Bunny Bunny Pop

0 dibaca

A

Di tengah hiruk-pikuk Kota Shanghai yang tak pernah tidur, di mana lampu-lampu neon berwarna-warni menyinari gedung-gedung pencakar langit setinggi ke langit, terdapat sebuah taman hiburan yang selalu riuh oleh tawa pengunjung. Di sinilah sosok yang paling disukai anak-anak, bahkan orang dewasa sekalipun, selalu tampil ceria tanpa henti. Ia adalah Bunny Bunny Pop — sosok kelinci lucu dengan telinga panjang berwarna putih bersih yang dihiasi pita merah muda cerah, wajah bulat yang selalu tersenyum lebar, perut gemuk yang empuk, dan kostum yang bergoyang-goyang mengikuti setiap langkahnya yang lincah. Di balik kostum tebal itu, tersembunyi wajah seorang gadis muda yang sederhana namun penuh semangat. Namanya Xiao Ning.

Xiao Ning berusia dua puluh empat tahun. Ia tinggal sendirian di sebuah apartemen kecil yang sederhana, tidak jauh dari lokasi taman hiburan tempatnya bekerja. Ruangannya tidak luas: hanya cukup untuk sebuah tempat tidur tunggal, meja kayu kecil, lemari pakaian yang sudah agak usang, dan jendela yang menghadap ke arah jalan raya yang padat. Di sinilah ia beristirahat setelah seharian berkeliling, menari, melambai, dan memeluk anak-anak yang memadatinya.

Hidup di Shanghai tidaklah mudah. Biaya hidup di kota yang gemerlapan ini terasa berat bagi gadis yang berjuang sendirian. Uang yang ia peroleh dari tampil sebagai Bunny Bunny Pop sebenarnya belum cukup untuk menutupi segala kebutuhannya, apalagi membayar sewa tempat tinggalnya tepat waktu.

Pemilik apartemen tempat ia menyewa kamar adalah pria bernama Zhao Feng. Pria itu bertubuh tegap, wajahnya selalu tampak masam, suaranya keras dan tajam, dan ia tidak pernah segan-segan membentak siapa pun yang terlambat membayar uang sewa. Hampir setiap kali ia datang ke pintu kamar Xiao Ning, suasana menjadi tegang.

Suatu sore, setelah Xiao Ning pulang dari latihan pertunjukan, ia baru saja membuka pintu kamarnya ketika Zhao Feng sudah berdiri di sana, menunggu dengan tangan di pinggang.

“Xiao Ning!” seru Zhao Feng, suaranya menggelegar di lorong sempit, “Kapan kau akan melunasi sewa bulan ini? Sudah lewat tiga hari, tahu!”

Xiao Ning menunduk, meremas ujung bajunya yang sederhana. Wajahnya memerah karena malu sekaligus cemas.

“Maaf, Pak Zhao...” jawabnya pelan, “Saya belum menerima gaji bulan ini. Bolehkah saya minta waktu sedikit lagi? Saya akan segera melunasinya begitu uangnya masuk.”

Zhao Feng mendengus kasar, melangkah maju hingga wajahnya sangat dekat dengan wajah Xiao Ning.

“Selalu begitu jawabanmu! ‘Sedikit lagi’, ‘sebentar lagi’, ‘nanti’! Bosan aku mendengarnya! Kau pikir aku mau menanggung kerugianmu? Jika minggu depan belum lunas, kemas barang-barangmu dan pergi dari sini! Aku tidak mau menyewakan kamar kepada orang yang tidak bisa diandalkan!”

“Saya mohon, Pak Zhao...” mata Xiao Ning berkaca-kaca, “Saya sungguh-sungguh akan membayarnya. Tolong beri saya kesempatan sekali lagi.”

“Kesempatan sudah kuberi berkali-kali!” Zhao Feng menunjuk pintu kamarnya dengan kasar, “Minggu depan! Paling lambat minggu depan! Jika tidak ada uangnya, jangan salahkan aku kalau aku mengusirmu ke jalanan!”

Pria itu berbalik pergi dengan langkah berat, meninggalkan Xiao Ning yang berdiri kaku di tempatnya. Begitu pintu tertutup, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya menetes juga. Ia duduk di tepi tempat tidurnya yang empuk namun tipis, membiarkan kesedihannya meluap sejenak.

Mengapa hidup terasa begitu berat? batinnya bertanya, apakah saya akan selamanya kesulitan seperti ini? Apakah tidak akan ada hari di mana saya bisa bernapas lega tanpa takut dikejar-kejar tagihan?

Namun tangis itu tidak berlangsung lama. Xiao Ning mengusap pipinya dengan punggung tangan, menarik napas dalam-dalam, lalu tersenyum sendiri. Ia tidak boleh menyerah. Ia harus tetap kuat.

“Tidak apa-apa, Xiao Ning,” bisiknya pelan, menyemangati diri sendiri, “Akan ada jalan. Suatu hari nanti kau akan memiliki tempat tinggal yang nyaman, di mana pemiliknya ramah, di mana kau tidak perlu takut diketuk pintu dengan bentakan. Percayalah. Semua kesulitan ini hanya sementara.”

Ia berdiri, mencuci muka, lalu menyiapkan kostum Bunny Bunny Pop-nya untuk pertunjukan esok hari. Di balik kesedihannya, ia menyimpan harapan yang tak pernah pudar.

Hari yang dinanti akhirnya tiba. Taman hiburan mengadakan acara besar: Konser Badut Shanghai. Panggungnya dibangun megah di tengah lapangan terbuka, dihiasi lampu-lampu berwarna-warni yang berkelap-kelip, dan pengeras suara menyebarkan musik ceria ke seluruh penjuru tempat itu. Xiao Ning tampil paling akhir, dan penonton bersorak gembira begitu Bunny Bunny Pop melompat ke atas panggung.

Ia menari, tertawa, melambai, dan menyapa anak-anak dengan penuh keramahan. Di balik kepala kostum yang panas itu, matanya menyapu kerumunan penonton. Ia menyadari sesuatu yang menarik perhatiannya: di barisan depan, berdiri seorang lelaki tampan yang sejak kemarin juga menontonnya. Pria itu tidak seperti penonton lain yang berteriak atau tertawa keras. Ia berdiri tenang, tersenyum lembut, dan matanya seakan tidak pernah beralih dari sosok Bunny Bunny Pop.

Siapakah dia? pikir Xiao Ning, hatinya berdebar pelan, dia datang lagi.

Setelah pertunjukan selesai, saat Xiao Ning sedang melepas kostumnya di ruang ganti yang sederhana, terdengar ketukan di pintu.

“Bolehkah aku masuk?” tanya suara pria yang lembut.

Xiao Ning membuka pintu sedikit, dan matanya bertemu dengan sepasang mata yang ramah. Itu lelaki yang sama.

“Permisi,” pria itu tersenyum, “Namaku Han Zhuo. Aku penggemar berat Bunny Bunny Pop. Sejujurnya, aku sudah datang ke sini beberapa hari berturut-turut hanya untuk melihatmu tampil.”

Xiao Ning tersipu, tersenyum malu. “Terima kasih, Tuan Han... Tidak banyak yang begitu setia.”

Han Zhuo melangkah masuk perlahan, lalu menyodorkan sebuah kotak kado yang indah dihiasi pita emas. “Ini tanda perkenalan dariku untukmu. Terima kasih sudah selalu tersenyum cerah, meski aku tahu di balik kostum tebal itu pasti lelah sekali.”

Xiao Ning menerima kotak itu dengan kedua tangannya. “Terima kasih... Saya tidak tahu harus berkata apa.”

“Sampai jumpa besok,” pamit Han Zhuo, “Istirahatlah dengan cukup, Xiao Ning.”

Saat ia sendirian kembali, Xiao Ning membuka kotak itu perlahan. Matanya membelalak tak percaya. Di dalamnya tergeletak sebuah cincin emas yang indah, beratnya sepuluh gram, berkilauan di bawah cahaya lampu. Ia tidak menyangka akan menerima pemberian senilai itu. Namun seketika itu juga, pikirannya melayang pada Zhao Feng dan sewa yang belum terbayar.

Dengan berat hati, namun tidak punya pilihan lain, keesokan paginya Xiao Ning pergi ke toko emas terdekat. Ia menjual cincin itu, menerima uangnya yang cukup untuk melunasi sewa, lalu segera menemui Zhao Feng.

“Ini uang sewa bulan ini, Pak Zhao,” ucapnya sambil menyerahkan sejumlah uang yang dihitung dengan teliti.

Zhao Feng menghitungnya, lalu mengangguk pelan, wajahnya yang biasanya masam tampak sedikit lega. “Kali ini lunas. Tapi ingat, bulan depan jangan telat lagi. Jika telat, jangan harap aku memberi kelonggaran.”

“Saya mengerti, Pak. Terima kasih,” jawab Xiao Ning, meski hatinya terasa sedikit perih karena harus melepaskan kado pertama dari seseorang yang begitu baik.

Keesokan harinya, Han Zhuo datang lagi. Ia menyapa Xiao Ning dengan senyumnya yang khas, namun kemudian matanya turun ke jari-jari gadis itu. Tidak ada cincin di sana.

“Cincin yang kuberikan kemarin... di mana?” tanyanya pelan, tidak menuduh, hanya ingin tahu.

Xiao Ning menunduk, merasa malu. “Maafkan saya, Tuan Han... Saya menjualnya. Saya belum bisa membayar sewa apartemen saya bulan ini, dan saya tidak punya uang lain.”

Han Zhuo terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan, tidak sedikit pun terlihat marah. “Jangan malu, Xiao Ning. Aku tidak memberikannya agar kau menyimpannya saja. Aku hanya sedih mendengar hidupmu berat sekali.”

“Saya berusaha sekuat tenaga,” jawab Xiao Ning dengan suara bergetar, “tapi biaya hidup di sini memang melebihi apa yang bisa kucukupi sendirian.”

“Kalau begitu,” Han Zhuo menatapnya dengan tulus, “maukah kau menjadi sekretaris pribadiku saja? Aku bisa memberimu gaji yang layak, kau tidak perlu lagi lelah memakai kostum tebal setiap hari, dan kau bisa tenang memenuhi kebutuhanmu.”

Xiao Ning terkejut. “Tuan Han... saya bukan siapa-siapa. Saya tidak pantas berada di dekat Anda. Saya orang biasa, saya tidak memiliki kemampuan yang istimewa.”

Han Zhuo tersenyum lembut. “Justru karena kau jujur, itulah yang membuatku ingin membantumu. Kejujuranmu jauh lebih berharga daripada segala kemampuan yang bisa dipelajari. Tapi aku tidak akan memaksamu. Berapa hari yang kau butuhkan untuk berpikir?”

“Beri aku waktu satu hari saja,” jawab Xiao Ning, “Saya ingin mempertimbangkannya dengan tenang.”

“Baiklah. Aku akan menunggumu.”

Hari berikutnya, Han Zhuo mengajak Xiao Ning makan di sebuah restoran terkenal bernama Restoran Bai. Tempat itu sederhana namun berkelas, dengan meja kayu yang mengilap dan aroma masakan yang menggugah selera. Mereka memesan Sop Tahu yang hangat dan lembut, duduk berhadapan di sudut ruangan yang tenang.

Saat mereka menyantap hidangan itu, Han Zhuo bertanya pelan, “Xiao Ning... bolehkah aku tahu di mana orang tuamu?”

Sendok di tangan Xiao Ning terhenti. Ia menunduk, menatap kuah yang berasap tipis. “Mereka hilang, Tuan Han. Diculik oleh sebuah organisasi kriminal bertahun-tahun lalu. Polisi masih mencari mereka sampai sekarang, belum ada petunjuk yang jelas. Aku rindu mereka setiap hari... sangat rindu.”

Suaranya pecah di akhir kalimat. Han Zhuo mengulurkan tangan, menyentuh punggung tangan Xiao Ning dengan lembut.

“Aku turut berduka, Xiao Ning. Percayalah, aku akan ikut mencarinya. Aku tidak akan membiarkanmu sendirian menanggung beban ini.”

Xiao Ning menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Mengapa Tuan Han begitu peduli padaku? Kita baru saja saling kenal.”

Han Zhuo menarik napas panjang, menatapnya lurus ke mata. “Karena sejak pertama kali melihatmu, aku sudah mengagumimu. Di balik kostum kelinci itu, aku melihat ketulusan yang jarang dimiliki orang lain. Aku jatuh hati padamu, Xiao Ning. Dan aku ingin menjadi orang yang melindungimu, bukan hanya mengagumimu dari jauh.”

Xiao Ning tertegun, mulutnya sedikit terbuka, tak mampu berkata apa-apa. Ia hanya diam, membiarkan kata-kata itu meresap ke dalam hatinya.

Mereka menyelesaikan makan dalam keheningan yang hangat. Han Zhuo membayar tagihan, lalu mengantar Xiao Ning pulang. Di kamarnya, Xiao Ning terus teringat wajah Han Zhuo — tampan, berwibawa, penuh karisma — dan kata-katanya yang begitu tulus. Ia tersenyum sendiri di tempat tidurnya, merasakan kehangatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Keesokan harinya, pertunjukan berlanjut. Xiao Ning kembali memakai kostum Bunny Bunny Pop, menari sekuat tenaganya, namun kali ini hatinya terasa lebih ringan. Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Tepat saat pertunjukan selesai dan lampu panggung tiba-tiba padam, suasana menjadi gelap gulita.

Xiao Ning panik di dalam kegelapan. “Ada apa? Mengapa gelap?”

Belum sempat ia bergerak, dua tangan kuat menariknya kasar. Mulutnya segera dibungkam lakban, tangannya dan kakinya diikat tali. Ia dipaksa masuk ke dalam mobil Jeep yang menunggu di tempat sepi, lalu kendaraan itu melaju kencang meninggalkan taman hiburan.

Di dalam mobil, duduk dua orang laki-laki bertopeng. Mereka adalah Siu dan Baubau.

“Jangan bergerak,” kata Siu dengan suara rendah, “Kami tidak akan menyakitimu, Xiao Ning. Kami hanya ingin mempertemukanmu dengan seseorang yang sangat kau rindukan.”

Xiao Ning mengerutkan kening, matanya memancarkan tanda tanya besar. Siu melanjutkan, “Ibumu, Bai Lee, ada di tempat kami. Dia menunggumu.”

Jantung Xiao Ning berdegup kencang. Ibunya? Hidup?

Sementara itu, Han Zhuo mencari ke mana-mana dengan cemas. Ia tidak melihat Xiao Ning keluar dari area panggung. Segera ia menelepon polisi Shanghai, melaporkan hilangnya gadis itu dan meminta mereka segera menelusuri jejaknya.

Mobil Jeep itu akhirnya berhenti di depan sebuah gudang tua yang tersembunyi di pinggiran kota. Siu membuka pintu gudang itu, dan Xiao Ning menatap tak percaya. Di sudut ruangan, duduk seorang wanita yang pucat namun matanya membelalak bahagia melihatnya.

“Anakku!” seru wanita itu, “Xiao Ning! Kau sudah tumbuh dewasa!”

“Ibu...” isak Xiao Ning, begitu lakban dilepas, ia berlari memeluk ibunya erat-erat, air matanya tumpah membasahi bahu wanita itu.

Siu menjelaskan segalanya. Dulu, organisasi yang menculik orang tua Xiao Ning dipimpin oleh seorang mafia terselubung bernama Guang Wei. Ia adalah sosok yang licik dan pandai menyembunyikan jejak. Saat ini Guang Wei sedang berada di Korea untuk urusan bisnis, dan itulah kesempatan Siu dan Baubau mempertemukan ibu dan anak. Mereka sebenarnya adalah anak buah yang tidak tega melihat penderitaan Bai Lee selama ini.

“Ayahmu, Xiao Lung, dikirim ke Arab untuk mengurus perdagangan di sana,” kata Bai Lee dengan suara bergetar, “Aku tidak tahu apakah dia baik-baik saja.”

“Kita akan menunggunya pulang, Bu,” hibur Xiao Ning, “Kita akan bersama lagi.”

Siu memberi tahu bahwa Guang Wei akan kembali ke Tiongkok dalam dua hari. Sebelum itu, mereka harus pergi dari tempat itu. Namun tiba-tiba, pintu gudang didobrak terbuka. Lima orang polisi masuk dengan senjata teracung, diikuti Han Zhuo yang napasnya memburu karena cemas.

“Xiao Ning!” seru Han Zhuo, berlari mendekat, “Kau tidak apa-apa?”

Xiao Ning mengangguk, tersenyum lega. “Aku baik, Tuan Han. Lihat, ini ibuku!”

Bai Lee menyambut Han Zhuo dengan rasa terima kasih yang mendalam. Polisi membawa Siu dan Baubau ke kantor kepolisian untuk pemeriksaan lebih lanjut, dan gudang itu disita sebagai bukti. Han Zhuo mengantar Xiao Ning dan Bai Lee ke apartemen kecil gadis itu.

Di kamar itu, Han Zhuo duduk di tepi jendela, menatap mereka dengan tenang. “Aku sungguh-sungguh khawatir, Xiao Ning. Aku bersyukur kau bertemu ibumu lagi.”

Bai Lee menghela napas panjang, lalu bercerita, “Dulu, Guang Wei pernah menyukaiku. Dia ingin aku menemaninya, tapi aku sudah memilih ayahmu, Xiao Ning. Guang Wei marah, lalu menculik kami. Ayahmu dikirim jauh ke Arab, dan aku ditahan di gudang itu selama bertahun-tahun. Aku rindu ayahmu setiap detik...”

Han Zhuo menatap mereka dengan tekad yang membara. “Guang Wei tidak boleh lepas begitu saja. Aku akan menjebaknya. Biarkan dia datang ke sini, dan polisi akan menangkapnya saat itu juga.”

Han Zhuo adalah direktur utama perusahaan ban ternama bernama PT Autofast. Ia berencana mengundang Guang Wei sebagai investor kerja sama pengembangan properti perusahaan. Keesokan harinya, ia mencari informasi tentang Guang Wei di internet, dan menemukan sebuah perusahaan bernama PT Lookup First di Vietnam, di mana nama Guang Wei tertera sebagai konsultan. Nomor teleponnya pun tercantum di sana.

Tanpa membuang waktu, Han Zhuo menelepon nomor itu. Dengan suara tenang dan meyakinkan, ia mengajak Guang Wei bekerja sama dalam proyek besar yang menguntungkan. Guang Wei tertarik. Ia berjanji akan datang ke Shanghai bersama sepuluh orang pengawalnya.

Hari pertemuan tiba. Ruang rapat perusahaan PT Autofast tampak megah namun tegang. Guang Wei masuk dengan sepuluh orang bodyguard berbadan tegap, menatap sekeliling dengan tatapan angkuh. Suasana menjadi tidak nyaman bagi semua orang di ruangan itu.

“Salam kenal, Tuan Guang Wei,” sapa Han Zhuo, mengulurkan tangan.

Guang Wei menyambut jabatannya dengan senyum licik. “Tuan Han, proyek ini terlihat sangat menjanjikan.”

Saat mereka bersalaman, pintu ruangan didobrak terbuka. Sekelompok polisi Shanghai masuk dengan senjata di tangan, menodongkan senjata ke arah Guang Wei dan pengawalnya.

“Jangan bergerak!” bentak komandan polisi.

Guang Wei mengumpat kasar. “Kau menjebakku!” teriaknya marah.

Baku tembak pun tak terelakkan. Peluru bersahutan, kaca pecah berantakan, semua orang di ruangan itu menunduk ketakutan. Han Zhuo ikut merunduk, namun ia segera memberi perintah kepada polisi untuk mengepung seluruh gedung agar tidak ada yang lolos.

Tiba-tiba, suara dengungan mesin terdengar dari langit. Sebuah helikopter polisi melayang di atas gedung, suara pengeras suara bergema: “Turunkan senjatamu, Guang Wei! Seluruh gedung sudah dikepung! Tidak ada jalan keluar!”

Guang Wei menyadari ia sudah terkepung. Dengan wajah penuh kemarahan dan keputusasaan, ia akhirnya menyerahkan senjatanya dan ditangkap.

Malam itu, Bai Lee menelepon ke Arab. Kabar baik sampai kepada Xiao Lung. Ia segera pulang ke Tiongkok. Saat pertemuan ayah, ibu, dan anak setelah bertahun-tahun berpisah, tidak ada kata yang mampu menggambarkan kebahagiaan mereka. Tangis haru membasahi wajah mereka yang saling berpeluk erat.

“Terima kasih, Han Zhuo,” ucap Xiao Lung dengan tulus, “Tanpamu, kami mungkin tidak akan pernah berkumpul lagi.”

Han Zhuo tersenyum, menatap Xiao Ning yang tersenyum bahagia di samping orang tuanya. “Saya hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan, Pak. Dan ada satu hal lagi yang ingin saya minta...”

Ia menatap Xiao Ning dengan lembut. “Xiao Ning, maukah kau menemaniku seumur hidup?”

Xiao Ning tersipu, namun matanya berbinar bahagia. Ia mengangguk. “Mau, Han Zhuo.”

Suatu hari yang indah, mereka menikah. Di samping mereka berdiri ayah dan ibunya, tersenyum bahagia melihat putri mereka akhirnya menemukan kebahagiaan yang layak ia miliki. Dari gadis yang berjuang sendirian di kota besar, yang sering menangis di kamar sempitnya, kini ia dicintai, dilindungi, dan tidak pernah lagi kesepian.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk