Di sebuah kamar yang sederhana, dindingnya dicat berwarna putih yang sudah mulai pudar di beberapa sudut, berdiri Anton, pemuda berusia dua puluh tahun yang ramping dan tenang. Sinar matahari pagi yang masuk lewat celah jendela yang sedikit terbuka menyinari lantai kayu yang sudah tua, namun tidak mampu menghangatkan suasana hatinya yang selalu terasa sepi. Anton menghabiskan sebagian besar waktunya di sini, berbaring di atas kasur yang empuk namun terasa dingin, menatap langit-langit kamar tanpa benar-benar melihat apa-apa. Keheningan adalah teman yang paling setia sekaligus paling menyakitkan baginya. Ia tidak memiliki banyak teman, dan hari-harinya berlalu begitu saja tanpa ada yang istimewa.
Suatu sore, saat kebosanan mulai terasa menyesakkan, Anton teringat sebuah ide yang sempat ia pikirkan berulang kali. Ia duduk tegak, meraih ponselnya yang tergeletak di samping bantal, lalu membuka aplikasi TikTok. Mungkin dengan siaran langsung, ia bisa menemukan teman bicara, mungkin bisa menghasilkan sedikit uang, setidaknya untuk membantu ibunya. Ia menekan tombol siaran langsung, menatap layar dengan harapan yang bergetar.
Namun harapan itu perlahan runtuh. Penonton yang muncul hanya satu atau dua orang, dan mereka pergi dalam hitungan detik. Tak ada yang menyapa, tak ada yang bertahan lebih lama. Angka penonton kembali ke nol, lalu nol lagi, dan tetap nol. Anton menunduk, menelan rasa kecewa yang pahit. Ia mencoba beberapa kali, namun hasilnya sama. Ia merasa tidak menarik, tidak berguna, seakan kehadirannya di dunia ini tidak dilihat oleh siapa pun.
“Anton! Anton!” suara ibunya, Sinta, terdengar melengking dari ruang tengah, “Kau lagi apa saja di dalam? Tidur lagi? Bermain ponsel terus? Kapan kau akan mencari pekerjaan yang benar!”
Pintu kamarnya terbuka, dan Sinta berdiri di sana, tangan di pinggang, wajahnya penuh kekesalan. Wanita itu sudah bekerja keras setiap hari, dan melihat anaknya hanya bermalas-malasan membuatnya cemas sekaligus marah.
“Ibu sudah tua, Ton,” ucap Sinta dengan suara bergetar, “Ibu tidak bisa terus-terusan menanggung semuanya sendirian. Tetangga sebelah sudah bekerja, anak teman Ibu sudah punya penghasilan. Lalu kau? Apa yang sudah kau lakukan?”
“Saya sudah mencoba, Bu...” jawab Anton pelan, menatap lantai, “Saya sudah mencoba siaran langsung... tapi tidak ada yang menonton.”
“Alasan saja!” bentak Sinta, “Mencari kerja itu tidak mudah, tapi setidaknya berusahalah! Jangan hanya berbaring di sini seperti tidak punya urusan!”
Sinta pergi meninggalkan pintu yang terbuka, meninggalkan Anton sendirian dengan rasa bersalah yang menyesakkan dadanya. Ia menarik napas panjang, lalu berdiri. Ia tidak bisa terus begini. Ia harus melakukan sesuatu.
Keesokan harinya, setelah berpamitan dengan singkat, Anton berjalan menuju pasar hewan yang tidak terlalu jauh dari rumahnya. Di sana, suara kicauan burung, gaduhnya pedagang, dan bau khas hewan menyambutnya. Ia berjalan menyusuri deretan lapak, matanya menyapu segala yang ada, hingga pandangannya tertuju pada sebuah akuarium kecil. Di dalamnya berenang seekor ikan cupang yang begitu indah, tubuhnya berwarna merah muda lembut seperti kelopak bunga yang baru mekar, dan sirip-siripnya yang panjang berwarna merah menyala, berkilauan saat terkena cahaya. Ikan itu berenang dengan anggun, seakan menari di dalam air.
“Berapa harganya, Pak?” tanya Anton, suaranya keluar sendiri.
“Sepuluh ribu saja, Mas. Murah untuk ikan secantik ini,” jawab penjualnya ramah.
Anton mengeluarkan uang saku yang sedikit itu. Ia membelinya, membawa pulang ikan itu dengan hati-hati, seakan membawa harta paling berharga di dunia. Di rumah, ia menaruh akuarium kecil itu di meja belajarnya, menatap ikan itu dengan kagum.
“Namamu akan menjadi Teresia,” bisiknya, “karena kau indah seperti seorang wanita.”
Ia memberi makan ikan itu, dan Teresia menyambar pakan itu dengan lincah, memakannya hingga habis. Anton tersenyum, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama hatinya terasa hangat.
Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Sinta masuk ke kamar, dan melihat akuarium itu. Matanya membelalak.
“Anton! Apa yang kau lakukan?” serunya, “Daripada mencari kerja, kau malah memelihara ikan? Itu yang kau lakukan? Membuang uang belanja untuk hal tidak berguna!”
“Bukan begitu, Bu,” jawab Anton teguh, berdiri di depan meja seakan melindungi ikannya, “Saya punya rencana. Saya akan melakukan siaran langsung bersama Teresia. Mungkin orang-orang akan tertarik melihatnya. Ia sangat indah, Bu. Saya yakin ini bisa berhasil.”
Sinta mendengus, tidak percaya. “Terserah kau saja. Tapi jangan pulang ke Ibu kalau tidak ada hasilnya.”
Malam itu, Anton menyalakan ponselnya, mengarahkan kamera ke akuarium kecil tempat Teresia berenang. Ia memulai siaran langsung, tidak terlalu berharap, hanya berusaha. Namun sesuatu yang ajaib terjadi. Tak lama setelah siaran dimulai, jumlah penonton naik perlahan, lalu melonjak cepat. Orang-orang datang, dan mereka tidak pergi.
“Wah, ikan apa itu? Cantik sekali!” tulis salah satu penonton.
“Lihatlah cahayanya!” tulis yang lain.
Anton menatap layar, lalu menatap akuarium itu. Matanya membelalak tak percaya. Tubuh Teresia memancarkan cahaya lembut, merah muda dan merah yang menyala pelan-pelan, seakan ada bintang kecil yang hidup di dalam tubuh ikan itu. Cahayanya berkilauan, menari mengikuti gerakan siripnya.
“Ia... namanya Teresia,” ucap Anton dengan suara bergetar, “Saya tidak tahu mengapa ia bersinar, tapi ia memang sangat indah, bukan?”
Hadiah-hadiah mulai bermunculan di layar, satu demi satu, lalu berdatangan begitu deras hingga Anton tidak sempat membacanya. Matanya terbelalak melihat angka yang masuk ke rekeningnya. Ia melompat berdiri, berteriak kegirang.
“Bu! Bu! Lihat ini! Saya dapat uang! Banyak sekali!”
Sinta masuk dengan sapu di tangan, wajahnya masih cemberut. “Apa yang kau teriak-teriakan? Kau sudah gila?”
“Lihat, Bu!” Anton menunjukkan layar ponselnya, “Hadiah dari penonton! Uangnya masuk ke rekening saya! Banyak sekali!”
Sinta menatap layar itu, lalu menatap anaknya. Kekesalan di wajahnya perlahan berubah menjadi takjub, lalu kebahagiaan yang tumpah ruah. Ia meletakkan sapunya, merangkul anaknya erat-erat, air mata bahagia menetes di pipinya.
“Anak Ibu... akhirnya...” bisiknya.
Anton tidur dengan perasaan paling tenang yang pernah ia rasakan. Namun saat ia terbangun pagi harinya, ia tertegun. Di sampingnya, di atas kasur, tidur seorang gadis cantik dengan rambut panjang hitam yang berkilauan, mengenakan gaun berwarna merah muda dengan hiasan renda merah yang indah, persis seperti warna tubuh dan sirip ikan cupang kesayangannya. Gadis itu membuka matanya, tersenyum lembut kepadanya.
“Selamat pagi, Anton,” sapa gadis itu dengan suara yang merdu seperti aliran air.
Anton melompat turun dari tempat tidur, menatapnya tak percaya. “Siapa... siapa kau? Bagaimana kau bisa masuk ke sini?”
“Aku Teresia,” jawab gadis itu lembut, berdiri di samping tempat tidur, “Ikan cupang yang kau pelihara. Aku bukan sekadar ikan. Aku seorang bidadari dari kayangan. Dulu aku dikalahkan oleh seorang pendekar jahat bernama Ranggeni. Ia mengurungku di dalam wujud ikan cupang, dan hanya kasih sayang serta ketulusan hatimu yang membuatku bisa kembali ke wujud asliku.”
Anton berlari ke arah meja. Akuarium itu kosong. Airnya jernih, namun Teresia tidak ada di sana. Ia kembali menatap gadis itu, kagum sekaligus takjub. Teresia begitu cantik, wajahnya bersinar lembut, matanya jernih seperti permata di dasar sungai. Anton merasa seakan sedang bermimpi, kepalanya terasa ringan, seakan mabuk oleh keindahan yang ada di hadapannya.
“Jangan takut, Anton,” ucap Teresia pelan, melangkah mendekat, “Aku tidak akan menyakitimu. Aku berjanji akan membantumu. Aku akan membuat namamu dikenal, dan hidupmu akan berubah.”
Malam itu, mereka melakukan siaran langsung bersama. Penonton yang datang kemarin kembali, dan mereka berteriak tak percaya melihat sosok Teresia yang duduk di samping Anton. Gaunnya persis seperti warna tubuh ikan yang mereka lihat kemarin, dan wajahnya bersinar indah. Hadiah-hadiah datang lebih deras dari sebelumnya. Dalam satu malam, penghasilan Anton mencapai angka sebelas miliar rupiah. Ia tidak percaya, ia tidak menyangka hidupnya akan berubah secepat ini.
Teresia tersenyum kepadanya di depan kamera, dan senyum itu membuat hadiah-hadiah semakin deras datang. Anton menjadi kaya dalam semalam. Ia memperkenalkan Teresia kepada ibunya, dan Sinta terbelalak bahagia melihat anaknya memiliki teman yang begitu cantik dan sopan.
Sebulan berlalu, dan rumah kecil mereka telah berubah menjadi rumah yang luas dan indah. Hidup mereka nyaman, penuh kebahagiaan. Namun kebahagiaan itu tidak luput dari perhatian. Sabtu malam, saat mereka sedang siaran langsung, muncul sebuah komentar dari akun bernama Jargon. Tulisannya singkat namun mengerikan: “Aku tahu siapa kau sebenarnya, Teresia.”
Anton mengerutkan kening. “Siapa Jargon itu?”
Teresia menatap layar dengan wajah yang tiba-tiba pucat. “Mungkin itu orang dari kayangan yang menyamar. Atau... seseorang yang mencari keberadaanku.”
Keesokan paginya, ketakutan itu menjadi kenyataan. Seorang laki-laki berambut panjang yang diikat, berkacamata hitam, dan mengenakan pakaian rapi namun mengerikan berdiri di depan pintu rumah mereka, tertawa keras. Sinta keluar, menatapnya bingung.
“Siapa Anda?” tanyanya.
Laki-laki itu tertawa lagi. “Aku tahu di mana Teresia bersembunyi! Hahaha!”
Teresia muncul dari dalam rumah, wajahnya tegang. “Pergilah dari sini, Ranggeni!”
Jantung Anton berdegup kencang. Itulah Ranggeni, pendekar jahat yang pernah diceritakan Teresia. Ranggeni tersenyum licik, mendorong Sinta yang menghalanginya, lalu berusaha masuk. Teresia mencoba menahannya, namun kekuatannya belum sepenuhnya pulih. Ranggeni mendorongnya ke samping, lalu mengeluarkan sebuah perban panjang, melilitkannya ke tubuh Teresia hingga gadis itu tidak bisa bergerak, terbungkus seperti mumi.
“Jangan!” teriak Anton, melompat menghalangi.
Namun Ranggeni hanya menoleh, mengangkat tubuh Anton dengan mudah, lalu melemparkannya ke samping. Tubuh Anton menabrak dinding hingga menembus plafon bagian bawah, lalu jatuh ke lantai atas dengan bunyi yang keras. Ia terbaring sesaat, kesakitan, namun segera bangkit. Ia berlari ke tepian, melihat Ranggeni membawa Teresia yang terikat kaku pergi. Tetangga-tetangga keluar dari rumah mereka, menatap heran sosok yang membawa sesuatu yang terbungkus kain putih itu.
“Teresia!” teriak Anton, melompat turun ke lantai bawah. Ia mencari ke mana-mana, namun mereka sudah hilang. Ia segera mengambil ponselnya, membuka siaran langsung, matanya berkaca-kaca. “Tolong aku... Tolong aku semuanya... Teresia diculik... Siapa yang bisa membantuku menemukannya?”
Ratusan pesan masuk, namun satu akun menonjol. Namanya Anggita. “Aku sepupu Teresia dari kayangan. Aku tahu ke mana mereka membawanya. Tunggu aku di taman kota sekarang.”
Anton berlari secepat mungkin menuju taman kota. Di sana, menunggunya seorang gadis cantik dengan pakaian yang berkilauan lembut, rambutnya tertiup angin. Itu Anggita.
“Aku akan membantumu menyelamatkan Teresia,” ucap Anggita tanpa banyak basa-basi, “Ranggeni membawanya ke markasnya di atas bukit terjal. Kita harus bergegas sebelum terlambat.”
Anggita mengangkat tangannya, memanggil awan. Salah satu awan turun perlahan, cukup besar untuk menampung mereka berdua. Mereka naik ke atasnya, dan awan itu melayang tinggi, membawa mereka menuju tempat tersembunyi Ranggeni. Sesampainya di sana, mereka turun di depan sebuah bangunan besar yang suram dan gelap.
“Siap?” tanya Anggita.
Anton mengangguk. “Siap.”
Mereka masuk ke dalam. Pasukan Ranggeni berdiri di sana, berwajah galak dan siap menghadang. Anggita melangkah maju, mengeluarkan kekuatannya, dan pertarungan pun meletus. Ia mengayunkan tangannya, menyambar mereka satu per satu dengan kecepatan kilat. Tubuh-tubuh pasukan itu terlempar, namun mereka terus datang. Anton tidak tinggal diam, ia membantu menangkis serangan yang mengarah ke Anggita. Mereka bertarung berdampingan, melawan puluhan lawan yang tangguh. Peluh bercucuran, napas mereka memburu, namun tidak satu pun dari mereka mundur. Perlahan namun pasti, pasukan Ranggeni jatuh satu demi satu, hingga akhirnya ruangan depan menjadi sunyi.
Mereka berlari menuju aula utama. Di sana, pemandangan yang membuat darah mendidih menyambut mereka. Teresia terikat di tengah ruangan, mulutnya disumpal, matanya berkaca-kaca menatap mereka. Ranggeni berdiri di sampingnya, tersenyum licik.
“Jangan bergerak!” bentak Ranggeni, “Jika kalian mendekat, aku akan...”
“Kau tidak akan melakukan apa-apa,” potong Anggita tegas, melangkah maju, “Sudah cukup kau menyakiti orang-orang tak berdosa, Ranggeni.”
Ranggeni tertawa sinis, lalu melompat ke depan, menyerang Anggita. Pertarungan mereka sengit dan dahsyat. Angin berputar kencang di dalam aula itu, suara benturan kekuatan terdengar memekakkan telinga. Ranggeni kuat, namun Anggita tidak kalah. Ia mengelak, menangkis, lalu menyerang balik dengan pukulan yang telak. Sementara mereka bertarung, Anton berlari ke arah Teresia, merobek ikatan yang melilit tubuh gadis itu dengan tangan gemetar.
“Anton...” bisik Teresia lemah, “Kau datang...”
“Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu,” jawab Anton, memeluknya sejenak sebelum berdiri menjaga.
Anggita akhirnya menemukan celah. Ia melompat tinggi, mengumpulkan seluruh kekuatannya, lalu menghantam Ranggeni dengan pukulan yang dahsyat. Ranggeni terpelanting jatuh, tubuhnya babak belur, tidak berdaya lagi. Ia mengerang kesakitan, akhirnya menyerah.
Mereka keluar dari markas itu bersama-sama, Teresia berjalan di antara Anton dan Anggita, menatap langit yang cerah untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Angin sepoi-sepoi menyapa wajah mereka, seakan menyambut kembalinya kedamaian.
“Terima kasih, Anggita,” ucap Teresia tulus, “Tanpamu...”
“Kita keluarga, Teresia,” jawab Anggita tersenyum, “Aku akan selalu ada untukmu.”
Anggita kembali ke kayangan, sementara Anton dan Teresia pulang ke rumah Sinta. Ibu mereka menyambut dengan tangis bahagia, memeluk mereka berdua erat-erat. Kehidupan mereka kembali tenang, namun kali ini lebih indah dari sebelumnya. Anton tidak lagi kesepian, ia tidak lagi merasa tidak berguna. Ia belajar bahwa kebaikan hati dan ketulusan bisa membawa hal-hal ajaib ke dalam hidup seseorang. Dan di sampingnya, selalu ada Teresia, cahayanya, penuntunnya, dan orang yang paling ia cintai di dunia ini.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!