyegelku.”


Rehan terdiam.


“Kenapa?”


Anto menatap tangga.


“Karena ada sesuatu di bawah sana.”




Mereka turun.


Satu langkah.


Dua langkah.


Tiga langkah.


Semakin dalam mereka berjalan, semakin dingin udara yang mereka rasakan.


Dinding batu di kanan-kiri dipenuhi akar.


Beberapa akar bergerak perlahan.


Rehan melihatnya.


“Ton...”


Anto menoleh.


Akar itu berhenti.


Seolah menyadari mereka sedang melihat.


Anita menggenggam tangannya.


“Jangan sentuh apa pun.”


Mereka terus turun sampai akhirnya tiba di sebuah ruangan kecil.


Di dinding terdapat tulisan tua.


Anto membaca perlahan.


“Yang disegel bukanlah kekuatan.”


Ia melanjutkan.


“Yang disegel adalah jalan.”


Anita mengerutkan dahi.


“Jalan menuju apa?”


Anto belum sempat menjawab.


Terdengar suara langkah dari ujung ruangan.


Satu langkah.


Kemudian langkah kedua.


Tap...


Tap...


Tap...


Sosok perempuan muncul dari kegelapan.


Pakaian putih.


Rambut panjang.


Wajah pucat.


Sari.


Namun kali ini wajahnya penuh ketakutan.


“Anto...”


Anto mendekat.


“Sari?”


Sari menggeleng cepat.


“Jangan buka pintu itu.”


Anto menatap pintu batu di belakangnya.


“Apa yang ada di baliknya?”


Sari tidak menjawab.


Air mata hitam mengalir dari matanya.


“Kalau pintu itu terbuka...”


Ia berhenti.


“Apa?”


Sari menatap dada Anto.


“Segelmu akan menjadi jalan keluarnya.”


Tiba-tiba dari balik pintu batu terdengar suara ketukan.


TOK.


Semua terdiam.


TOK.


Kemudian suara ketiga.


TOK. TOK. TOK.


Sari mundur.


“Dia tahu kamu sudah datang.”


Anto menatap pintu tersebut.


Dari celah kecil di bawah pintu, perlahan keluar sesuatu.


Akar hitam.


Akar itu bergerak seperti jari.


Kemudian terdengar suara yang sama seperti suara ibunya.


“Anto...”


Anto menutup mata.


Namun kali ini ia tidak menangis.


Ia berdiri tegak.


“Kalau kamu bukan ibuku...”


Ia membuka mata.


“...keluarlah dan tunjukkan wajahmu.”


Ruangan mendadak bergetar.


Pintu batu retak.


KRAAAK!


Anita langsung bersiap menggunakan Ajian Guntur Saketi.


Rehan mundur.


Sari menjerit:


“ANTOOO!”


Dari balik pintu terdengar suara tawa.


Bukan suara manusia.


Tawa itu datang dari sesuatu yang sangat tua.


Sangat dalam.


Dan sangat dekat dengan dunia manusia.


Kemudian suara itu berbisik:


“Segelmu mulai retak.”


Anto memegang dadanya.


Rasa panas kembali muncul.


Segel di tubuhnya terasa seperti terbakar.


Dan untuk pertama kalinya—


sebuah garis hitam muncul di permukaan kulitnya.


Retakan kecil.


Krek.


Anto menatapnya dengan ketakutan.


Di balik pintu batu, sesuatu tertawa.


Sementara bunga-bunga Kembang Mayit di atas tanah mulai bermekaran seluruhnya.


Satu demi satu.


Seperti sedang menyambut sesuatu yang baru saja terbangun.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk