Hujan di luar kos makin deras, rintik air menghantam atap lebih sering, suaranya seperti rentetan tembakan peluru tanpa henti. Skye menggeser kursor ke bawah, aktivitas di papan umum mendadak melambat. Angka indikator di kanal obrolan tertutup di sudut kanan atas layarnya melonjak tajam, berpindah dari belasan menjadi puluhan dalam hitungan detik. Ia mengklik kanal tersebut, memasukkan kunci enkripsi sekundernya yang tersimpan di kandar kilas.
“Ghost_Protocol : Paket lama dari jalur utara udah mulai gerak malam ini.”
“Shadow_Broker : Konfirmasi? Nilainya berapa?”
“Ghost_Protocol : Gak ada angka pasti. Tapi ini bukan jenis database bocor biasa yang bisa lo jual eceran di pasar gelap. Yang pegang barang bukan pemain kecil.”
“Zero_Trace : Jangan ada yang berani nyentuh atau nyoba sniffing jalurnya kalau masih sayang sama nyawa kalian. Ini bukan urusan duit receh lagi.”
Skye meletakkan cangkir kopinya yang kosong ke meja. Ia membuka kotak pesan pribadi baru, mengetik nama akun Ghost_Protocol di kolom tujuan.
Skye
Lo lagi ngomongin data dari insiden gudang sebulan lalu?
Indikator status di samping nama Ghost_Protocol berubah abu-abu. Jendela pesan baru muncul dari arah bawah, dikirim akun yang namanya hanya berupa satu karakter titik.
.
Lo masih aktif nyari kerjaan besar yang bisa bayar sewa kos lo selama sepuluh tahun ke depan, Skye?”
Skye menarik napas panjang, menahannya sesaat di dalam dada lalu melepaskannya perlahan
Skye
Definisi besar tiap orang beda-beda. Kemarin ada yang nawarin data besar, pas gue cek ternyata cuma file excel isi nomor WhatsApp emak-emak arisan.
.
Yang ini bukan file excel.
Skye
Isinya apaan?
.
Kalau gue tahu isi detailnya, gue nggak bakal masih hidup malam ini buat jawab pertanyaan lo di forum ini.
Skye
Siapa yang pegang barangnya sekarang?
.
Grup baru. Tapi pake pondasi lama. Orang-orang di forum manggil mereka New Hydra.
Skye membuka tab terminal baru di monitor kiri. Ia mengeksekusi pencarian teks di pangkalan data lokal miliknya. Arsip berita kriminalitas korporasi dari tahun 2018. Kata Hydra merujuk organisasi kriminal nasional di bawah otoritas Jendral Bintang Satu.
Ia membuka dokumen intelijen internal dari agensi keamanan swasta di Singapura.
New Hydra beroperasi seperti perusahaan logistik modern, efisien, bersih, dan memiliki akses ke teknologi enkripsi militer. Diduga dibangun dari sisa-sisa personel taktis lama yang memiliki dendam terhadap otoritas pusat. Karakteristik operasional tidak meninggalkan jejak.
.
Jangan masuk terlalu dalam, Skye. Ini bukan level lo.
Skye mengetuk jari telunjuknya ke pinggiran meja kayu.
Skye
Lo ini sebenarnya lagi nawarin gue kerjaan komisi besar atau lagi bertindak jadi malaikat pelindung yang ngasih nasihat hidup gratisan?
.
Dua-duanya. Tapi nasihat hidupnya gratis.
Skye
Berarti nilainya sesuai harga, gak ada gunanya buat bayar tagihan kos gue besok pagi.
Di belahan kota yang berbeda, tiga lantai di bawah permukaan tanah sebuah bangunan tanpa papan nama di kawasan Jakarta Pusat. Lantai ruangan dilapisi beton poles kelabu tua.
Baskara berdiri tegak di samping meja logam. Kedua tangannya tergantung santai di sisi tubuh. Ia mengenakan pakaian taktis serba hitam tanpa emblem instansi, tanda pangkat, atau label merek pakaian. Di bawah cahaya lampu neon putih yang terang, wajahnya datar, tanpa ekspresi, memar samar keunguan di sudut rahang kirinya. Pergelangan tangan kanannya dilapisi perban medis tipis sewarna kulit.
Di dinding depan meja, layar proyektor raksasa menyala, menampilkan peta satelit beresolusi tinggi dari kawasan pergudangan Muara Angke, diikuti bagan topologi jaringan peladen yang rumit.
Suara dari pengeras suara di sudut langit-langit menghasilkan nada bariton yang datar dan tanpa intonasi manusia.
“Target penyimpanan telah terkonfirmasi berada di titik simpul sekunder.” Suara dari pengeras suara memecah kesunyian ruangan.
Baskara menatap lurus ke arah diagram jaringan di layar tanpa berkedip. “New Hydra?”
“Benar.”
“Prioritas operasi?”
“Tinggi. Kerusakan kolateral diizinkan dalam batas minimal. Data tersebut harus diamankan sebelum faksi luar berhasil mendeteksi keberadaannya atau mencoba melakukan pemindahan ke peladen luar negeri.”
“Isi data?” tanya Baskara.
Keheningan melanda ruangan.
“Tidak relevan untuk tugasmu, Operator Baskara.”
Mata Baskara tetap fokus di titik merah yang berkedip di peta digital Muara Angke. “Batas waktu?”
“Peladen sementara mereka hanya akan aktif malam ini selama jendela waktu sembilan menit sebelum protokol penguncian otomatis diaktifkan dari pusat komando mereka. Kau masuk, ambil data, dan bersihkan jejak fisik di lokasi.”
“Kontak lapangan?”
“Tidak ada.”
“Tim pendukung?”
“Tidak ada. Ini tahap akhir dari evaluasi kompetensi lapanganmu. Kau sedang disiapkan untuk bekerja sebagai operator tunggal. Kegagalan berarti eliminasi status.”
Baskara mengangkat sedikit dagunya, menatap kamera kecil yang tertanam di bawah bingkai layar proyektor. “Dimengerti.”
“Ambil data dari New Hydra. Jangan tinggalkan jejak digital ataupun fisik. Operasi dimulai sekarang.”
Bunyi klik pendek terdengar, diikuti matinya layar proyektor. Ruangan kembali gelap, menyisakan pendaran redup dari lampu darurat kuning di sudut lantai. Baskara tetap berdiri diam di posisinya beberapa detik. Jarinya bergerak mengetuk paha celananya, lalu berbalik. Ia meraih jaketnya dari atas meja logam, memasukkan perangkat dekripsi portabel seukuran dompet ke dalam saku bagian dalam, lalu berjalan keluar melewati pintu baja yang bergeser terbuka.
Skye menarik kembali kertas tagihan kosan dari bawah tumpukan modemnya. Ia memperhatikan deretan angka 1.200.000, lalu melirik ponselnya di atas meja, beralih menatap alamat IP mentah yang baru saja dikirimkan di layar monitor utama.
103.22.201.44
Port: 8443 (SSL/TLS Obfuscated)
Status: ONLINE
Skye menggeser kursinya maju, lututnya membentur pinggiran laci meja. Ia membuka program pemindai paket data tingkat rendah, mengetik alamat IP ke dalam kolom perintah, lalu menekan tombol eksekusi.
“Kalau jalurnya bersih kayak lantai rumah sakit begini... antara ini jebakan madu buat nangkep orang, atau mereka emang gak pernah tidur waktu bikin sistem.” Skye menggigit bibir bawahnya.
Matanya menatap bagan visual jaringan peladen di layar monitor tengahnya. Struktur jaringan bersih dari data sampah, tidak ada sisa log pemeliharaan yang tertinggal.
Ia membuka catatan digital kecil di pojok layarnya, menuliskan satu kalimat pendek dengan huruf kecil. “Masuk dikit doang di pinggirannya. ambil sampel, terus cabut.”
Jendela pop-up percakapan baru terbuka paksa di monitor ketiganya, memotong program pemindaian paket data yang sedang berjalan. Ikon kepala tikus kartun dengan nama samaran Kancil berkedip-kedip cepat di layar.
Kancil
Skye! Sialan, lo beneran lagi nyari tahu jalur server 103.22? Gue liat aktivitas node proksi lo di jaringan tor.
Skye
Lo mata-matain jalur gue? Kurang kerjaan banget lo.
Kancil
Gue gak mata-matain lo, bego! Jalur proksi yang lo pake itu lewatin server sewaan gue di Bekasi. Skye, dengerin gue. Putus koneksinya sekarang juga. Jangan sentuh itu server.
Skye
Kenapa? Lo takut gak kebagian komisi? Kalau data ini bernilai gede, kita bisa bagi dua. Gue yang ambil barang, lo yang cuci duitnya lewat jalur lo.
Kancil
Ini bukan soal komisi! Dua hari lalu, anak-anak dari komunitas Bandung nyoba ngelakuin pemindaian port ke alamat IP yang sama. Mereka cuma pengen tahu, cuma iseng pamer skill di grup Telegram. Lo bukan Chacha yg bisa ngancurin Hydra lama dan ngacak-ngacak sistem pemerintah empat tahun lalu pas jaman Covid.
Skye
Terus? Hasilnya gimana?
Kancil
Gak ada hasil. Kemarin pagi, tiga akun mereka di forum hilang. Dompet crypto mereka dikuras habis. Dan yang paling parah... temen kosan salah satu dari mereka bilang, anak itu gak pulang ke kosan dari kemarin malam setelah pamit beli rokok di depan gang.
Skye melepaskan tangannya dari papan ketik. Angin malam bertiup kencang, kabel LAN yang tergantung di dekat jendela kamarnya bergoyang-goyang pelan.
Kancil
Mereka bukan cuma ngehapus jejak digital lo, Skye. Mereka nyamperin lo ke dunia nyata. Ini New Hydra. Mundur, Skye. Sebelum nama asli lo jadi nama berikutnya yang ilang dari database sipil.
Skye menatap bayangan wajahnya di monitor tengah, baris kode hijau terus bergerak. Jemarinya kembali menyentuh tombol keyboard, mengetik lambat.
Skye
Kalau gue punya uang seribu rupiah tiap kali ada orang yang bilang jangan sentuh atau mundur ke gue sepanjang hidup gue... kayanya malam ini gue udah punya rumah mewah di Pondok Indah dan gak perlu pusing mikirin sewa kosan sialan ini, Cil.
Kancil
Skye, serius! Ini bukan permainan dapet reputasi di forum!
Skye
Gue juga serius, Kancil. Gue beneran miskin. Dan lo tahu apa yang lebih menakutkan daripada mati di tangan mafia?
Kancil: Apaan?
Skye
Diusir dari kosan hari Senin besok terus harus pulang ke kampung dengan status gagal total sebagai manusia. Itu lebih bikin gue pengen mati.
Skye mengklik tombol putus koneksi di peladen Bekasi milik Kancil, mengisolasi jalurnya sendiri, lalu mengunci terminal kerjanya kembali ke server utama.
Waktu di pojok kanan bawah layarnya menunjukkan pukul tiga lewat lima puluh lima pagi. Lima belas menit sebelum peladen sementara New Hydra ditutup sepenuhnya.
Skye menarik napas dalam-dalam, mengembuskan perlahan. Ia membuka direktori folder baru di drive lokalnya, mengabaikan kotak dialog penamaan otomatis, lalu mengetikkan nama folder baru Project_Jangan_Mati_Dulu.
Di dalam folder, ia menyatukan semua potongan data mentah yang ia dapatkan sepanjang malam. File teks berita Muara Angke, tangkapan layar komentar UcokAngke99, potongan video tujuh belas detik mobil van hitam, dan bagan topologi jaringan peladen 103.22.201.44.
Pesan terakhir masuk dari akun berinisial titik di kanal IRC rahasianya.
.
Paket data mulai bergerak di pipa jaringan utama. Waktu lo tinggal sepuluh menit sebelum enkripsi mereka berubah jadi statis. Pilihannya ada di tangan lo sekarang, Skye.
Skye memandang mangkuk mi instannya yang sudah mengeras, lalu melirik kembali ke arah kursor terminal yang terus berkedip.
Tangan kanannya bergerak maju, meraih mouse, lalu mengarahkan kursor ke atas tombol konsekusi koneksi proksi lapis ketiga menuju peladen New Hydra. Jari telunjuknya menggantung di atas tombol.
Ia menarik napas dalam, menekan tombol Enter. Layar monitor utama Skye mendadak dipenuhi baris-baris kode biner hijau yang melesat ke bawah, cahaya berkedip terpantul di pupil matanya yang melebar.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!