Baling-baling kipas angin besi di sudut langit-langit itu berputar lambat. Udara Jakarta pukul dua pagi mulai mendingin, aroma sangit dari papan sirkuit komputer yang dipaksa menyala dua hari penuh menggantung di dalam kamar.
Skye memajukan tubuhnya. Sepasang matanya kemerahan menatap cahaya monitor yang menyinari wajahnya. Rambut hitamnya diikat asal-asalan, beberapa helai menempel di dahi akibat keringat tipis. Tangan kanannya memegang garpu plastik, menusuk gumpalan mi yang sudah membengkak dan kehilangan uapnya, lalu memasukkannya ke dalam mulut tanpa dikunyah dengan benar.
Kursor di layarnya bergerak lambat, menyusuri baris-baris kalimat di situs berita umum.
KECELAKAAN OPERASI GUDANG DI MUARA ANGKE BERHASIL DI TANGANI
Skye menurunkan pandangannya ke baris berikutnya. Jemarinya mengetuk permukaan meja kayu yang dilapisi stiker-stiker.
”...Juru bicara menyatakan tidak ada ancaman lanjutan bagi warga sekitar ataupun aktivitas logistik pelabuhan. Investigasi internal menyimpulkan adanya korsleting pada sistem panel listrik utama yang memicu percikan api kecil. Pihak pengelola berkomitmen melakukan pemulihan fasilitas dalam waktu singkat...”
Skye meletakkan garpu plastiknya ke dalam mangkuk styrofoam. Sudut kiri bibirnya tertarik ke atas. Ia meraih mangkuk, menempelkan pinggirannya ke bibir, lalu meneguk sisa kuah di dalamnya hingga tandas. Selesai menelan, ia menyeka dagunya dengan punggung tangan, meninggalkan jejak minyak samar di kulitnya.
Matanya kembali menatap foto dokumentasi yang terlampir di bawah artikel. Dinding beton kelabu dengan atap seng yang melengkung akibat panas. Garis polisi kuning melintang di depan pintu besi yang hangus.
Jemarinya berpindah ke atas papan ketik. Satu tab baru terbuka, kemudian tab berikutnya. Dua belas kotak kecil berjejer rapat di bagian atas peramban webnya. Ia menyalin satu frasa dari artikel pertama, tidak ada indikasi sabotase.
Jendela terminal hitam terbuka di monitor kedua. Skrip sederhana yang ia jalankan mulai memindai teks dari belasan portal berita berbeda yang sedang terbuka. Layar Skye mendadak berubah warna, sistem otomatisnya menandai kalimat-kalimat yang sama. Teks pada portal berita nasional, berita kriminal lokal Jakarta Utara, hingga unggahan ulang akun informasi di media sosial.
Skye menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. Ia melipat kedua kakinya di atas dudukan, memeluk lututnya sembari memperhatikan barisan warna kuning yang memenuhi seluruh permukaan monitornya.
“Koma,” bisik Skye. “Bahkan posisi komanya gak geser satu senti pun.” Ia menurunkan kaki, meraih kertas catatan kosong dari bawah tumpukan modem, lalu menuliskan TEKS TUNGGAL dengan pulpen hitam.
Ia meletakkan pulpen itu kembali ke meja. Pandangannya beralih ke daftar tautan video yang ia simpan di dalam folder terenkripsi semenjak malam insiden itu terjadi, tepat satu bulan yang lalu.
Skye mengklik tautan pertama. Layar monitornya menampilkan “Halaman yang Anda tuju telah dihapus karena melanggar panduan komunitas.”
Ia beralih ke tautan kedua, video berdurasi sepuluh detik yang diunggah oleh seorang buruh pelabuhan di platform video pendek. Hasilnya kotak hitam kosong dengan ikon rantai terputus. Jemarinya terus mengetuk, satu demi satu, hingga sepuluh tautan selesai diperiksa. Tidak ada satu pun yang menyisakan gambar.
Ia menarik laci mejanya, mengambil flashdisk, lalu mencolokkannya ke komputer. Skye membuka tangkapan layar dari kolom komentar dari akun tanpa foto profil bernama UcokAngke99.
“Woi ini bukan kebakaran biasa asli!! Gue liat sendiri sebelum api gede ada tiga mobil hitam masuk, orang-orangnya pake baju hitam-hitam ga ada logo polisi atau Damkar. Mereka masuk bawa box gede terus pas keluar langsung meledak itu gudang-“
Jari telunjuknya mengklik nama akun tersebut. Halaman berganti menampilkan teks Akun tidak ditemukan.
Skye meraih cangkir kopi yang sudah dingin di dekat tumpukan kabel LAN. Ia meminumnya sedikit, rasa pahit menempel di langit-langit mulutnya.
“Beli rokok di depan gang aja gak secepat ini hilangnya,” gumamnya pelan.
Ia membuka direktori arsip gelapnya yang terdalam. Skye menekan tombol putar. Video itu bergoyang hebat. Rekaman diambil dari balik celah pembatas seng pembatas proyek. Suara angin pelabuhan bergemuruh masuk ke dalam mikrofon ponsel, diselingi suara teriakan beruntun orang-orang yang berlari tanpa arah. Di latar belakang, bangunan beton menyemburkan lidah api jingga pekat ke langit malam Jakarta yang kelabu.
Pada detik kesembilan, kamera bergeser ke kiri, menangkap sudut gerbang samping gudang yang runtuh. Dua mobil van besar hitam dop bergerak mundur dengan kecepatan tinggi. Kendaraan itu tidak memiliki plat nomor, tidak ada reflektor cahaya di bagian bumper, seluruh kacanya dilapisi lapisan hitam pekat. Mereka membelah kerumunan orang yang panik, lalu menghilang di balik tikungan jalan berlumpur.
Suara perekam terdengar sangat dekat dengan mikrofon, terengah-engah dan bergetar tepat sebelum rekaman terputus menjadi noise abu-abu. “Jangan dekat-dekat! Woi, jangan dekat! Itu bukan kebakaran biasa! Mereka bawa-“
Layar kembali gelap. Pantulan wajah Skye muncul di permukaan kaca monitor yang berdebu.
Ia memutar ulang bagian detik kesembilan. Menahan framenya tepat saat roda belakang mobil van hitam melindas tumpukan keranjang plastik di pinggir jalan. Skye memperbesar gambar hingga batas maksimal. Gambar itu pecah menjadi kotak-kotak kabur, menyembunyikan detail logo atau nomor seri di bodi mobil.
Skye melepaskan jemarinya dari mouse. Ia memandang sekeliling kamarnya. Di sudut ruangan, kaus oblong abu-abu tergantung di paku dinding. Di bawah meja, kartu identitas plastik mencuat sedikit dari balik tumpukan dompet usang. Nama Sandra Asih tercetak dengan foto latar belakang biru yang diambil lima tahun lalu.
Ponsel di samping kirinya bergetar pendek, layarnya menyala menampilkan angka-angka digital dari aplikasi perbankan otomatis.
Saldo minimum tercapai: Rp 42.500. Tagihan jatuh tempo dalam 72 jam. Skye menoleh ke layar, membalikkan posisinya menghadap langsung ke permukaan meja yang berdebu.
Bunyi berdenting kecil terdengar dari komputer sekunder. Jendela obrolan terbuka di pojok bawah. Nama akun, Bagas_99, berkedip-kedip meminta perhatian.
Bagas_99
Sis, bisa minta tolong urgent?
Skye
Tolong apaan? Kalau suruh benerin printer, gue block.
Bagas_99
Bukan wkwk. Tolong masuk ke akun X mantan gue dong. Mau liat dia chat sama siapa aja belakangan ini. Sama kalau bisa tarik riwayat transaksi m-banking-nya.
Skye
Gak terima jasa intel asmara.
Bagas_99
Plis sis, bayar kok. Setengah harga dulu gimana? Cuma buka akun doang kan gampang buat lo.
Skye menatap teks itu tanpa berkedip beberapa detik. Jemarinya kembali bergeral menekan tombol papan ketik.
Skye
Kalau cuma buka akun doang gampang, silakan buka sendiri pake obeng. Tarif biasa, dua juta bersih. Ga ada diskon mantan.
Bagas_99
Duh mahal banget. Setengah dulu bisa ga? Tar sisanya kalau datanya valid.
Skye
DP minimal 50% sekarang juga. Kirim ke alamat crypto wallet yang biasa. Gue bukan yayasan sosial korban patah hati. No DP, no script.
Skye menyandarkan dagunya di atas lutut. Matanya menatap indikator dana masuk di tab penjelajah crypto di monitor utamanya. Lima menit berlalu, suara derit kipas angin mengisi keheningan, angka saldo di dompet digital anonimnya bertambah beberapa digit.
Ia menurunkan kakinya, menarik kembali keyboard ke tengah meja, membuka program pemindai kerentanan jaringannya.
Skye menguap, menutup mulutnya dengan telapak tangan. Di luar, suara rintik hujan pertama mulai terdengar menghantam genteng kosannya, hawa dingin yang perlahan menembus celah ventilasi.
Attempt 942: SUCCESS.
Password found: bandungjuara123!
Skye mengklik tombol unduh pada log percakapan akun tersebut, mengemasnya menjadi sebuah file kompresi bersandi, lalu mengirimkannya to ruang obrolan Bagas_99 tanpa memberikan komentar tambahan.
Skye
File udah dikirim. Kirim sisa pembayarannya sekarang.
Bagas_99
Wah cepet banget sis! Bentar ya gue cek dulu...
Maaf sis, sisanya besok ya? Dompet digital gue lagi limit nih, ada kendala sistem dari banknya. Sumpah besok pagi gue transfer.
Skye menatap baris teks terakhir. Tangannya tetap diam hampir setengah menit. Ia mengarahkan kursor ke kotak pengetikan, memasukkan beberapa baris kalimat makian, jemarinya berhenti tepat di atas tombol Enter.
Ia menekan tombol hapus berulang kali hingga kotak teks itu kembali kosong.
Skye
Besok maksimal jam 12 siang. Kalau belum masuk, file chat lo sama selingkuhan lo yang gue temuin di folder sebelah bakal gue kirim ke mantan lo gratis.
Skye menutup jendela obrolan. Ia membuka peramban khusus miliknya. Alamat situs papan diskusi teks sederhana berlatar hitam bernama Nusantara-X.
Halamannya bersih dari gambar, berisi daftar utas teks putih yang terus diperbarui pengguna anonim dari berbagai daerah. Skye menggulir ke bawah, melewati utas-utas tentang penjualan database kependudukan palsu atau metode pembobolan kartu kredit luar negeri. Ia berhenti di sebuah utas lama yang sudah dikunci oleh administrator.
Nama CHACHA menjadi judul utas. Skye membaca baris komentar paling atas, ditulis akun bernama Krypton_9 dua tahun lalu.
“Jejak digital dia waktu dia bikin lampu lalu lintas eror empat tahun lalu masih ada di log server Dishub. Sampai sekarang forensik digital mereka gak bisa nemu ip aslinya.”
Di bawahnya, akun Delta_Zero menambahkan.
“Kalau lo masih bisa nyebut nama Chacha sambil ketawa atau nganggep dia fiksi, berarti lo belum pernah nyentuh atau ngeliat langsung kode program yang pernah dia tinggalin di sistem pemerintah pusat. Dia itu hantu.”
Skye menatap kata Chacha di tengah layarnya. Ia mendekatkan wajahnya ke monitor, menatap detail karakter pengetikan yang ditinggalkan akun tersebut di beberapa arsip kode lama. Pola indentasi kodenya, cara dia menyembunyikan penanda waktu di dalam baris perintah.
“Lo bukan bapak-bapak tua iseng atau kelompok sindikat, kan Cha?” Skye tersenyum tipis.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!