Banyak hal yang semula luput dan ditemukan kembali di dapur: pewarna makanan kedaluwarsa, tutup gelas yang menggelinding ke kolong lemari, juga dosa-dosa kecil yang (berusaha) kusembunyikan di sana-sini.
“Dulu aku sering gak ngabisin obat, terus kucemplungkan ke saluran pembuangan cucian piring.”
Lantas berdusta, ‘sudah diminum’ dan ngeluyur pergi. Hanya saat sakit aku makan di dapur alih-alih di depan TV. Kurasa kini kau tahu alasannya ... atau sudah?
“Aku tahu, pernah melihatmu sekali.”
Dan kau diam saja? Sungguh kakak panutan! Haha.
“Aku pernah dapat nilai matematika nol, pas kelas dua SD.” Aku menguliti diri sendiri selancar mengupas kentang. Semulus mengiris bawang. “Kusobek kertasnya dan kubakar di atas kompor.”
Ctak, ctek.
Kompor kau nyalakan. Apinya agak mbrebet di awal. Agaknya sudah waktunya kompor itu dibersihkan.
Sembari meletakkan panci ke atas lingkaran api kau menyahuti. “Oh, kupikir kau dapat dua atau tiga puluh? Yah, kertasnya belum terbakar habis sewaktu kau buang. Separuh nolnya masih kelihatan, lho.”
Benar juga, sebelum pemusnahan barang bukti tuntas kau keburu ke dapur. Takut tertangkap tangan, saat itu kulemparkan kertasnya begitu saja ke tong sampah. Lalu ngelewes sok tanpa dosa, sambil menggado sisa pisang.
Halah, lihat kan, betapa dapur dan seisinya sejak awal sepakat menghianatiku.
“Dan soal ketiban lemari ....”
Waktu itu kaukira dapur runtuh saat lemari menimpaku. Sebab katamu belasan hanger yang mencelat dari gantungan ributnya seperti genting yang merosot dari bubungan.
“Aku panjat lemarinya. Lemarinya bukan rubuh sendiri. Masih ketinggian, salahe.”
Sementara aku masih terlampau pendek untuk menggapai gantungan baju, tetapi buat mengakui, ya jelas gengsi.
Selain bumbu yang sudah kau siapkan (seperti biasa di sini aku hanya asisten kupas-iris-cemplung) agaknya sop hari ini ketambahan remah-remah pengakuan dosa. Pasti tambah sedap, deh, haha.
Kau tertawa. Tawa yang pendek, tawa yang mafhum. Sembari melemparkan sebungkus lada yang sejak tadi kucari-cari dan tak kunjung ketemu tetapi tak butuh tiga detik buatmu.
“Siapa yang tidak tahu?”
Lagi-lagi, menyembunyikan sesuatu di dapur, dan darimu, memanglah tindakan konyol dan sia-sia. Kau selalu menemukannya seperti menemukan wadah berdebu yang menggelinding bulan lalu di kolong terjauh lemari.
Atau jangan-jangan kaupasang kamera rahasia, ya?














Dari dulu kok tetep ajaib sih, tulisan2nya. Oh iya, satu lagi. Aku udah lama nggak baca2, sebetulnya. Entah kenapa setelah baca 3 bab ini, ada terasa letupan2 di dada, barangkali itu gairah membaca.