Di kedalaman samudera yang tak tersentuh cahaya matahari, tempat di mana air berwarna biru pekat seperti permata yang gelap dan ombak berbisik rahasia yang tak pernah didengar manusia, hiduplah sekelompok makhluk yang dikenal dengan nama siren. Mereka memiliki rambut yang mengalir seperti rumput laut yang berkilauan, mata yang memancarkan cahaya samar seperti bintang di dasar laut, dan tubuh bagian bawah yang berupa ekor ikan yang indah namun mengerikan bagi siapa pun yang tak terbiasa melihatnya. Suara mereka adalah anugerah sekaligus kutukan: begitu merdu hingga mampu memikat siapa pun yang mendengarnya, memandu pelaut yang lalai menuju tebing karang yang tajam, lalu menyeret mereka ke dasar samudera untuk dijadikan santapan.
Namun di antara mereka, ada satu jiwa yang berbeda. Namanya Kyuth.
Kyuth sering berenang menjauh dari kelompoknya, duduk sendirian di atas karang yang dilapisi kerang berwarna-warni, menatap ke arah permukaan air yang berkilauan disinari matahari. Ia tidak pernah merasa bahagia saat melihat pelaut yang tertipu oleh nyanyian mereka. Ia tidak pernah merasa lapar akan daging manusia. Yang ia rasakan hanyalah kesedihan yang dalam, perasaan yang sulit dijelaskan namun selalu ada, mengganjal di hatinya seperti kerikil yang tak bisa dikeluarkan.
Suatu malam, saat cahaya bulan turun tipis ke permukaan air, Neneph, sahabat sekaligus sesama siren, berenang mendekat dengan wajah yang masih tampak gembira setelah berhasil membawa sekelompok pelaut ke dalam kegelapan. Ia menyentuh bahu Kyuth dengan ekornya yang berkilau hijau keemasan.
“Kyuth, mengapa kau selalu murung begitu?” tanya Neneph, suaranya terdengar renyah namun penuh ketegasan, “Lihatlah mereka tadi, betapa lezatnya santapan yang kita dapatkan. Perutku masih terasa kenyang.”
Kyuth menghela napas panjang, napas yang mengeluarkan gelembung-gelembung kecil naik ke permukaan. Ia menatap Neneph dengan mata yang berkaca-kaca.
“Neneph, apakah kau tidak pernah merasa... aneh?” tanyanya pelan, “Apakah kau tidak pernah melihat wajah mereka sebelum mereka pergi? Mereka ketakutan. Mereka memohon. Mereka memiliki keluarga, impian, seseorang yang mereka cintai di daratan... dan kita mengambilnya semua begitu saja.”
Neneph tertawa, suara tawanya bergema di antara celah karang. “Kau bicara apa, Kyuth? Itulah cara kita hidup! Sejak dulu, sebelum ombak pertama kali menyentuh pasir, kita memang demikian. Kalau bukan manusia, lalu siapa lagi? Ikan? Rumput laut? Tidak ada yang seberharga daging manusia yang dipenuhi ketakutan dan keputusasaan. Itu yang membuat kita kuat.”
“Tapi itu bukan kekuatan,” sanggah Kyuth, suaranya bergetar namun ia tetap teguh, “itu hanya keserakahan. Kita menjadi ganas, Neneph. Kita menjadi seperti makhluk yang tidak memiliki hati. Dan aku... aku tidak ingin begitu.”
Neneph mengerutkan kening, mendekatkan wajahnya ke wajah Kyuth. “Apa yang terjadi denganmu akhir-akhir ini? Kau terus-terus membicarakan hal-hal yang tidak penting. Hati? Cinta? Itu kata-kata kosong yang diciptakan manusia untuk membohongi diri mereka sendiri. Di sini, di bawah air, hanya ada bertahan hidup. Dan kau akan ikut kami, kau akan bernyanyi bersama kami, dan kau akan melupakan semua khayalan bodoh itu.”
Neneph berenang pergi meninggalkan Kyuth sendirian, ekornya mengibas pelan seakan menolak mendengar lebih lanjut. Kyuth duduk kembali di karang itu, memeluk dirinya sendiri, kesepian yang mendalam menyelimutinya lebih dingin daripada air laut yang membeku.
Namanya saja sudah berarti “pemikat”, namun ia tidak ingin memikat untuk menghancurkan. Ia ingin memikat untuk dicintai. Ia ingin tahu bagaimana rasanya disambut dengan senyuman, bukan ketakutan. Ia ingin tahu bagaimana rasanya memegang tangan seseorang yang rela bersamanya, bukan karena terpesona, melainkan karena tulus. Setiap kali ia melihat bayangan manusia di permukaan, ia tidak merasa ingin memangsa, melainkan merasa ingin mengenal.
“Apakah aku salah jika ingin merasakan apa yang mereka rasakan?” gumamnya pelan pada keheningan di sekitarnya, “Apakah aku tidak berhak untuk dicintai sebagaimana mereka saling mencintai?”
Hari berganti minggu, dan kerinduan itu semakin menguat di dadanya. Hingga suatu pagi, saat cahaya matahari menembus permukaan air dengan lembut, menciptakan pita-pita cahaya keemasan yang bergerak di dasar laut, Kyuth melihatnya.
Di dekat permukaan, ada seorang pemuda yang sedang berenang perlahan, wajahnya menengadah menikmati hangatnya sinar matahari. Tubuhnya tegap namun anggun, rambutnya hitam legam seperti karang basah, dan senyumnya begitu tulus hingga membuat jantung Kyuth yang biasanya tenang berdebar kencang, begitu kencang hingga ia khawatir suaranya akan terdengar di dalam air. Ia tidak pernah melihat makhluk yang begitu memikat hatinya seketika itu.
Siapakah dia? batin Kyuth bertanya-tanya, matanya tak mampu beralih, ia begitu... indah.
Kyuth ingin berenang mendekat. Ia ingin menyapa, ingin bertanya siapa namanya, ingin tahu apa yang ia sukai dan apa yang ia pikirkan. Namun saat ia mulai menggerakkan ekornya, bayangannya sendiri di permukaan membuatnya berhenti mendadak. Ia melihat dirinya: makhluk yang berkilauan namun asing, dengan ekor yang besar dan taring yang sedikit menonjol. Jika ia muncul seperti ini, pemuda itu pasti akan ketakutan. Ia pasti akan lari, atau bahkan pingsan. Cinta yang baru saja tumbuh akan hancur seketika menjadi ketakutan.
Kyuth menarik diri kembali ke kedalaman, bersembunyi di balik rumpun rumput laut yang lebat, menatap pemuda itu dari jauh hingga pemuda itu kembali ke perahunya dan pergi.
“Jika aku tidak bisa seperti ini,” bisiknya pada dirinya sendiri, “maka aku harus berubah. Aku harus menjadi sosok yang bisa ia temui tanpa rasa takut.”
Ia berenang ke sana kemari, bertanya pada karang tua, pada ubur-ubur yang bercahaya, pada arus laut yang tua, mencari cara untuk mengubah wujudnya. Hingga seekor penyu yang sudah hidup ratusan tahun berbisik kepadanya: “Kekuatan ada di dalam dirimu sendiri, Kyuth. Jika kerinduanmu sungguh murni, samudera akan mengabulkannya. Namun ingat, wujud yang kau ambil adalah cerminan hatimu. Ia akan tetap rapuh jika kepercayaanmu retak.”
Kyuth tidak sepenuhnya mengerti, namun ia mencoba. Ia memejamkan mata, memusatkan seluruh kerinduannya, seluruh harapannya, keinginannya untuk dicintai dan dicintai sebagaimana manusia melakukannya. Ia membayangkan sosok wanita yang lembut, yang berdiri di atas tanah yang kokoh, yang memiliki kaki untuk berjalan bukan untuk berenang, yang bisa tersenyum tanpa menakuti siapa pun.
Keesokan harinya, ia berenang menuju tepian pantai yang sepi. Di sana, di antara bebatuan yang tertutup lumut, ia merasakan perubahan itu terjadi. Ekornya yang berkilauan perlahan menyatu, berubah menjadi dua kaki yang lentik namun kokoh. Kulitnya yang dulu berwarna kebiruan perlahan berubah menjadi pucat halus seperti kulit manusia. Wajahnya tetap cantik, namun kini tidak lagi memiliki taring atau mata yang terlalu menyala. Ia menjadi wanita yang anggun, dengan rambut panjang hitam yang jatuh bergelombang di punggungnya, dan mata yang jernih namun penuh kerinduan.
Ia memilih nama baru. Nama yang terdengar lembut, nama yang cocok untuk seseorang yang ingin dicintai. Ia menyebut dirinya Devia.
Beberapa hari kemudian, pemuda itu kembali ke tepian. Ia berjalan menyusuri pinggir pantai, menendang kerikil pelan sambil menatap ke arah laut. Saat ia menoleh, ia melihat Devia sedang duduk di atas batu yang datar, membiarkan ombak kecil menyentuh ujung kakinya, wajahnya mendongak menikmati kehangatan matahari pagi. Ia tampak damai, seakan ia adalah bagian dari pemandangan itu sendiri.
Pemuda itu berhenti, terpesona. Ia mendekat perlahan, takut mengagetkannya.
“Maaf...” suaranya terdengar lembut, “aku tidak bermaksud mengganggumu. Aku hanya... belum pernah melihatmu di sini sebelumnya.”
Devia menoleh, jantungnya berdebar kencang namun ia berusaha tersenyum tenang. “Aku baru saja datang ke sini,” jawabnya, suaranya merdu namun tidak memikat seperti nyanyian siren, melainkan sederhana dan tulus, “namaku Devia.”
“Namaku Ken,” jawab pemuda itu sambil tersenyum, “aku nelayan di pantai ini. Sebenarnya... ini baru kali aku mencari ikan di sungai dekat pantai ini. Biasanya aku pergi jauh ke tengah laut.”
“Mencari ikan di sungai itu berbeda dengan di laut, bukan?” tanya Devia, matanya berbinar ingin tahu.
“Benar sekali,” Ken tertawa pelan, “aku masih agak bingung harus berbuat bagaimana. Tadi aku sudah mencoba beberapa kali melempar jala, tapi hasilnya tidak banyak.”
Devia tersenyum lebar. Ia tahu setiap gerakan di dalam air, tahu bagaimana ikan berenang, ke mana mereka pergi, dan di mana mereka berkumpul. “Kalau begitu, bolehkah aku menunjukkannya padamu?” tawarnya, “Aku suka memperhatikan air. Kurasa aku tahu di mana ikan-ikan itu bersembunyi.”
Ken tampak terkejut namun senang. “Sungguh? Kau mau membantuku?”
“Membantu adalah hal yang baik, bukan?” jawab Devia sambil melompat turun dari batu dengan gerakan yang sedikit kaku namun anggun.
Ia mengajari Ken cara memegang jala agar tidak kusut, cara melemparnya agar membentang lebar di permukaan air, dan menunjuk ke arah perairan yang tenang namun dalam tempat ikan-ikan berkumpul. Ken mengikuti petunjuknya, dan kali ini jala itu turun dengan sempurna. Saat ditarik kembali, ikan-ikan berkilauan melompat di dalamnya, berwarna-warni dan berlimpah.
“Wah! Luar biasa!” seru Ken gembira, matanya bersinar, “Kau hebat sekali, Devia! Bagaimana kau tahu tempatnya?”
Devia tersipu malu, menunduk sedikit agar Ken tidak melihat wajahnya yang memerah. “Aku hanya... menebak saja,” jawabnya pelan, “tapi aku senang kalau berhasil.”
Sejak hari itu, mereka sering bertemu. Ken tidak lagi pergi ke sungai sendirian. Ia selalu menantikan pagi hari saat ia bisa berjalan ke tepian dan melihat Devia sudah menunggunya di sana. Mereka berbicara tentang banyak hal: tentang bintang, tentang angin, tentang rasa rindu pada tempat yang jauh. Devia mendengarkan dengan saksama setiap cerita Ken, dan Ken merasa belum pernah bertemu wanita yang begitu mengerti dirinya.
Suatu sore, setelah mereka selesai menangkap ikan, Ken menggenggam tangan Devia dengan lembut. “Devia, karena kau sudah membantuku begitu banyak... bolehkah aku membelikan sesuatu untukmu? Sebagai tanda terima kasih?”
Devia menggeleng pelan. “Aku tidak butuh apa-apa, Ken. Cukup bisa menemanimu sudah membuatku bahagia.”
“Tapi aku ingin,” Ken menatapnya dengan tatapan yang tak bisa ditolak, “ada gaun yang indah di kota ini. Saat melihatnya, aku teringat padamu. Izinkan aku membelikannya, kumohon.”
Akhirnya Devia mengangguk setuju. Mereka berjalan menuju kota kecil yang terletak di balik bukit pantai. Ken membawanya ke sebuah butik yang rapi dan hangat, lalu menyerahkan gaun sutra berwarna biru langit yang jatuh berlipat-lipat hingga ke lantai, dengan hiasan manik-manik kecil yang berkilauan seperti tetesan air. Saat Devia keluar dari ruang ganti mengenakan gaun itu, Ken menatapnya tak berkedip.
“Kau... kau tampak begitu cantik,” ucapnya dengan suara bergetar tulus.
Devia tersenyum bahagia, hatinya terasa penuh hingga hampir meluap. Ia merasa dicintai. Ia merasa dihargai. Sesuatu yang selama ini hanya ia impikan kini nyata di hadapannya.
Namun kebahagiaan itu tidak luput dari perhatian seseorang. Di sudut jalan, seorang wanita berdiri diam menatap mereka. Namanya Kehsia. Ia sudah lama menyukai Ken, selalu berharap pemuda itu akan menoleh padanya, namun Ken tidak pernah melihatnya lebih dari sekadar tetangga. Dan kini, melihat Ken tersenyum begitu bahagia pada wanita asing yang tiba-tiba muncul, hati Kehsia dipenuhi rasa iri yang pahit.
“Siapa wanita itu?” geramnya pelan, mengepalkan tangannya erat, “dia tidak berhak berada di samping Ken. Aku akan mempermalukannya di hadapan semua orang.”
Beberapa hari kemudian, saat Devia sendirian di dalam butik menunggu Ken yang sedang pergi sebentar, Kehsia masuk dengan wajah yang penuh amarah. Ia tidak menyapa, tidak memberi peringatan. Ia langsung mencengkeram kerah gaun indah yang dikenakan Devia, merobek bagian depannya dengan kasar, lalu mengambil seember air yang tersedia di sudut ruangan dan menyiramkannya ke seluruh tubuh Devia.
“Kau pikir kau bisa memikat Ken begitu saja?” bentak Kehsia, napasnya memburu, “pergi kau dari sini! Jangan berlagak cantik di tempat yang bukan milikmu!”
Devia terkejut, mundur terhuyung-huyung. Air itu dingin, dan seketika ia merasakan sesuatu yang mengerikan. Kakinya yang mulus perlahan mulai menyatu kembali. Kulitnya berubah warna, mengkilap seperti sisik. Rambutnya yang hitam pekat mulai berkilauan hijau kebiruan. Ia berusaha menutupi dirinya, berusaha mencegah perubahan itu, namun semakin ia panik, semakin cepat wujud aslinya muncul.
Orang-orang yang ada di dalam butik berteriak ngeri. Mereka lari ke luar, saling mendorong, berteriak bahwa ada monster di dalam toko. Saat Ken kembali dan masuk ke dalam, ia tertegun di ambang pintu, matanya terbelalak tak percaya. Di hadapannya berdiri sosok yang ia cintai, namun bukan lagi wanita biasa. Ekor siren yang indah namun menakutkan kini menggantikan kakinya, matanya bersinar pucat di tengah kegelapan ruangan.
Devia menatap Ken, air mata mulai menetes di pipinya. Ia melihat keterkejutan di wajah pemuda itu, dan hatinya hancur. “Maafkan aku...” suaranya pecah, “maafkan aku, Ken... aku tidak bermaksud menipumu...”
Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik dan berlari, atau lebih tepatnya meluncur, keluar dari butik, menembus kerumunan orang yang menatap ngeri, terus menuju pantai, menuju satu-satunya tempat yang ia rasa aman: laut. Ia menceburkan diri ke dalam air, berenang secepat mungkin menjauh dari daratan, menjauh dari Ken, menjauh dari rasa malu yang membakar hatinya.
Ken berdiri diam di tepi pantai cukup lama. Ia tidak mengejarnya saat itu, ia hanya terpaku, memikirkan kembali setiap momen yang mereka lalui bersama. Kata-kata Devia, senyumnya, kebaikannya... tidak ada yang terasa palsu. Wujudnya mungkin berbeda, namun hatinya tulus.
“Apa yang aku lakukan?” gumamnya pelan, menyadari bahwa keterkejutannya tadi pasti terlihat seperti penolakan. Ia menggelengkan kepala, lalu berlari menyusuri pantai, memanggil nama Devia berulang-ulang, mencari wanita itu di setiap teluk, di setiap batu tempat mereka biasa duduk. Namun pantai itu sunyi. Hanya suara ombak yang menjawab panggilannya.
Di kedalaman laut, Devia duduk sendirian di atas karang yang sama seperti dulu, menundukkan kepalanya di antara kedua tangan. Neneph berenang mendekat, wajahnya serius namun tanpa rasa iba.
“Sudah kubilang, Kyuth,” ucap Neneph dengan nada dingin, “manusia dan siren tak mungkin bersatu. Mereka takut pada wujud aslimu. Kau hanya membuang waktumu. Kembalilah bersama kami. Lupakan dia.”
Devia tidak menjawab. Ia tahu Neneph mungkin benar, namun hatinya menolak untuk percaya sepenuhnya. Ia berenang perlahan ke permukaan, menyembunyikan dirinya di balik ombak, dan melihat ke arah perahu Ken yang terlihat jauh di kejauhan. Pemuda itu duduk sendirian di tepi perahunya, menatap ke arah laut dengan wajah yang sedih, matanya tampak berkaca-kaca.
Apakah dia membenci aku? batin Devia bertanya, perih di dadanya semakin terasa, apakah dia tidak akan pernah ingin melihatku lagi?
Namun saat ia melihat Ken menghela napas panjang dan menyeka air mata yang jatuh di pipinya, keraguan itu perlahan luntur. Jika ia benar-benar membencinya, mengapa ia terlihat begitu sedih?
Devia menarik napas dalam-dalam. Ia memberanikan diri. Ia berenang mendekati perahu itu, perlahan, agar tidak mengagetkan Ken. Saat ia muncul ke permukaan, rambutnya yang basah jatuh menutupi sebagian wajahnya, namun ia tidak lagi bersembunyi.
Ken menoleh, matanya membelalak sejenak, namun kali ini ia tidak mundur. Ia mencondongkan tubuh ke tepi perahu, menatap Devia dengan pandangan yang lembut.
“Devia...” panggilnya pelan, “aku mencarimu ke mana-mana.”
“Kau tidak takut?” tanya Devia, suaranya bergetar, “aku bukan wanita yang kau kenal. Aku siren... makhluk yang kau sebut monster...”
Ken menggeleng tegas. “Bukan begitu. Kau tetap Devia. Devia yang mengajariku melempar jala. Devia yang tersenyum saat melihat ikan tertangkap. Devia yang mendengarkan ceritaku dengan sabar. Wujudmu hanyalah kulit luar. Hatimu yang sebenarnya tetap sama, bukan?”
Devia tertegun, air mata bahagia mengalir di pipinya. “Benar... hatiku tetap sama. Aku mencintaimu, Ken. Aku mencintaimu sejak pertama kali melihatmu.”
“Kalau begitu,” Ken tersenyum lembut, “apa pun wujudmu, aku akan tetap mencintaimu. Aku tidak peduli apakah kau berjalan di daratan atau berenang di laut. Yang penting kau ada di sini.”
“Maukah kau sungguh-sungguh menerima aku?” tanya Devia lagi, memastikan bahwa ia tidak bermimpi, “meskipun aku siren?”
“Menerima dengan sepenuh hati,” jawab Ken tegas.
Devia tersenyum lebar, senyum yang paling indah yang pernah ia miliki. Ia meluncur mendekat, dan Ken mengulurkan tangannya, menggenggam tangan Devia yang muncul dari permukaan air. Mereka berenang bersama, menjauh dari perahu, menuju perairan yang tenang dan jernih, di mana cahaya matahari menembus air dengan lembut, menyelimuti mereka dalam kehangatan. Di sana, di pertemuan dua dunia yang berbeda, mereka memadu kasih, dua jiwa yang menemukan satu sama lain meski segala sesuatu tampaknya memisahkan mereka.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!