Ada banyak hal diperam di dapur: entah itu setandan pisang pemberian tetangga atau warta-warta yang kautangkap dan sejenak sisihkan, hingga siap kau suguhkan.
“Masih ingat Hana?”
Aku masih melolosi jaket, masker wajah, lalu kaus kaki saat kaumasuk ke dapur dan berjalan menuju pojokan. Mengintip pisang-pisang yang sedang diperam. Perintilan beraroma aspal dan asap yang akhirnya lepas kutumpuk di ujung kursi kayu panjang. Tanpa buang waktu lagi aku melangkah menuju bak cuci piring.
Selain berbagi darah dari kedua orang tua yang sama, aku dan kakak-kakakku rupanya berbagi kebiasaan identik soal satu hal. Jujugan pertama kami saban pulang (atau dalam kasus mereka yang sudah menikah dan hengkang dari rumah peninggalan orang tua ini: mampir) adalah dapur.
Assalamualaikum hampir selalu diikuti, “Masak apa?”
Kami tak akan menyisihkan waktu menunggu jawaban. Sebab sudah ngeluyur santai dan membuka tudung saji; atau mengintip wadah tertutup apa pun di atas meja makan; begitupun melongok ke dalam panci di atas kompor. Pendeknya, memeriksa ada tidaknya sesuatu yang bisa diincip barang dua-tiga-empat sendok atau ya ... sepiring-dua piringlah.
Seandainya jalan ke dapur tidak musti melewati mbale alias ruang tamu, barangkali kami sama sekali melupakan keberadaan ruangan itu. Kukira aku bisa menebak secuil alasan laku kakak-kakakku: kerinduan mereka akan masakan ibu bisa lunas dengan masakanmu.
Rasanya persis. Kenang kakak pertamaku suatu kali.
Sembari mengguyur kedua tangan di bawah keran—yang airnya lebih dingin dan tidak berbau kaporit seperti di rantauan—kujawab, “Anak ketiga mbak Wati, kan? Yang balita itu. Kenapa?”
Retoris.
Padahal sedikit banyak aku sudah bisa menerka ke mana ini akan mengarah. Satu-satunya maklumat yang dengan sengaja kautahan untuk disampaikan langsung saat kepulanganku tak lain adalah berita kepulangan. Kendati begitu, aku tetap memasang telinga.
“Sebulan lalu dia meninggal.”
Aku tertegun beberapa jenak. Tak lebih panjang dari waktu yang dibutuhkan buat membatin innalillahi. Sejurus kemudian lanjut mencentong nasi dari mejikom. Aku menciduk sayur bayam dan memindahkan lauk pauk ke piring diiringi reka kronologis kepulangan Hana olehmu.
“Terus, mbak Ningrum seminggu lalu juga.”
Baru saja rasa manis-pedas, dan sekelebat aroma daun jeruk, dari segigit besar dadar jagung menyebar di lidah, aku nyaris tersedak.
Mbak Ningrum, ia ibu teman sebayaku, sekaligus tetangga jarak-enam-rumah. Sependek umurku ini, tentu saja tak terhitung berapa kali kami bersinggungan. Tanpa sadar aku meloloskan napas berat. Sesendok kuah kuseruput untuk meredakan kerongkongan yang mendadak serat. Kabar kepulangan kedua ini menghadirkan duka yang ... lebih pekat.
Lagi, aku menanyakan apa penyebabnya. Dan kau kembali jadi juru kabar duka.
Meski lelayu yang kautangkap dari pelantang masjid kau umumkan ulang selagi aku menyantap makan siang, aku tak masalah, sungguh. Aku paham, kauingin aku tahu siapa saja yang telah berpulang selagi aku tak pulang. Bagaimanapun, entah singkat atau panjang, orang-orang itu pernah singgah dalam perjalanan hidup. Selalu ada satu dua hal yang bisa dikenang.
“Mbok ya, gombal-gombalmu dilepas di kamar.”
Sebentaar.
Lha kok redaksi beritanya tiba-tiba menukik tajam jadi omelan?
Harusnya kau sudah amat-sangat mafhum dengan tingkah polah adikmu yang lagi kelaparan seberes perjalanan panjang pulang ini, lho. Daripada itu mbok ya adik bungsunya ini ditawari pis—
“Pisangnya belum ada yang matang,” tukasmu sejurus kemudian hengkang.
Wow, cenayang!














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!